Kisah Kasih Keluarga Dampit

Kisah Kasih Keluarga Dampit
K3D 8


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, dan bu Erna sudah pulang dari bekerjanya.


"Assalamu'alaikum Nyonya." salam bu Tutik.


"Wa'alaikumussalam bi. Lho Arjuna mana?" tanya bu Erna.


"Arjuna baru keluar bu. Ehm, sama om nya." jawab bu Tutik ragu.


"Om? Om siapa bi? Bi, jangan mudah percaya sama orang. Arjuna itu tidak punya sanak saudara bi. Nanti kalau ternyata dia orang jahat gimana bi? kalau Arjuna diculik gimana bi?" Bu Erna sangat khawatie denga kabar yang disampaikan bu Tutik.


"Ma maaf nyonya. Tapi, saya yakin, mereka bukan orang jahat nyonya. Mereka beneran keluarganya Arjuna. Yang laki-laki wajahnya mirip sekali dengan bu Norma, Nyonya. Dia bilang, dia kakak Kandungnya bu Norma. Namun memang beberapa tahun kemarin, kakaknya bu Norma itu sedang study di pondok pesantren dan berlanjut kuliah ke Mesir, nyonya. Sehingga beliau belum sempat menjenguk bu Norma lagi, setelah menikahkan bu Norma. Dan nanti kalau nyonya sudah pulang, mereka akan kembali bersama Arjuna, nyonya." jelas bu Tutik.


Bu Erna tampak berfikir. Dia teringat dengan kata-kata Norma sewaktu dia menemani Norma di rumahnya sepeninggal suaminya. Norma memang pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki kandung, yang saat kepergian suaminya, kontak kakaknya tidak aktif. Hingga saat dia akan melahirkan pun, kontak kakaknya belum aktif juga.


Tak berapa lama, saat bu Erna masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawab bu Erna dan bu Tutik bersama.


"Sepertinya itu mereka nyonya." kata bu Tutik.


"Tolong dibukakan pintunya ya bi." kata bu Erna.


"Baik bu."


Setelah pintu dibuka, benar saja, yang datang Arjuna bersama dengan pak Ilyas dan bu Ulfa.

__ADS_1


"Ibu..." sapa Arjuna menghambur ke arah bu Erna dan mencium punggung tangannya.


"Arjuna, kamu dari mana?" tanya bu Erna dengan mensejajarkan wajahnya dengan Arjuna.


"Arjuna tadi diajak jalan-jalan bu sama om Ilyas dan tante Ulfa. Arjuna juga dibeliin mainan sama baju." kata Arjuna polos sambil memberitahukan sebuah mainan mobil-mobilan yang baru saja dia beli bersama Ilyas dan Ulfa.


"Owh, sudah ucap terinakasih belum sama mereka?" tanya bu Erna.


"Sudah bu. Kalo ibu ga percaya, ibu tanya aja sama mereka." jawab Arjuna dengan polos.


"Iya, ibu percaya kok. Ya sudah, ayo duduk dulu." kata bu Erna kepada Arjuna, karena pak Ilyas dan bu Ulfa sudah terlebih dahulu duduk karena sudah dipersilakan oleh bu Tutik, sebelum bu Tutik ke dapur.


"Maaf bu, kami tadi mengajak Arjuna pergi jalan-jalan dulu, tanpa seijin bu Erna. Karena kami sengaja mengajak Arjuna untuk mengisi waktu, sambil menunggu kepulangan bu Erna dari bertugas." kata Ilyas.


"Oh ya pak. Tadi bu Tutik juga sudah bilang ke saya. Tapi, tadi saya sempat khawatir pak, saya lira bapak dan ibu ini ada niat jahat dengan Arjuna, sehingga bu Tutik pun menceritakan siapa sesungguhnya bapak dan ibu ini." kata bu Erna.


"Iya pak. Sudah."


"Perkenalkan bu, saya Ilyas, dan ini Istri saya Ulfa." kata Ilyas memperkenalkan diri.


"Seperti yang sudah diceritakan bu Tutik bu, saya kemari awalnya hanya ingin menjenguk adik saya, Norma dan keluarga kecilnya. Karena, semenjak ijab Qobul, saya sudah lama tidak saling berkabar. Terkahir, saat saya masih liburan dari pondok, kami berkabar via SMS, namun, kemudian, saya masuk pondok pesantren. Yang mana, di pondok pesantren, kami dilarang membawa HP. Sehingga HP saya non Aktifkan, hingga akhirnya saya dikirim study ke Kairo Mesir. Sepulang dari Mesir, saya dijodohkan dan dinikahkan dengan putri pemilik pondok pesantren. Dan Alhamdulillah, niat saya untuk menjenguk adik saya terkabul. Saya dapat berkunjung ke sini, namun, Qodarullah, ternyata saya sudah tidak dapat bertemu dengan adik maupun adik ipar saya..." Ilyas bercerita panjang lebar hingga dia tak tahan harus bercerita bahwa adiknya dan adik iparnya sudah tiada.


"Tapi, saya masih bersyukur, saya masih diberi kesempatan berjumpa dengan buah hati mereka, Arjuna." kata Ilyas yang sudah berlinang air mata.


"Maaf pak bu, silakan diminum." kata bu Tutik menyuguhkan secangkir teh di meja tamu.


"Terimakasih bu." jawab Ulfa.

__ADS_1


"Iya pak. Alhamdulillah. Jadi, sebenarnya, Arjuna ini masih punya sanak keluarga ya pan?" tanya bu Erna.


"Iya bu."


"Ehm, maaf bu. Karena Arjuna adalah keponakan saya, bolehkah jika saya ambil alih pengasuhan Arjuna bu?" tanya Ilyas hati-hati.


Dengan tersenyum.


"Jika memang bapak benar-benar kakak kandung ibu Norma, justru bapak lah yang lebig berhak atas Arjuna pak. Kami hanya perantara untuk membantu membesarkannya selama dia belum ada yang mengasuh." kata bu Erna.


"Jadi, Saya boleh bawa Arjuna untuk ikut dengan saya bu?" tanya Ilyas berbinar.


"Tentu pak." jawab bu Erna dengan senyuman yang tulus.


"Arjuna, kamu jadi kan ikut Om Ilyas dan tante Ulfa untuk tinggal di pesantren?" tanya Ilyas memastikan anak yang bersangkutan.


"Jadi om. Arjuna ikut om ya tinggal di pesantren." kata Arjuna kegirangan.


"Okey"


Semenjak saat itu, resmilah Arjuna diasuh oleh pak Ilyas dan bu Ulfa. Banyak pesan yang disampaikan bu Erna dan bu Tutik kepada Arjuna. Semua barang milik Arjuna sudah di packing untuk dibawa ke pesantren.


"Hati-hati ya nak." kata Bu Erna ditengah isak tangisnya


"Baik Bu." jawab Arjuna sopan.


"Nanti kalau ada waktu luang, Arjuna akan kami bawa ke sini lagi untuk mengunjungi bu Erna dan bu titik.

__ADS_1


__ADS_2