
Wiraksara senang menonton para prajurit itu berlatih,
teringatlah dia ketika sedang menjalani wajib militer sebagai persyaratan untuk
menjadi Pejabat Negara. Hampir setiap hari dia digembleng di Kasatriyan
berlatih memanah, menggunakan berbagai jenis senjata termasuk cetbang,
bertarung dengan tangan kosong dan menyusun strategi perang. Hasilnya Wiraksara
tercatat di peringkat paling bawah sebagai siswa peserta wajib militer yang
terburuk, tetapi dia masih mendapatkan nilai yang bagus dalam pelajaran menyusun
strategi perang. Teringat Wiraksara ketika teman-temannya meledeknya sebagai
siswa yang paling tak becus bertarung dan menggunakan senjata, maka dia akan
berkata
“Aku memang kalah dalam beradu otot dan ketrampilan
menggunakan senjata, namun dalam menyusun strategi perang otakku lebih
cemerlang daripada kalian yang hanya mengandalkan otot melulu.”
Wiraksara asyik melamunkan masa lalunya hingga sebuah
tepukan di bahunya membuatnya tersadar,
“Hei, Pangeran Gaoxu memanggilmu. Apa kau tidak dengar?”
tanya seorang prajurit.
Wiraksara tergagap dan segera tersadar dari lamunannya. Dia
segera berlari menghadap Gaoxu dan bertanya
“Apakah Pangeran memanggilku?” Tanya Wiraksara.
Gaoxu tersenyum merendahkan dan berkata
“Tentu saja, aku membutuhkan sasaran bergerak, aku sudah
bosan memakai bola atau kelinci dan burung sebagai sasaranku. Aku ingin sasaran
manusia hidup.”
Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan itu, sebentar lagi
tamatlah riwayatnya seperti adik Paman Tie Shi, seketika nyalinya ciut dengan suara bergetar
dia berkata
“Tapi … tapi aku tidak bisa, kau tidak boleh sembarangan
menyuruhku sebagai sasaran bergerakmu,” kata Wiraksara dengan marah.
Seketika wajah Gaoxu membesi dan berkata dengan geram
“Kau pikir kau ini siapa? Kau sudah mempermalukanku di depan
para pejabatku, cepat lakukan atau kau akan kuhukum mati jika tidak menuruti
keinginanku!”
Terkesiap Wiraksara mendengar ucapan Pangeran kedua
Heran, ga anaknya ga bapaknya semua sama saja kejam dan haus
darah, Wiraksara bersungut-sungut dalam hati.
Seorang prajurit dengan marah mendorong tubuhnya dan
membentaknya
“Cepat naik kuda ini lalu lari menjauh sebelum Pangeran
membunuhmu!”
Wiraksara dipaksa menaiki seekor kuda, seorang pengawal
menepuk paha kuda itu, dan kuda itu berlari menjauh. Pangeran Gaoxu mulai
memanah, panah terlepas dari busurnya melaju mengarah ke punggung Wiraksara.
Sebuah bisikan tiba-tiba terdengar di telinganya
“Merunduk dan bawa kuda ke arah kanan!”
Wiraksara tertegun, dan menyebut sebuah nama
“Mpu Sengkala?”
Tiba-tiba Wiraksara merasa ada kekuatan yang kuat mendorong
__ADS_1
tubuhnya hingga merunduk, diarahkannya kudanya ke arah kanan mengikuti perintah
suara yang tak tampak itu. Sebatang panah berdesing di dekat telinganya, nyaris
saja menembus batok kepalanya kalau saja Mpu Sengkala membantunya menghindari
kejaran anak panah yang melesat.
Sial panahku luput, lincah sekali orang itu bergerak, batin
Gaoxu dengan kesal.
Gaoxu kembali merentangkan busurnya sambil berkuda, kembali
dia menyasar punggung Wiraksara. Lagi-lagi Wiraksara mendengar suara yang menyuruhnya
merunduk dan bergeser ke kiri.
“Sreet … jlep,” panah kembali luput mengenai tanah di
samping Wiraksara.
Kali ini aku akan memanahnya dengan jurus Ekor Rubah
Mengibas, batin Gaoxu dengan gemas.
Pangeran kejam itu memacu kudanya mengejar Wiraksara lalu
mengarahkan panahnya ke punggung Wiraksara yang sudah berada jauh di depannya.
Jagad Dewa Bhatara, betapa sialnya aku hari ini, dijadikan
sasaran hidup bagi Gaoxu. Coba aku menghindar ke belakang pasukan, biar
panahnya mengenai pasukannya sendiri, batin Wiraksara ketika melihat Sang
Pangeran masih terus mengejarnya karena penasaran.
“Sreeet!”
Panah meluncur dengan gerakan melingkar mengejar Wiraksara
yang berusaha berlari menghindar bersembunyi di belakang barisan pasukan.
Terdengar lagi suara misterius di telinganya.
“Bergeserlah ke kiri lalu berbaliklah lari melawan arah dan
tangkap panah itu dengan tanganmu, panah itu mengikutimu berbelok!”
panah itu berbelok mengikutinya. Kembali Wiraksara mengikuti arahan suara itu,
lalu tangannya bergerak menangkap panah yang meluncur di sampingnya.
“Tappp!”
Panah Gaoxu telah tergenggam di tangan Wiraksara yang dengan
senyuman penuh kemenangan mengangkat anak panah itu sambil tersenyum mengejek.
Terkesiap Pangeran Kedua Gaoxu, Pangeran Ketiga Gaosui dan pasukan yang
menonton mereka berlatih. Wajah Gaoxu berubah gusar, hari ini dia telah
dipermalukan oleh seorang pengurus kuda. Reputasinya yang hebat dalam ilmu
memanah, hancur begitu saja ketika berhadapan dengan Wiraksara.
“Jurus memanah Ekor Rubah mengibas adalah jurus pamungkas
yang paling ampuh, tetapi bagaimana bisa orang itu mematahkan seranganku,”
gumamnya dengan kemarahan yang memuncak.
Gaoxu sudah bersiap memanah lagi, tetapi tiba-tiba terdengar
suara Kasim (Dayang Kebiri) berteriak
“Pangeran Pertama datang!”
Semua orang di situ langsung memberi hormat kepada Putra Mahkota, Pangeran
Pertama Zhu Gaochi
“Selamat datang Pangeran Pertama Gaochi!” Sambut orang-orang
di situ.”
Pangeran Pertama Gaochi memiliki garis wajah yang lebih
halus dan lembut, wajahnya lebih tampan daripada adiknya Gaoxu. Dia memang
tidak sepandai Gaoxu dalam bertarung atau menggunakan senjata, tetapi dia lebih
cerdas. Nilai Akadmiknya di bidang ketatanegaraan, strategi tempur, Sastra dan
__ADS_1
ilmu Dagang jauh lebih unggul dibandingkan adiknya.
Gaochi tersenyum ramah kepada orang-orang yang hadir di
gelanggang itu dan membalas salam mereka. Namun tiba-tiba senyum ramahnya
menghilang ketika melihat Gaoxu sedang memanah seseorang bagai hewan buruan.
Tubuh Gaochi berkelebat ke arah gelanggang dan tanpa rasa takut menghadang Gaoxu
dan kudanya di depannya.
“Hentikan, kau sudah gila memperlakukan manusia seperti
hewan buruan?” Bentak Gaochi.
Gaoxu menarik tali kekang kudanya menahan lajunya sehingga
kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya karena terkejut. Wajah
Gaoxu tampak tak suka dengan kehadiran kakaknya.
“Kita adalah penguasa di negeri ini, dia hanya seorang
budak, sudah sewajarnya dia harus bekerja untukku dan harus bersedia melakukan
semua yang kuperintahkan,” kata Gaoxu.
“Tidak, ini tidak manusiawi, guru kita Lin Fang Hwesio pasti
akan marah melihatmu seperti ini,” kata Gaochi.
“Ah, Kakak Pertama, buat apa kau pedulikan Hwesio (bhiksu)
nyinyir itu, mana dia tahu soal latihan perang. Ah sudahlah, aku jadi malas
meneruskan latihan ini,” ujar Gaoxu sambil menepi ke pinggir lapangan.
Gaochi mengikuti adiknya lalu menasehatinya
“Dik, sebagai seorang pangeran, belajarlah menghargai
rakyat, tanpa mereka seorang Kaisar tidak ada artinya.”
Gaochi menoleh ke arah Kasimnya dan berkata
“Suruh orang itu kemari!”
“Baik Pangeran Pertama!”
Kasim itu segera menyuruh seorang prajurit ke lapangan,
menyuruhnya membawa Wiraksara menghadap Gaochi.
Wiraksara bersama prajurit itu datang menghadap Pangeran
Gaochi lalu memberi hormat dan salam. Melihat wajah Wiraksara yang berbeda dari
orang-orang China pada umunya Gaochipun bertanya kepadanya
“Siapa namamu? Tampaknya kau bukan berasal dari China.
Darimana asalmu?”
“Saya Wiraksara Duta Besar Kerajaan Majapahit, saya berasal
dari Nusantara,” ujar Wiraksara.
Gaochi terkejut mendengar jawaban Wiraksara.
Orang ini adalah Pejabat tinggi di Kerajaannya, tetapi
bagaimana dia bisa menjadi seorang pengurus kuda yang hina? Batin Gaochi.
“Berarti kau seharusnya adalah tamu negara kami, siapa yang
menyuruhmu menjadi pengurus kuda?” Tanya Gaochi.
“Aku di sini sebagai jaminan hutang dari Kerajaan Majapahit
untuk pembayaran ganti rugi terhadap 170 orang delegasi China yang terbunuh
saat terjadi perang perebutan kekuasaan di Kerajaan kami,” jawab Wiraksara
“Sungguh keterlaluan para pejabat itu, tamu dari negara
sahabat dihina seperti ini,” kata Gaochi dengan nada prihatin.
“Nah kan dia itu cuma menjadi barang jaminan, sama seperti
kerbau, sapi. Bahkan anjing piaraan kita masih lebih terhormat daripada dia,”
tukas Gaoxu.
“Gaoxu, jaga mulutmu!” Bentak Gaochi.
__ADS_1