Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D 12


__ADS_3

"Dek, bener ini alamatnya?" tanya Gusti saat sampai disebuah perkampungan.


"Iya kak. Tapi, di KTP 'kan ga ada nomer rumahnya." jawab Anjani yang fokus sambil memegang KTP pemilik dompet yang ditemukannya.


"Kita tanya warga aja ya." usul Gusti.


"Jani ngikut kakak aja." jawab Anjani.


Saat mereka sampai di depan sebuah warung makan, Merekapun mencoba untuk bertanya pada bapak-bapak yang sedang jajan di sana.


"Permisi pak." sapa Gusti sopan.


"Ya mas?" jawab bapak-bapak.


"Mau numpang tanya pak. Bapak kenal orang ini tidak ya?" tanya Gusti sambil menyodorkan sebuab KTP pada bapak-bapak dihadapannya.


"Ehm,,, saya kurang tau mas." jawab salah seorang bapak.


"Eh, tapi coba tanya sama pemilik warung aja mas. Kali aja dia tau." usul salah seorang bapak berkumis tebal.


"Bentar, saya panggilin." lanjutnya.


"Yu...yu Mirah... sini." panggil bapak berkumis tebal.


"Ya, ada apa pak eR Te?" jawab seorang wanita dari dalam dengan tegopoh-gopoh.


"Ini, ada mas-mas sama mbak-mbak mau nanya." jawab bapak berkumis tebal.


"Oh. ya mas. Ada apa?" tanya ibu-ibu yang dipanggil dengan sebutan yu Mirah.


"Begini bu, ini saya mau nyari rumahnya mas ini, yang punya KTP ini. Alamatnya disini ya? Tepatnya dimana ya bu?" tanya Gusti yang didampingi adiknya.


Sepersekian detik, ibu itu mengamati KTP yang dibawa Gusti,


"Arjuna Ramayana?" gumam bu Mirah sambil mengingat-ingat.


"Wo...ya. ya. Aku inget mas. Ini mas Juna. cucunya mbah Yai. yang biasanya dulu suka ikut mbah Yai jum'atan ke masjid Kampung, sama yang biasanya nganterin sembako itu lho pak." Kata bu Mirah menjelaskan pada bapak-bapak yang jajan tersebut.


"Owalah, putranya ustadz Ilyas to bu?" tanya bapak berkumis tebal yang disebut bu Mirah sebagai pak RT.


"Iya pak."


"Ini mas, mas dari sini lurus aja, nanti ada belokan, belok aja, terus ada perempatan pertama, mas belok kiri, udah. Udah nyampe di pesantren. Disitu rumahnya mas. Tapi, langsung ketemu aja sama pengurus pesantrennya mas, soalnya kalo nanya ke santri, biasanya santri ga ngenal. Si mas Juna ini, udah lama juga ga di rumah, kabarnya sih lagi mesantren juga di kuar kota." jelas bu Mirah panjang lebar.


"Oh, ya bu. Terimakasih bu atas keterangannya." kata Gusti.


"Ya mas, sama-sama." jawab bu Mirah ramah.


Gusti dan Anjani pun mengikuti apa yang disampaikan bu Mirah. Hingga tiba di depan bangunan bercat hijau, mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang dari besi, yang dicat hijau pula. Mereka berdua saling pandang, bingung mau langsung masuk atau tidak. Tetapi tidak ada orang di sana. Namun tak berapa lama kemudian, muncul dua santri berpeci mengenakan celana panjang dan kaos lengan pendek, tampak berjalan ke arah mereka.


"Assalamu'alaikum. Maaf, mau cari siapa?" sapa salah satu santri ramah.


"Wa'alaikumussalam. Ini, saya mau ketemu pengurus pesantren mas." jawab Gusti, mengikuti intruksi bu Mirah.

__ADS_1


"Oh, ya. Sebentar ya." jawab salah satu santri itu sambil dengan menundukkna kepala.


Kedua santri itu tampak berjalan agak dipercepat menuju sebuah ruangan yang berada di ujung, jauh dari pintu gerbang, namun tampak jelas dari pintu gerbang.


"Kak, nanti kalo disuruh masuk, kakak aja ya yang masuk." kata Anjani.


"Lhoh, kenapa dek?" tanya Gusti heran.


"Itu." kata Anjani menunjuk sebuat tulisan cukup besar di sebelah kiri pintu gerbang, bertuliskan 'Kawasan wajib berjilbab'. Gusti pun mengerti maksud adiknya, karena adiknya memang tidak memakai jilbab. Dan dia baru sadar, bahwa kedua santri tadi meminta mereka menunggu diluar karena hal tersebut.


"Owh, okey. Nanti kamu nunggu di mobil jaa gapapa dek." kata Gusti.


Tak berapa lama kemudian, datang seorang wanita dewasa dengan busana gamis, dan jilbab yang cukup lebar, menyapa ramah kedua kakak beradik itu.


"Assalamu'alaikum. Maaf, ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita berjilbab itu.


"Oh, ya. Ini mbak, kami mau mengembalikan dompet milik seseorang yang katanya tinggal di sini." kata Gusti sambil menyodorkan sebuah KTP kepada wanita cantik dihadapannya.


Dengan seksama, wanita itu melihat KTP yang disodorkan Gusti dihadapannya.


"Oh ya. Ini adik saya. Sebelumnya, ini, tolong dipakai dulu ya mbak." kata Wanita itu menyodorkan sebuah kain pada Anjani.


"Apa ini mbak?" tanya Anjani.


"Itu jilbab mbak. Mohon dipakai dulu, mari, silakan masuk dulu." kata Wanita itu ramah.


Anjani pun dengan senang hati memakai jilbab yang diberikan wanita itu. Karena itu artinya, dia bisa ikut kakaknya masuk.


"Mari." kata Wanita itu ramah dengan mempersilakan kedua tamunya masuk area pesantren.


"Assalamu'alaikum." sapa bu Maryam dengan pakaian gamis dan jilbab menutup dada berjalan perlahan dengan dituntun wanita tadi.


"Wa'alaikumussalam." jawab Gusti dan Anjani bersamaan.


"Nak mas berdua ini siapa, dan ada keperluan apa ya?" tanya Bu Maryam.


"Perkenalkan, nama saya Gusti, dan ini adik saya Anjani."


"Kami kemari ingin berniat baik bu, kami bermaksud mengantarkan sebuah dompet yang beralamat di sini." kata Gusti sambil menyodorkan sebuah KTP beserta dompetnya kepada bu Maryam.


"Owh ya. Nak Gusti dan nak Anjani. Terimakasih banyak atas niat baik kalian, semoga Allah membalas kebaikan kalian. Memang benar, ini identitas cucu saya. Arjuna Ramayana. Tetapi dia sedang belajar di pesantren yang berada di luar kota, dan sampai sekarang belum pulang nak." kata bu Maryam.


"Saya Eyangnya, kalian bisa panggil saya Eyang. Namun, kabarnya dari cucu saya Hima, Arjuna memang baru saja tiba di kota ini, namun memang dia tidak langsung pulang, melainkan langsung menuju rumah sakit, karena ibunya baru saja mengalami kecelakaan." lanjut bu Maryam.


"Owh, ya." gumam Gusti manggut-manggut.


"Nduk, Hima. Tolong kamu telpon Juna, kabari dia, kalo dompetnya sudah diantar sampai rumah oleh orang baik." titah bu Maryam pada wanita yang tadi mengajak mereka masuk kawasan pesantren.


Sekilas, Gusti melihat wajah wanita itu, teduh, cantik batinnya. Tak sadar Gusti telah menilai wanita itu pada pandangan pertama nya. Hima, Oh, namanya Hima. batinnya lagi.


Anjani yang mengerti gelagat pada kakaknya, hanya mampu menyimpan dalam diam. Dia tau, bahwa kakaknya sedang fall in love pada pandangan pertama.


"Baik Eyang." jawab Hima lembut sambil meletakkan dua gelas berisi teh hangat dan setoples kudapan.

__ADS_1


"Silakan." kata Hima mempersilakan kedua tamunya menikmati jamuannya.


"Terimakasih." jawab Gusti dan Anjani.


"Maaf eyang, itu dompetnya hanya saya buka sekali, untuk mencari identitas pemiliknya saja, saya tidak mengambil satupun isinya, namun, bisa dicek lagi, apabila ada yang hilang. Nanti bisa hubungi saya. Ini kartu nama saya." kata Gusti sambil memberikan selembar kertas kecil, bertulisakan nama dan contak personnya.


"Owh, baik nak. Sekali lagi terimakasih. InshaaAllah tidak ada yang hilang." kata bu Maryam sambil menerima kartu nama pemberian Gusti. Lalu bu Maryam membaca kartu nama itu, dengan kacamata yang dikenakannya.


"dr. Gusti Agus Baskara, Sp.Og." guman bu Maryam.


"Ya Eyang." jawab Gusti.


"Nak mas ini, dokter?" tanya bu Maryam.


"Iya Eyang." jawab Gusti lagi.


"Ehm, MaasyaaAllah. Baarokallah ya nak. Semoga nak mas menjadi dokter yang amanah, yang sukses, dan diberi kelancaran disetiap tugasnya." kata bu Maryam.


"Aamiin. Terimakasih Eyang."


"Tugas dimana nak?" tanya bu Maryam.


"InshaaAllah di RSUD kota ini Eyang, tapi baru akan mulai. Karena ini saya baru saja pindah tugas, setelah kemarin praktek di Luar negeri." kata Gusti.


"Ow, jadi nak mas ini baru pulang dari luar negeri?" tanya bu Maryam.


"Iya Eyang."


"Nak mas sudah menikah?" tanya bu Maryam yang membuat Hima yang berdiri disampingnya merasa desiran darah di kepalanya.


"Belum Eyang. Mohon tambah do'anya saja." jawba Gusti malu-malu.


"Oya, Semoga segera mendapat pasangan yang sholihah ya nak. Menjadi seorang dokter, apalagi dokter kandungan itu, baiknya segera menikah. Kenapa nak mas memilih menjadi dokter kandungan?" tanya bu Maryam memperpanjang obrolan mereka.


"Ehm, karena saya hanya ingin menolong nyawa para ibu dan bayinya. Ibu saaya mengalami keguguran hingga tiga kali, dan itu hampir membuat ibu saya hampir frustasi. Sehingga saya bertekad, ingin menjadi dojter kandungan." jelas Gusti.


Bu Maryam tampak manggut-manggut.


"Ehm, maaf Eyang, kalau begitu kami ijin undur diri dulu, karena ada beberapa yang harus segera saya kerjakan." kata Gusti berpamitan.


"Oh, ya nak. Sekali lagi, terimakasih sudah repot-repot mengantarkan domoet cucu saya." kata Bu Maryam.


"Sama-sama Eyang." jawab Gusti, sedangkna Anjani hanya tersenyum.


"Hima, tolong antar mereka ya." kata bu Maryam sambil memberikan sebuah paper bag kepada Hima. Hima paham maksud Eyangnya. Karena itu sudah menjadi tradisi bagi Eyang, apabila kedatangan tamu baik.


"Baik Eyang." jawab Hima.


💞💞💞


Pandangan pertama itu boleh, yang kurang baik adalah pandangan berikutnya, karena pandangan berikutnya itu, disertai nafsu dan bisikan syaitan.


Apakah Gusti menyukai Hima? Lalu, siapa Hima sebenarnya?

__ADS_1


simak terus ya...😍😘


__ADS_2