Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Cerita Eyang


__ADS_3

"Juna." panggil Anjani saat melihat Arjuna sudah pulang dari makam untuk memakamkan eyangnya.


"Eh, Jeni. Assalamualaikum." kata Arjuna sambil menunduk, dengan wajah yang tidak biasanya. Arjuna masih berduka, sehingga diaa belum mampu menampakkan wajah cerianya didepan Anjani.


"Wa'alaikumsalam." jawab Anjani.


"Ehm, Jun."


"Ya?"


"Gue, turut berduka ya. Atas kepergian Eyang. Elo yang sabar ya." kata Anjani.


"Iya, makasih Jen."


"Gue yakin, Eyang khusnul khotimah, Beliau orang baik." kata Anjani lagi.


"Aamiin. Makasih Jen." kata Arjuna masih saja menunduk.


"Ehm, ya udah, Jun. Gue mau pamit pulang dulu." kata Anjani.


"Oh, iya. Hati-hati dijalan, udah larut malam. Ke sini Sendiri?" tanya Arjuna.


"Engga kok, gue sama mama sama papa." kata Anjani.


"Oh, ya udah. Salam untuk mereka." kata Arjuna.


"Ya udah, gue duluan Jun. Assalamualaikum." pamit Anjani.


"Wa'alaikumsalam." jawab Arjuna sambil menatap punggung gadis itu, Lalu diapun berbalik dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


🌾🌾🌾


Keesokan harinya, Arjuna masih belum mau untuk masuk kuliah, dia masih ijin, karena semalaman dia tidak tidur. Arjuna duduk di pendopo belakang rumah, sambil menatap hamparan sawah di luar pagar pesantren. Dia kembali teringat, malam terakhir dia bersama eyang kala itu.


"Juna." panggil Eyang Maryam di depan kamarnya saat Arjuna baru pulang dari masjid setelah dia menyimak hafalan santrinya.


"Eh, Eyang. Eyang belum tidur?" tanya Arjuna.


"Belum, Eyang nungguin kamu." kata Eyang Maryam.


"Ada apa eyang?" tanya Arjuna penasaran.

__ADS_1


"Bisa ikut eyang dulu Jun?" tanya Eyang.


"Bisa eyang." jawab Arjuna.


Eyang Maryam mengajak Arjuna ke kamar Eyang. Eyang menyuruh Arjuna duduk di kursi, dan Eyang tampak mengambil sesuatu dari dalam lemari nya.


"Juna."


"Ya Eyang."


"Kamu sudah tau, nama ayah kandungmu?" tanya eyang Maryam.


"Sudja eyang, bu Erna yang mengenalkan." jawab Arjuna.


"Siapa namanya?" tanya Eyang sambil berjalan dan membawa seberkas map berwarna biru.


"Amar Ma'ruf, Eyang." jawab Arjuna tanpa curiga.


"Ibumu?"


"Norma Khasanah."


"Kalau kakek nenekmu?" tanya eyang Maryam.


"Okey. Kalau pekerjaan ayahmu, kamu tau?"


"Ayah kerja di SAR. Sebagai anggota relawan tim SAR, eyang." kata Arjuna.


"Anak pintar. Kalau ibu?"


"Kata bu Erna, dulu ibu pernah jadi perawat, tapi setelah hamil besar, ibu berhenti jadi perawat." kata Arjuna.


"Kamu masih ingat semua ya nak." komentar Eyang.


"Eyang juga tau?"


"Ya."


"Dan lebih dari itu, eyang tau tentangmu." kata Eyang Maryam.


"Maksud Eyang?"

__ADS_1


"Juna. Sejak pertama kali kamu dibawa kesini oleh abimu Ilyas dan Umimu Ulfa, Eyang sudah mencari tau, siapa kamu sebenarnya. Eyang memerintahkan beberapa orang kepercayaan eyang untuk mencari tau tentangmu, karena sejak awal kita bertemu, Eyang merasa, eyang sangat dekat denganmu, dan rasanya, ada ikatan batin denganmu nak." kata Eyang Maryam baru akan memulai cerita.


Arjuna mendekati eyang Maryam yang duduk di kasur nya. Arjuna menatap dalam wajah renta itu. Ada banyak hak yang ingin Arjuna ketahui dari Eyang Maryam, sosok nenek yang begitu mencintainya.


"Sudah lama sebenarnya eyang tau siapa kamu sebenarnya, tetapi, rasanya kamu belum saatnya tau. Namun, kini rasanya kamu sudah harus tau nak." kata Eyang Maryam, membuka berkas dalam map biru itu.


Arjuna hanya melihat apa yang dilakukan eyang Maryam. Eyang mengambil beberapa foto lama yang tersimpan dalam sebuah album kusam.


"Ini, orang tua eyang. Namanya pak Aminullah dan bu Rahma. Mereka mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan. Sebenarnya beliau punya empat anak, namun yang dua sudah kembali pada illahi. Yang satu karena keguguran, dan yang satu karena sakit diusia enam bulan." kata eyang Maryam sambil mengelus foto lama itu.


"Ini, Eyang, dan adik Eyang. Namanya Hasan." kata Eyang Maryam sambil menunjukkan foto dua anak berusia remaja dengan umur yang tak jauh beda.


"Ehm, Ganteng eyang." komentar Arjuna.


Eyang Maryam tersenyum.


"Eyang juga cantik." lanjut Arjuna sambil menatap eyangnya.


"Kamu ini, Jun. Bisa aja." kata Eyang Maryam sambil menjawil dagu cucunya.


"Itu foto terakhir kami bersama Jun. Adik Eyang kala itu lulus sekolah, minta ikut pamannya merantau ke Sumatra. Karena waktu itu, eyang sekolah pesantren, dan adik eyang tau, kalau bapak ibu eyang sangat ingin bisa pergi haji. Dan, singkat waktu, alhamdulillah, tiga tahun Hasan merantau, dia bisa mengirimi uang untuk bapak dan ibu, sehingga bapak dan ibu eyang bisa daftar haji kala itu. Saat eyang sudah lulus sekolah pesantren, Eyang menikah dengan Gus, putra kyai pemilik pesantren tempat eyang belajar, namanya Ibrahim. Kemudian selang tiga bulan pernikahan, bapak ibu eyang berangkat Haji, nak. Eyang sangat bahagia, disaat mereka berangkat, ternyata kala itu, eyang sedang hamil. Eyang sangat berterimakasih dengan Hasan, adik eyang. Karena dialah, bapak dan ibu eyang bisa berangkat Haji." kata Eyang Maryam mengambil sebuah foto, dimana ada sepasang suami istri sedang berhaji dengan background ka'bah.


"MaasyaaAllah. Adik Eyang, baik banget yaa yang." kata Arjuna.


"Iya nak." jawab Eyang Maryam dengan tersenyum teduh.


"Alhamdulillah, bapak ibu kembali dari tanah suci dalam keadaan sehat. Dan setelah itu, karena mereka mempunyai menantu seorang Gus, mereka berkeinginan mendirikan sebuah pesantren di desanya, karena desa ini, dulu jauh dari pesantren. Namun, belum sempat kesampaian keinginan itu, bapak Aminullah meninggal dunia, di saat itu, adik Eyang pulang. Dia cukup lama di desa ini, menemani ibu, karena eyang harus tinggal di pesantren, tempat suami eyang tinggal. Hingga akhirnya, ibu Rahma juga menyusul bapak, karena sebuah kecelakaan. Hasan yang kala itu sendiri, dia memilih untuk kembali merantau ke Sumatra, dan tinggal disana." cerita Eyang Maryam.


"Sampai sekarang, beliau masih disana?" tanya Arjuna.


"Eyang lanjut ya nak."


"Iya eyang."


"Satu tahun setelah itu, Hasan mengabarkan pada eyang, bahwa dia akan menikah dengan gadis sumatra. Eyangpun datang ke sana, bersama suami dan anak eyang yang baru berusia dua tahun."


"Hasan menetap dia sana, hingga dia punya satu anak laki-laki, sama dengan eyang, anak pertama kami laki-laki."


"Lalu, di akhir tahun duaribu empat, terjadi Tsunami, bencana alam yang dahsyat, melulu lantakkan tanah Aceh dan Sumatra Utara, tempat Hasan tinggal." kata Eyang Maryam seketika suaranya tercekat, oleh tangisan. Eyang Maryam menangis.


"Hasan dan keluarganya tak ada kabar lagi setelah itu. Kami berusaha mencari informasi tentang keluarga nya, namun tidak ditemukan. Hingga bertahun-tahun lamanya. E yang pun pasrah." kata Eyang Maryam dengan tangisannya.

__ADS_1


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam Arjuna.


Cerita terjeda oleh tangisan eyang Maryam. Lalu, apa hubungannya dengan Arjuna? Kenapa Eyang Maryam mengatakan, bahwa dia akan menceritakan siapa sebenarnya Arjuna? Ada hubungan apa cerita tadi dengan sosok Arjuna? Yuk simak bab berikutnya ya.😘


__ADS_2