Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Duka yang Menimpa


__ADS_3

Malam itu, Gusti sudah bersiap untuk tidur, namun dia kembali teringat dengan wajah sendu wanita yang telah berhasil mencuri hatinya. Sebelum tidur, Gusti mengirimkan do'a terbaik untuk putra kesayangan orang yang dia sayang. Kemudian, Gustipun menarik selimutnya untuk pergi ke alam mimpi.


"Om." panggil seorang anak kecil.


"Ya?"


"Om, aku sangat sayang sama mama."


"Kamu siapa nak?"


"Aku sayang mama, om."


"Iya, om mengerti. Tapi namamu siapa? Om antar kamu ke mamamu ya."


"Engga om, Aku ga bisa ketemu mama lagi."


"Kenapa?"


"Karena aku sudah bahagia di sini."


"Aku titip mama ya om."


"Eh, tapi siapa mamamu?"


"Aku yakin, om bisa jagain mama. Karena om sayang mama ku juga kan?"


"Kamu siapa nak? Mamamu siapa?"


"Pokoknya, om harus janji, om akan jagain mamaku."


"Okey, om janji."


"Terimakasih om."


Anak itu pun pergi, meninggalkan Gusti seorang diri. Gusti ingin meminta penjelasan, tetapi anak itu tidak memberikan penjelasan apapun.


💞💞💞


Hari itu, keadaan Rama semakin memburuk. Meski begitu Hima tetap tegar dan menyemangati diri, bahwa keadaan anaknya akan segera membaik


Namun, pagi itu, setelah sholat tahajud, Hima yang tak mau meninggalkan ruang rawat anaknya, dia memilih sholat tahajud di lokasi, namun saat setelah mengucap salam, Rama memanggil nama mamanya .


"Mama."


"Rama? Ya nak, ini mama sayang." kata Hima sangat bahagia melihat putranya sudah sadar.


"Rama sayang mama." kata Rama lemah.


"Mama juga sangat menyayangi Rama." kata Hima sambil memeluk tubuh putranya.


"Mama, Rama harus pergi. Mama sama om ya." kaya Rama.


"Om? Iya sayang Nanti kita sama-sama sama om Juna kita pulang ke pesantren ya." kata Hima yang taunya om yang dimaksud adalah om Juna.

__ADS_1


"Mama nanti sama om aja, Rama mau pulang." kata Rama.


"Iya sayang, kita pulang bareng." kata Hima lagi.


"Rama sayang mama." kata Rama dengan diiringi air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


"Mama juga sangat menyayangi Rama."


"Rama mau mama sama om. Biar mama ga sedih lagi." kata Rama lagi.


"Iya sayang, mama akan selalu sama om." kata Hima.


"Mama janji?"


"Iya, mama janji sayang."


"Mama jangan nangis lagi, mama harus seneng. Rama seneng lihat mama senyum." kata Rama.


"Okey, mama seneng kok, mama udah ga sedih." kata Hima dengan menarik wajahnya untuk tersenyum.


"Terimakasih mama." kata Rama juga tersenyum.


Namun setelah itu, Suara mesin disebelah Rama berbunyi, menandakan Rama sedang tidak baik-baik saja. Hima segera memanggil suster yang menjaga, dan beberapa perawat serta dokter jaga segera menangani Rama digruang ICU. Hima diminta untuk keluar ruangan.


💞💞💞


"Kak, bangun kak. Bangun." Anjani menggoyang-goyang tubuh laki-laki itu.


"Ponsel kakak dari tadi bunyi terus. Ada yang telpon, kayaknya penting." kata Anjani sambil menyerahkan ponselnya.


"Dokter Danu?" gumam Gusti.


Gusti teringat, kemarin sebelum dia pulang dia berpesan pada dokter Danu, kalau ada apa-apa dengan Rama, putranya Hima, dia harus segera dikabari.


Gustipun langsung menelpon balik sahabatnya.


"Halo. Dokter Danu. Gimana? Ada kabar apa?" tanya Gusti.


Terdengar sahutan dari seberang yang seketika membuat Gusti langsung mengucap kalimat Tarjih.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam Gusti.


"Okey, saya segera ke rumah sakit sekarang." kata Gusti bergegas.


"Dek, Segera ikut kakak sekarang." kata Gusti sambil berlari.


"Kemana kak?" tanya Anjani yang masih berdiri di depan kamar kakaknya.


"Ke rumah sakit. Sekarang. Kakak butuh kamu." kata Gusti dengan terburu-buru berganti baju.


"Ya, Jeni ganti baju dulu." kata Anjani berlari menuju kamarnya.


Gusti dan Anjanipun segera melaju ke rumah sakit, Gusti baru memberitahu Anjani terkait kabar yang baru saja dia terima.

__ADS_1


"Anaknya Hima meninggal dek." kata Gusti sambil fokus melihat kemudi.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." kata Anjani.


"Secepat itu kak?" lanjut Anjani lagi.


"Iya, karena memang kemarin menurut analisis, pasien sudah tidak memiliki daya untuk bertahan." kata Gusti.


"Hm, pasti mbak Hima lagi sedih banget ini kak." kata Anjani.


Sesampainya di lokasi, Gusti dan Anjani langsung menuju ruang perawatan jenazah.


"Kebetulan, mas Gusti, Jeni. Tolong amankan mbak Hima dulu ya." kata Arjuna.


"Iya." jawab.


Gusti dan Anjanipun mengamankan Hima di ruang lain agar tidak syok setiap kali sadar dan teringat putranya. Hima sering pingsan setiap kali teringat putranya, sehingga langsung diamankan ke ruang rawat yang tak jauh dari ruang Jenazah.


"Mas Gusti, saya titip mbak Hima dulu. Saya dan keluarga mau mengurus jenazah Rama dulu, ini nanti mau langsung kami bawa pulang ke pesantren, karena akan di urus di pesantren. Nanti, nitip mbak Hima, kalau mbak Hima sudah sadar, tolong di aja pulang ke pesantren ya mas " kata Arjuna berpesan pada Gusti.


"Baik Jun."


"Nitip mbakku ya Jen." kaya Arjuna pada Anjani.


"Ya." jawab Anjani.


Prosesi pemakaman Rama diurus di pesantren, setelah Hima sadar, Hima langsung diajak pulang ke pesantren, dengan didampingi Anjani, karena tubuh Hima yang sangat lemah.


Banyak pelayat yang datang dan pergi, dan banyak santri yang turut serta mensholatkan jenazah. Begitupun dengan umi Ulfa dan Eyang Maryam, mereka juga sangat bersedih atas kepergian cucu mereka. Ustadz Ilyas dan Ustadz Mumtaz mengurus semua urusan pemakaman cucunya dengan hati penuh duka.


"Mas Ardi baiknya jangan menampakkan diri dihadapan mbak Hima dulu mas, karena suasana hati mbak Hima sekeluarga sedang tidak baik-baik saja." kaya Arjuna di depan gerbang pesantren, saat melihat Ardi akan masuk untuk turut serta mengantar kepergian putranya untuk selamanya.


"Tapi dia juga anakku Jun." kata Ardi bersikeras.


"Aku tau mas, tapi ini keadaannya beda. Ini demi keamanan mas Ardi juga." kata Arjuna.


"Aku juga mau lihat anakku yang terkahir kalinya Jun." kata Ardi dengan tangis pilu.


"Okey, tapi sebentar saja ya mas." kata Arjuna memberi kelonggaran pada mantan kakak iparnya.


Ardipun menuju tempat anaknya dibaringkan, dia melihat wajah itu sekilas dengan pinangan air mata.


"Maafkan papa nak." kata Ardi pilu.


"Ngapain kamu kesini? Pergi!" kata Hima saat melihat Ardi berdiri didekat jenazah putranya.


"Maafkan aku Hima. Maaf." kata Ardi pilu.


"Pergi kamu, Pergi!" teriak Hima sambil menunjuk pintu keluar, Hima segera ditenangkan kembali oleh umi Ulfa.


Hari itu, hari duka bagi seluruh pesantren, terutama Hima, ibu kandungnya yang sudah lama tidak bertemu dengan putranya.


Semoga Allah menerima amalan Ramadhan Ardi Nugroho.

__ADS_1


__ADS_2