KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Sekte Air Perak


__ADS_3

“Mengenai hilangnya permata Air itu baru dugaan saja,  leluhur orang-orang sekte Air Perak dulunya


adalah pemilik permata Air. Sebuah banjir besar telah memusnahkan kota mereka


sehingga sebagian leluhur orang-orang Sekte Air Perak terpaksa mengungsi ke


tempat yang lebih tinggi di gunung Kunlun. Sebagian lagi mengembara di lautan


selatan dan tak pernah kembali lagi ke daratan,” tutur Kakek Kwan.


Wiraksara terkesima mendengar cerita Kakek Kwan, Sekte Air


Perak baginya adalah sebuah Sekte misterius yang memiliki sejarah panjang


berumur ribuan tahun sejak banjir besar melanda bumi.


“Ah, tak kusangka ternyata Kakek Kwan memiliki pengetahuan


yang luas tentang sejarah leluhur orang-orang sekte Air Perak.  Lalu siapa sebenarnya Nona Wan Ling? Mengapa


anada mengatakan dia seorang nenek tua, bukankah dia adalah seorang gadis


cantik?” Tanya Wiraksara.


“Ha ha ha ha , kamu tidak tahu, perempuan itu memiliki ilmu


Wajah Seribu Tahun yang membuatnya selalu tampak awet muda meskipun usianya


sudah nenek-nenek. Percayalah, perempuan itu usianya sudah tua, aku sudah


mengenalnya sejak dia masih muda dulu,” kata Kakek Kwan sambil menepuk bahunya.


Dari dalam kamar tiba-tiba terdengar suara Maheen


memanggilnya


“Wiraksara…Wiraksara dimana kamu?”


Wiraksara segera masuk ke kamar dan dilihatnya Maheen sudah


sadar, wajahnya tampak kebingungan.


“Wiraksara kepalaku…pusing sekali rasanya, dimsum yang kau


pesan itu membuat kepalaku pusing,” kata Maheen.


“Tenanglah, semua sudah berlalu, kau akan sehat kembali.


Dimsum beracun itu bukan aku yang memesannya, orang-orang Sekte Air Perak yang


memberikannya,” ungkap Wiraksara.


Maheen terkejut ketika mengetahui bahwa dimsum yang


dimakannya adalah dimsum beracun


“Dimsum beracun? Oh pantas saja dimsum ini membuatku sakit.”


Mendadak Maheen tersadar


“Lalu bagaimana aku bisa sembuh dari racun itu? Kurasa


orang-orang sekte Air Perak itu pasti tak akan bersedia memberikan penawarnya


tanpa imbalan. Apa yang kau berikan pada mereka sebagai imbalannya?” Tanya


Maheen dengan nada menyelidik.


Wiraksara tertegun dia bingung bagaimana harus


menyampaikannya pada Maheen, namun akhirnya dia berkata lirih


“Maheen, sebelumnya aku minta kau bisa memahami bahwa bagiku


nyawa manusia lebih berharga daripada segala macam benda berharga yang ada di


dunia ini. Jadi aku memberikan permata Api itu kepada Wan Ling ketua Sekte Air


Perak dan kutukar dengan penawar racun. Maafkan aku Maheen, kau dan permata Api

__ADS_1


memang benda yang harus kujaga sampai ke tempat tujuan di Kuil Kahyangan Api.


Tetapi bagiku permata itu tidak ada artinya dibandingkan dengan keselamatan


dirimu, dan aku memilih untuk menukar permata Api itu dengan nyawamu.”


Maheen tampak terkejut mendengar pernyataan Wiraksara, gadis


itu melongo memandang wajah Wiraksara.


Astaga, dia orang yang sangat menghargai dan mencintai


kehidupan, bahkan benda mustikapun bagimya tidak ada artinya, batin Maheen.


 Sementara Wiraksara hanya


bisa menunduk, dia sudah siap dimaki-maki Maheen karena telah memberikan


Permata Api pada Sekte Air Perak untuk ditukar dengan penawar racun.


“Wiraksara, terimakasih telah menyelamatkan nyawaku, aku


berhutang nyawa kepadamu.”


Wiraksara mengangkat kepalanya, ternyata Maheen tidak marah


bahkan wajahnya tidak tampak panik karena Permata milik kuilnya sudah hilang.


“Benar kau tidak marah?” Tanya Wiraksara.


Maheen tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu berkata


“Permata Api yang ada dalam buntelan itu permata palsu. Permata


yang asli ada di di sin.”


Maheen menunjuk ke dadanya, tiba-tiba gadis itu membuka


jubah luarnya. Dia memakai baju atasan dengan kantong di dadanya. Maheen


membuka kantongnya dan mengeluarkan isinya.


“Permata Api,” ujar Wiraksara dengan nada terkejut.


tadi hanyalah batu akik biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun. Ketika


ayahku meninggal gara-gara permata ini, aku sadar ternyata banyak orang yang


menginginkan permata ini. Jadi aku harus mengambil tindakan pengamanan mengingat


kita hanya berdua saja,” ujar Maheen.


“Kau benar, permata itu sekarang menjadi incaran banyak


orang karena sudah bocor ke dunia persilatan. Entah siapa yang menyebarkannya,


nanti jika ada orang yang ingin merebut permata itu katakan saja orang-orang


Sekte Air Perak telah merebut permata itu,” kata Wiraksara.


“Wiraksara, sebelum orang-orang Sekte Air Perak menyadari


bahwa permata yang mereka iuasai adalah permata palsu,  sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini.


Tubuhku sudah lebih sehat, kurasa aku masih kuat melanjutkan perjalanan sampai


ke Persia,” kata Maheen.


Hari itu juga Wiraksara dan Maheen bersiap berangkat  melanjutkan perjalanan mereka ke Persia. Sebelum


pergi Wiraksara mencari Kakek Kwan untuk berpamitan. Wiraksara mengetuk pintu


kamar kakek Kwan namun tidak ada yang membukakan pintu. Wiraksara menghela


nafas panjang


“Ah mungkin dia sedang mabuk berat sehingga tidak bisa


berjalan membukakan pintu untukku,” gumam Wiraksara sambil berlalu pergi

__ADS_1


meninggalkan kamar Kakek Kwan.


****


Kini Wiraksara dan Maheen kembali meneruskan perjalanan


mereka ke arah barat. Mereka harus selalu bergerak agar para pemburu permata


api itu tidak mudah menemukan mereka. Sementara itu Ma Jing Tao dan Chen Nie


telah tiba di kota Gansu. Di sebuah kedai tuak, Ma Jingtao dan Chen Nie


berhenti untuk beristirahat


“Kita mampir di sini, siapa tahu ada yang bercerita tentang situasi


yang terjadi di di seluruh negeri,” ujar Ma Jing Tao.


Mereka berdua memasuki kedai arak itu, seorang pelayan


menyambut mereka berdua


“Selamat datang, selamat datang di


kedai kami. Silahkan duduk.”


Kedai arak itu sangat ramai


dikunjungi para pedagang, ramai orang bercerita tentang pengalaman mereka


selama di perjalanan. Seorang pedagang yang bari saja datang dari kota Xinning  mulai bercerita


“Saat ini para ksatria sedang


mengincar Permata Api milik Kuil Kahyangan Api di Persia. Sewaktu bermalam di


kota Xinning, beberapa orang menggeruduk salah seorang tamu yang sedang menginap


di situ karena mengincar Permata Api yang di bawanya.”


Orang-orang semakin antusias


mendengarnya, topik pembicaraan mengenai Permata Api ini adalah topik yang


berbeda bagi para pedagang di jalur sutera.


“Lalu bagaimana, apakah mereka


berhasil mendapatkannya?” Tanya salah seorang temannya.


Ma Jingtao dan Chen Nie yang


sedang makan tertegun.


“Dengar, mereka membicarakan


tentang Permata Api.  Seingatku,


Wiraksara juga terlibat dalam soal Permata Api itu, jadi kita bisa mengetahui


keberadaan Wiraksara saat ini,” bisik Ma Jingtao.


Mereka kembali mendengarkan


pembicaraan para pedagang itu.


“Tentu saja mereka mendapatkannya


karena pembawa Permata Api itu hanya sepasang anak muda sedangkan pengeroyoknya


adalah para pendekar yang sakti, jelas saja mereka kalah. Apalagi para pendekar


itu juga menggunakan racun sehingga mereka keracunan. Aku tidak tahu apakah


mereka bisa selamat dari racun itu atau tidak karena aku langsung pergi dari


tempat itu,” ujar pedagang tadi.


Ma Jingtai tertegun, dia mulai

__ADS_1


mencemaskan keselamatan Wiraksara


“Chenn Nie, apakah orang  yang mereka maksud adalah Wiraksara?


__ADS_2