
Lalu berdiri meninggalkan meja makan .Seno , dan Olivia menarik nafas panjang.sementara samir menggeleng kepalanya .
" Laras mau kemana ?" Tanya Olivia kwatir melihat tingkah putrinya yang tiba tiba cemburu pada Sonya
" Laras mau pergi bersenang senang .disini tidak ada yang peduli pada Laras,Laras nggak bahagia di sini " balas Laras seenaknya,lalu melangkah panjang
Wajah Seno berubah gelap " Laras " teriak Seno emosi,akan tetapi tidak di hiraukan oleh laras
Olivia mencoba menenangkan suaminya " udahlah pah,nanti juga Laras pulang ,paling dia pergi berbelanja bersama teman temannya "
" Lihat putrimu ,ini akibatnya jika kamu terlalu memanjakannya "
" Udahlah pah,jangan terus menyalahkan mamah,biarkan saja dulu Laras ,nanti klo sudah pulang ,akan Samir nasehati ,papah nggak usah kwatir ya "Samir mencoba menenangkan emosi ayah nya.
" Iya baiklah boy,pergilah ke atas lihat dulu keadaan Sonya " balas Seno berubah lembut
"Iya pah " balas Samir dan pergi meninggalkan ruang makan .
Sesampai di depan pintu kamar Sonya ,Samir mengetuk pintu
Tok tok tok
"Laras,ini kakak ,kakak boleh masuk ?" Panggil Samir lembut
"Ya ka ,masuk saja ,pintunya nggak di kunci " balas Sonya dari dalam kamar
Cklek
Samir membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar Sonya ,Sonya sedang duduk di ranjang sambil membuka album lama milik Sonya
Samir menghampiri Sonya dan duduk di samping Sonya
"Lihat ini,ini usiamu sekitar 7 tahunan ,kita sedang liburan ,kau selalu mengepang rambut dan ini adalah kakak " Samir tersenyum mengingat masa lalu nya yang begitu bahagia
" Dan yang ini pasti Laras " ucap Sonya menunjuk ke foto kecil Laras yang duduk di sebelah Samir.
" Iya ,Laras memang begitu ,selalu menempel sama kakak,dia itu manja dan selalu pingin di perhatikan" Samir tertawa kecil melihat foto Laras yang imut dan manja
Sonya terus menatap wajah Samir dengan lembut hal itu untuk pertama kalinya sukses membuat jantung Samir berdetak lebih kencang.
Ada apa dengan Samir ,dia selalu bersama dengan Sonya ,bahkan lebih dekat dari sekarang,tapi ada apa dengan perasaan Samir yang tiba tiba canggung dengan tatapan manis Sonya ?.
" Aahhh....ya sudah ,kamu istirahat saja ya ,besok kita akan pergi ke makam paman dan bibi " Samir berbicara dengan canggung untuk menutupi perasaan aneh yang muncul di pikirannya.
Sonya hanya mengangguk ,Samir keluar dari kamar Sonya masih dengan detak jantung yang kencang.
Dengan cepat Samir menutup pintu kamar Sonya ,Samir bersandar di balik pintu Sonya sambil mengatur napas dengan tangan yang menempel di dadanya
"Ada apa denganmu Samir ?apa kamu udah tidak waras ,perasaan apa ini ,bahkan perasaan ini berbeda ketika dekat dengan madu ,ingat Samir ,Sonya itu sepupumu " Samir bermonolog
Olivia memperhatikan tingkah Samir dari jauh .setelah Samir mengatur nafasnya ,dia segera masuk ke dalam kamarnya di sebelah Sonya sambil kembali tersenyum sendiri.
Olivia mendekati kamar Sonya ,Olivia penasaran apa hal yang membuat Samir menjadi aneh seperti itu .fikiran Olivia berlayar kemana mana.
Olivia seperti ingin membuka pintu kamar Sonya,namun sesaat Olivia ragu .dan berfikir sejenak.lalu kembali memegang gagang pintu ,dan bersiap akan membuka pintu
__ADS_1
Tiba tiba Seno menghampiri Olivia " mah ,ada apa ?"
Seketika Olivia melepas gagang pintu ,karena kaget akan kemunculan Seno
" Papah ,ngagetin aja sih "
"Mamah kenapa sih ,seperti melihat hantu saja "
" Bukan apa apa pah ,mungkin hanya fikiran mamah saja ,udah ah ,kita tidur saja ke kamar .sudah malam " Olivia menarik tangan suaminya dan menuntunnya masuk ke kamarnya
" Maksud mamah apa sih ,papah nggak ngerti deh "tanya Seno sambil mengikuti istrinya
" Sudah mamah bilang ,nggak ada apa apa pah "
"Ya sudah ,bagaimana dengan Laras ,apa mamah sudah menelpon Laras ?, Dia pulang jam berapa ?," Seno merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size
" Kasih waktu Laras pah ,dia sudah besar ,besok pagi mamah akan bicara sama Laras ,papah tidur saja " Olivia
Tidur di sebelah Seno setelah menyelimuti suaminya .
Esok paginya
Di kediaman Wiliam ,sedang sarapan pagi .tiba tiba semua terkejut melihat Jay yang tiga bulan terakhir ini hanya murung dan mengurung diri di kamar.
Jay berduka akan kepergian joya.
Tiba tiba keluar dengan wajah yang cerah dan senyum manis di wajahnya.pakaiannya yang rapih dengan setelan jas yang pas di tubuhnya.
" Selamat pagi semua " sapa Jay tersenyum lebar lalu duduk di bangku
Semua keluarga tampak heran melihat Jay tersenyum.
" Ayah senang kau kembali Jay " tambah Peter bahagia putra sulungnya sudah berdamai dengan keadaan.
Bricia tersenyum melihat kehangatan kembali dirumahnya.bricia pergi ke dapur untuk mengambil buah yang baru saja di potong potong oleh asisten rumah tangganya .
" Aku bahagia melihat Jay kembali tersenyum,meskipun senyuman Jay pura pura,tapi aku yakin seiring waktu Jay akan lupa jika dia sedang berpura pura ,semoga ibu tidak mengetahui jika aku berbohong pada Jay tentang kesehatan ibu " bricia berbicara sendiri,lalu berbalik dengan buah di tangannya
Bricia tampak kaget saat Rani ada di hadapannya " i...ibu.., ibu sejak kapan disini ?" Ucap bricia gugup
" Sudah cukup lama , aku mendengar semua ucapan mu "
" Ibu,maafkan aku ,aku tidak bermaksud begtu Bu ,aku....."
" Sudahlah menantu , tidak perlu minta maaf, untuk pertama kalinya aku setuju dengan idemu,aku tidak peduli dengan diriku.aku hanya ingin cucuku bahagia dan melanjutkan hidupnya " Rani melempar senyuman tulus pada menantunya untuk pertama kalinya
" Terimakasih ibu " bricia membalas senyuman mertuanya dengan tulus
Dan untuk pertama kalinya keduanya akur .keduanya kembali ke ruang makan dan bergabung dengan yang lain.
Ketika Rani akan duduk di bangku ,Jay dengan lembut membantu neneknya duduk " hati hati nek " Jay sedikit posesif pada neneknya ,karena bricia berkata pada Jay ,jika neneknya harus selalu bahagia ,jika tidak kesehatan neneknya akan memburuk karena riwayat jantung yang dia derita .
" Cucuku kau tampan sekali hari ini " puji Rani
" Nenek ,cucu nenek ini selalu tampan,dari lahir cucumu ini memang sudah tampan nek .nenek saja yang baru menyadarinya " gurau Jay pada neneknya
__ADS_1
" Eh anak nakal ,di puji sedikit saja ,sudah melayang " Rani menjewer telinga Jay
"Aww.,sakit nek " jerit Jay
Semua tertawa bahagia.
Di kediaman pantison juga sedang sarapan bersama.
Laras dan Samir bercanda layaknya anak kecil .
Seno dan Olivia tertawa kecil ,tiba tiba seorang wanita cantik mendekati meja makan ,dia adalah Sonya,.sonya yang dikenal cupu dan cuek tentang penampilan .
Kini berubah menjadi anggun dan elegan,serta polesan makeup yang natural menambah poin cantik Sonya.
Semua ternganga melihat penampilan Sonya dari ujung kaki sampai ujung rambut yang berubah 180 derajat.
" Cantik " hanya kata itu yang keluar dari mulut samir
"Kau...kau....siapa ? Ngapain di rumah pantison ?" Tanya Laras terbata bata
" Aku Sonya " balas Sonya dengan senyum terukir di wajahnya
" Sonya !" Semua bicara dengan serempak
" Iya ,aku Sonya "
" Non Sonya berubah jadi putri yang sangat cantik ,cantik sekali non " bi Ani menuju Sonya
" Iya ,kau cantik sekali Sonya,paman tidak menyangka di poles sedikit saja wajahmu bak putri " tambah Seno memuji Sonya dengan jujur.
Sementara Samir tidak mampu berkata,dia terus saja menatap Sonya tanpa berkedip.
Hal itu sukses membuat Laras cemburu,dia tidak ingin ada yang menyaingi kecantikannya di kediaman pantison.
Seperti kebiasaanya ,Laras meninggalkan meja makan setelah membanting sendoknya dengan keras.sehingga membuyarkan lamunan Samir .
" Aku duluan ,aku ada urusan " Laras berjalan dengan cepat
"Laras,sarapan dulu " teriak Oliva
" Laras sudah tidak selera lagi " teriak Laras lalu menghilang dari pandangan.
" Sonya ,ayo duduk " ajak Samir sambil tersenyum dan terus menatap Sonya.sonya hanya menurut dan ikut bergabung sarapan.
Olivia mulai tidak nyaman dengan tatapan putranya terhadap keponakannya.
" Samir selesai sarapan temanin mamah belanja ya ,beberapa bahan makanan sudah habis " ajak olivia untuk mengalihkan tatapan putranya yang terus saja menatap Sonya
"Nggak bisa mah,hari ini aku ngantarin Sonya ke makam aunty dan uncle " tolak Samir
" Mah mamahkan bisa minta anterin Tono saja " Seno memberikan solusi agar Olivia pergi dengan supir saja.
" Papah ini ,nggak ngerti banget sih " gerutu Olivia kesal suaminya tidak bisa memahami ketakutannya .Olivia pergi meninggalkan meja makan .
Seno hanya menggeleng kepalanya tidak paham tentang ucapan istrinya
__ADS_1
" Mamah kenapa pah ?" Tanya Samir bingung
Seno hanya mengangkat bahu" entahlah perempuan memang sulit di mengerti " Seno kembali menggigit roti di tangannya.