
Adrian menatap keduanya dengan perasaan sedih, marah, rasa tidak percaya menjadi satu
selama ini dia bersama dengan keduanya penuh suka cita dan kasih sayang yang di berikan oleh Paman dan bibinya sudah sepenuh hati. Kenapa harus di hadapi oleh kenyataan yang sekarang harus mengetahui bahwa orang tua yang selama ini dia sayangi dan cintai ternyata bukan orang tua kandungnya tetapi hanya orang tua angkat, kakak dari ibu kandungnya
Perasaan Adrian seperti mati rasa dan rasa ingin bertemu dengan orang tua kandung yang sebenarnya tetapi dia tidak mungkin pergi meninggalkan Paman dan bibinya di karenakan mereka yang membesarkannya dan membuat dia merasakan kasih sayang seperti orang tua kandungnya sendiri dan juga keduanya juga sudah tua tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.
Jadi dia memutuskan untuk tinggal menemani Paman dan bibinya
Adrian dengan lapang dada" Adrian tidak akan mempermasalahkan soal itu yang penting Adrian sudah tau kebenarannya. Kalian berdua tetap orang tua kandungku yang menyayangiku seperti anak kalian sendiri. Adrian janji akan tetap di sini bersama kalian."
Adrian meminta kepada Paman dan bibinya bahwa dia ingin menelfon orang tua kandungnya dan untung saja keduanya masih memiliki no telfon rumah orang tuanya.
Adrian berkata " bu, yah ingin menelfon orang tua kandung Adrian. aku ingin berbicara sama mereka tolong. Hardi pun dengan tertatih mengambil buku kecil yang berada di dalam laci meja kecil yang berada di situ dan memberikannya kepada Adrian.
__ADS_1
Adrian pun pamit kepada orang tua angkatnya buru-buru keluar rumah menuju telfon umum untuk menelfon orang tua kandungnya.
sampai di telfon umum dia mencoba menelfon orang tuanya tapi tidak di angkat setelah menunggu lama akhirnya no tersebut di angkat oleh seseorang
via telp
Adrian: Halo
si penelfon: Halo Dengan siapa dan dimana?
Seketika si penelfon terdiam dan langsung buru-buru berbicara.
Si penelfon: kamu Adrian anak angkat paman Hardi dan bibi rahma. saya kakak pertama kamu nama kakak adnan. Tunggu sebentar kakak panggil bunda dulu. Dengan muka kegirangan dan berkaca-kaca
__ADS_1
Di seberang negara tetangga tepatnya di negara Indonesia di provinsi Sulawesi Selatan di kabupaten bantaeng. Ada seorang anak remaja berlari menuju ibunya yang berada di teras Rumah. Benar dia Rosnia Ibu kandung Adrian bersama ayahnya yang sedang berada di di teras rumah dan juga anak mereka yang paling bungsu yang berusia 7 tahun,sedang menikmati kopi sorenya dan beruntung saat itu saat2 pulangnya para pegawai negeri.
Terdengar suara teriakan dari dalam rumah.
Adnan: " Ayah Bunda!!!!!" Teriak dengan penuh semangat Adnan
Haris pun mendekati anak tertuanya tersebut dan berkata "Kamu ini kenapa sih nanti di dengar tetangga nanti kamu di kira sedang di aniaya oleh kami" di timpali oleh sang bunda " iya bunda kira kamu ada apa-apa
Adnan berkata "Ayah Dan bunda Tahu gak siapa yang nelfon? " Ayah dan bundanya pun kebingungan dengan anaknya tersebut kemudian tidak lama anak kedua mereka yang bernama amara, juga keluar ke teras rumah karena kaget dengan teriakan kakaknya dan berkata dengan panik
" kakak kenapa sih teriak-teriak aku lagi ngerjain PR dari guru sudah tahu jawaban nya seketika langsung hilang karena teriakan kakak"
adnan pun tertawa " hehehe kakak minta maaf nanti kakak bantu ngerjain PRnya. Tapi ada yang lebih penting lagi" dengan wajah penuh semangatnya.
__ADS_1
Harispun berkata dengan penasaran " ada apa sih kayaknya penting banget" di angguk oleh istrinya.