Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
Cemburu


__ADS_3

📩Mbak Hima


Juna, entar kalo pulang pengajian, mampir beliin semur jengkol di rumah makan bu Ida deket masjid tempat kamu ngaji ya.


"Hem, Kenapa nih? Nyidam nya semur jengkol kah?" gumam Arjuna.


📨Juna


Ya mbak


Tanpa banyak komentar, Arjuna segera melaju ke rumah makan bu Ida, untuk membelikan pesanan mbaknya. Namun, sesampainya di sana, ada sebuah mobil yang tak asing bagi Arjuna. Arjunapun masuk untuk memesan semur jengkol untuk mbak Hima.


"Bu. semur Jengkol satu ya. Dibungkus." kata Arjuna, sambil mencari tempat duduk untuk menunggu. Namun, saat akan duduk, dia melihat sosok gadis yang tak asing baginya sedang duduk berhadapan dengan sahabatnya dengan wajah cemberut.


"Mending sakit perut, daripada sakit hati." kata Anjani masih dengan menahan marah.


"Istighfar Jen." kata Zalva mengingatkan.


"Semua cowok tu sama aja. Nyebelin. Suka caper. Dasar. Ga alim ga play boy, sama aja." kata Anjani lagi.


"Jeni, Zalva? Siapa yang dimaksud Jeni? Emang kenapa dia sampe sakit hati? Apa aku yang salah?" batin Arjuna.


Arjunapun melangkah mendekati Zalva dan Anjani.


"Assalamualaikum." sapa Arjuna.


"Wa'alaikumsalam." jawab keduanya, dan Anjani menoleh ke arah Arjuna dengan tatapan tak suka.


"Ngapain sih dia ngikutin gue?" batin Anjani.


"Ehm, kalian di sini juga?" tanya Arjuna.


"Iya mas, Ini Jeni katanya lapar." kata Zalva.


"Emang elo engga?" tanya Jeni.


"Ya ,gue juga laper sih, tapi yang minta ke sini kan elo." kata Zalva.


"Oya Jeni. Saya minta maaf, jika saya ada salah." kata Arjuna.


"Hem." jawab Anjani singkat.


"Lho, emang mas Juna salah apa?" tanya Zalva bingung.


"Ehm, saya juga kurang tau, tapi sedari tadi, Jeni bersikap dingin sama saya, ya mungkin memang saya ada salah" jawab Arjuna.


"Kenapa sih Jen?" tanya Zalva menyikut Anjani.


"Ah, gapapa. Perasaan dia aja kali." kata Anjani acuh.


Saat Arjuna akan berkata lagi, karyawan warung yang melayani semur jengkol sudah memanggilnya.


"Mas, semur jengkolnya." panggil ibu paruh baya itu.

__ADS_1


"Oh, ya bu." kata Arjuna.


"Jeni, Zalva, saya permisi dulu ya." kata Arjuna berpamitan.


"Hem." jawab Anjani.


"Ya mas. Hati-hati." kata Zalva.


Sepeninggal Arjuna, Zalva pun tak bisa menutupi rasa penasarannya atas perubahan sikap Anjani.


"Elo kenapa sih Jen? Tumben?" tanya Zalva.


"Gue kan udah bilang, gapapa. Gue baik-baik aja. Kalian aja yang baper." kata Anjani dengan melahap makanannya.


"Ah, pusing gue mikirin elo." kata Zalva pasrah.


"Ya udah, ga usah dipikir." kata Anjani lagi.


Merekapun menghabiskan makanan dengan tanpa kata, hingga akhirnya mereka pulang.


"Assalamualaikum." salam Anjani dengan lesu.


"Wa'alaikumsalam. Sayang, tadi kamu dicarin lho sama kakakmu, tadi dia ke sini nyariin kamu, mama bilang kalo kamu ikut pengajian, terus kakakmu seneng banget dengar kamu sekarang mau ikut pengajian." kata mama Nita.


"Oya? Ngapain kakak ke sini?" tanya Anjani tak bersemangat.


"Ya cuma mampir sekalian nganterin titipan dari umi Ulfa buat mama." kata mama Nita.


"Ehm, ma. Menurut mama, semua laki-laki itu sama ga sih?" tanya Anjani galau.


"Menurut mama, Jeni tu pantes ga sih mah berjilbab? Berubah jadi baik?" tanya Anjani sambil menghadap mamanya dengan wajah cemberut.


"Anak mama ni kenapa sih? Tumben lesu gitu? Kenapa sayang?" tanya mama Nita memeluk putrinya.


"Mama. Aku sebel sama dia." kata Anjani yang akhirnya tidak bisa menyimpan perasaan keselnya seorang diri.


"Dia? Dia siapa? Emangnya si Dia melakukan apa sampe kamu sebel sama dia?" tanya Mama Nita.


"Dia itu cowok yang Jeni suka ma. Jeni kira dia itu alim, ga gampang kenal cewek, tapi nyatanya, dia malah sok caper sama cewek. Ih. mana ceweknya juga sok kecentilan lagi." kata Anjani dengan ngambeknya.


Mamaa Nita mengerti maksud arah cerita putrinya. Anjani sedang merasakan rasa cemburu pada seseorang, tetapi biasanya Anjani langsung melabrak cowok itu, tetapi kenapa sekarang berbeda?


"Ya, mungkin itu bukan maksud dia untuk caper sayang, ya mungkin kebetulan aja." kaya mama Nita memberi pengertian.


"Ah, pokoknya Jeni sebel sama dia. Nyebelin." kata Anjani sambil melangkah masuk kamar dengan wajah tertekuk tekuk.


Mama Nita yang pernah mengalami masa masa seperti itu, mengerti akan keadaan putrinya. Namun mama Nita tidak mencoba untuk mengajak cerita putrinya lagi, karena mama Nita paham sifat Anjani, kalau sedang kecewa, dia lebih suka mengurung di kamar, hingga diapun tertidur. Jika sudah lebih fresh, dia akan kembali dengan sifat aslinya lagi.


"Jeni, jeni." gumam mama Nita geleng-geleng kepala.


🌾🌾🌾


Sesampainya di rumah, Arjuna segera menyerahkan semur jengkol itu kepada Hima.

__ADS_1


"Mbak." panggil Arjuna.


"Ya Jun?" jawab Hima sambil menuangkan semur jengkol ke piring nya yang sudah diisi nasi.


"Kalau cewek marah tu, biasanya cowok kudu gimana sih?" tanya Arjuna curhat.


"Hahaha, kamu lagi marahan sama cewek kamu?" tanya Hima.


"Apaan sih mbak? Cuma nanya mbak." kata Arjuna malu.


"Ya kamu coba rayu dong. Kasih apa gitu biar hatinya luluh. Biasanya cewek tu kalo marah engga lama kok." kata Hima.


"Ehm, biasanya cewek suka apa mbak? Bunga?" tanya Arjuna.


"Ga semuanya suka bunga sih Jun, tapi memang lebih romantis kasih bunga. Asalkan jangan bunga setaman, dikira kuntilanak nanti, hahahaha." kata Hima sambil tertawa dengan sikap adiknya.


"Siapa sih? Jeni?" tanya Hima lagi.


Arjuna mengangguk.


"Kalau dia jangan kasih bunga. Kasih aja transferan yang banyak, pasti dia seneng." kata Hima sekenanya.


"Walah mbak, kalo itu Juna belum bisa mbak. Juna cuma kurir paket, gajinya ga seberapa, mau transfer transferan segala." kata Arjuna menolak.


"Hahaha, lagian kamu nih Jun. Lucu deh. Ya udah, sana kamu harus minta maaf sama dia, kamu tanya salahnya apa." kata Hima.


"Udah mbak. Tadi aku udah nanya, dia ga mau ngaku." kata Arjuna.


"Ya wis, kapan kalo mbak ketemu dia, mbak tanya deh. Siapa tau dia mau cerita sendiri." kata Hima.


"Bener ya mbak." kata Arjuna.


"Iya. InshaaAllah." jawab Hima.


"Mas Gusti tugas ya mbak?" tanya Arjuna.


"Iya." jawab Hima.


"Oya Jun, Paklik sudah ketenu kamu belum?" tanya Hima.


"Belum mbak, kenapa emangnya?" tanya Arjuna.


"Gapapa. Tadi paklik nyariin, katanya mau ngomong gitu." kata Hima.


"Ngomong apa mbak?" tanya Arjuna.


"Ya mana mbak tau. Biasanya ada sesuatu yang penting. Oya, kabarnya kamu bakal jadi pimpinan pondok pesantren ini to Jun?" tanya Hima sambil memakan makanannya.


"Ya begitulah mbak." jawab Arjuna lesu.


"Yang semangat to. Itu amanah. Harus diikhtiari, ga cuma di sambati." kata Hima menasehati.


"Setelah nikah sama mas Gusti, mbak Hima kok makin bijak to mbak?" tanya Arjuna.

__ADS_1


"Hem... baru tau?" tanya Hima.


Merekapun asyik dalam percakapan dengan Arjuna ikut makan semur jengkol pesanan Hima tadi.


__ADS_2