Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Ketemu


__ADS_3

"Eyang akan lanjutkan ceritanya ya." kata Eyang Maryam setelah puas dengan tangisan nya.


"Ya Eyang." jawab Arjuna.


"Puluhan tahun lamanya, Eyang tak patah semangat. Karena eyang yakin, selama jasad mereka belum ketemu, eyang masih yakin bahwa diantara mereka masih ada. Eyang selalu memohon petunjuk pada Allah, agar eyang dipertemukan dengan adik eyang, atau kalau tidak bisa bertemu dengan Hasan, Eyang ingin bertemu anaknya. Hingga akhirnya, setelah Tiga puluh lima tahun tak ada kabar lagi tentang keluarga Hasan, Eyang mendapat kabar, bahwa Anak Hasan masih selamat. Dia ditemukan oleh seorang sukarelawan tim SAR, dia di rawat dan diasuh oleh orang itu. Kabarnya, orang itu seorang duda, sehingga dia berkenan merawat anak Hasan yang usianya sekitar duabelas tahun. Anak itu tumbuh dalam asuhan laki-laki itu, dan kabarnya, anak Hasan itu juga mengikuti jejak ayah angkatnya yang berprofesi sebagai anggota tim SAR." kata eyang Maryam, lalu eyang Maryam mengambil air minum dalam gelasnya terlebih dahulu, meneguk beberapa tegukan.


Arjuna tampak masih serius mendengarkan cerita eyangnya. Dia masih berusaha menyerap alur cerita eyangnya, ada hubungan apa dirinya dengan kisah yang panjang itu.


"Eyang lanjutkan ya Jun."


"Ya eyang."


"Eyang masih berusaha mencari keberadaan anak itu, mencari alamatnya. Namun belum juga ketemu. Hingga akhirnya, eyang mulai tersibukkan dengan urusan pesantren, mengurus anak-anak eyang dan cucu-cucu eyang. Saat itu juga suami eyang mulai sakit-sakitan, sehingga eyang menghentikan niat eyang. Namun, Eyang selalu berdoa pada Allah, eyang masih ingin bertemu dengan keluarga Hasan. Ada amanah besar dari ayah ibu eyang untuk keluarga Hasan." kata Eyang menggenggam erat map biru ditangannya.


"Sepuluh tahun kemudian, ada tanda-tanda keberadaan keluarga dari Hasan, yaitu anak nya. Eyang sudah mengetahui alamatnya, namun ternyata, anak itu sudah menikah, dan memiliki keturunan. Eyang mencari tau lebih dalam lagi, apakah anak itu benar-benar keponakan eyang. Dan ternyata benar, setelah ditelusuri anak itu benar-benar anak adikku Hasan. Dia telah menikah, namun dia telah tiada. Tinggallah anaknya yang ada di rumah itu." kata Eyang Maryam menatap Arjuna tajam.


"Ehm. Kalau boleh tau, eyang sudah tau nama anaknya pak Hasan itu?" tanya Arjuna.


"Ya, eyang sudah tau."


"Siapa Eyang?"


"Amar Ma'ruf." jawab Eyang menatap Arjuna dengan binar kebahagiaan.


"Eyang, maksud eyang?" tanya Arjuna seolah tak percaya dengan akhir dari cerita panjang eyangnya.


"Iya Juna. Kamu cucu Hasan, kamu la yang selama ini eyang cari nak. Kakekmu, itu adikku. Dan ayahmu itu keponakan eyang yang selama ini eyang cari nak." kata eyang Maryam sambil menangis dan memeluk tubuh Arjuna dengan kuat.

__ADS_1


"Maafkan eyang, selama ini eyang tidak terbuka padamu. Eyang menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semua ini padamu."


"Dan ini, isi dari map biru ini, adalah sertifikat tanah hak nya Hasan dari bapak Amin, ayah eyang. Seritifat inilah, yang saat ini dibangun bangunan pesantren ini. Atas kehendak orang tua kami, tentunya atas ijin dari Hasan kala dia masih ada. Dan kini, sertifikat ini, menjadi Hakmu nak. Namun, tanah ini belum kami urus sebagai tanah wakaf, karena kami menunggu yang berhak dulu sampai ketemu." kata Eyang Maryam.


"Kini, terserah kamu Juna, mau kamu anggap sebagai hartamu, ataukah mau kamu wakafkan. Itu hak mu." kata Eyang Maryam menyerahkan sertifikat tanah pesantren kepada Arjuna.


"Tapi eyang."


"Kamu berhak atas semua ini Juna. Dan amanah dari suami eyang, Gus Ibrahim. Jika suatu saat nanti, keturunan dari keluarga Hasan ketemu, dan agamanya juga baik, maka pesantren ini, menjadi hak nya, dan dia berhak menjadi pimpinan pondok pesantren ini." kata Eyang Maryam menyerahkan surat wasiat suaminya.


"Ya Allah eyang. Kenapa banyak sekali amanah yang harus Juna emban?" kata Arjuna keberatan.


"Itulah sebabnya, setelah eyang tau kamu keturunan Hasan, sejak kamu masih duduk dibangku SD, Eyang belum siap menceritakannya padamu nak. Eyang baru siap sekarang, karena ini saat yang tepat, sebelum eyang pergi nantinya." kata Eyang Maryam mulai menangis lagi.


"Tapi eyang..."


"Kamu pasti bisa. Eyang yakin. Nanti akan ada abi Ilyas dan umi Ulfa yang akan mendampingimu. Mereka yang akan mengarahkanmu untuk menjadi lebih baik lagi dan pantas untuk menjadi pimpinan pondok pesantren. Tanyalah ada mereka." kata eyang Maryam.


"Jika suatu saat nanti Mumtaz tidak terima, jangan gusar. Sebenarnya eyang sudah memberi pengertian kepada pakdemu itu, dan juga umimu Ulfa. Tentang hak pesantren ini. Keduanya nglenggono. Sami'na wa atho'na. Mereka sudah berjanji tidak akan mempermasalahkannya. Untuk bagian warisan, jangan bingung, semua sudah bersih. Tanah ini milikmu saja. Tempat tinggal Mumtaz itu adalah tanah hak milik eyang, yang eyang wariskan untuknya. Sedangkan umi Ulfa sudah eyang beri kan kebun di belakang pesantren. Sehingga bangunan pesantren ini, murni milikmu Juna." kata eyang Maryam lagi.


"Hmm... Baik eyang. InshaaAllah Juna akan jalankan amanah ini semampu Juna." kata Arjuna.


"MaasyaaAllah nak, terimakasih banyak Juna. Alhamdulillahirobbil'alamin. Jika sudah begini, eyang lega." kata Eyang Maryam memeluk erat tubuh Arjuna dengan berlinang air mata.


"Yaa Allah eyang, justru Juna yang berterima kasih pada eyang, karena selama ini eyang berkenan menjaga harta dari kakek, Eyang merawatnya dengan tulus. Eyang sudah menguruskan semuanya. Maafkan Juna yang tidak tau apa-apa eyang." kata Arjuna yang juga menangis karena terharu.


"Terimakasih yaa Allah, Kau kabulkan do'aku. Kau pertemukan aku dengan keturunan Hasan, terimakasih yaa Allah. Terimakasih." kata Eyang Maryam sambil bersujud syukur.

__ADS_1


"Juna. Apakah kamu sudah bertemu dengan saudara kembarmu?" tanya eyang Maryam.


"Belum eyang." jawab Arjuna.


"Apakah kamu tidak berniat mencarinya?" tanya Eyang Maryam lagi.


"Niat itu ada eyang, bahkan kemarin setelah pulang dari mesantren, Juna berusaha mencari tau keberadaan saudara kembar Juna, tapi sampai sekarang belum ketemu eyang." kata Arjuna.


"Cari dia sampai ketemu. Dia juga cucu eyang, dia berhak juga atas tanah pesantren ini. Dia juga cucu Hasan. Cari dia nak, jangan sampai sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi sebelum kalian saling mengetahui bahwa kalian saudara kandung." kata Eyang Maryam.


"InshaaAllah eyang."


"Oya, kabarnya, kamu sedang dekat dengan adiknya kakak iparmu, Gusti?" goda eyang Maryam.


"Ah, itu cuma gosip eyang." kilah Arjuna.


"Cari tau dulu, siapa gadis itu ya. Takutnya dia saudara kembar mu. Jangan sampai kamu terlanjur jatuh cinta dengan saudara kandungmu sendiri." kata eyang Maryam.


"Kenapa eyang bisa berfikir seperti itu?" tanya Arjuna.


"Hanya jaga-jaga saja Juna. Tidak hanya kepada Jeni, tapi pada semua gadis yang dekat denganmu, cari tau dulu siapa dia sebenarnya ya." pesan eyang Maryam.


"Baik eyang. InshaaAllah. Terimakasih sudah diingatkan." kata Arjuna.


"Ya Jun. Sudah malam. Mari kita istirahat dulu." kata Eyang Maryam mengakhiri ceritanya.


"Baik Eyang."

__ADS_1


Malam itu, menjadi malam yang mengharukan bagi keduanya. Dan Eyang Maryam sudah menyerahkan semua urusan dan sejarah panjang itu kepada Mumtaz dan Ulfa, sehingga di hari berikutnya setelah malam itu, eyang Maryam sudah ikhlas, ketika beliau di temui malaikat Izroil.


"Ya Allah. Begitu besar RahasiaMu, begitu besar KuasaMu. Semua ini adalah SkenarioMu yaa Robb. Aku hanyalah HambaMu yang papa. Tak kusadari, ternyata aku masih bagian dari keluarga ini." kata Arjuna dengan menangis mengingat cerita Eyangnya.


__ADS_2