KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Derita Permaisuri Xu Yihua


__ADS_3

Hari pertama musim semi telah tiba, pagi itu salju di


halaman mulai mencair, tunas-tunas dedaunan dan kuncup bunga  mulai tumbuh setelah mengalami hibernasi


selama musim dingin. Burung-burung mulai berkicauan menyambut datangnya hari


pertama musim semi.  Udara belum terasa


panas tetapi juga tidak terlalu dingin, sejuk menentramkan hati.


Wiraksara terbangun dari tidurnya, semalam Tie Shi telah


mengatakan bahwa besok musim semi akan  dimulai dan dia mengajak Wiraksara mulai membuat acar, dendeng dan ikan


asin untuk persediaan musim dingin mendatang. Wiraksara keluar halaman, matanya


berbinar menyambut datangnya matahari musim semi. Dihirupnya dalam-dalam udara


musim semi pagi itu, begitu sejuk dan menyegarkan.


“Paman, besok aku akan berburu babi hutan, rusa dan


memancing ikan untuk persediaan makanan selama musim dingin,” ujar Wiraksara


ketika mereka menikmati sarapan.


Tie Shi hanya tersenyum menyaksikan kegembiraan Wiraksara


menyambut musim semi.


“Tak usah buru-buru, kita masih punya banyak waktu. Tampaknya


kau sudah merindukan sinar matahari ya? Ha ha ha,” tebak Tie Shi.


Wiraksara tertawa menanggapi tebakan Tie Shi, berada dalam


musim dingin yang muram selama 3 bulan membuat moodnya memburuk.


“Paman bagaimana kau bisa tahu?”


“Wajahmu tampak lebih ceria dari biasanya, atau mungkin kau


sudah krasan di China?”


Wiraksara tergelak dan berkata


“Ha ha ha, tidak Paman  tentu saja aku masih selalu merindukan


negeriku yang indah dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun.”


Seperti biasa pagi itu Wiraksara memberi makan kuda,


menyikat bulunya, memotong dan merawat kuku kaki kuda. Dari kejauhan tampak


seorang Prajurit mengendarai kudanya menuju kompleks kandang kuda. Sesampainya


di kandang kuda prajurit itu bertanya kepada Wiraksara yang sedang menyikat


rambut kuda.


“Dimanakah Tie Shi?” Tanya prajurit itu.


“Dia ada di dalam sedang bekerja, biar aku panggilkan dia,”


kata Wiraksara sambil berlari memanggil Tie Shi.


Tak lama kemudian Tie Shi telah keluar dari kandang kuda.


Prajurit itu menyampaikan sebuah surat perintah


“Kerajaan kita akan menyerbu Annam  di awal musin semi ini. Kau harus menyiapkan 1000


ekor kuda untuk kepentingan pasukan kita. 7 hari mendatang kuda-kuda itu harus


sudah siap dalam kondisi prima.”


Tie Shi membaca surat perintah itu kemudian berkata


“Baik, kami akan menyiapkan kuda-kuda itu secepatnya!”


Setelah itu si prajurit dan Tie Shi terlibat dalam


percakapan .yang Wiraksara tidak mengerti apa yang mereka percakapkan karena


dia berada jauh dari Tie Shi sehingga tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.


Ketika prajurit itu sudah berlalu, Wiraksara menghampiri Tie


Shi.


“Paman, apakah akan ada perang?”

__ADS_1


Tie Shi menjawab


 “15 hari mendatang


kita harus mempersiapkan kuda-kuda itu untuk penyerbuan ke Annam.”


 “Huh perang lagi, apa


keuntungan China dari peperangan ini?” Tanya Wiraksara.


Tie Shi bercerita


“Annam dahulunya adalah bagian dari China di masa dinasti


Tang. Namun mereka kemudian membebaskan diri. Dan sekarang Dinasti Ho dan


Dinasti Tran di Annam berperang memperebutkan tahta. Dinasti Tran meminta


bantuan China untuk mengusir orang-orang dari Dinasti Ho.  Ayo kita mulai kerja, menyeleksi dan merawat


kuda-kuda  yang akan dibawa ke Annam.”


******


Sudah 1 tahun terakhir ini Penyakit Permaisuri Xu kian


parah, dari hari ke hari tubuhnya makin dan sekarang dia sudah tidak mampu lagi


bangkit dari ranjangnya. Hari itu Yongle menjenguk, isterinya yang sedang


sakit.  Saat memasuki kamar permaisuri,


bau ramuan herbal menyergap hidung, bau yang sering hadir di kamar Permaisuri


Xu semenjak dia sakit.  Xu Yihua


isterinya tampak terbaring lemah di ranjang, tubuhnya makin lama makin kurus,


wajahnya semakin kisut matanya cekung bagai tengkorak hidup. Entah penyakit apa


yang dideritanya, segala obat untuk menyembuhkan isterinya bahkan tabib dari


seluruh dunia dan dukun telah dikerahkan namun tak satupun yang berhasil.


Dilihatnya tabib istana sudah selesai memeriksa kondisi isterinya.


“Tabib, bagaimana keadaan dia sekarang?” Tanya Yongle dengan


“Ampun Yang Mulia, kita hanya mampu berusaha, penyakitnya


ini sulit untuk disembuhkan,” bisik Tabib.


Yongle hanya tertegun mendengar penjelasan Tabib, rasa takut


kehilangan Yihua seketika menyergapnya. Tak terbayangkan dia akan memerintah


sendirian tanpa Yihua di sampingnya.  Yongle


adalah seorang yang emosional yang kadang bertindak tak terkendali dan terkesan


kejam.  Hanya Yi Hua yang mampu meredam


semua itu, apa yang dikatakan Yihua pasti akan dilaksanakannya tanpa syarat.


Setelah tabib itu pergi dia menghampiri istrinya dan duduk


di tepi ranjang menyapanya dengan lemah lembut.  “Yi Hua, bagaimana keadaanmu sekarang, apakah tubuhmu masih merasa sakit?


Apakah obat-obatan ini membantu penyembuhanmu?”


 Yi Hua tersenyum


lemah dan berkata


“Suamiku, percayalah aku akan sembuh, obat-obatan ini sangat


membantu dalam penyembuhanku. Jangan mengkhawatirkan kesehatanku. Sekarang


yang penting adalah kelangsungan Dinasti Ming.  Bagaimana, apakah kau sudah menentukan pewaris tahta?”


“Awalnya aku menunjuk Gaochi putra sulung kita sebagai


penggantinya, namun kemudian aku mulai mempertimbangkan untuk memilih Gaoxu


sebagai pewaris tahta,” jawab Yongle.


Permaisuri Xu terkejut dan bertanya


“Kenapa kau lebih menyukai Gaoxu?”


Yongle menatap isterinya kemudian berkata lagi

__ADS_1


“Gaoxu memiliki kemampuan bertempur yang bagus, kita


memerlukannya untuk ekspansi kekuasaan kerajaan kita. Aku yakin jika dia menjadi


Raja, dia akan menjadi Raja yang tegas dan disegani oleh kawan maupun lawan.


Sedangkan Gaochi, dia memang lebih cerdas dalam ilmu politik dan ketata


negaraan, tetapi dia tidak memiliki kemampuan bertempur yang baik. Lagi pula


dia terlalu lemah, sakit-sakitan dan kurang tegas.”


Terdengar Permaisuri Xu menghela nafas, dia sudah menduga


suaminya pasti lebih memilih Gaoxu yang lebih menonjol dalam kemampuan bertempur,


seorang ksatria pilih tanding yang disegani dalam peperangan. Kemampuannya


berperangnya sudah terbukti dalam peristiwa insiden Jingnan yang membuat


keluarga kaisar Jianwen berhasil dihabisi semua sampai tuntas, mengantarkan


Yongle ke tahta dinasti Ming yang sudah lama diincarnya.


“Suamiku, sebaiknya kau pertimbangkan lagi jika kau ingin


memilih Gaoxu. Aku tahu persis wataknya, dia akan menjadi seorang tiran yang


kejam, bahkan lebih kejam daripada dirimu jika dia menjadi kaisar,” usul


Permaisuri Xu.


Yongle terkejut mendengar pendapat isterinya, tetapi dia


merasa harus mendengarkan kata-kata isterinya. Xu Yihua isterinya adalah


seorang wanita berpendidikan tinggi, politikus ulung yang cerdas. Dia memiliki


hubungan baik dengan para pejabat penting dan politikus di kerajaan.


Keberhasilannya meraih tahta dinasti Ming tak lepas dari peran isterinya


sebagai keluarga yang berpengaruh dari klan Xu. Yongle meraih tangan isterinya dan menggenggamnya


dengan lembut,  lalu berkata untuk


menentramkan hati isterinya


“Baiklah sayang, aku akan mempertimbangkannya bersama para


penasehat kerajaan. Kurasa kau benar, kau ibunya pasti lebih tahu bagaimana


watak mereka,” ujar Yongle.


Permaisuri Xu hanya mengangguk lemah, kata-kata suaminya


sudah cukup meredakan kegalauan pikirannya setahun terakhir ini ketika Yongle


mengatakan akan mempertimbangkan Gaoxu sebagai pewaris tahta.


“Apalagi yang kau inginkan dariku Yihua?”


Permaisuri Xu menatap suaminya melalui matanya yang cekung,


dia dapat melihat melalui mata suaminya kekejaman yang telah dilakukannya


terhadap lawan-lawan politiknya secara kejam dengan metode Zhu Jiuzu


(Pemusnahan Sembilan Keturunan) yang membuat tahun-tahun pertama suaminya


sebagai kaisar dipenuhi dengan banjir darah orang-orang yang tak bersalah.


Ironisnya suaminya telah banyak menumpahkan darah teman-teman seperjuangannya


dulu beserta kerabatnya.


Mungkin sakitku ini adalah hukuman dari Thian (Tuhan),


seharusnya aku bisa mencegah Yongle melakukan kekejaman terhadap


musuh-musuhnya. Dia cukup menghukum musuhnya yang memang bersalah saja,  tidak perlu membantai seluruh keluarganya dari


buyut sampai ke cicit, batin permaisuri.


 “Aku hanya ingin kau


bertindak sedikit lebih manusiawi kepada para lawan-lawan politikmu.


Berbaik-baiklah pada orang-orang yang pernah berjasa kepadamu. Kalau kau baik pada


mereka, aku yakin mereka juga akan setia kepadamu,” tutur Permaisuri Xu.

__ADS_1


__ADS_2