KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Perjumpaan dengan Pangeran Gaochi


__ADS_3

Wiraksara senang menonton para prajurit itu berlatih,


teringatlah dia ketika sedang menjalani wajib militer sebagai persyaratan untuk


menjadi Pejabat Negara. Hampir setiap hari dia digembleng di Kasatriyan


berlatih memanah, menggunakan berbagai jenis senjata termasuk cetbang,


bertarung dengan tangan kosong dan menyusun strategi perang. Hasilnya Wiraksara


tercatat di peringkat paling bawah sebagai siswa peserta wajib militer yang


terburuk, tetapi dia masih mendapatkan nilai yang bagus dalam pelajaran menyusun


strategi perang. Teringat Wiraksara ketika teman-temannya meledeknya sebagai


siswa yang paling tak becus bertarung dan menggunakan senjata, maka dia akan


berkata


“Aku memang kalah dalam beradu otot dan ketrampilan


menggunakan senjata, namun dalam menyusun strategi perang otakku lebih


cemerlang daripada kalian yang hanya mengandalkan otot melulu.”


Wiraksara asyik melamunkan masa lalunya hingga sebuah


tepukan di bahunya membuatnya tersadar,


“Hei, Pangeran Gaoxu memanggilmu. Apa kau tidak dengar?”


tanya seorang prajurit.


Wiraksara tergagap dan segera tersadar dari lamunannya. Dia


segera berlari menghadap Gaoxu dan bertanya


“Apakah Pangeran memanggilku?” Tanya Wiraksara.


Gaoxu tersenyum merendahkan dan berkata


“Tentu saja, aku membutuhkan sasaran bergerak, aku sudah


bosan memakai bola atau kelinci dan burung sebagai sasaranku. Aku ingin sasaran


manusia hidup.”


Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan itu, sebentar lagi


tamatlah riwayatnya seperti adik Paman Tie Shi,  seketika nyalinya ciut dengan suara bergetar


dia berkata


“Tapi … tapi aku tidak bisa, kau tidak boleh sembarangan


menyuruhku sebagai sasaran bergerakmu,” kata Wiraksara dengan marah.


Seketika wajah Gaoxu membesi dan berkata dengan geram


“Kau pikir kau ini siapa? Kau sudah mempermalukanku di depan


para pejabatku, cepat lakukan atau kau akan kuhukum mati jika tidak menuruti


keinginanku!”


Terkesiap Wiraksara mendengar ucapan Pangeran kedua


Heran, ga anaknya ga bapaknya semua sama saja kejam dan haus


darah, Wiraksara bersungut-sungut dalam hati.


Seorang prajurit dengan marah mendorong tubuhnya dan


membentaknya


“Cepat naik kuda ini lalu lari menjauh sebelum Pangeran


membunuhmu!”


Wiraksara dipaksa menaiki seekor kuda, seorang pengawal


menepuk paha kuda itu, dan kuda itu berlari menjauh. Pangeran Gaoxu mulai


memanah, panah terlepas dari busurnya melaju mengarah ke punggung Wiraksara.


Sebuah bisikan tiba-tiba terdengar di telinganya


“Merunduk dan bawa kuda ke arah kanan!”


Wiraksara tertegun,  dan menyebut sebuah nama


“Mpu Sengkala?”


Tiba-tiba Wiraksara merasa ada kekuatan yang kuat mendorong

__ADS_1


tubuhnya hingga merunduk, diarahkannya kudanya ke arah kanan mengikuti perintah


suara yang tak tampak itu. Sebatang panah berdesing di dekat telinganya, nyaris


saja menembus batok kepalanya kalau saja Mpu Sengkala membantunya menghindari


kejaran anak panah yang melesat.


Sial panahku luput, lincah sekali orang itu bergerak, batin


Gaoxu dengan kesal.


Gaoxu kembali merentangkan busurnya sambil berkuda, kembali


dia menyasar punggung Wiraksara. Lagi-lagi Wiraksara mendengar suara yang menyuruhnya


merunduk dan bergeser ke kiri.


“Sreet … jlep,” panah kembali luput mengenai tanah di


samping Wiraksara.


Kali ini aku akan memanahnya dengan jurus Ekor Rubah


Mengibas, batin Gaoxu dengan gemas.


Pangeran kejam itu memacu kudanya mengejar Wiraksara lalu


mengarahkan panahnya ke punggung Wiraksara yang sudah berada jauh di depannya.


Jagad Dewa Bhatara, betapa sialnya aku hari ini, dijadikan


sasaran hidup bagi Gaoxu. Coba aku menghindar ke belakang pasukan, biar


panahnya mengenai pasukannya sendiri, batin Wiraksara ketika melihat Sang


Pangeran masih terus mengejarnya karena penasaran.


“Sreeet!”


Panah meluncur dengan gerakan melingkar mengejar Wiraksara


yang berusaha berlari menghindar bersembunyi di belakang barisan pasukan.


Terdengar lagi suara misterius di telinganya.


“Bergeserlah ke kiri lalu berbaliklah lari melawan arah dan


tangkap panah itu dengan tanganmu, panah itu mengikutimu berbelok!”


panah itu berbelok mengikutinya. Kembali Wiraksara mengikuti arahan suara itu,


lalu tangannya bergerak menangkap panah yang meluncur di sampingnya.


“Tappp!”


Panah Gaoxu telah tergenggam di tangan Wiraksara yang dengan


senyuman penuh kemenangan mengangkat anak panah itu sambil tersenyum mengejek.


Terkesiap Pangeran Kedua Gaoxu, Pangeran Ketiga Gaosui dan pasukan yang


menonton mereka berlatih. Wajah Gaoxu berubah gusar, hari ini dia telah


dipermalukan oleh seorang pengurus kuda. Reputasinya yang hebat dalam ilmu


memanah, hancur begitu saja ketika berhadapan dengan Wiraksara.


“Jurus memanah Ekor Rubah mengibas adalah jurus pamungkas


yang paling ampuh, tetapi bagaimana bisa orang itu mematahkan seranganku,”


gumamnya dengan kemarahan yang memuncak.


Gaoxu sudah bersiap memanah lagi, tetapi tiba-tiba terdengar


suara Kasim (Dayang Kebiri) berteriak


“Pangeran Pertama datang!”


Semua orang di situ langsung memberi hormat kepada Putra Mahkota, Pangeran


Pertama Zhu Gaochi


“Selamat datang Pangeran Pertama Gaochi!” Sambut orang-orang


di situ.”


Pangeran Pertama Gaochi memiliki garis wajah yang lebih


halus dan lembut, wajahnya lebih tampan daripada adiknya Gaoxu. Dia memang


tidak sepandai Gaoxu dalam bertarung atau menggunakan senjata, tetapi dia lebih


cerdas. Nilai Akadmiknya di bidang ketatanegaraan, strategi tempur, Sastra dan

__ADS_1


ilmu Dagang jauh lebih unggul dibandingkan adiknya.


Gaochi tersenyum ramah kepada orang-orang yang hadir di


gelanggang itu dan membalas salam mereka. Namun tiba-tiba senyum ramahnya


menghilang ketika melihat Gaoxu sedang memanah seseorang bagai hewan buruan.


Tubuh Gaochi berkelebat ke arah gelanggang dan tanpa rasa takut menghadang Gaoxu


dan kudanya di depannya.


“Hentikan, kau sudah gila memperlakukan manusia seperti


hewan buruan?” Bentak Gaochi.


Gaoxu menarik tali kekang kudanya menahan lajunya sehingga


kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya karena terkejut. Wajah


Gaoxu tampak tak suka dengan kehadiran kakaknya.


“Kita adalah penguasa di negeri ini, dia hanya seorang


budak, sudah sewajarnya dia harus bekerja untukku dan harus bersedia melakukan


semua yang kuperintahkan,” kata Gaoxu.


“Tidak, ini tidak manusiawi, guru kita Lin Fang Hwesio pasti


akan marah melihatmu seperti ini,” kata Gaochi.


“Ah, Kakak Pertama, buat apa kau pedulikan Hwesio (bhiksu)


nyinyir itu, mana dia tahu soal latihan perang. Ah sudahlah, aku jadi malas


meneruskan latihan ini,” ujar Gaoxu sambil menepi ke pinggir lapangan.


Gaochi mengikuti adiknya lalu menasehatinya


“Dik, sebagai seorang pangeran, belajarlah menghargai


rakyat, tanpa mereka seorang Kaisar tidak ada artinya.”


Gaochi menoleh ke arah Kasimnya dan berkata


“Suruh orang itu kemari!”


“Baik Pangeran Pertama!”


Kasim itu segera menyuruh seorang prajurit ke lapangan,


menyuruhnya membawa Wiraksara menghadap Gaochi.


Wiraksara bersama prajurit itu datang menghadap Pangeran


Gaochi lalu memberi hormat dan salam. Melihat wajah Wiraksara yang berbeda dari


orang-orang China pada umunya Gaochipun bertanya kepadanya


“Siapa namamu? Tampaknya kau bukan berasal dari China.


Darimana asalmu?”


“Saya Wiraksara Duta Besar Kerajaan Majapahit, saya berasal


dari Nusantara,” ujar Wiraksara.


Gaochi terkejut mendengar jawaban Wiraksara.


Orang ini adalah Pejabat tinggi di Kerajaannya, tetapi


bagaimana dia bisa menjadi seorang pengurus kuda yang hina? Batin Gaochi.


“Berarti kau seharusnya adalah tamu negara kami, siapa yang


menyuruhmu menjadi pengurus kuda?” Tanya Gaochi.


“Aku di sini sebagai jaminan hutang dari Kerajaan Majapahit


untuk pembayaran ganti rugi terhadap 170 orang delegasi China yang terbunuh


saat terjadi perang perebutan kekuasaan di Kerajaan kami,” jawab Wiraksara


“Sungguh keterlaluan para pejabat itu, tamu dari negara


sahabat dihina seperti ini,” kata Gaochi dengan nada prihatin.


“Nah kan dia itu cuma menjadi barang jaminan, sama seperti


kerbau, sapi. Bahkan anjing piaraan kita masih lebih terhormat daripada dia,”


tukas Gaoxu.


“Gaoxu, jaga mulutmu!” Bentak Gaochi.

__ADS_1


__ADS_2