
"Pak Ma'ruf, tolong segera ke ke TKP, di sebelah sana." kata seorang petugas SAR yang sudah basah kuyub oleh air hujan.
Malam itu hujan mengguyur sangat deras hampir merata di seluruh wilayah.
"Siap." jawab Ma'ruf. Tanpa pikir panjang Ma'ruf langsung menuju lokasi yang telah memakan banyak korban.
"Ma'ruf, akhirnya kamu datang juga. Ruf, tolong beberapa anak di seberang sana ya." kata seorang teman SAR sambil menunjuk ke arah seberang jalan yang sudah banjir sampi dada orang dewasa. Di seberang masih ada beberapa anak yang tadi belum bisa tertolong, sedangkan di sana, tanah dari lereng gunung sudah semakin mengikis, Sehingga anak-anak itu terancam tertimbun tanah longsor.
"Yaa Allah, keadaan sebahaya ini, semoga semua akan baik-baik saja." batin Ma'ruf.
"Siap. Bismillahirrohmanirrohim." kata Ma'ruf sambil menaiki kapal karet SAR bersama beberapa kawan SAR yang lain.
πππ
"Allahuakbar Allahuakbar..." terdengar suara adzan dari mushola yang tak jauh dari tempat tinggal Norma dan Ma'ruf.
"Astaghfirullah... aku ketiduran." kata Norma seorang diri yang masih mengenakan mukenanya setelah dia membaca Al-Qur'an. Dia wiridan sambil menunggu suaminya, tasbih yang dia pegangpun masih dia pegang di tangannya.
"Ehm, mas Ma'ruf belum pulang." gumam Norma sambil melihat ke sekelilingnya. Normapun melepas mukenanya lalu berjalan ke toilet untuk mengambil air wudlu. Hujan di luar masih mengguyur di dini hari, tetapi sudah tidak sederas tadi malam, saat dirinya melepas kepergian suaminya bertugas.
Setelah selesai menyelesaikan sholatnya, Norma kembali mengambil Al-Qur'an miliknya untuk dibaca, karena hatinya belum juga bisa tenang memikirkan suaminya yang bertugas.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, belum juga ada tanda-tanda Ma'ruf pulang. Norma selalu memandang ponselnya yang tak kunjung ada pesan masuk atau telepon. Namun, hasilnya Nihil. Sedangkan dirinya juga mau tanya siapa, tak tau. Karena dia tidak tau, saat ini Ma'ruf sedang bertugas dengan siapa. Tak seperti biasanya, Ma'ruf belum juga menghubunginya. Biasanya jika dia bertugas di tengah malam, dia akan menghubunginya ketika dia masih tidur, atau saat subuh tiba. Ma'ruf meninggalkan ponselnya di rumah untuk istrinya, sedangkan dia bertugas tanpa membawa ponsel. Namun dia akan tetap mengabari istrinya, dengan ponsel milik kawannya sesama SAR.
__ADS_1
Normapun menghibur dirinya dengan memasak air untuk membuatkan minum suaminya ketika pulang nanti, dan memasak kesukaan suaminya, sebagai obat lelahnya setelah bertugas semalam suntuk.
Jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi, Namun Ma'ruf belum juga pulang. Ponselnya juga masih tenang saja, tidak ada kabar apapun daru suaminya.
Saat Norma hendak menunaikan sholat duha, tiba-tiba ponselnya berdering. Mendengar dering telepon, Norma berbinar bahagia, karena dia yakin, bahwa itu suaminya.
"Halo, Assalamu'alaikum." jawab Norma saat mendengar sambungan di seberang.
"Ya, saya sendiri."
"Apa????" seketika itu juga tubuh Norma melemas. Ponselnya tiba-tiba terjatuh.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un...Mas... ga mungkin....ini ga mungkin..." Norma menangis seorang diri dengan tubuhnya yang sudah bersimpuh di lantai.
πππ
"Astaghfirullahal'adzim...bu Norma!!" bu Erna selaku bidan desa terkejut melihat tubuh Norma yang sudah pingsan di kamarnyaa.
"Tolong segera bawa ke ruang periksa saya ya pak." kata bu Erna kepada pak RT yang tadi menginformasikannya tentang kabar Ma'ruf.
Sesaimpainya ruang periksa, bu Erna mencoba untuk membangunkan Norma, dengan ditemani bu RT. Sedangkan pak RT dan beberapa warga lainnya kembali ke rumah Norma untuk membereskan rumah Norma.
"A...Aku dimana?" kata Norma saat sudah sadar.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mbak Norma sudah sadar." kata bu RT yang sedari tadi menjaga Norma.
"Bu RT? Saya dimana?" tanya Norma.
"Suami saya? Suami saya dimana bu?" seketika Norma teringat kembali oleh suaminya.
"Mbak Norma, mbak yang tenang ya. Suami mbak akan segera pulang. mbak yang tenang ya." kata bu RT menenangkan.
"Mas...Mas Ma'ruf, saya harus segera pulang bu." Norma semakin frustasi.
"Astaghfirullahal'adzim! Bu Norma, ibu sudah sadar? Ibu... ibu tenang dulu ya. ini ibu minum dulu ya. Nanti kita pulang bareng-bareng." kata bu Erna mencoba menenangkan.
Normapun menurut. Dia meminum air yang sudah disiapkan bu Erna, dan akan pulang ke rumahnya bersama dengan bu Erna dan Bu RT.
πππ
Jenazah Ma'ruf sudah tiba di rumah duka, saat itu pula, Norma benar-benar nyata melihat jenazah suaminya sudah terbujur kaku. Saat memandikan dan mengkafani, Norma benar-benar tidak kuat, sehingga dia harus di paksa untuk istirahat di rumah, mengingat kandungannya yang sudah besar.
Namun, saat waktu mensholatkan, Norma bertekad untuk ikut dengan di dampingi bu Biran Erna. Hingga tiba saat Jenazah akan diberangkatkan dari rumah Duka, Norma semakin lemas tak berdaya. Dengan dipapah bu RT dan bu Bidan, Norma bertekad untuk turut serta mengantar suaminya ke peristirahatan terakhirnya.
"Mas... kenapa kamu tinggalin aku mas..." tangisan Norma membuat haru semua para pelayat, semenjad dari rumah hingga di pemakaman. Betapa tidak, Norma yang sedang hamil besar, harus berpisah dengan suaminya karena Maut, bahkan meninggalnya pun saat sedang bertugas kemanusiaan. Norma hanya tinggal sebatangkara, karena dia pergi dari rumahnya. Dia sudah tidak diterima oleh keluarganya lagi, setelah dia memilih Ma'ruf sebagai suaminya.
___________
__ADS_1
Bismillah, kita akan mulai untuk masuk cerita si kembar Dampit ya...tetap simak cerita Kisah kasih kembar Dampitπ