
Sore itu, Arjuna sudah perjalanan menuju rumah sakit kasih ibu, tempat keponakannya dirawat. Sampai di lokasi, tak sengaja dia berpapasan dengan seorang ibu paruh baya,
"Juna?" sapa seorang ibu itu.
"Ya bu?" jawab Arjuna.
"Eh, bu Erna?" lanjut Arjuna lagi sambil mencium punggung tangan bu Erna.
"Ya nak, kamu masih ingat ibu?" tanya bu Erna.
"Akan selalu ku ingat, ibu yang telah merawat saya sejak saya baru lahir." kata Arjuna.
"Apa kabar kamu nak? Katanya, selama ini kamu menimba ilmu di pondok pesantren luar jawa?" tanya bu Erna.
"Iya bu, alhamdulillah. Sebenarnya, saya daftarnya masih di jawa tengah juga, tetapi, qodarullah, saya diterimanya di pondok yang terletak di luar jawa. Dan alhamdulillah, ini saya sudah kembali dengan selamat bu." kata Arjuna.
"Ibu apa kabar?" tanya Arjuna.
"Alhamdulillah, baik nak. Ini tadi ibu abis nganterin bapak kontrol. Tapi bapak sudah diantar ke mobil." kata bu Erna.
"Bapak sakit apa bu?" tanya Arjuna.
"Sakit diabetes nak. Harus selalu cuci darah tiap pekan nya." kata bu Erna.
"Yaa Allah bu, sampe Juna belum tau kabar apapun, belum jenguk ke rumah juga." kata Arjuna merasa bersalah.
"Tidak apa-apa nak. Kamu kan juga baru pulang, masih menuntut ilmu." kata bu Erna.
"Lha ini, kamu kenapa ada di sini? Siapa yang sakit?" tanya bu Erna.
"Keponakan saya bu, putranya mbak saya." kata Arjuna.
"Owh, mbak yang serumah sama kamu itu ya? Memangnya sakit apa nak?" tanya bu Erna.
"Iya bu. Putra nya mbak Hima, saya juga belum tau bu, ini tadi cuma dibilangin suruh nyusul ke rumah sakit, gitu aja." kata Arjuna.
"Oya, semoga lekas sembuh ya nak." kata bu Erna.
"Ya bu. aamiin. terimakasih bu. Semoga bapak juga lekas membaik ya bu." kata Arjuna.
"Aamiin. Main-main lah ke rumahmu nak." kata bu Erna.
"InshaaAllah bu, nanti saya usahakan dalam waktu dekat ini." kata Arjuna.
"Ibu akan selalu menunggumu nak, begitupun dengan kedua orangtuamu." kata bu Erna mendadak melo.
"Ya bu, InshaaAllah." kata Arjuna.
"Ya sudah, ibu pamit duluan ya, kasian nanti bapak kelamaan nunggunya." kata bu Erna.
"Oh, ya bu hati-hati." kata Arjuna.
💞💞💞
Sesampainya di ruang ICU, Arjuna mendapat tatapan tak enak dari mantan suami Hima, namun Arjuna tak menghiraukannya, dia langsung menanyakan keberadaan Hima pada pakdenya, Ustadz Mumtaz.
"Assalamualaikum, Pakde. Mbak Hima dimana pakde?" tanya Arjuna.
"Di dalam." kata ustadz Mumtaz.
"Ehm, saya tunggu sini saja kalau begitu." kata Arjuna.
Tak lama kemudian, Hima keluar ruangan, dia melihat ada Arjuna disana. Himapun langsung menghampiri adiknya.
__ADS_1
"Juna, kita ke masjid dulu yuk. Sudah mau maghrib." kata Hima.
"Ya mbak." jawab Arjuna lalu diapun mengekor Hima menuju masjid rumah sakit.
💞💞💞
Seusai sholat, Hima mengajak Arjuna duduk di teras masjid terlebih dahulu, dia menceritakan semua yang dia ketahui dari dokter.
"Juna." kata Hima membuka percakapan.
"Ya mbak?" tanya Arjuna.
"Rama, tadi sempat kritis." kata Hima pilu.
"Rama sakit apa mbak?" tanya Arjuna.
"Kata dokter, thypus. Tapi, karena kemarin tidak segera tertolong saat dia demam, membuat Rama kejang." jelas Hima.
"Sekarang, kondisinya bagaimana mbak?" tanya Arjuna lagi.
"Tadi masih belum sadarkan diri, Jun." kata Hima dengan linangan air mata.
"Mbak yang sabar. Semoga Rama segera sadar, dan mbak bia berkomunikasi dengannya." kata Arjuna menenangkan.
"Semoga saja." kata Hima.
"Harusnya, Rama ikut denganku." kata Hima lagi dengan isakan yang semakin keras. Arjuna hanya mampu menenangkan tanpa mampu memeluk memberikan kekuatan. Karena mereka memang kakak beradik, tetapi mereka bukan saudara kandung.
"Assalamualaikum." sapa seseorang diantara mereka.
"Wa'alaikum salam." jawab serentak Hima dan Arjuna.
"Dokter Gusti?" sapa Hima yang sudah mengenal dokter muda itu.
"Ya pak dokter, Saya Arjuna." jawab Arjuna ramah, dengan mengulurkan tangannya menyalami dokter Gusti.
"Salam kenal, Saya Gusti, saya yang kemarin mengantarkan dompet anda mas, bersama adik saya." kata Gusti ramah.
"Oh, ya pak dokter, terimakasih banyak dokter, sudah repot-repot mengantarkan ke rumah saya." kata Arjuna sungkan.
"Tidak masalah mas. Kebetulan saya dan adik saya juga longgar." kata Gusti.
"Oh ya, mbak Hima, bagaimana kabar putranya? Tadi kata ayah anda, yang sakit putra anda ya?" tanya Gusti menatap wajah wanita pujaan hatinya yang saat ini wajah itu sedang redup.
"Dia masih belum sadar dok." jawab Hima dengan menunduk.
"Kalau boleh tau sakit apa ya mbak?" tanya Gusti pura-pura tidak tau.
"Thypus." jawab Hima singkat.
"Ehm, bis aja di karena terlambat makan itu." jawab Gusti.
"Ya, kata dokter Danu tadi juga begitu." kata Hima.
Saat Gusti akan bertanya lagi, tiba-tiba ponsel Hima berbunyi, tanda panggilan masuk.
📞Abah
"Assalamualaikum Hima."
"Wa'alaikum salam. Ada apa bah?"
"Segeralah kembali, Rama sudah sadar. Dia mencari kamu."
__ADS_1
"Alhamdulillah, ya bah. Terimakasih, Hina segera ke sana."
Hima segera mengakhiri panggilan, lalu bergegas ke ruang ICU tempat putranya dirawat.
Begitupun dengan Arjuna dan dokter Gusti, mereka mengikuti langkah Hima, tanpa di komando.
Sesampainya di ruang ICU, Hima langsung masuk ruangan, dan benar saja, putranya sudah sadar.
"Mama." panggilan lemah daru anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu menggetarkan hati Hima.
"Ya sayang, ini mama." kata Hima berlinang air mata.
"Rama mau sama mama."
"Mama akan selalu disini bersama Rama."
"Mama jangan tinggalin Rama lagi ya ma." kata Rama memelas.
"Iya sayang." kata Hima dengan mengangguk.
"Rama cepat sembuh ya nak." kata Hima lagi
Rana hanya mengangguk lemah. Dia tersenyum senang, dengan wajah pucatnya.
"Mama, Rama jau dipeluk mama." kata Rama.
Langsung saja Hima memeluk tubuh mungil putra tunggalnya itu dengan penuh kasih sayang.
💞💞💞
"Arjuna, bisa kita bicara sebentar?" kata Gusti saat di luar ruang ICU.
"Bisa dok." jawab Arjuna.
Merekapun menuju ruang kerja dokter Gusti yang tak jauh dari ruang ICU.
"Arjuna."
"Ya dok?"
"Boleh saya tanya sesuatu?"
"Boleh dok."
"Siapa sebenarnya Rama itu?" selidik Gusti.
"Putranya mbak Hima dengan mas Ardi dok." jawab Arjuna.
"Hima bersuami?" tanya Gusti penasaran.
"Dulu iya, sekarang tidak dok. Mas Ardi dan mbak Hima sudah bercerai, karena suatu hal." kata Arjuna.
"Owh, jadi laki-laki di luar tadi itu ayah dari anak itu?" tanya Gusti.
"Iya dok. Dan wanita disebelahnya itu, istri keduanya." jawab Arjuna.
"Mbak Hima sudah bercerai dengan mas Ardi saru tahun yang lalu dok, karena suatu hal. Namun, keputusan hakim, mengatakan bahwa hak asuh Rama jatuh ke tangan. mas Ardi, sebagai ayah kandungnya. Sehingga selama setahun ini, Rama tinggal bersama ayah kandungnya, dan ibu tirinya." jawab Arjuna.
"Owh begitu?" jawab Gusti hanya ber oh ria.
Gustipun menyampaikan beberapa praduga dari hasil analisis dokter Danu, terkait keadaan Rama. Gusti juga menjelaskan, bahwa dirinya dan dokter Danu siap untuk membantu agar Rama bisa dirawat oleh ibu kandungnya. Karena anak seusia Rama memang masih sangat membutuhkan peran ibu dalam hidupnya.
Arjuna yang mengetahui hal tersebut cukup terkejut, namun betapa bahagianya dia mengetahui bahwa kedua dokter itu siap membantu urusan Hima.
__ADS_1
Kemudikan Arjunapun undur diri menyusul mbaknya di ruang ICU.