Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Ikatan Suci


__ADS_3

Hari yang di tunggu pun tiba, Gusti sudah menyiapkan semuanya untuk acara meminang seorang wanita yang sangat dia cintai. Keluarga Gusti juga sudah menyiapkan segala persiapannya, tak terkecuali Anjani.


"Hm... akhirnya kakak menemukan belahan jiwanya, semoga mbak Hima adalah jodohnya kakak sampai akhir hayatnya." gumam Anjani sambil merias wajahnya di depan cermin.


"Lalu aku?"


"Aku masih jomblo aja, tapi gapapa sih, daripada jadi pacar orang yang suka selingkuh." gumam Anjani lagi dengan emosi mulai muncul karena teringat oleh Leo mantannya.


"Kira-kira, kalau nanti kita ke pesantren buat ngelamar mbak Hima, ada santri pesantren yang tertarik sama aku juga ga ya?" kata Anjani lagi sambil memutar tubuhnya didepan cermin.


"Ga ada salahnya kan kalo aku juga pingin kaya kakak, dapet jodoh anak pesantren." gumamnya sendiri sambil tersenyum.


"Ah, tapi masak iya, ada santri yang naksir sama aku. Agama aku aja masih kurang banyak, sholat juga baru aja bisa istiqomah biar ga bolong-bolong, ngaji juga masih terbatas-bata, ngimpiin punya suami santri. Haha, dasar kau Jen. Ngipi jangan ketinggian." katanya sendiri dan tertawa sendiri.


Tok tok tok


"Ya, masuk." kata Anjani saat mengetahui ada orang minta ijin masuk.


"Jeni, ayo sayang, semua udah siap. Kakakmu juga udah siap." kata mama Nita.


"Ya mah." kata Anjani yang sudah siap dengan pakaian kebaya dan riasan modern serta jilbab yang dia hias sendiri. Meski Anjani gadis yang cuek judes dan dingin, tapi dia gadis yang pandai merias diri.


Keluarga besar bapak Pratama sudah siap menuju pesantren untuk melangsungkan acara khitbah putri seorang pemilik pesantren.


Sesampainya di pesantren, keluarga pak Pratama disambut hangat oleh keluarga besar pesantren. Diam-diam, Anjani mencari sesosok pria di barisan para santri ataupun di barisan keluarga yang menyambutnya.


"Kemana tu anak? Apa dia lagi sibuk? Sampe ga keliatan menyambut." gerutu Anjani dalam hati.


Setelah melewati beberapa sambutan, akhirnya masuk juga anca inti, dimana pak Pratama menyampaikan maksud kedatangan rombongan, untuk mempersunting Himatul Husna binti Mumtaz Hasyim.


"Assalamualaikum Jeni." sapa seorang pemuda saat acara sudah selesai.


"Wa'alaikumsalam. Eh, kamu." jawab Anjani.


"Apa ini milikmu?" tanya Arjuna memberikan sebuah bros.


"Eh, iya. Jatuh ya?" kata Anjani sambil menerima bros dari tangan Arjuna.


"Iya, tadi saya lihat, saat kamu masuk rumah, kamu memakai bros ini, Lalu ga sengaja, tadi aku nemuin di dekat lemari, aku ingat-ingat, dan ternyata benar, ini milikmu." kata Arjuna.


"Kamu liat aku pas masuk rumah?" tanya Anjani heran.


"Iya."

__ADS_1


"Dimana, kenapa aku ga liat?" protes Anjani.


"Kamu nyariin aku?" tanya Arjuna.


"Ah, engga. Siapa bilang?" jawab Anjani gugup, karena merasa ketauan kalau dia sedang mencari-cari seseorang.


Arjuna tersenyum simpul menanggapi kegugupan gadis dihadapannya.


"Sudah makan?" tanya Arjuna.


"Sudah." jawab Anjani singkat.


"Ehm, ya udah. Saya belum makan, saya permisi, mau makan dulu." kata Arjuna berpamitan.


"Oh, ya. Silakan." jawab Anjani sok Jaim.


Acarapun selesai, keluarga Pratama berpamitan pada keluarga besar ustadz Mumtaz. Dan dari hasil musyawarah, pernikahan keduanya akan dilaksanakan dua pekan setelah prosesi khitbah.


💞💞💞


"Alhamdulillah, akhirnya anak mama akan menikah juga." kata bu Nita sambil meletakkan dia cangkir berisi kopi susu untuk suami dan anak lelakinya.


"Iya mah, Papa juga sangat senang, lega. Apalagi wanitanya anak Sholihah, InshaaAllah bisa menggandeng anak kita, untuk bisa lebih baik lagi dalam hal agama." kata pak Pratama.


"Jeni juga seneng banget mah, pah. Secara, 'kan kalo Jeni udah punya calon sewaktu-waktu ga perlu nungguin kakak lagi. Hehehehe." kata Anjani sambil duduk bergabung di kursi makan sambil membawa secangkir teh hangat.


"Gus, Setiap orang tua itu, ingin yang terbaik untuk anaknya. Begitupun papa dan mama. Kami diam bukan berarti kami ga mau tau, tapi karena kami yakin, bahwa anak kami ini bisa mengerti dengan keadaan." kata bu Nita.


"Usiamu sudah tigapuluh lebih, orang tua mana yanh tidak khawatir, melihat anak bujangnya ga segera menikah-menikah, dikira ga laku. Padahal banyak wanita yang ngantri untuk dijadikan istri oleh dokter spesialis sepertimu." kata pak Pratama.


"Hahaha, iya ya pah. Ya do'ain ya pah, mah, semoga acara kita nanti lancar sampai hari H." kata Gusti memohon restu


"Aamiin." jawab semua anggota keluarga Pratama.


💞💞💞


Dua pekan kemudian, acara ijqb qobul akan segera dimulai di pesantren. Hima sudah siap di kamarnya dengan dandanan yang sangat cantik oleh MUA pilihan keluarga Pratama.


Rombongan dari keluarga Pratama juga sudah hadir di pesantren,


Gusti dengan segelas jas serba putih dan pecu putih, sudah siap untuk melafalkan ijab di tempat tersebut, dengan mentak yang sudah ditata sejak jauh-jauh hari.


"Saya terima, nikah dan kawinnya, Himatul Husna binti Mumtaz Hasyim dengan mas kawin emas lima ratus gram dan uang sebesar lima juta, dibayar tunai." kata Gusti dengan lantang.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.


"Sah..." jawab serentak para hadirin.


"Alhamdulillah." jawab Penghulu yang kemudian dilanjutkan do'a do'a untuk pengantin.


Acara ijab qobul selesai, dan mereka bersiap untuk melanjutkan acara resepsi. Banyak tamu undangan yang hadir dari pihak keluarga mempelai putri. Karena untuk tamu undangan dari keluarga Pratama baru akan diundang keesokan harinya di gedung dekat store nya Anjani.


"Juna." panggil Anjani.


"Ya?" jawab Arjuna.


"Ehm, boleh minta foto?" tanya Anjani.


"Kamu serius?" tanya Arjuna tak percaya.


"Iya. Tapi ga disini. Di sana." kata Anjani sambil menunjuk panggung pelaminan, tempat kakaknya berdiri.


"Owh, maksudnya kamu ngajak aku foto bareng pengantin?" tanya Arjuna.


"Iya. Gimana? Mau ga?" tanya Anjani judes.


"Oh, okey." kata Arjuna sambil berjalan menuju pelaminan.


Sesampainya di pelaminan, Hima dan Gusti melihat keduanya dengan tatapan jail.


"Ehem, ngajak foto bareng biar segera ketularan ya?" ejek Gusti pada Anjani.


"Ish, apaan sih kak. Ya wajar dong kalo Jeni mau minta foto bareng." kata Anjani memerah wajahnya.


"Tapi ini sama Juna lho." kata Gusti lagi. Hima hanya tersenyum lucu saja melihat adegan obrolan dua kakak beradik dihadapannya.


"Ya kan Juna adiknya mbak Hima, dan Jeni adiknya kakak. Kita berdua ini tim sukses acaranya kakak tau, masak ga boleh minta foto bareng?" omel Anjani dengan menjaga imej nya.


"Hahaha, okey lah, okey. Ayo Juna." kata Gusti lagi.


Merekapun berswafoto.


"Selamat ya kak, mbak Hima. Semoga kalian jadi keluarga samawa, sampai maut memisahkan." kata Anjani menyalami Hima saat keluarga Pratama akan berpamitan untuk kembali pulang.


"Iya, terimakasih Jeni cantik. Semoga Jeni juga segera dapet jodoh ya, dan bisa segera nyusul kita." kata Hima dengan senyum teduhnya.


"Aamiin. Makasih mbak." kata Anjani sambil hendak melangkah turun panggung namun tiba-tiba dia hampir terjatuh, dan sebuah tangan berhasil menahannya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


Tangan siapa ya?🤔


Yuk dilanjut di bab berikutnya.


__ADS_2