
“Mengenai hilangnya permata Air itu baru dugaan saja, leluhur orang-orang sekte Air Perak dulunya
adalah pemilik permata Air. Sebuah banjir besar telah memusnahkan kota mereka
sehingga sebagian leluhur orang-orang Sekte Air Perak terpaksa mengungsi ke
tempat yang lebih tinggi di gunung Kunlun. Sebagian lagi mengembara di lautan
selatan dan tak pernah kembali lagi ke daratan,” tutur Kakek Kwan.
Wiraksara terkesima mendengar cerita Kakek Kwan, Sekte Air
Perak baginya adalah sebuah Sekte misterius yang memiliki sejarah panjang
berumur ribuan tahun sejak banjir besar melanda bumi.
“Ah, tak kusangka ternyata Kakek Kwan memiliki pengetahuan
yang luas tentang sejarah leluhur orang-orang sekte Air Perak. Lalu siapa sebenarnya Nona Wan Ling? Mengapa
anada mengatakan dia seorang nenek tua, bukankah dia adalah seorang gadis
cantik?” Tanya Wiraksara.
“Ha ha ha ha , kamu tidak tahu, perempuan itu memiliki ilmu
Wajah Seribu Tahun yang membuatnya selalu tampak awet muda meskipun usianya
sudah nenek-nenek. Percayalah, perempuan itu usianya sudah tua, aku sudah
mengenalnya sejak dia masih muda dulu,” kata Kakek Kwan sambil menepuk bahunya.
Dari dalam kamar tiba-tiba terdengar suara Maheen
memanggilnya
“Wiraksara…Wiraksara dimana kamu?”
Wiraksara segera masuk ke kamar dan dilihatnya Maheen sudah
sadar, wajahnya tampak kebingungan.
“Wiraksara kepalaku…pusing sekali rasanya, dimsum yang kau
pesan itu membuat kepalaku pusing,” kata Maheen.
“Tenanglah, semua sudah berlalu, kau akan sehat kembali.
Dimsum beracun itu bukan aku yang memesannya, orang-orang Sekte Air Perak yang
memberikannya,” ungkap Wiraksara.
Maheen terkejut ketika mengetahui bahwa dimsum yang
dimakannya adalah dimsum beracun
“Dimsum beracun? Oh pantas saja dimsum ini membuatku sakit.”
Mendadak Maheen tersadar
“Lalu bagaimana aku bisa sembuh dari racun itu? Kurasa
orang-orang sekte Air Perak itu pasti tak akan bersedia memberikan penawarnya
tanpa imbalan. Apa yang kau berikan pada mereka sebagai imbalannya?” Tanya
Maheen dengan nada menyelidik.
Wiraksara tertegun dia bingung bagaimana harus
menyampaikannya pada Maheen, namun akhirnya dia berkata lirih
“Maheen, sebelumnya aku minta kau bisa memahami bahwa bagiku
nyawa manusia lebih berharga daripada segala macam benda berharga yang ada di
dunia ini. Jadi aku memberikan permata Api itu kepada Wan Ling ketua Sekte Air
Perak dan kutukar dengan penawar racun. Maafkan aku Maheen, kau dan permata Api
__ADS_1
memang benda yang harus kujaga sampai ke tempat tujuan di Kuil Kahyangan Api.
Tetapi bagiku permata itu tidak ada artinya dibandingkan dengan keselamatan
dirimu, dan aku memilih untuk menukar permata Api itu dengan nyawamu.”
Maheen tampak terkejut mendengar pernyataan Wiraksara, gadis
itu melongo memandang wajah Wiraksara.
Astaga, dia orang yang sangat menghargai dan mencintai
kehidupan, bahkan benda mustikapun bagimya tidak ada artinya, batin Maheen.
Sementara Wiraksara hanya
bisa menunduk, dia sudah siap dimaki-maki Maheen karena telah memberikan
Permata Api pada Sekte Air Perak untuk ditukar dengan penawar racun.
“Wiraksara, terimakasih telah menyelamatkan nyawaku, aku
berhutang nyawa kepadamu.”
Wiraksara mengangkat kepalanya, ternyata Maheen tidak marah
bahkan wajahnya tidak tampak panik karena Permata milik kuilnya sudah hilang.
“Benar kau tidak marah?” Tanya Wiraksara.
Maheen tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu berkata
“Permata Api yang ada dalam buntelan itu permata palsu. Permata
yang asli ada di di sin.”
Maheen menunjuk ke dadanya, tiba-tiba gadis itu membuka
jubah luarnya. Dia memakai baju atasan dengan kantong di dadanya. Maheen
membuka kantongnya dan mengeluarkan isinya.
“Permata Api,” ujar Wiraksara dengan nada terkejut.
tadi hanyalah batu akik biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun. Ketika
ayahku meninggal gara-gara permata ini, aku sadar ternyata banyak orang yang
menginginkan permata ini. Jadi aku harus mengambil tindakan pengamanan mengingat
kita hanya berdua saja,” ujar Maheen.
“Kau benar, permata itu sekarang menjadi incaran banyak
orang karena sudah bocor ke dunia persilatan. Entah siapa yang menyebarkannya,
nanti jika ada orang yang ingin merebut permata itu katakan saja orang-orang
Sekte Air Perak telah merebut permata itu,” kata Wiraksara.
“Wiraksara, sebelum orang-orang Sekte Air Perak menyadari
bahwa permata yang mereka iuasai adalah permata palsu, sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini.
Tubuhku sudah lebih sehat, kurasa aku masih kuat melanjutkan perjalanan sampai
ke Persia,” kata Maheen.
Hari itu juga Wiraksara dan Maheen bersiap berangkat melanjutkan perjalanan mereka ke Persia. Sebelum
pergi Wiraksara mencari Kakek Kwan untuk berpamitan. Wiraksara mengetuk pintu
kamar kakek Kwan namun tidak ada yang membukakan pintu. Wiraksara menghela
nafas panjang
“Ah mungkin dia sedang mabuk berat sehingga tidak bisa
berjalan membukakan pintu untukku,” gumam Wiraksara sambil berlalu pergi
__ADS_1
meninggalkan kamar Kakek Kwan.
****
Kini Wiraksara dan Maheen kembali meneruskan perjalanan
mereka ke arah barat. Mereka harus selalu bergerak agar para pemburu permata
api itu tidak mudah menemukan mereka. Sementara itu Ma Jing Tao dan Chen Nie
telah tiba di kota Gansu. Di sebuah kedai tuak, Ma Jingtao dan Chen Nie
berhenti untuk beristirahat
“Kita mampir di sini, siapa tahu ada yang bercerita tentang situasi
yang terjadi di di seluruh negeri,” ujar Ma Jing Tao.
Mereka berdua memasuki kedai arak itu, seorang pelayan
menyambut mereka berdua
“Selamat datang, selamat datang di
kedai kami. Silahkan duduk.”
Kedai arak itu sangat ramai
dikunjungi para pedagang, ramai orang bercerita tentang pengalaman mereka
selama di perjalanan. Seorang pedagang yang bari saja datang dari kota Xinning mulai bercerita
“Saat ini para ksatria sedang
mengincar Permata Api milik Kuil Kahyangan Api di Persia. Sewaktu bermalam di
kota Xinning, beberapa orang menggeruduk salah seorang tamu yang sedang menginap
di situ karena mengincar Permata Api yang di bawanya.”
Orang-orang semakin antusias
mendengarnya, topik pembicaraan mengenai Permata Api ini adalah topik yang
berbeda bagi para pedagang di jalur sutera.
“Lalu bagaimana, apakah mereka
berhasil mendapatkannya?” Tanya salah seorang temannya.
Ma Jingtao dan Chen Nie yang
sedang makan tertegun.
“Dengar, mereka membicarakan
tentang Permata Api. Seingatku,
Wiraksara juga terlibat dalam soal Permata Api itu, jadi kita bisa mengetahui
keberadaan Wiraksara saat ini,” bisik Ma Jingtao.
Mereka kembali mendengarkan
pembicaraan para pedagang itu.
“Tentu saja mereka mendapatkannya
karena pembawa Permata Api itu hanya sepasang anak muda sedangkan pengeroyoknya
adalah para pendekar yang sakti, jelas saja mereka kalah. Apalagi para pendekar
itu juga menggunakan racun sehingga mereka keracunan. Aku tidak tahu apakah
mereka bisa selamat dari racun itu atau tidak karena aku langsung pergi dari
tempat itu,” ujar pedagang tadi.
Ma Jingtai tertegun, dia mulai
__ADS_1
mencemaskan keselamatan Wiraksara
“Chenn Nie, apakah orang yang mereka maksud adalah Wiraksara?