Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Mimpi


__ADS_3

Hari itu, Hima sangat terpukul atas kepergian putra kesayangannya. Dan hatinya kembali perih, kala melihat seorang laki-laki yang sangat dia benci hadir dalam acara prosesi pengurusan jenazah Rama.


"Ngapain kamu disini? Pergi kamu!" teriak Hima pada laki-laki itu.


Kata maaf dari laki-laki yang pernah menjadi suaminya tak membuatnya mengiba untuk sekedar memberi ruang pada ayah dari anak yang baru saja menghadap sang pencipta untuk sekedar meluapkan rasa bersalahnya.


Laki-laki itu dituntun Arjuna keluar dari rumah duka, untuk menenangkan keadaan.


"Maafkan papa nak." isak tangis laki-laki itu masih mengalun bersama dengan langkahnya pergi dari rumah duka.


Di rumah duka, Eyang Maryam senantiasa mendampingi Hima bersama dengan umi Ulfa. Namun tidak dengan ibu tiri Hima yang masih terepotkan oleh adik-adik Hima yang masih kecil-kecil. Kebetulan, Himapun tak terlalu dekat dengan ibu tiri nya.


Hingga prosesi akan diberangkatkan ke liang lahat, Hima terus didampingi, Hima sering pingsan tak sadarkan diri, begitupun ketika jenazah Rama akan di kebumikan, Hima tak kuat mengikuti rombongan, karena badannya terlalu lemah.


"Hima sayang, kamu dirumah saja sama umi dan eyang ya. Percayakan semuanya pada Abah, abi dan juga Juna, semua akan baik-baik saja." kata Umi Ulfa meyakinkan.


Hima tak kuat menjawab apapun, dia sangat lemah dan terus menangis meratapi kepergian putranya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Tiga hari sudah kepergian Rama, meninggalkan bekas luka yang teramat dalam pada diri Hima. Hima hanya mengurung diri di kamarnya dengan linangan air mata yang tak ada habisnya, hingga kelopak matanya bengkak.


"Hima, ikhlas kan lah nak. Eyang tau, ini sangat berat bagimu, tapi ketahuilah, setiap yang bernyawa pasti akan mati, begitupun dengan mu, dengan eyang dengan semua yang ada di bumi ini." kata Eyang Maryam menasehati.


"Bersedih, menangis. Boleh nak, tetapi tidak boleh berlarut-larut. Itu sesuatu hal yang berlebihan, dan itu dapat membuat ruh nya Rama di sana justru tidak tenang. Kita do'akan Rama, kita kirimkan alfatihah untuknya, agar Rama tenang di sana." kata Eyang Maryam menasehati cucunya.


"Iya Eyang." kata Hima masih dengan wajah sendu, berusaha menghapus air matanya yang tak henti menangis.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Pagi itu, sekitar jam sepuluh pagi, Arjuna seperti biasa ada jam kuliah. Saat jam perkuliahan sudah selesai, Arjuna membuka ponselnya untuk mengecek Whatsapp, ternyata ada sebuah pesan yang jarang masuk.


πŸ“©Mas Gusti


Assalamu'alaikum Juna. Adakah waktu longgar hari ini Juna? Saya ingin bertemu denganmu.


"Mas Gusti pingin ketemu? Ada apa ya? Kok tumben?" gumam Arjuna.


πŸ“¨Juna


Wa'alaikum salam mas Gusti, InshaaAllah nanti siang jam makan siang saya longgar mas, sampai jam 13.30.


πŸ“©Mas Gusti

__ADS_1


Okey Juna, nanti kita ketemu di deket kampusmu aja ya.


πŸ“¨Juna


Ya mas. Nanti ke warung bakso pak Mul aja mas, deket kampus saya, saya biasa makan siang di sana.


πŸ“©Mas Gusti


Okey Jun. Makasih ya


Arjunapun melanjutkan kegiatannya, dia menuju perpustakaan untuk mencari bahan referensi tugasnya.


Sedangkan Gusti di rumah sakit, sedang tidak bertugas, dia di ruangannya sedang memikirkan sesuatu.


"Hem, aku cerita sama Juna nanti gimana ya?" gumam Gusti.


"Mimpi itu bener bener seperti nyata."


"Dan, ternyata anak dalam mimpiku itu Rama, dan mama yang dia maksud itu Hima. Mau ga mau, aku harus cerita dulu sama Juna." gumam Gusti yang kemarin sempat melihat wajah Rama sebelum dikebumikan. Dan betapa terkejutnya Gusti, saat melihat wajah itu, adalah wajah anak kecil yang hadir dalam mimpinya saat malam dimana Rama sudah hampir berpulang.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Siang itu, Arjuna sudah menunggu di warung bakso langganannya. Dia menunggu Gusti, yang ingin berjumpa dengannya.


"Wa'alaikum salam. Engga kok mas, Juna juga baru aja kok mas." kata Arjuna berdiri menyalami Gusti yang baru datang.


"Silakan pesan dulu mas, saya udah pesan." kata Arjuna menyodorkan daftar menu.


"Okey, makasih Jun." kata Gusti menerima daftar menu, dan menuliskan pesanannya di sebuah kertas pesanan.


"Jadi gimana mas? Mas Gusti mau cerita apa?" tanya Arjuna sudah penasaran.


"Ehm, jadi gini Jun. Kamu boleh percaya, boleh engga, tapi ini saya putuskan untuk bercerita, karena saya sudah mengalaminya ketiga kali ini." kata Gusti. Arjuna hanya menyimak.


"Dulu, pas malam sebelum Rama meninggal dunia, saya bermimpi, bertemu anak kecil laki-laki di sebuah taman yang indah, anak itu berpakaian serba putih, namun ada beberapa lebam di wajahnya. Anak itu bilang pada saya 'Aku sayang mama.', Kata anak itu


"Lalu, dia juga bilang, kalau dia titip mama. dia tidak bisa menjaga mamanya, dia berharap kalau saya juga bisa jagain mamanya. Hanya saja, waktu itu saya sama sekali tidak kenal anak itu, setiap saya tanya, siapa namanya, siapa nama mamanya, dia tidak menjawab. Dia hanya bilang, 'aku sayang mama, tolong om jagain mamaku.' selalu begitu." Arjuna hanya mampu menyimak.


"Dan betapa saya terkejut, ketika kemarin saya memandikan jenazah Rama, wajah itu sangat mirip dengan anak laki-laki yang menemui saya di dalam mimpi. Karena memang, semenjak Rama dirawat di rumah sakit, saya hanya tau namanya saja, tanpa mengetahui wajah anak itu." jelas Gusti lagi.


"Dan mimpi itu tidak hanya sekali Jun, mimpi itu terjadi sudah tiga kali ini. Kemarin saat Rama akan meninggal, hari ketiga meninggalnya Rama, dan tadi malam ,hari ketujuh meninggalnya Rama."


"Sama semua?" tanya Arjuna

__ADS_1


" Engga Jun. hari ke tiga kemarin, saya hanya bermimpi hampir sama, tetapi intinya sama, Rama menitipkan mamanya pada saya. Dan tadi malam, Rama bilang, kalau dia sayang mamanya, dia mau Om menjaga mama, begitu katanya. Intinya sama sih Jun." kata Gusti lagi.


"Ehm, kalau boleh tau, Mas Gusti ini, sebelumnya apa sudah ada rasa dengan mbak Hima?" tanya Arjuna.


"Ehm..." Gusti ragu menjawabnya.


"Jawab saja mas, tidak apa-apa. Jujur saja, tidak masalah bagi saya." kata Arjuna mampu membaca bahasa tubuh Gusti, diapun meyakinkan Gusti.


"Ya, iya Jun, sejak pertama kali kami bertemu, waktu saya mengantarkan dompet kamu yang jatuh di bandara waktu itu." kata Gusti.


"Tetapi, waktu itu, saya kira Hima masih gadis Jun, saya selalu berdoa'a bisa meminangnya. Bahkan, adik saya, Jeni, dia mau berjilbab juga berawal dari Hima yang meminjaminya jilbab." kata Gusti.


"Lalu, sekarang setelah tau kalau mbak Hima bukan seorang gadis, dia bahkan seorang janda, apakah mas Gusti masih memiliki rasa yang sama?" tanya Arjuna.


"Rasa itu justru semakin kuat Jun. Bahkan, kemarin saat melihat dia menangis kehilangan Rama, hati ini justru ikut tersakiti. Dan betapa leganya saya, saat kamu bilang, bahwa mbak Hima itu janda, laki-laki di luar ruangan itu, mantan suaminya. Mereka telah bercerai satu tahun yang lalu. Ada sebesit harapan, untuk bisa menjadikan Hima sebagai istri saya Jun." kata Gusti.


"Hem, ya mas. InshaaAllah, nanti akan saya ceritakan dulu pada Abi, Umi dan Eyang, kalau mereka memberi lampu hijau, barulah saya bercerita pada pakde, selaku wali nya mbak Hima, dan baru berbicara dengan mbak Hima ya mas. Semua keputusan ada ditangan mbak Hima, saya hanya perantara saja." kata Arjuna.


"Jadi, ini saya mendapat dukungan?" tanya Gusti tak percaya.


"Ya, InshaaAllah mas." kata Arjuna tersenyum tulus.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Juna." kata Gusti.


"Sama-sama mas. Memangnya, mas Gusti sudah yakin? Apa sudah dibicarakan dengan keluarga mas? Karena wanita yang mas maksud ini berstatus janda lho mas." tanya Arjuna.


"Yang penting saya mau menikah Jun, masalah itu, pasti mama papa ngikut aja. Karena mengingat usiaku yang udah ga muda lagi, hehehe." jawab Gusti mantab.


"Memang usia mas Gusti berapa?" tanya Arjuna penasaran.


"Udah hampir kepala empat Jun." jawab Gusti malu-malu.


"Masa' sih mas? Berarti sama mbak Hima beda usia cukup jauh juga ya." tanya Arjuna.


"Memang usia Hima berapa Jun?"


"Sekitar Tiga puluh tahun mas. Beliau nikah muda."


"Owh, pantesan. Ya semoga saya bisa segera mengakhiri lajang saya ya Jun."


"Aamiin mas. Berdoa'a saja, karena Allah maha membolak balikkan hati Hambanya." jawab Arjuna memberi support.


"Ya Juna, terimakasih ya Jun." jawab Gusti bahagia.

__ADS_1


Merekapun berbincang mengenai banyak hal tentang kuliah, dan pekerjaan hingga bakso mereka telah habis.


__ADS_2