KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Kisah Tie Shi


__ADS_3

“Paman, siapa sebenarnya dirimu, mengapa bahkan kaisar


sekalipun begitu takut kepadamu sehingga merasa perlu memusnahkan ilmu


silatmu?” Tanya Wiraksara ingin tahu.


Tie Shi tampak terkejut namun dia berusaha menutupi rasa


terkejutnya dan berkata


“Ah, aku ini cuma pendekar dengan ilmu cakar kucing yang


cuma bisa menakuti anak kecil dan para keroco. Aku bukanlah orang hebat seperti


yang kau kira. Sudahlah, ayo kita masuk, kau sudah terlalu lama di luar nanti


kau sakit,” kata Tie Shi sambil mengajak masuk Wiraksara yang masih berdiri di


halaman.


Namun Wiraksara masih tetap di tempatnya dan berkata


“Paman, aku adalah orang Majapahit, bukan orang-orang Kaisar


Yongle, mengapa mereka memusnahkan ilmu silatmu?  Ceritakanlah, apa kau masih mencurigaiku


bekerjasama dengan mereka?”


Tie Shi tertegun mendengar penuturan Wiraksara, luka lamanya


kembali terbuka ketika Wiraksara  memaksanya membuka tabir masa lalunya.


Ah, anak ini terlalu ingin tahu tentang siapa diriku


sebenarnya, padahal aku sudah berusaha melupakan masa laluku, batin Tie Shi.


Sambil menghela nafas Tie Shi berkata


“Baiklah kalau begitu, masuklah ke dalam aku akan


menceritakannya kepadamu.”


Di meja makan Tie Shi menuang arak ke cawan, mengambil guci


berisi kwaci dan berkata


“Duduklah di sini, kita ngobrol sambil minum arak dan makan


kwaci. Kau bisa makan kwaci?”


“Tentu saja, aku suka kwaci.”


“Baiklah aku akan mulai bercerita,” ujar Tie Shi sambil


menenggak arak.


“Dulunya aku seorang pendekar yang disegani di dunia persilatan,


aku dikenal dengan nama Pendekar Tangan Baja. Ketika ayahku berperang melawan


Yongle yang ingin mengkudeta Kaisar Jianwen, aku pulang membantu ayahku. Peperangan


antara Yongle dan Kaisar  Jianwen


berlangsung selama 4 tahun dan selama itu Yongle bersama pasukannya berhasil


memperoleh banyak kemenangan dan berhasil menguasai beberapa wilayah.  Saat itu  beberapa kali pasukan ayahku dikalahkan oleh Yongle. Aku dan teman-temanku


bertahan di kota Nanjing benteng terakhir kami," kata Tie Shi dengan suara


lirih.


Pandangan matanya menerawang mengenang tragedi itu,


airmatanya tampak berlinang. Insiden Jingnan terbayang kembali di matanya bagai


sebuah bioskop yang membawanya kembali ke masa lalunya. Serbuan tentara musuh,


denting senjata, asap dan api yang membakar istana Jianwen. Suara Wiraksara kembali

__ADS_1


menyadarkannya dari lamunan masa lalunya.


"Ya, aku pernah mendengar tentang kudeta Kaisar Yongle


terhadap Kaisar Jianwen, selama peperangan yang berlangsung 4 tahun hingga


terjadi insiden Jingnan, tidak ada utusan dari China yang datang ke Majapahit.


Pada saat itu kami kedatangan gelombang pengungsi dari China yang masuk ke


pulau Jawa dan beberapa wilayah di Nusantara seperti Swarnadwipa Seram dan


Tanjungpura. Kebanyakan mereka bermukim di sepanjang pantai utara," tutur


Wiraksara.


Tie Shi mengangguk dan berkata


"Betul, banyak dari rakyat kami yang mengungsi setelah


kejadian itu, Negeri kami terlalu banyak dilanda peperangan sehingga rakyat


yang merasa tidak mendapatkan keamanan dan ketentraman mengungsi ke wilayah


lain yang lebih aman."


"Paman, apa yang terjadi dalam insiden itu, bagaimana


nasib Kaisar Jianwen dan keluarganya sekarang?" Tanya Wiraksara.


"Saat itu kota Nanjing ibu kota negara di masa


pemerintahan Kaisar Jianwen sudah dikepung pasukan Yongle. Kami didalam benteng


kota sudah menderita kehabisan bahan makanan. Tak ingin membuat rakyat di dalam


benteng menderita dan karena sudah putus asa melihat pasukannya banyak yang


mati karena mengalami kekalahan di mana-mana, ayahku akhirnya memerintahkan


pasukan untuk membuka pintu gerbang benteng kota dan membiarkan Yongle dan


keluarga kaisar Jianwen agar anak keturunannya tetap hidup dan kelak dapat


kembali merebut tahta dan membalas dendam atas peristiwa itu. Upaya itu


berhasil, mereka tidak dapat menemukan jenazah Kaisar Jianwen dan Putra


Mahkota. Itulah sebabnya dia mengutus Chengho melakukan ekspedisi keliling Asia


dan Afrika karena dia juga memiliki misi rahasia yaitu mencari jejak Jianwen


yang menghilang secara misterius. Kabarnya Kaisar Jianwen melarikan diri ke


Asia Tenggara, tak heran Chengho berlayar sampai ke negara kalian.  Yongle manusia kejam itu semoga segera mendapatkan


karmanya," ujar Tie Shi dengan nada geram.


Wiraksara tertegun, tak menyangka ternyata Yongle adalah


Kaisar yang kejam.


"Yongle kaisar yang kejam? Tetapi yang kudengar di


Majapahit, Kaisar Yongle adalah kaisar yang berpihak kepada rakyat kecil. Dia


sangat ketat mengawasi para pejabatnya terutama dalam penggunaan dana anggaran


untuk pembangunan negara.”


Tie Shi hanya tertawa sinis mendengar perkataan Wiraksara.


"Dia baik kepada rakyat kecil hanya untuk pencitraan


saja agar rakyat mendukung dan melindunginya. Sedangkan pengawasan yang ketat


terhadap para pejabat kerajaan dan penguasa wilayah dilakukannya karena dia


takut para pejabatnya dan penguasa wilayah akan memberontak kepadanya. Di masa

__ADS_1


Yongle para Kasim itu mendapatkan tempat istimewa. Di masa pemerintahan ayahnya


yaitu Kaisar Hongwu para Kasim itu tidak diijinkan berpolitik, mereka hanya bekerja


sebagai pelayan Kaisar.  Di masa


pemerintahan Yongle dia memulihkan hak-hak para kasim untuk berpolitik. Mereka


bahkan bisa menduduki posisi-posisi penting di istana seperti menjadi Perdana


Menteri, Jenderal, Laksamana. Ya seperti Laksamana Chengho, dia adalah salah


satu Kasim yang mendapatkan hak istimewa itu. Yongle berhutang budi kepada para


Kasim itu karena telah membocorkan rahasia kelemahan militer pasukan Kaisar


Jianwen selama peperangan berlangsung.


Wiraksara tertegun mendengar pernyataan Tie Shi, tak


disangkanya di Kerajaan China yang begitu besar dan kuat, ternyata juga banyak


intrik-intrik licik perebutan kekuasaan di dalamnya.


"Di bawah rezim Yongle para Kasim itu membentuk biro


mata-mata Dongchang yang berkantor di Depot Timur yang bertugas mengawasi para


pejabat negara agar tidak meberontak kepada Yongle. Dinamakan Depot Timur


karena mereka berkantor di sisi timur  istana. Dibantu oleh Jinyiwei pasukan elit Kaisar,  mereka dengan mudahnya menjebloskan para


pejabat negara maupun jenderal yang mereka anggap sebagai ancaman ke dalam


penjara dan menghukum mati mereka tanpa proses pengadilan. Kau ingin tahu


kekejaman Yongle yang lainnya?" Tanya Tie Shi.


Wiraksara mengangguk


"Ceritakanlah Paman."


Tie Shi melanjutkan ceritanya lagi


"Setelah Yongle berhasil menduduki istana dan naik


tahta, di tahun pertama dia berkuasa, Yongle mengisinya dengan memburu dan


membantai para pendukung Kaisar Jianwen yang bersembunyi, Bahkan para


pendukungnya yang melarikan diri ke negara tetangga juga diburu oleh pasukan


khususnya dari Depot Timur. Banyak para menteri, jenderal, kasim bahkan para


pelayan yang melayani keluarga keponakannya, yang tidak tahu apa-apa mengenai


politik dihukum mati setelah Yongle berkuasa. Tidak tanggung-tanggung, dia


menggunakan metode hukuman mati Zhu Jiuzu yaitu metode memusnahkan sembilan


keturunan. Mereka yang mendapatkan hukuman ini akan dihukum mati mulai dari


buyut hingga cicitnya dihabisi semua agar keturunannya tidak dapat membalas


dendam," tutur Tie Shi dengan nada sedih.


Wiraksara terkejut mendengar penuturan Tie Shi, belum pernah


dalam sejarah kerajan-kerajaan di jawa ada hukuman seperti ini. Dia masih ingat


cerita ayahnya tentang peralihan kekuasaan dari Singhasari ke Majapahit. Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya Raja Kediri dari wangsa Isyana yang memberontak terhadap Kertanegara dari


wangsa Rajasa keturunan Ken Arok,  Tetapi tidak sampai membunuh Raden Wijaya yang masih


terhitung keponakannya. Jayakatwang bersedia mengampuni dan membiarkan Raden Wijaya tetap hidup. Dia bahkan memberikan Alas Tarik sebagai wilayah kekuasaan Raden Wijaya. Walaupun di


kemudian hari kebaikannya dibalas dengan serangan Raden Wijaya bersama Pasukan


Mongol yang melengserkannya dari tahta menjadi tawanan Mongol yang hina.

__ADS_1


__ADS_2