
Waktu terus berlalu, keadaan umi Ulfa sudah berangsur membaik setelah menjalani oprasi dan kuret. Dan umi juga sudah dibawa pulang ke pesantren. Dirumah, umi Ulfa dirawat oleh Hima dengan sangat baik. Meski Hima anak dari kakaknya umi Ulfa, tetapi mbak Hima lebih nyaman tinggal dirumah eyang nya, yang serumah dengan umi Ulfa. Selain merawat umi, Hima juga merawat eyang.
Semenjak perceraian itu, Hima tak mau lagi tinggal serumah dengan kedua orangtuanya. Hima tidak mau mendengar keluhan orangtuanya yang selalu menyalahkan dirinya. Hima tak mau di poligami, sehingga dia minta cerai dari suaminya. Namun, dengan berat hati, keputusan hakim mengatakan, bahwa anak Hima satu-satunya harus tinggal bersama ayahnya, karena hak asuh jatuh di tangan mantan suaminya.
"Mbak, ngelamun aja." sapa Arjuna sambil mengambil piring untuk sarapan.
"Eh, Juna. Kamu nih, ngagetin mbak aja. Ucap salam dulu kek." protes Hima.
"Hehehe, lupa. Assalamualaikum mbak Hima." kata Arjuna dengan membungkukkan badan dihadapan kakaknya.
"Wa'alaikumussalam. Nah, gitu dong." kata Hima sambil meletakkan teh hangat di meja makan untuk dirinya.
"Lagian, mbak Hima nih, pagi-pagi ngelamun." protes Arjuna.
"Hem..." wajah Hima tiba-tiba berubah sendu. Diapun duduk di kursi depannya Arjuna sambil meneguk segelas teh hangat buatannya.
"Mbak? Kenapa?" tanya Arjuna menatap kakaknya mencoba mencari tau, alasan kakaknya berubah sendu.
"Ada masalah?" tanya Arjuna lagi.
Hima pun menarik napas panjang.
__ADS_1
"Semalem, mbak mimpi Rama, Jun." kata Hima dengan mata berkaca-kaca.
"Ehm, mbak Hima kangen Rama?" tanya Arjuna.
Hima hanya mengangguk pilu.
Arjuna menarik napas panjang, mencoba menenangkan kakaknya.
"Mbak ada firasat buruk tentang Rama, Jun." kata Hima lirih.
"Ya udah, InshaaAllah nanti, sepulang dari kampus, Juna anterin mbak ke rumah Mas Ardi. Kita jenguk Rama ya." kata Arjuna mencoba menenangkan.
Hima pun mendongak. Diapun tersenyum senang. Lalu mengangguk.
"Ya Jun." kata Hima.
"Ya udah, Juna mau pamit dulu ya mbak." kata Arjuna.
"Oya, umi, abi sama Eyang kemana mbak?" tanya Arjuna.
"Umi lagi di dapur pesantren. Abi masih di masjid. Kalau Eyang, mungkin lagi di mushola, lagi ngaji." kata Hima.
__ADS_1
"Okey. Syukron mbak." kata Arjuna sambil menyamber bakwan karya Hima.
"Makan sambil duduk Juna..." teriak Hima saat melihat polah adeknya. Dan Arjuna hanya mengacungkan jempolnya sambil terus berjalan.
Hari ini hari ketiga Arjuna masuk kuliah. Dia berkuliah di universitas negeri melalui jalur beasiswa. Dia memutuskan untuk kuliah, setelah selesai pengabdian di pesantren.
💞💞💞
Seorang gadis berjilbab pashmina hitam dengan celana kulot jins dan hem panjang, tampak selesai menjalankan ibadah sholat dzuhur di masjid. Diapun berjalan ke arah rak sepatu, dan mengambil sepasang sepatu sport, lalu dijinjingnya menuruni tangga lalu memakainya. Saat sedang asyik memakai sepatu nya, tiba-tiba terdengar sebuah benda jatuh dihadapannya.
Seketika gadis itu menatap benda dihadapannya, sebuah kunci terjatuh dari tuannya.
"Hei!!" teriak Anjani sambil melompat menjinjing sebuah kunci ditangannya.
Karena merasa tak dihiraukan oleh si tuannya, Anjani pun memanggil laki-laki yang baru saja lewat di depannya sambil melompat-lompat, karena dia beluam selesai memakai sepatu.
"Mas!" teriak Anjani lagi. Laki-laki itu ku. menoleh ke arahnya gadis itu .
"Ya?" kata laki-laki itu memutar balik badannya .
"Ini kunci anda bukan?" tanya Anjani pada laki-kaki itu.
__ADS_1
Hem...siapa ya laki-laki itu? Mau tau kelanjutannya?? ☺ simak terus ya K3D...Kisah kasih Kembar dampit.