
“Aku pergi mengikuti kehendak angin, bisa saja hari ini aku
akan ke Persia tetapi besok aku berubah pikirian ingin ke Tibet. Temanku banyak tersebar di seluruh penjuru
dunia jadi tidak masalah buatku mengenai tempat bermalam dan bekal perjalanan. Penginapan ini adalah milik temanku, jadi aku
bisa menginap gratis di sini,” ujar pemabuk tua itu.
“Beruntung sekali anda memiliki banyak teman, siapa nama
Tuan?” Tanya Wiraksara.
“Aku bernama Kwan Haisan, tetapi kau boleh panggil aku Kakek
Kwan. Nanti malam temani aku minum
mahyong sambil minum arak.”
‘Tapi aku tidak bisa main mahyong dan aku juga tidak bisa
minum arak pada saat sekarang ini. Mungkin nanti jika tugasku sudah selesai,
aku bisa menemani anda minum arak dan main mahyong.”
“Tugas apa yang membuatmu sampai tidak bisa meminum arak dan
main mahyong?”
Wiraksara tertegun
Orang ini maksa banget sih? Batin Wiraksara.
“Saya….saya harus mengantarkan seseorang, dan tugas ini sangat berbahaya. Maaf saya tidak
bisa banyak cerita mengenai penugasan saya,” ujar Wiraksara sambil berlalu
pergi.
Baru saja Wiraksara selesai meletakan barang-barangnya di
kamar, tiba-tiba pintunya diketuk, dia membuka pintu dan di luar seor
ang pelayan membawa beberapa kotak tempat makanan.
“Tuan, ini makanan anda,” kata pelayan itu sambil memberikan
2 tumpuk kotak makanan. Wiraksara mengerutkan keningnya
“Aku tidak pesan makanan, mungkin kau salah orang,” kata
Wiraksara sambil menutup pintunya,
“Eh, Tuan Tuan makanan ini memang untukmu, seseorang menyuruhku memberikan makanan ini kepada
seseorang bernama Wiraksara dan temannya. Bukankah anda bernama Wiraksara?”
“Ya aku memang Wiraksara tetapi aku tidak mengenal siapapun
di kota ini, siapa yang menyuruhmu memberikan makanan ini?” Tanya Wiraksara
dengan heran.
“Seorang wanita cantik memberikannya kepadaku, katanya kau
adalah temannya.”
“Siapa nama wanita itu?” Tanya Wiraksara.
Pelayan menggelengkan kepalanya
“Aku tidak tahu, dia tidak bilang apa-apa lalu langsung
pergi setelah kotak makanan ini kuberikan kepadamu dan temanmu.”
Pelayan meletakan kotak makanan itu di meja yang ada di
kamarnya setelah itu keluar kamar.
Dia membuka kotak makanan di mejanya, di dalamnya ada aneka
macam dimsum yang menerbitkan selera. Dimsum itu masih hangat dan aromanya menggoda selera. Wiraksara tertegun, mendadak dia teringat
sesuatu
“Maheen!”
Wiraksara berlari ke kamar Maheen yang masih tertutup rapat,
dia segera mengetuk pintunya
“Maheen…Maheen!”
Wiraksara mendobrak pintu dan terlihat Maheen sudah
terbaring di lantai. Sepotong Hakau Udang yang sudah digigit tergeletak di
__ADS_1
dekat tangannya.
“Maheen!”
Wiraksara segera mengangkat tubuh Maheen dan membaringkannya
di ranjang. Diperiksanya nadinya, denyutnya melemah. Wiraksara semakin panik,
Gadis Suci Kuil Kahyangan Api yang harus dijaganya terancam kehilangan nyawanya.
Tiba-tiba pintu kamarnya didobrak dari luar, beberapa orang
pria masuk ke kamar Maheen dan langsung menyerang dirinya. Terkesiap Wiraksara
mendapati dirinya dan Maheen berada dalam bahaya, dia keluar kamar dan kembali
bergerak melawan orang-orang bersenjata itu. Pedang mereka berkelebat menyambar
tubuh Wiraksara dari berbagai arah membuat pemuda itu kerepotan menghindar ,
ilmu silat para pengeroyoknya ternyata bukan sekedar ilmu silat cakar kucing.
Sambaran pedang mereka selalu mengarah ke bagian-bagian mematikan di tubuhnya
dan gerakannya sangat cepat berpindah dari satu sasaran ke sasaran launnya.
Segera Wiraksara mengerahkan hawa murninya te telapak tangannya, dalam sekejap
tangannya sudah berwarna putih keperakan. Tangan Wiraksara bergerak cepat menangkap
pedang-pedang lawannya lalu
mematahkannya.
“Traang…trang…trang!”
Pedang orang-orang itu patah semua dan patahannya berjatuhan
di lantai. Orang-orang itu tampak terkejut mendapati senjata mereka sudah patah
jadi 2. Wiraksara keluar kamar, kembali menerjang
para pengeroyoknya dan menyerang mereka. Baru beberapa jurus mereka beradu
pukulan tiba-tiba muncul seorang wanita cantik berpakaian warna perak di depan
pintu kamar.
“Wiraksara!”
hormat pada wanita cantik yang baru datang tadi
“Nona Muda!”
“Siapa kamu? Mengapa kamu menyerang kami padahal kami tak
mengenalmu?” Tanya Wiraksara.
Dengan nada jumawa wanita cantik itu berkata
“Aku Wan Ling ketua Sekte Air Perak, berikan Permata Api itu
kepada kami dan Gadis Suci dari Persia itu akan kuberi penawar racunnya.”
Wiraksara marah dan berseru pada wanita itu
“Kamu wanita iblis, menggunakan cara-cara licik untuk
mengambil pusaka milik orang lain!”
Namun wanita berbaju perak itu menertawakan Wiraksara
“Ha ha ha ha permata itu sudah lama kami cari keberadaannya,
setelah Tamaz dari Sekte Kuil Kahyangan Api merebutnya dari Mehrak pengkhianat
Kuil Kahyangan Api, rahasia mengenai kekuatan Permata Api itu bocor ke dunia
persilatan. Mumpung belum banyak orang yang tahu, kami bergerak cepat merebut
Permata Api itu dari kalian!”
Jangan-jangan sekte mereka mengetahui rahasia kekuatan
Permata Api itu, batin Wiraksara.
“Permata Api itu adalah milik temanku dan aku dipercaya oleh
Tuan Tamaz untuk menjaga Permata Api dan Gadis Suci agar sampai dengan selamat
di Negeri Api!” Jawab Wiraksara.
Wan Ling mendengus dan mengejek
“Untuk apa kau berikan kepada Kuil Kahyangan Api? Api abadi mereka
__ADS_1
sudah lama padam. Sekarang kuil itu hanya berisi orang-orang lemah yang sudah
tidak layak lagi memiliki permata itu. Cepat berikan permata itu dan aku akan
memberikan penawar racun kepadanya!”
Wiraksara meggertakan geraham karena marah
“Maheen bukan barang yang bisa ditukar dengan komoditi
lainnya, bersiaplah menghadapi seranganku!”
Wiraksara kembali menyerang Wanling, dengan ilmu Api Azura
Mahda dia menyerang wanita itu. Sinar api muncul dari tangan Wiraksara dan
langsung meluncur menuju Wanling. Wanita cantik itu mengangkat tangannya,
sekarang tangannya sudah berubah membiru. Sinaran api dari tangan Wiraksara
langsung di hadang dengan kedua telapak tangannya yang sudah membiru. Api yang
muncul dari tangan Wiraksara langsung hilang musnah. Kembali Wiraksara terkejut
melihat kemampuan wanita itu menahan semua jurus andalannya termasuk serangan
Api dari jurus Api Suci Azura Mahda darinya.
“Berikan penawar racunnya, dan kami akan memberikan apa yang
kalian minta!” Kata Wiraksara.
Tanpa membuang waktu, Wiraksara kembali menyerang Maheen, tangannya
berubah jadi keperakan. Tanpa ragu
kembali Wiraksara menyerang Wan Ling yang berdiri di depannya, anak buah Wan
Ling langsung membantu mengeroyok Wiraksara.
Tangan Wiraksara berkelebat menyambar para penyerangnya,
saat salah satu pengeroyok mengarahkan pukulan ke dadanya, tangan Wiraksara
langsung mencengkram tangan lawannya lalu membesetnya
“Sreeek!”
Orang itu langsung berteriak kesakitan
“Aaaarghh…tanganku!”
Kulit tangan orang itu tampak mengelupas, darah mengalir
deras dari tangannya menetes tiada henti. Tangan Wiraksara yang berwarna
keperakan itu, kini bagaikan pisau tajam. Wan Ling kembali menyerang Wiraksara,
kembali tangan Wiraksara berkelebat menyambar bajunya
“Breeet…breeet…breeet!”
Wan Ling terkejut, barulah dia menyadari pakaian atasnya
sudah terkoyak, sekarang dia tinggal memakai lapisan dalamnya saja tanpa lengan
dan tampaklah bagian atas tubuhnya yang kini terbuka.
“Kau…kurang ajar bajuku kau sobek!”
Ketika Wan Ling kembali hendak menyerang Wiraksara, tiba-tiba
terdengar suara menggelegar membuat daun pintu serasa bergetar seperti mendengar
bunyi ledakan
“Wan Ling, hentikan!”
Wan Ling tampak terkejut mendengar suara orang yang
memanggilnya. Dia menghentikan serangannya dan memandang ke arah sosok yang
baru saja datang.
“Kau lagi... jangan ikut campur urusan kami!”
“Wan Ling, kau ini sudah tua,. sudah jadi nenek, seharusnya kau momong cucu dan hidup tenang di
gunung Kunlun saja, tak usahlah lagi berebut benda pusaka dengan dia!”
Terkejut Wiraksara mendengar seruan itu
Nenek? Kupikir dia seorang perempuan muda yang cantik. Apa ilmu yang digunakannya sehingga dia masih
saja tampak cantik di usianya yang sudah menua.
__ADS_1