KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Pisau Terbang


__ADS_3

Ma Jingtao melirik ke arah Jendral Sheng yang tampak gelisah


dan tidak tenang. Sesekali matanya melirik ke arah Fu Shen. Ma Jingtao


menangkap gelagat aneh Jendral Sheng.


Sepertinya Jendral Sheng sudah tidak independen lagi, pasti


dia sudah sering menerima sesuatu dari Fu Shen, batin Ma Jingtao.


Ma Jingtao melirik ke arah Jendral Sheng dan berkata


“Baiklah Jendral Sheng, kukira cukup sampai di sini saja


kerjasama kita. Kasus ini akan langsung  kutangani sendiri!”


Terkesiap Jendral Sheng mendengar kata-kata Ma Jingtao, dia


hanya bisa melongo memandang koleganya.


“Jendral Ma, kau tidak bisa melakukan hal itu kepadaku, kita


memiliki jabatan yang sama. Hanya Kaisar yang dapat memecatku!”


Ma Jingtao mengeluarkan sebuah lencana emas lalu berkata


“Kaisar telah memberikan wewenang penuh kepadaku untuk


bertindak atas nama dirinya dalam operasi ini. Jadi aku dapat menghukum bahkan


memecat seorang Jendral sepertimu!”


Terkesiap Jendral Sheng melihat lencana emas itu, habis


sudah karirnya dan dia harus menghadapi hukuman dari kaisar.


“Ma Jingtao, apa kau sudah punya bukti yang kuat bahwa aku


telah berkhianat?”


Ma Jingtao tersenyum sinis dan berkata


“Jendral Sheng, bukankah anda tahu sendiri bagaimana


kepribadian Kaisar Yongle? Dia selalu mencemaskan para jendralnya akan merebut


kekuasaannya atau memberontak. Untuk itu dia telah menyebar telik sandi dari


Dongchang dan orang-orang Jinyiwei untuk mengawasi para jendralnya di


perbatasan. Sebagai seorang pejabat yang memegang kekuasaan penuh mewakili


Kaisar, aku sangat serius dalam menjalankan tugasku.”


Ma Jingtao menoleh pada para pengawalnya


“Prajurit, tangkap mereka!”


Para prajurit segera menangkap Jendral Sheng dan Fu Shen.


“Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!” Seru Jendral


Sheng.


Beberapa praqurit yang melakukan penggeledahan di gedung


kantor Fu Shen datang menghadap


“Jendral Ma, kami telah menemukan bukti-bukti orang-orang


yang bekerjasama dengan Tuan Fu!”


Seorang prajurit menyerahkan sebuah buku catatan


“Ini adalah catatan para pejabat negara yang telah menerima


uang suap dari Fu Shen.”


Terkesiap Fu Shen melihat catatan rahasia itu telah berada


di tangan prajurit Jinyiwei.


“Bohong, itu bukan catatanku!”


Mendadak seorang pria menghampiri Fu Shen dan berkata


“Tuan Fu, bukankah anda yang menyuruh saya mencatat daftar


nama ini?”


Fu Shen terkejut melihat orang di depannya, Ah Lung


sekretaris kepercayaannya telah mengkhanatinya. Dengan geram dia berseru


“Ah Lung, pengkhianat kau!”

__ADS_1


“Tuan Fu, saya adalah prajurit Jinyiwei yang ditugaskan


untuk mengawasi anda selama ini. Kau akan mendapatkan keringanan hukuman jika


kau bisa mengatakan siapa Tuan Han sebenarnya.”


Wajah Fu Shen merah padam menahan amarah


“Kalian semua telah menjebakku, tidak aku tidak akan pernah


mengatakannya kepada kalian!”


Baru saja Tuan Fu selesai berbicara tiba-tiba sebuah senjata


rahasia berupa sebilah pisau terbang melayang dan menancap di leher Fu Shen.


Saudagar kaya itu langsung tersungkur jatuh ke tanah. Semua orang berteriak


terkejut, sementara Ma Jingtao memandang ke sekelilingnya


“Siapa Itu!”


Tak lama kemudian sebuah pisau terbang kembali melayang mengincar leher Jendral


Sheng dan juga Ma Jingtao. Ketika merasakan adanya sambaran angin dari pisau


terbang, reflek Ma Jingtao menangkis serangan pisau terbang itu dengan pedangnya.


“Traang!”


Pisau terbang berhasil ditangkis dan mencelat menancap di


batang pohon Siong, namun Jendral Sheng tidak sempat menghindari serangan itu


sehingga pisau terbang itu menancap di dahinya. Terkesiap ma Jingtao melihat


kejadian itu, kali ini dia berhadapan dengan seorang ahli senjata rahasia. Serangannya


mematikan dan begitu cepat. Satu sosok bayangan berkelebat di atap rumah, Ma


Jingtao langsung melayang ke atap rumah mengejar sosok yang diduga sebagai


pelempar pisau terbang. Namun sosok itu begitu cepat bergerak, dalam sekejap


bayangan itu sudah bergerak cepat meninggalkan lokasi.


“Sial, gerakannya cepat sekali, ilmu meringankan tubuhnya


ternyata hebat juga,” gerutu Ma Jingtao.


sejenak. Hidungnya mengendus bau harum parfum bedak. Di bawahnya terdengar


suara orang-orang berteriak panik di lokasi terbunuhnya kedua orang itu.  Dia segera kembali ke lokasi, dan melihat


banyak orang sudah berkerumun di tempat itu. Nyonya Fu Shen sudah berada di


lokasi meratapi jenazah suaminya beserta anak-anaknya.  Tak lama kemudian Chen Nie sudah datang ke


lokasi itu menemui Ma Jingtao


“Komplotan Tuan Han tak ingin rahasia mereka bocor ketika


mengetahui gerakan mereka sudah kita ketahui. Tampaknya dia telah memasang


banyak mata-mata di berbagai tempat bahkan dalam komplotannya sendiri,” kata


Chen NIe.


“Aku akan menulis surat ke istana untuk meminta pengganti


Jendral Sheng. Apakah kau sudah menemukan petunjuk siapa Tuan Han sebenarnya?”


Chen Nie nenggeleng


“Belum, orang itu begitu licin dan misterius, bahkan


orang-orang di sini tak ada yang tahu kapan dia datang dan pergi, atau darimana


asalnya.”


“Tadi aku sempat mengejar si pelempar pisau terbang tadi,”


kata Ma Jingtao.


Chen Nie dengan antusias bertanya


“Lalu apakah kau sudah mengetahui siapa pembunuhnya?”


“Hanya sebatas dugaan saja, tapi aku tahu orang itu juga


berada di sini,” jawab Ma Jingtao sambil berlalu menemui Nyonya Fu yang sedang


meratapi kematian suaminya.


******

__ADS_1


Sementara itu Wan Ling Ketua Sekte Air Perak telah kembali


ke kampungnya di kaki gunung Kun Lun. Di sebuah ruangan dia mengambil sebuah


kotak dan mengeluarkan isinya. Sebuah permata berwarna Biru Aquamarine telah


berada di tangannya, sinarnya berpendar kebiruan ditimpa cahaya matahari dari


jendela ruangan.  Permata itu adalah


Permata Air yang diduga hilang ketika terjadi banjir besar. Dia kemudian


mengeluarkan permata Api yang diambilnya dari Wiraksara dan disandingkan dengan


permata Air.


“Tinggal permata Tanah dan Logam yang belum kutemukan, jika


ke 2 permata ini sudah kutemukan, aku akan menjadi penguasa di dunia


persilatan. Aku akan memiliki kekuatan yang tak terbatas,” gumam Wan Ling.


Sebuah suara di belakangnya mengejutkan Wan Ling yang sedang


memandangi kedua permata itu


“Permata Api itu bukan permata yang asli!”


Wan Ling terkejut dan menoleh


“Tetua Lo, aku mendapatkannya dari pendeta wanita Kuil


Kahyangan Api. Tidak mungkin permata ini permata Api yang palsu.”


“Kau mendapatkan permata ini pastilah dengan cara merebut


paksa dari pemiliknya. Sudah pasti dia telah berjaga-jaga mengamankan


permatanya yang asli. Bisa jadi dia memiliki banyak permata kaca seperti itu.”


Wan Ling terkejut mendengar pernyataan Tetua Lo


“Darimana anda tahu permata ini palsu?”


“Jika permata itu asli, dia akan memancarkan cahaya kuning


kemerahan seperti api jika terkena sinar matahari. Kau lihat sendiri, hanya


permata Air milik kita yang berpendar sinarnya.


Wajah Wan Ling langsung membesi


“Kurang ajar mereka telah menipuku! Aku telah melumpuhkan


mereka dengan racun Penghancur Sukma, lalu mereka menukar Permata Api dengan


penawar racunnya. Tapi ternyata yang diberikan adalah permata palsu.”


Wan Ling langsung keluar ruangan, Tetua Lo mengejarnya


“Mau kemana Wan Ling?!”


“Aku mau mengejar pendeta wanita itu dan temannya, permata


api yang asli harus bisa ku kuasai!”


Tetua Lo masih terus mengejar dan mencegah kepergian Wan


Ling


“Wan Ling, sudahlah, hentikan ambisimu untuk menguasai ke 4


permata elemen itu. Hampir separuh hidupmu kau habiskan demi memburu permata


itu. Ingat kau sudah tidak muda lagi, lagi pula permata Tanah dan Logam itu


belum tentu masih ada di dunia ini!”


Namun Wan Ling tak peduli, dia terus keluar ruangan dan


memerintahkan beberapa pengikutnya untuk mempersiapkan keberangkatan mengejar


Wiraksara dan Maheen.


*****


Wiraksara dan Maheen telah tiba di kota Urumqi di Uyghur.


Kota di jalur sutera itu ramai dikunjungi para pedagang yang mampir


beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Mereka mampir di sebuah


kedai makan yang hari itu sedang ramai dipenuhi pelanggan. Ketika hendak masuk


kedai seseorang menyapa mereka

__ADS_1


“Wiraksara!”


__ADS_2