
Setelah acara resepsi pernikahan Anjani selesai, Arjuna mendapat telepon dari pihak pondok, agar besok pagi harus sudah tiba di pondok. Sehingga, Arjunapun segera mengirim pesan pada Azizah.
"Jikalau memang Zizah jodohku, pertemuan ini bukanlah suatu kebetulan." batin Arjuna.
📨Zizah
Assalamualaikum ukhti. Saya harus segera kembali ke pondok di Ponorogo, bisakah sore ini kita bertemu? Jika memang anti ingin mengobrol.
Tak berselang lama, pesan dibalas.
📩Zizah
Bisa mas. Di kedai depan kampus tempat mas kuliah dulu ya. Kedai sehati.
📨Zizah
Ok
Tak menunggu waktu lama, Arjunapun pergi ke kedai yang dimaksud. Saat dia akan masuk kedai, dia melihat Zizah keluar dari dalam.
"Assalamualaikum mas Juna." sapa Azizah.
"Wa'alaikumsalam Zizah."
"Silakan duduk mas. Mau pesen apa?" tanya Azizah sambil memberikan daftar menu.
"Ehm, cappuccino aja." jawab Arjuna.
"Makannya?"
"Ga usah, saya masih kenyang."
"Okey."
Sambil menunggu pesanan datang, Azizah duduk diseberang Arjuna. Mereka mengambil posisi duduk di pojok ruangan, agar tidak terganggu lalu lalang orang lewat.
"Ehm, Zizah, mau cerita apa?" tanya Arjuna.
"Ehm... mulai dari mana ya mas enaknya." kata Azizah sambil jari telunjuknya bermain di dagunya.
"Ehm...Mas Juna udah nikah belum sih? Kayaknya belum ya?" tanya Azizah kemudian.
Arjuna tersenyum kecut. Hal itu kembali mengingatkannya pada kejadian enam bulan lalu, saat cintanya kandas di saat tunas sudah mulai bersemi.
Arjunapun menggeleng.
"Ehm, kalau anti?" tanya Arjuna.
Belum sempat Azizah menjawab pertanyaan Arjuna, pesanan Arjuna sudah datang.
"Kamu ga mesen?" tanya Arjuna.
Azizah tersenyum, dan menggeleng.
"Ini usahaku mas, kedai ini tempatku mengais rejeki." kata Azizah.
"Oh..." Arjuna hanya bisa ber Oh saja.
Sepersekian menit, keduanya saling diam.
"Ehm, maaf, anti belum jawab pertanyaan saya." kata Arjuna.
"Ha? Oh, ehm... saya... saya udah menjanda mas." kata Azizah tertunduk sendu.
"Menjanda?" tanya Arjuna tak percaya.
"Iya. Belum lama juga kok." kata Azizah.
"Ehm, kenapa? Karena meninggal atau..." tanya Arjuna ragu, tetapi ingin tau.
"Karena dia yang menceraikan saya. Dia lebih memilih wanita masa lalunya daripada saya." kata Azizah.
__ADS_1
"Ehm... gitu?" Arjuna tak berani berkomentar.
"Kami dulu dijodohkan mas." kata Azizah.
Arjuna tak bergeming.
"Abi yang menjodohkan kami, hingga akhirnya kami menikah, dan menjalani bahtera rumah tangga selama dua tahun." kata Azizah.
"Oh, udah lama juga ya anti menikah?" tanya Arjuna.
"Iya mas. Saya baru semester enam waktu itu." kata Azizah.
"Dua tahun pernikahan, dia sama sekali tidak memberi saya nafkah batin mas. Kami LDRan. Karena saya masih kuliah, maka saya tidak bisa ikut dia pergi merantau. Sehingga kami terpaksa berjauhan. Dan entah kenapa, dua tahun pernikahan, dia tiba-tiba menyerahkan surat perceraian kepada saya." kata Azizah dengan tangis yang tertahan.
"Sabar ya." kata Arjuna.
"Mas..." panggil Azizah.
"Maaf sebelumnya, jika nanti ada perkataan saya yang kurang berkenan." kata Azizah.
"Ehm...ya."
"Mas... jujur, sejak awal kita ketemu waktu di masjid itu, saya sudah ada rasa sama mas Juna." kata Azizah tertunduk.
Arjuna terksiap dengan pernyataan Azizah.
"Tapi...waktu saya dengar mas Juna kuliah ke luar negeri, saya coba pupus rasa itu." kata Azizah yang suaranya tercekat.
"Kemudian, karena Abi tipikal orang yang tak suka menunggu, ketika ada teman pengajiannya bilang ingin menikahkan anaknya dengan anak abi, yang tak lain adalah saya, akhirnya saya dijodohkan dengannya. Saya pikir, dia akan menyayangi saya, tetapi ternyata ditengah jalan, dia tak mampu menjalani hubungan ini dengan harmonis. Dia masih teropsesi dengan pacarnya, dan dia bersikeras untuk menikahi pacarnya." kata Azizah sambil menangis.
"Hingga suatu hari, dia benar-benar marah padaku karna aku tak bisa berhias secantik wanita pada umumnya." kata Azizah lagi dengan tertunduk.
Arjuna hanya diam menyimak semua cerita Azizah, gadis cantik yang alim kala itu. Kini gadis itu berubah menjadi wanita yang pandai berhias juga dengan balutan jilbab yang sudah tak selebar dulu.
"Setelah perceraian itu, aku mulai menyibukkan diri dengan berbisnis mas, membuka usaha semampuku. Dan abi juga setuju dan mendukungku. Kali ini, abi tidak ingin menjodohkan aku lagi, beliau ingin aku mencari jodoh sesuai keinginanku. Abi trauma akan kejadian kemarin yang menimpaku. Dan, saat tadi datang ke acara walimahnya kak Kaisar, qodarullah Allah mengijabah do'aku. Aku ingin ketemu kamu mas." kata Azizah tertunduk.
Arjuna menarik napas dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Arjuna benar-benar kaget dengan pengakuan dan penyataan Azizah tentang masa lalunya. Gadis yang dia pikir adalah gadis beruntung, yang pasti akan selalu bahagia dengan jalan hidupnya, karena kesholihahannya, justru dibalik itu dia menyimpan duka yang mendalam.
"Mas... Zizah... Zizah masih..." kata Azizah yang masih tercekat di kerongkongan. Rasanya dia berat untuk mengutarakan isi hatinya.
"Jika Zizah mau, menakahlah denganku." kata Arjuna tiba-tiba dengan sikap dingin.
"A...apa? Ma...mas Juna...?" Azizah tergagap tak dapat berbicara dengan lancar.
Arjuna menoleh kearah Azizah, dan menatap kedua bola mata yang masih terbelalak tak percaya dengan yang didengarnya.
Arjuna tersenyum manis dan mengangguk.
"Menikahlah denganku. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu. Aku akan berusaha membimbingmu kembali kepada Azizah yang dulu, yang selalu tampil syar'i dengan jilbab panjangmu. Dengan gamis indah mu. dengan lembut tutur katamu, dengan make up malumu." kata Arjuna menatap Azizah.
Azizah masih tak percaya, niat dia mengajak Arjuna curhat karena memang dia ingin mengkhitbah Arjuna, dia tidak perduli dengan apa kata orang, perempuan melamar laki-laki lebih dulu. Yang dia yakini adalah, siap ga siap, dia harus berani mengutarakan keinginannya, meski nanti hasilnya sangat menyakitkan baginya. Dia pun siap untuk patah hati. Namun, diluar dugaannya, justru Arjunalah yang meminangnya.
Saat adegan itu, musik dari radio terdengar sesuai dengan suasana hati mereka.
*) Duhai Gadis Ayu
Kini kau kian anggun
Dengan kerudung panjangmu
Namun mengapakah
Wajahmu tampak gundah
Seolah menyimpan duka
Janganlah engkau larut
Dalam kepiluanmu
Meski dunia tinggalkanmu
__ADS_1
ALLAH bersamamu s'lalu...
back to *)
Chorus :
Jangan kau bersedih
Dengan yang t'lah kau pilih
Tuk menjadi lebih baik
Meski dia t'lah pergi
Tinggalkanmu sendiri
Usahlah engkau sesali
Jangan kau bersedih
Dengan yang t'lah kau pilih
Tuk menjadi lebih baik
Meski dia t'lah pergi
Tinggalkanmu sendiri
Usahlah engkau tangisi
Cinta yang t'lah lalu
Jangan membuatmu ragu
Itu semuanya semu
Cinta yang sejati
Tak pernah menyakiti
Itulah cinta ILAHI
Interlude
[Chorus]
Duhai Gadis Ayu
Kini kau kian anggun
Dengan kerudung panjangmu
Tersenyumlah selalu
Tatap cakrawalamu
Yang tak kan lagi kelabu...
(Gadis Ayu_ by: Zero Nasheed)
"Saya akan datang melamarmu, ba'da maghrib nanti. Sebelum saya kembali ke pondok." kata Arjuna yang sudah berdiri dan hendak pergi.
Azizah kembali terkejut,
"Mas Juna serius?" tanya Azizah.
"Ya, aku serius." kata Arjuna.
Azizah mengangguk.
"Ya mas, akan aku sampaikan sama abi." kata Azizah dengan wajah yang merona merah. Arjuna tak sanggup melihat berlian di hadapannya, diapun menundukkan pandangan lalu pamit pulang.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Salam Arjuna.
"Wa'alaikumsalam." jawab Azizah lirih.