
"Ini kunci anda bukan?" tanya Anjani lagi dengan tangan kanannya menjinjing sebuah kunci motor, dan tangan kirinya memegang sepatunya yang belum selesai dipakai dengan satu kaki diangkat.
"Oh, iya benar. Ini kunci motor saya. Terimakasih ya mbak." ucap laki-laki itu sambil menerima kunci motor dari gadis berjilbab pashmina.
"Eh, bentar deh... mas ini bukannya...Ehm..." Anjani mencoba mengingat-ingat.
"Oh,,, ya... Mas, lain kali tu, lebih hati-hati lagi dong. Jangan terlalu ceroboh jadi orang." kata Anjani yang sudah ingat siapa laki-laki di hadapannya.
"Iya mbak. Maaf. Dan terimakasih sudah diingatkan." jawab si pemilik kunci tersenyum ramah.
"Kemarin dompet, sekarang kunci motor. Kalo mau bagi-bagi rejeki tu ga begini mas caranya... " omel Anjani lagi.
"Dompet? Kok anda tau kalau saya pernah kehilangan dompet?" tanya Arjuna heran.
"Oh, jangan-jangan mbak nya ini yang kemarin nemuin dompet saya ya?" tanya Arjuna.
"Yap, betul banget. Itu inget." kata Anjani sambil berjongkok melanjutkan membenahi sepatunya.
"Ya Allah mbak. Terimakasih banyak ya mbak, sampe dianterin ke rumah segala." kata Arjuna.
"Iya, tapi kamunya ga ada." kata Anjani ketus.
"Iya mbak, maaf. Karena kemarin itu, dari bandara saya langsung menuju rumah sakit." kata Arjuna.
"Iya, kakakmu juga udah bilang." kata Anjani sambil berdiri. Kegiatan memakai sepatunya sudah selesai.
"Oya mbak, saya Arjuna." kata Arjuna menangkupkan tangannya didada.
"Iya udah tau. Dari KTP kamu kemarin." kata Anjani cuek.
Merasa tak diindahkan, Arjuna jadi merasa sungkan.
"Ehm, kalau boleh tau, mbaknya ini namanya siapa?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Jeni." jawab Anjani cuek sambil mengambil ponsel dari sakunya.
"Oya, jangan panggil aku mbak ya. Terlalu tua rasanya. Panggil Jeni aja ya. Ga usah pake mbak. Okey?" kata Anjani mengoreksi panggilan Arjuna kepadanya.
"Oh, ya. Siap mbak...eh, maksud saya Jeni. Maaf." Kata Arjuna.
"Sip. Ya udah. Aku mau ada perlu, Aku duluan ya." kata Anjani.
"Oya Jeni, sekali lagi terimakasih ya." kata Arjuna tulus.
"Yap." jawab Anjani singkat, lalu berjalan meninggalkan laki-laki dihadapannya.
Arjuna melihat gadis itu dari punggunya, betapa gadis itu berbeda. Dia bukan gadis yang mudah berkenalan, dia gadis yang judes, cuek dan tidak terlalu ramah. Kemudian Arjuna pun melanjutkan jalannya menuju parkiran motor untuk mengambil motor antiknya.
💞💞💞
"Mbak Hima, mbak Hima." panggil seorang santri dengan napas terengaah-engah.
"Assalamualaikum Maya, ada apa?" jawab Hima.
"Ada apa abah nyariin saya?" tanya Hima.
"Ga tau mbak, yang jelas, penting mbak katanya." jawab Maya.
"Ya may, jazakillah ya infonya, saya segera ke sana." kata Hima.
"Ada apa abah manggil aku?" batin Hima.
Tanpa pikir panjang, Himapun menemui eyang untuk berpamitan mau ke rumah abah nya dulu yang terletak di belakang pekarangan pesantren.
"Assalamualaikum." sapa Hima mengetuk pintu rumah orangtuanya.
"Wa'alaikumussalam warohmatullah." jawab Ustadz Mumtaz dan istrinya bersamaan.
__ADS_1
"Hima, kemari lah nak, duduk dulu. Abah mau bicara sama kamu." kata bu Izah.
Himapun menurut, dan duduk di samping ibu tirinya itu, istri kedua abahnya.
"Hima, baru saja Ardi telpon abah." kata ustadz Mumtaz memulai pembicaraan.
Mendengar nama Ardi, Hima segera mengangkat kepalanya. Dia berharap, mantan suaminya itu tidak membuat masalah baru dalam hidupnya.
"Dia memberi kabar, kalau..." kata Ustadz Mumtaz belum mampu melanjutkan kata-katanya.
"Kalau apa bah? Apa ini tentang Rama?" tanya Hima.
Ustadz Mumtaz mengangguk.
"Kenapa dengan Rama, Bah?" tanya Hima tak tahan lagi dengan rasa penasarannya, jantungnya berdetak begitu cepat, badannya terasa panas, mata mulai berkaca-kaca. Dia sudah membayangkan sesuatu hal sudah terjadi dengan buah hati nya.
"Rama... Rama masuk rumah sakit Him." kata Ustadz Mumtaz.
Seketika tubuh Hima lemas tak berdaya, dugaannya benar. Feeling nya tidak salah lagi, ikatan batin ibu dan anak tak dapat dipungkiri. Hima sudah memimpikan buah hatinya itu tiga hari berturut-turut.
"Di rumah sakit mana bah? Hima akan ke sana sekarang." kata Hima berusaha menguasai dirinya.
"Di Rumah Sakit Kasih Ibu." kata Ustadz Mumtaz.
"Baik. Terimakasih Bah, Hima akan ke sana. Assalamualaikum." kata Hima sambil beranjak pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
"Hima, kita bersama ke sana." kata ustadz Mumtaz.
"Ga usah, Hima bisa sendiri." kata Hima bersikeras.
"Tidak Hima. Abah harus mengantarmu." kata ustadz Mumtaz.
Himapun menurut, mengingat Arjuna adiknya belum pulang, dan dirinya juga tidak bisa mengendarai motor ataupun mobil. Sehingga mau tidak mau dia pergi bersama abah nya.
__ADS_1
Himapun berpamitan pada Eyang dan Umi Ulfa, untuk pergi ke rumah sakit bersama abah nya. Dia menitipkan Pesan, agar Arjuna nanti kalau sudah pulang, Diminta untuk menyusulnya ke rumah sakit.