
Hari pertama musim semi telah tiba, pagi itu salju di
halaman mulai mencair, tunas-tunas dedaunan dan kuncup bunga mulai tumbuh setelah mengalami hibernasi
selama musim dingin. Burung-burung mulai berkicauan menyambut datangnya hari
pertama musim semi. Udara belum terasa
panas tetapi juga tidak terlalu dingin, sejuk menentramkan hati.
Wiraksara terbangun dari tidurnya, semalam Tie Shi telah
mengatakan bahwa besok musim semi akan dimulai dan dia mengajak Wiraksara mulai membuat acar, dendeng dan ikan
asin untuk persediaan musim dingin mendatang. Wiraksara keluar halaman, matanya
berbinar menyambut datangnya matahari musim semi. Dihirupnya dalam-dalam udara
musim semi pagi itu, begitu sejuk dan menyegarkan.
“Paman, besok aku akan berburu babi hutan, rusa dan
memancing ikan untuk persediaan makanan selama musim dingin,” ujar Wiraksara
ketika mereka menikmati sarapan.
Tie Shi hanya tersenyum menyaksikan kegembiraan Wiraksara
menyambut musim semi.
“Tak usah buru-buru, kita masih punya banyak waktu. Tampaknya
kau sudah merindukan sinar matahari ya? Ha ha ha,” tebak Tie Shi.
Wiraksara tertawa menanggapi tebakan Tie Shi, berada dalam
musim dingin yang muram selama 3 bulan membuat moodnya memburuk.
“Paman bagaimana kau bisa tahu?”
“Wajahmu tampak lebih ceria dari biasanya, atau mungkin kau
sudah krasan di China?”
Wiraksara tergelak dan berkata
“Ha ha ha, tidak Paman tentu saja aku masih selalu merindukan
negeriku yang indah dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun.”
Seperti biasa pagi itu Wiraksara memberi makan kuda,
menyikat bulunya, memotong dan merawat kuku kaki kuda. Dari kejauhan tampak
seorang Prajurit mengendarai kudanya menuju kompleks kandang kuda. Sesampainya
di kandang kuda prajurit itu bertanya kepada Wiraksara yang sedang menyikat
rambut kuda.
“Dimanakah Tie Shi?” Tanya prajurit itu.
“Dia ada di dalam sedang bekerja, biar aku panggilkan dia,”
kata Wiraksara sambil berlari memanggil Tie Shi.
Tak lama kemudian Tie Shi telah keluar dari kandang kuda.
Prajurit itu menyampaikan sebuah surat perintah
“Kerajaan kita akan menyerbu Annam di awal musin semi ini. Kau harus menyiapkan 1000
ekor kuda untuk kepentingan pasukan kita. 7 hari mendatang kuda-kuda itu harus
sudah siap dalam kondisi prima.”
Tie Shi membaca surat perintah itu kemudian berkata
“Baik, kami akan menyiapkan kuda-kuda itu secepatnya!”
Setelah itu si prajurit dan Tie Shi terlibat dalam
percakapan .yang Wiraksara tidak mengerti apa yang mereka percakapkan karena
dia berada jauh dari Tie Shi sehingga tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.
Ketika prajurit itu sudah berlalu, Wiraksara menghampiri Tie
Shi.
“Paman, apakah akan ada perang?”
__ADS_1
Tie Shi menjawab
“15 hari mendatang
kita harus mempersiapkan kuda-kuda itu untuk penyerbuan ke Annam.”
“Huh perang lagi, apa
keuntungan China dari peperangan ini?” Tanya Wiraksara.
Tie Shi bercerita
“Annam dahulunya adalah bagian dari China di masa dinasti
Tang. Namun mereka kemudian membebaskan diri. Dan sekarang Dinasti Ho dan
Dinasti Tran di Annam berperang memperebutkan tahta. Dinasti Tran meminta
bantuan China untuk mengusir orang-orang dari Dinasti Ho. Ayo kita mulai kerja, menyeleksi dan merawat
kuda-kuda yang akan dibawa ke Annam.”
******
Sudah 1 tahun terakhir ini Penyakit Permaisuri Xu kian
parah, dari hari ke hari tubuhnya makin dan sekarang dia sudah tidak mampu lagi
bangkit dari ranjangnya. Hari itu Yongle menjenguk, isterinya yang sedang
sakit. Saat memasuki kamar permaisuri,
bau ramuan herbal menyergap hidung, bau yang sering hadir di kamar Permaisuri
Xu semenjak dia sakit. Xu Yihua
isterinya tampak terbaring lemah di ranjang, tubuhnya makin lama makin kurus,
wajahnya semakin kisut matanya cekung bagai tengkorak hidup. Entah penyakit apa
yang dideritanya, segala obat untuk menyembuhkan isterinya bahkan tabib dari
seluruh dunia dan dukun telah dikerahkan namun tak satupun yang berhasil.
Dilihatnya tabib istana sudah selesai memeriksa kondisi isterinya.
“Tabib, bagaimana keadaan dia sekarang?” Tanya Yongle dengan
“Ampun Yang Mulia, kita hanya mampu berusaha, penyakitnya
ini sulit untuk disembuhkan,” bisik Tabib.
Yongle hanya tertegun mendengar penjelasan Tabib, rasa takut
kehilangan Yihua seketika menyergapnya. Tak terbayangkan dia akan memerintah
sendirian tanpa Yihua di sampingnya. Yongle
adalah seorang yang emosional yang kadang bertindak tak terkendali dan terkesan
kejam. Hanya Yi Hua yang mampu meredam
semua itu, apa yang dikatakan Yihua pasti akan dilaksanakannya tanpa syarat.
Setelah tabib itu pergi dia menghampiri istrinya dan duduk
di tepi ranjang menyapanya dengan lemah lembut. “Yi Hua, bagaimana keadaanmu sekarang, apakah tubuhmu masih merasa sakit?
Apakah obat-obatan ini membantu penyembuhanmu?”
Yi Hua tersenyum
lemah dan berkata
“Suamiku, percayalah aku akan sembuh, obat-obatan ini sangat
membantu dalam penyembuhanku. Jangan mengkhawatirkan kesehatanku. Sekarang
yang penting adalah kelangsungan Dinasti Ming. Bagaimana, apakah kau sudah menentukan pewaris tahta?”
“Awalnya aku menunjuk Gaochi putra sulung kita sebagai
penggantinya, namun kemudian aku mulai mempertimbangkan untuk memilih Gaoxu
sebagai pewaris tahta,” jawab Yongle.
Permaisuri Xu terkejut dan bertanya
“Kenapa kau lebih menyukai Gaoxu?”
Yongle menatap isterinya kemudian berkata lagi
__ADS_1
“Gaoxu memiliki kemampuan bertempur yang bagus, kita
memerlukannya untuk ekspansi kekuasaan kerajaan kita. Aku yakin jika dia menjadi
Raja, dia akan menjadi Raja yang tegas dan disegani oleh kawan maupun lawan.
Sedangkan Gaochi, dia memang lebih cerdas dalam ilmu politik dan ketata
negaraan, tetapi dia tidak memiliki kemampuan bertempur yang baik. Lagi pula
dia terlalu lemah, sakit-sakitan dan kurang tegas.”
Terdengar Permaisuri Xu menghela nafas, dia sudah menduga
suaminya pasti lebih memilih Gaoxu yang lebih menonjol dalam kemampuan bertempur,
seorang ksatria pilih tanding yang disegani dalam peperangan. Kemampuannya
berperangnya sudah terbukti dalam peristiwa insiden Jingnan yang membuat
keluarga kaisar Jianwen berhasil dihabisi semua sampai tuntas, mengantarkan
Yongle ke tahta dinasti Ming yang sudah lama diincarnya.
“Suamiku, sebaiknya kau pertimbangkan lagi jika kau ingin
memilih Gaoxu. Aku tahu persis wataknya, dia akan menjadi seorang tiran yang
kejam, bahkan lebih kejam daripada dirimu jika dia menjadi kaisar,” usul
Permaisuri Xu.
Yongle terkejut mendengar pendapat isterinya, tetapi dia
merasa harus mendengarkan kata-kata isterinya. Xu Yihua isterinya adalah
seorang wanita berpendidikan tinggi, politikus ulung yang cerdas. Dia memiliki
hubungan baik dengan para pejabat penting dan politikus di kerajaan.
Keberhasilannya meraih tahta dinasti Ming tak lepas dari peran isterinya
sebagai keluarga yang berpengaruh dari klan Xu. Yongle meraih tangan isterinya dan menggenggamnya
dengan lembut, lalu berkata untuk
menentramkan hati isterinya
“Baiklah sayang, aku akan mempertimbangkannya bersama para
penasehat kerajaan. Kurasa kau benar, kau ibunya pasti lebih tahu bagaimana
watak mereka,” ujar Yongle.
Permaisuri Xu hanya mengangguk lemah, kata-kata suaminya
sudah cukup meredakan kegalauan pikirannya setahun terakhir ini ketika Yongle
mengatakan akan mempertimbangkan Gaoxu sebagai pewaris tahta.
“Apalagi yang kau inginkan dariku Yihua?”
Permaisuri Xu menatap suaminya melalui matanya yang cekung,
dia dapat melihat melalui mata suaminya kekejaman yang telah dilakukannya
terhadap lawan-lawan politiknya secara kejam dengan metode Zhu Jiuzu
(Pemusnahan Sembilan Keturunan) yang membuat tahun-tahun pertama suaminya
sebagai kaisar dipenuhi dengan banjir darah orang-orang yang tak bersalah.
Ironisnya suaminya telah banyak menumpahkan darah teman-teman seperjuangannya
dulu beserta kerabatnya.
Mungkin sakitku ini adalah hukuman dari Thian (Tuhan),
seharusnya aku bisa mencegah Yongle melakukan kekejaman terhadap
musuh-musuhnya. Dia cukup menghukum musuhnya yang memang bersalah saja, tidak perlu membantai seluruh keluarganya dari
buyut sampai ke cicit, batin permaisuri.
“Aku hanya ingin kau
bertindak sedikit lebih manusiawi kepada para lawan-lawan politikmu.
Berbaik-baiklah pada orang-orang yang pernah berjasa kepadamu. Kalau kau baik pada
mereka, aku yakin mereka juga akan setia kepadamu,” tutur Permaisuri Xu.
__ADS_1