
“Paman, siapa sebenarnya dirimu, mengapa bahkan kaisar
sekalipun begitu takut kepadamu sehingga merasa perlu memusnahkan ilmu
silatmu?” Tanya Wiraksara ingin tahu.
Tie Shi tampak terkejut namun dia berusaha menutupi rasa
terkejutnya dan berkata
“Ah, aku ini cuma pendekar dengan ilmu cakar kucing yang
cuma bisa menakuti anak kecil dan para keroco. Aku bukanlah orang hebat seperti
yang kau kira. Sudahlah, ayo kita masuk, kau sudah terlalu lama di luar nanti
kau sakit,” kata Tie Shi sambil mengajak masuk Wiraksara yang masih berdiri di
halaman.
Namun Wiraksara masih tetap di tempatnya dan berkata
“Paman, aku adalah orang Majapahit, bukan orang-orang Kaisar
Yongle, mengapa mereka memusnahkan ilmu silatmu? Ceritakanlah, apa kau masih mencurigaiku
bekerjasama dengan mereka?”
Tie Shi tertegun mendengar penuturan Wiraksara, luka lamanya
kembali terbuka ketika Wiraksara memaksanya membuka tabir masa lalunya.
Ah, anak ini terlalu ingin tahu tentang siapa diriku
sebenarnya, padahal aku sudah berusaha melupakan masa laluku, batin Tie Shi.
Sambil menghela nafas Tie Shi berkata
“Baiklah kalau begitu, masuklah ke dalam aku akan
menceritakannya kepadamu.”
Di meja makan Tie Shi menuang arak ke cawan, mengambil guci
berisi kwaci dan berkata
“Duduklah di sini, kita ngobrol sambil minum arak dan makan
kwaci. Kau bisa makan kwaci?”
“Tentu saja, aku suka kwaci.”
“Baiklah aku akan mulai bercerita,” ujar Tie Shi sambil
menenggak arak.
“Dulunya aku seorang pendekar yang disegani di dunia persilatan,
aku dikenal dengan nama Pendekar Tangan Baja. Ketika ayahku berperang melawan
Yongle yang ingin mengkudeta Kaisar Jianwen, aku pulang membantu ayahku. Peperangan
antara Yongle dan Kaisar Jianwen
berlangsung selama 4 tahun dan selama itu Yongle bersama pasukannya berhasil
memperoleh banyak kemenangan dan berhasil menguasai beberapa wilayah. Saat itu beberapa kali pasukan ayahku dikalahkan oleh Yongle. Aku dan teman-temanku
bertahan di kota Nanjing benteng terakhir kami," kata Tie Shi dengan suara
lirih.
Pandangan matanya menerawang mengenang tragedi itu,
airmatanya tampak berlinang. Insiden Jingnan terbayang kembali di matanya bagai
sebuah bioskop yang membawanya kembali ke masa lalunya. Serbuan tentara musuh,
denting senjata, asap dan api yang membakar istana Jianwen. Suara Wiraksara kembali
__ADS_1
menyadarkannya dari lamunan masa lalunya.
"Ya, aku pernah mendengar tentang kudeta Kaisar Yongle
terhadap Kaisar Jianwen, selama peperangan yang berlangsung 4 tahun hingga
terjadi insiden Jingnan, tidak ada utusan dari China yang datang ke Majapahit.
Pada saat itu kami kedatangan gelombang pengungsi dari China yang masuk ke
pulau Jawa dan beberapa wilayah di Nusantara seperti Swarnadwipa Seram dan
Tanjungpura. Kebanyakan mereka bermukim di sepanjang pantai utara," tutur
Wiraksara.
Tie Shi mengangguk dan berkata
"Betul, banyak dari rakyat kami yang mengungsi setelah
kejadian itu, Negeri kami terlalu banyak dilanda peperangan sehingga rakyat
yang merasa tidak mendapatkan keamanan dan ketentraman mengungsi ke wilayah
lain yang lebih aman."
"Paman, apa yang terjadi dalam insiden itu, bagaimana
nasib Kaisar Jianwen dan keluarganya sekarang?" Tanya Wiraksara.
"Saat itu kota Nanjing ibu kota negara di masa
pemerintahan Kaisar Jianwen sudah dikepung pasukan Yongle. Kami didalam benteng
kota sudah menderita kehabisan bahan makanan. Tak ingin membuat rakyat di dalam
benteng menderita dan karena sudah putus asa melihat pasukannya banyak yang
mati karena mengalami kekalahan di mana-mana, ayahku akhirnya memerintahkan
pasukan untuk membuka pintu gerbang benteng kota dan membiarkan Yongle dan
keluarga kaisar Jianwen agar anak keturunannya tetap hidup dan kelak dapat
kembali merebut tahta dan membalas dendam atas peristiwa itu. Upaya itu
berhasil, mereka tidak dapat menemukan jenazah Kaisar Jianwen dan Putra
Mahkota. Itulah sebabnya dia mengutus Chengho melakukan ekspedisi keliling Asia
dan Afrika karena dia juga memiliki misi rahasia yaitu mencari jejak Jianwen
yang menghilang secara misterius. Kabarnya Kaisar Jianwen melarikan diri ke
Asia Tenggara, tak heran Chengho berlayar sampai ke negara kalian. Yongle manusia kejam itu semoga segera mendapatkan
karmanya," ujar Tie Shi dengan nada geram.
Wiraksara tertegun, tak menyangka ternyata Yongle adalah
Kaisar yang kejam.
"Yongle kaisar yang kejam? Tetapi yang kudengar di
Majapahit, Kaisar Yongle adalah kaisar yang berpihak kepada rakyat kecil. Dia
sangat ketat mengawasi para pejabatnya terutama dalam penggunaan dana anggaran
untuk pembangunan negara.”
Tie Shi hanya tertawa sinis mendengar perkataan Wiraksara.
"Dia baik kepada rakyat kecil hanya untuk pencitraan
saja agar rakyat mendukung dan melindunginya. Sedangkan pengawasan yang ketat
terhadap para pejabat kerajaan dan penguasa wilayah dilakukannya karena dia
takut para pejabatnya dan penguasa wilayah akan memberontak kepadanya. Di masa
__ADS_1
Yongle para Kasim itu mendapatkan tempat istimewa. Di masa pemerintahan ayahnya
yaitu Kaisar Hongwu para Kasim itu tidak diijinkan berpolitik, mereka hanya bekerja
sebagai pelayan Kaisar. Di masa
pemerintahan Yongle dia memulihkan hak-hak para kasim untuk berpolitik. Mereka
bahkan bisa menduduki posisi-posisi penting di istana seperti menjadi Perdana
Menteri, Jenderal, Laksamana. Ya seperti Laksamana Chengho, dia adalah salah
satu Kasim yang mendapatkan hak istimewa itu. Yongle berhutang budi kepada para
Kasim itu karena telah membocorkan rahasia kelemahan militer pasukan Kaisar
Jianwen selama peperangan berlangsung.
Wiraksara tertegun mendengar pernyataan Tie Shi, tak
disangkanya di Kerajaan China yang begitu besar dan kuat, ternyata juga banyak
intrik-intrik licik perebutan kekuasaan di dalamnya.
"Di bawah rezim Yongle para Kasim itu membentuk biro
mata-mata Dongchang yang berkantor di Depot Timur yang bertugas mengawasi para
pejabat negara agar tidak meberontak kepada Yongle. Dinamakan Depot Timur
karena mereka berkantor di sisi timur istana. Dibantu oleh Jinyiwei pasukan elit Kaisar, mereka dengan mudahnya menjebloskan para
pejabat negara maupun jenderal yang mereka anggap sebagai ancaman ke dalam
penjara dan menghukum mati mereka tanpa proses pengadilan. Kau ingin tahu
kekejaman Yongle yang lainnya?" Tanya Tie Shi.
Wiraksara mengangguk
"Ceritakanlah Paman."
Tie Shi melanjutkan ceritanya lagi
"Setelah Yongle berhasil menduduki istana dan naik
tahta, di tahun pertama dia berkuasa, Yongle mengisinya dengan memburu dan
membantai para pendukung Kaisar Jianwen yang bersembunyi, Bahkan para
pendukungnya yang melarikan diri ke negara tetangga juga diburu oleh pasukan
khususnya dari Depot Timur. Banyak para menteri, jenderal, kasim bahkan para
pelayan yang melayani keluarga keponakannya, yang tidak tahu apa-apa mengenai
politik dihukum mati setelah Yongle berkuasa. Tidak tanggung-tanggung, dia
menggunakan metode hukuman mati Zhu Jiuzu yaitu metode memusnahkan sembilan
keturunan. Mereka yang mendapatkan hukuman ini akan dihukum mati mulai dari
buyut hingga cicitnya dihabisi semua agar keturunannya tidak dapat membalas
dendam," tutur Tie Shi dengan nada sedih.
Wiraksara terkejut mendengar penuturan Tie Shi, belum pernah
dalam sejarah kerajan-kerajaan di jawa ada hukuman seperti ini. Dia masih ingat
cerita ayahnya tentang peralihan kekuasaan dari Singhasari ke Majapahit. Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya Raja Kediri dari wangsa Isyana yang memberontak terhadap Kertanegara dari
wangsa Rajasa keturunan Ken Arok, Tetapi tidak sampai membunuh Raden Wijaya yang masih
terhitung keponakannya. Jayakatwang bersedia mengampuni dan membiarkan Raden Wijaya tetap hidup. Dia bahkan memberikan Alas Tarik sebagai wilayah kekuasaan Raden Wijaya. Walaupun di
kemudian hari kebaikannya dibalas dengan serangan Raden Wijaya bersama Pasukan
Mongol yang melengserkannya dari tahta menjadi tawanan Mongol yang hina.
__ADS_1