
"Begitu ceritanya Abi, Umi, Eyang." kata Arjuna dihadapan tiga orangtua yang dihormatinya. Arjuna menceritakan hasil pertemuannya dengan Gusti, dan malam itu juga, Arjuna langsung mengajak kedua orangtua dan eyangnya untuk berbincang.
"Ehm, menurut Umi, baiknya kita selidiki dulu, siapa itu Gusti, orangnya bagaimana, Sholih tidak, dan baik tidak untuk Hima. Karena Umi trauma, kejadian yang menimpa Hima beberapa waktu ini." kata Umi Ulfa.
"Iya, Abi rasa juga begitu Mi. Cukup kejadian kemarin sebagai pelajaran saja." kata Abi Ilyas.
"Kalau menurut Eyang, itu bukan mimpi biasa, itu sudah jelas sebuah petunjuk. Namun, tidak ada salahnya kita selidiki lagi, siapa Gusti sebenarnya. Apakah dia benar-benar mencintai cucuku Hima. Dan Eyang rasa, Hima juga belum bisa dengan mudah menerima pinangan seseorang, setelah apa yang sudah menimpanya belum lama ini." kata Eyang Maryam.
"Baiknya, hal ini saya ceritakan dulu saja sama mas Mumtaz, karena beliau wali dari Hima, yang berhak memberikan keputusan." kata Ilyas.
"Kalau langsung disampaikan ke Hima, gimana Bi?" tanya umi Ulfa.
"Abi rasa, jangan dulu Mi, karena Hima masih dalam suasana duka." kata abi Ilyas.
"Iya bi. Tadi Juna juga bilang gitu ke mas Gusti, dan mas Gusti bisa memahami hal itu bi." kata Arjuna.
"Apa Rama sudah pernah bertemu dengan dokter Gusti, Jun?" tanya umi Ulfa.
"Belum Mi. Makannya mas Gusti kaget. saat melihat wajah Rama saat beliau memandikan jenazah Rama kemarin." kata Arjuna.
"Ya. Eyang semakin yakin. itu sebuah petunjuk, agar kita tidak salah dalam memilihkan jodoh untuk Hima. Karena kita tak mungkin membiarkan Hima berlarut sebagai Janda, akan banyak fitnah nantinya." kata Eyang Maryam.
"Iya Eyang."
"Ilyas, Ulfa. Umi titip Hima, sampai dia benar-benar aman nantinya. Arjuna juga ya nak. Eyang titip mbakmu. Eyang sudah tidak sanggup jika harus selalu mendampingi Hima. Kasian dia, dengan abah nya sendiri, dia bagai tidak mengenal, semenjak abah nya menikah lagi, Hima kehilangan sosok yang menjadi tumpuannya. Apalagi saat ini, dia baru saja kehilangan salah satu kekuatannya, setelah dia mengalami suatu kesakitan karena mantan suaminya." kata Eyang Maryam.
"InshaaAllah Eyang." jawab Arjuna.
"InshaaAllah Umi." jawab Ilyas dan Ulfa.
💞💞💞
"Mama." sapa seorang anak laki-laki berpakaian serba putih.
"Rama?" kata Hima.
"Mama, Rama sayang mama."
__ADS_1
"Mama juga sangat sayang sama Rama, mama rindu sama Rama." kata Hima sambil mengulurkan tangannya untuk menerima pelukan.
"Maaf mama, Rama tidak bisa." kata Rama menolak uluran tangan Hima.
"Kenapa sayang? Mama kangen sama Rama." kata Hima.
"Rama sayang mama, Mama jangan sedih lagi ya, Mama sama om ya ma. Rama mau mama sama om. Om itu baik ma, Om sayang sama mama. Rama udah bilang sama om, kalau Rama titip mama ke om." kata Rama.
"Rama, kamu bilang apa sih nak? Om? Om siapa?" tanya Hima.
"Om dokter mama. Om dokter baik ma, om dokter sayang sama mama, sama Rama juga." kata Rama.
"Om dokter?" tanya Hima tak mengerti.
"Itu om dokter datang ma. Rama pergi ya ma, Rama sayang mama." kata Rama beranjak pergi menjauh.
"Rama, Rama, nak. Jangan tinggalin mama sayang." teriak Hima.
"Hima, Hima. Bangun sayang." kata Eyang Maryam membangunkan Hima yang teriak-teriak memanggil nama Rama, putranya.
"Iya nak, kamu mimpi Rama lagi?" tanya Eyang Maryam.
"Iya Eyang." kata Hima dengan sendu.
"Ini masih malam, lanjutkan tidurmu, atau sholat lah nak." kata Eyang Maryam.
"Baik Eyang." kata Hima yang kemudian beranjak dari ranjangnya untuk mengambil air wudlu. Hima akan menjalankan sholat sunah dimalam hari, mengadukan semua isi hatinya dan kegundahan hatinya kepada sang pemilik jagad raya ini.
Selesai sholat, Hima tetap belum bisa tidur kembali, dia teringat Oleh putranya, dia menangis sambil memeluk foto Rama putranya.
"Hima?" sapa Eyang Maryam yang ternyata belum tidur.
"Eyang." Kata Hima sambil memeluk Eyangnya, dia tumpahkan air mata yang keluar di pundak eyangnya.
"Menangislah Nduk." kata Eyang sambil mengelus punggung cucu sulungnya.
"Kasian kamu nduk, Disaat kamu butuh pundak untuk bersandar ketika kau kehilangan buah hatimu, justru dia tak ada disisimu. Dahulu, kau butuh sosok ibu sebagai tempat curhatmu ketika kamu menginjak masa remaja, Allah juga memanggil ibumu, dan kini, disaat kau dan teman-teman seusiamu sedang bahagia menggendong buah hati, kamu pun harus kehilangan dia." batin Eyang Maryam sambil mengelus punggung cucunya.
__ADS_1
Taka ada kata yang keluar dari lisan Hima, hanya air mata yang tak mau berhenti mengalir dari kedua matanya. Hingga, tampak tenang, Eyang Maryam mulai bertanya pada Hima.
"Kamu tadi mimpi apa nduk? Kamu mimpi Rama lagi?" tanya eyang Maryam.
"Iya eyang." jawab Hima sambil masih sesenggukan.
Eyang Maryam menarik napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.
"Boleh eyang tau ceritanya?" tanya Eyang Maryam.
"Iya Eyang."
"Tadi, Hima mimpi bertemu Rama di sebuah masjid, Dia bilang sama Hima, dia sayang sama mama. Dia berpesan, mama tidak boleh bersedih lagi Eyang. Dan Rama bilang, mama suruh sama om." kata Hima terhenti.
"Om?" dahi eyang Maryam mengernyit.
"Iya Eyang, Hima juga ga ngerti maksudnya. Tapi Rama bilang, om itu juga sayang sama mama. Pas Hima tanya, om siapa. Dia menjawab, Om dokter eyang." kata Hima, membuat Eyang Maryam teringat oleh cerita Arjuna beberapa hari yang lalu, yang menceritakan tentang Gusti, dokter spesialis kandungan itu.
"Ehm, ya sudah. Jangan terlalu kamu fikirkan ya nak, mungkin memang itu salah satu petunjuk, salah satu permintaan putramu Rama. Mungkin itu memang pesan Rama. Tapi ya sudahlah, istirahat lah dulu, besok atau kapan, baru kita cari tau arti dari mimpimu itu." kata Eyang Maryam.
"Iya eyang."
Jam baru menunjukkan pukul dua dini hari, masih cukup lama jika ingin menunggu waktu subuh tiba. Himapun tidur kembali dengan ditemani eyang Maryam.
"Sabar ya nduk, semua akan ada hikmahnya selama kita sabar. Akan ada pelangi setelah hujan, Kamu yang ikhlas, sabar, selalu do'akan yang terbaik buat Rama di sana ya nduk." pesan Eyang Maryam sambil memeluk cucunya.
"Iya eyang."
"Kamu juga jangan lupa, do'akan ibumu juga." kata Eyang Maryam lagi
"Iya Eyang, ibu selalu dihatiku eyang, baktiku padanya hanya lewat do'a." kata Hima lagi.
"Ya sudah, istirahat lah nduk, berdoa'a sama Allah, mintalah ketenangan hati." pesan Eyang Maryam lagi
"Iya Eyang." jawab Hima.
Hima pun akhirnya tertidur dalam pelukan Eyangnya, yang selama ini menggantikan. sosok ibunya.
__ADS_1