
Eyang Maryam mengetahui cerita Hima, dan juga mengetahui cerita dari Arjuna tentang laki-laki bernama Gusti. Dua malam ini,eyang Maryam selalu kepikiran akan hal itu. Mimpi memanglah bunga tidur, tetapi mimpi juga bisa sebagai sebuah isyarat.
"Hima, Eyang mau bicara." kata Eyang Maryam di waktu sore, saat Hima sedang beristirahat di pendopo belakang rumah, sambil membuat kerajinan tangan, sebagai obat jenuh nya.
"Iya Eyang, Silakan." kata Hima.
Eyang Maryampun dituntun Hima untuk duduk di pendopo.
"Nduk, sudah dua bulan Rama pergi, bagaimana perasaan mu? Apakah masih sedih, ataukah sudah kau ikhlaskan?" tanya Eyang Maryam.
"Alhamdulillah, InshaaAllah sudah Hima ikhlaskan Eyang. Kesedihan yang berlarut itu 'kan kurang baik ya eyang?" jawab Hima.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Eyang juga senang, akhirnya kamu bisa menerima keadaan dengan ikhlas." kata Eyang Maryam.
"Iya Eyang."
"Nduk."
"Ya Eyang?"
"Boleh Eyang tanya sesuatu?" tanya Eyang Maryam.
"Boleh eyang."
"Ehm, nduk. Apakah ada niatan dalam hatimu, untuk menjalani rumah tangga lagi?" tanya Eyang hati-hati, khawatir membuat Hima tersinggung.
"Ehm, Hima belum terbayang eyang." jawab Hima.
"Nduk."
"Ketika kamu sudah tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Ardi, kamu masih ada harapan untuk tetap semangat bersama buah hatimu Rama. Namun, Allah berkehendak lain, Rama telah kembali KepadaNya." kata Eyang Maryam.
"Eyang tidak selamanya ada disisimu. Eyang tinggalah menghitung hari, karna usia eyang semakin senja." Lanjut Eyang Maryam.
Disaat Eyang Maryam mengatakan itu, Hima seketika menumpahkan air matanya, dan refleks, tubuhnya terhuyung memeluk tubuh eyangnya. Eyang Maryam menerima pelukan itu dengan penuh cinta. Hima adalah cucu terkasihnya, karena dia cucunya yang jauh dari kedua orangtuanya, semenjak ibunya meninggal dunia.
"Eyang..." dan isak tangisnya, Hima tersadar akan hal itu, dimana dia tak kan selamanya bersama eyang.
"Nduk, kalau saran eyang, akan lebih baik, jika kamu mencoba untuk membuka hati lagi. Kamu menikah lagi, Dan semoga kamu bisa mendapatkan buah hati lagi, agar kamu memiliki keturunan, mumpung usiamu masih muda nduk." saran Eyang.
"Kamu tak mungkin kan, tinggal terus bersama bulik dan paklikmu? Sedangkan mereka memiliki keluarga sendiri, mereka masih mempunyai seorang putri yang masih sekolah, Dan Arjuna juga pasti lambat laun akan segera menemukan belahan jiwanya." kata Eyang lagi.
"Tapi Eyang,,," kata Hima bimbang.
"Tapi kenapa nduk?" tanya Eyang.
"Siapa yang mau dengan janda sepertiku?" tanya Hima pesimis.
"Hem... Nduk..."
"Jika ada seorang pemuda baik, yang dia sangat mencintaimu, dan bahkan dia tak pantang mundur meski dia tau bahwa dirimu berstatus janda, apakah kamu mau menerimanya?" tanya Eyang.
__ADS_1
"Eyang, Hima sudah gagal dalam sebuah pernikahan. Hima juga gagal dalam mengemban amanah, amanah menjadi seorang ibu." kata Hima yang kemudian terisak, teringat oleh sosok Rama, putranya.
"Nduk, sebuah kegagalan itu salah satu kunci kesuksesan. Kamu belum terlambat, usiamu masih cukup muda. Perbaikilah kegagalanmu iti, dan capailah kesuksesan yang kau impikan itu." kata Eyang memotivasi.
"Memang, siapa yang mencintaiku Eyang?" tanya Hima penasaran.
"Kamu pernah bertemu dengannya. Kami juga sudah tau siapaa dia. Juna sudah ditugaskan untuk mencari tau siapa dia sebenarnya, dan Juna semakin yakin, bahwa pemuda ini sangat serius dan InshaaAllah dia terbaik untukmu." kata Eyang.
"Siapa dia Eyang?"
"Dia om dokter yang dimaksud Rama, yang hadir dalam mimpimu." kata Eyang sambil tersenyum.
"Dia seorang dokter?" tanya Hima.
Eyang Maryam tersenyum, lalu mengangguk.
"Siapa eyang?"
"Gusti. Dokter Gusti. Orang yang dulu pernah mengantarkan dompetnya Arjuna kemari, bersama adik perempuannya." kata Eyang Maryam.
"Dokter Gusti?"
"Iya nduk."
"Hm... " Hima menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Apa Hima pantas untuknya Eyang?" kata Hima menunduk.
"Apa kamu tertarik padanya?" tanya Eyang.
Hima mengangkat wajahnya.
"Kenapa eyang bertanya seperti itu?" tanya Hima heran.
"Nduk. secara tidak langsung, kamu mengiyakannya, tetapi kamu masih ragu." kata Eyang Maryam tersenyum.
"Jika kamu tertarik padanya, kamu mau menerimanya, besok juga Arjuna akan menyampaikan keputusanmu kepadanya, dan dia akan melanjutkan langkahnya untuk meminangmu bersama keluarganya." kata Eyang Maryam berbinar.
"Secepat itukah eyang?"
"Lebih cepat, lebih baik nduk." kata Eyang Maryam.
Hima menarik napas panjang lagi.
"Hm... bismillah. Baiklah Eyang." jawab Hima optimis.
"Alhamdulillah. Eyang akan segera kabarkan hal ini kepada Arjuna." kata Eyang Maryam penuh bahagia.
Tak terasa waktu maghrib pun tiba. Hima dan Eyang Maryam pun menjalankan sholat maghrib ke masjid, dan dilanjut menyimak hafalan dan bacaan Qur'an para santriwatinya.
Malam harinya, Eyang Maryam langsung menyampaikan keputusan Hima kepada Arjuna, Abi Ilyas, Umi Ulfa dan ustadz Mumtaz. Semuanya bahagia atas keputusan Hima. Dan Arjunapun segera menghubungi Gusti untuk menyampaikan keputusan Hima.
__ADS_1
💞💞💞
"Yes, Alhamdulillah yaa Allah." pekik Gusti dari dalam kamarnya sembari melompat seperti anak kecil.
"Akhirnya... Ah,,," kata Gusti kegirangan.
Gustipun berlari keluar kamar, lalu mencari adiknya, Anjani.
"Dek, Adek." teriak Gusti mencari Adiknya.
"Astagfirullah kak. Kenapa sih teriak teriak? Udah malem ini." omel Anjani.
"Dek, kakak lagi seneng banget ini. Ada kabar gembira dek." kata Gusti dengan raut wajah berbinar sambil memegang kedua tangan adiknya.
"Kabar gembira? Kabar apa kak?" tanya Anjani heran.
"Hima dek." kata Gusti lagi.
"Hima? mbak Hima? Kenapa dengan dia?" tanya Anjani masih tak mengerti, karena dia sedang ngantuk.
"Hima menerima ku dek. Dan secepatnya, kakak diminta kesana bersama keluarga, untuk meminangnya." kata Gusti girang.
"Serius kak?" tanya Anjani tak percaya.
"Iya dek, serius." kata Gusti lagi.
"Yes! Wah, selamat ya kak... akhirnya cintamu terbalaskan." kata Anjani bahagia.
"Iya dek."
"Kita kasih tau mama sama papa besok ya kak."
"Yap."
"Rencana, mau kesana kapan kak?" tanya Anjani.
"Lebih cepat, lebih baik dek." kata Gusti.
"Kapan?" tanya Anjani butuh kepastian.
"Minggu kali ya." kata Gusti.
"Ya gapapa kak. Mumpung kakak libur." kata Anjani.
"Okey. Semoga mama sama papa seneng." kata Gusti berharap.
"Mama papa bahagia pasti kak, secara kan, kakak ga laku-laku." goda Anjani sambil cekikikan.
"Wah, kamu ni dek. Ngejek kakak ya?"
"Engga ngejek kak. Tapi kenyataan. Hahaha." kata Anjani sambil berlari ke kamarnya.
__ADS_1
"Adek..." teriakan kecil dari mulut Gusti.