
Sementara itu di gelanggang pertempuran beberapa pasukan
Jinyiwei dan Dhongchang telah mengepung rumah persembunyian Wu Xien dan para
pengikutnya. Kaisar Yongle telah mengutus beberapa pasukan rahasianya untuk
menyelidiki hilangnya stempel dan mencari Wiraksara. Dia telah menugaskan Ma
Jingtao dari kesatuan Jinyinwei dan Chen Nie dari kesatuan Dhongchang untuk
mencari Wiraksara sampai ketemu.
“Jendral Wu, tak kusangka kau tega berkhianat kepada Kaisar
yang telah memberimu banyak kemuliaan. Siapa yang telah menyuruhmu mencuri stempel? Sekarang juga kembalikan
stempel itu atau kalian akan kami habisi!” Kata Chen Nie.
Wu Xien hanya mendengus lalu berkata dengan nada mengejek
“Nona Chen, kau terlalu naïf, apa yang telah diberikan
kaisar kepadaku tidaklah sepadan dengan perjuanganku menjadikannya seorang
Kaisar. Dia bahkan tidak pernah menghargai pengabdian dan kesetiaan para
pendukungnya dahulu. Lihat saja kelakuannya, semua teman-temannya yang dulu
pernah membantunya telah habis dibantai hanya karena dia ketakutan
teman-temannya akan mengkhianatinya.”
“Tak usah banyak bicara, sekarang serahkan stempelnya!” perintah
Ma Jingtao.
“Kalian sudah terlambat, stempel itu sudah dibawa pergi dari
sini dan kalian tidak akan pernah dapat mengambilnya lagi sampai Kaisar Yongle
lengser!” Seru Wu Xien.
“Serang dia!”
Ma Jingtao berseru pada pasukannya
Pasukan Jinyiwei dan Dhongchang segera mengepung Wu Xien
beserta para pengikutnya. Zhang Hao yang
berada di sisi Wu Xien berbisik kepadanya
“Jenderal, pergilah kami akan merampungi mereka.”
Orang-orang Wu Xien terlibat pertarungan dengan pasukan
kerajaan, Ma Jingtao mencoba mencari posisi Wu Xien, saat itu dia melihat Wu
Xien telah berkelebat lari menuju pegunungan. Ma Jingtao berusaha mengejar
namun ilmu meringankan tubuh Wu Xien Jenderal yang lebih senior bukanlah
tandingan Ma Jingtao. Dalam sekejap dia sudah ketinggalan jauh dan hanya bisa
menatap siluet Wu Xien berlari di bawah sinar bulan purnama.
Ma Jingtao segera kembali ke pasukannya, di sana para
pasukan kerajaan telah membekuk para pendekar dan pasukan Wu Xien. Melihat
kedatangan Ma Jingtao Chen Nie segera menghampirinya
“Mereka hanya orang-orang bayaran Wu Xien, yang mereka tahu
mereka hanya dibayar Wu Xien untuk membantunya mencuri stempel. Tetapi mereka mengatakan selain Wu Xien ada
orang yang disebut sebagai Tuan Han. Menurut mereka Tuan Han adalah pemimpin tertingginya, identitas Tuan Han
begitu misterius, tak seorangpun tahu siapa Tuan Han sebenarnya dan seperti apa
orangnya. Tetapi aku menduga ada para pejabat militer lainnya yang seperti Wu
Xien.”
“Ah, kita masih gagal mencari tahu siapa sebenarnya yang
memerintahkan mereka mencuri stempel itu dan untuk apa?” Kata Ma Jingtao dengan
nada kecewa.
“Tetapi sekarang yang penting kita harus mencari utusan
Majapahit itu sebelum musim panas tiba, soal stempel itu sudah ada kelompok
pasukan yang mencarinya,” ujar Chen Nie.
Seorang anggota telik sandi dari kesatuan Dhongchang datang
menghadap
__ADS_1
“Nona Chen, aku menemukan bekas darah yang belum kering di
tepi jalan. Di jalan itu bisa kulihat ada tetesan darah di sepanjang jalan dan jejak roda kereta. Tetapi noda tetesan
darah itu berhenti di satu titik, kurasa ada rombongan pedagang yang menuju ke utara telah menolong dan
membawanya pergi.”
Chen Nie berpikir sejenak
“Kami akan ke utara mencari utusan Majapahit itu, aku akan
berkoordinasi dengan anggota telik sandi kita yang bertugas di perbatasan utara
agar ikut mencari utusan Majapahit itu. Yang lainnya segera mencari keberadaan
stempel kerajaan itu.”
“Nona Chen, kita harus ke utara mengejar utusan Majapahit
itu, dia pasti terluka parah setelah bertarung dengan Jendral Wu dan si Raja
Racun Zhang Hao. Aku kuatir racun itu akan membunuhnya,” ujar Ma Jingtao dengan
cemas.
Tanpa membuang waktu keduanya segera berkuda ke arah utara mengejar
Wiraksara.
********
Wiraksara akhirnya siuman dari pingsannya, ketika sadar dia telah berada di sebuah penginapan ,
Seorang pria setengah baya berpakaian serba putih dengan sorban di kepalanya
sedang duduk di sisi ranjangnya. Dia berseru gembira ketika melihat Wiraksara
sudah terbangun
“Ah, syukurlah kau sudah bangun!”
Wiraksara mencoba bangun tetapi kemudian dia rubuh kembali
karena kepalanya terasa pusing. Dengan
suara lemah dia bertanya
“Dimana aku sekarang?”
“Kau berada di penginapan Naga, kita sekarang berada di
gurun Gobi. Sudah 3 hari kau tidak sadarkan diri,” kata pria itu.
dengan nada terkejut.
“Ya, racun itu sangat ganas dan hampir saja membuatmu mati,
untung saja obat-obatan ramuanku masih bisa membuatmu bertahan, tetapi racun
itu belum semuanya bersih dari tubuhmu. Jika kau dalam keadaan lemah, racun itu
akan kembali bereaksi menyerangmu,” ujar pria itu.
Wiraksara menghela nafas kecewa, kini dia menjadi seorang
pria yang tidak memiliki kemampuan bertarung dan lemah seperti seorang pria
tua. Pria di depannya itu bertanya lagi
“Siapa namamu anak muda dan darimana asalmu? Tampaknya kau
bukan berasal dari China.”
“Aku Wiraksara, aku berasal dari Majapahit. Terimakasih
sudah menolongku, siapa nama anda Tuan?”
“Panggil saja aku Tamaz, aku pedagang dari Persia. Ketika aku dan rombonganku akan pulang ke
Persia, kami menemukanmu dalam keadaan pingsan di jalan, lalu kami membawamu
kemari. Baiklah kau istirahatlah dulu
aku akan membuatkan obat untukmu,” ungkap Tamaz.
Tamaz keluar kamar dan beberapa saat kemudian masuklah
seorang gadis ke dalam kamar membawa senampan makanan. Gadis itu berambut
coklat ikal, bermata hazel memakai baju putih seperti Tamaz.
“Tuan Wiraksara, kau sudah sadar, makanlah dulu supaya
tenagamu pulih,” ujar gadis itu.
Wiraksara melihat hidangan yang dibawa gadis itu, semangkuk
Mie dan ayam panggang, aromanya begitu menggoda membuat Wiraksara mendadak
__ADS_1
merasa lapar. Dia mengambil beberapa potong irisan daging ayam, meletakannya di
atas Mie lalu mengambil sumpit dan akan menyuapi Wiraksara. Namun pemuda itu
menolaknya
“Terimakasih, aku bisa makan sendiri” ujar Wiraksara sambil
berusaha meraih sumpit.
Mendadak Wiraksara berseru tertahan, dia merasakan tangannya
seperti disengat ribuan lebah. Sumpitnya terjatuh lalu gadis itu memungutnya
“Kau masih belum pulih, biar aku suapi saja tidak apa-apa.”
“Siapa namamu Nona?” Tanya Wiraksara.
“Namaku Maheen, ini makanlah,” ucap Maheen sambil menyuapkan
mie dan ayam ke mulut Wiraksara.
Wiraksara sebenarnya merasa malu disuapi oleh seorang gadis
yang tidak dikenalnya, tak lama kemudian masuklah Tamaz ke kamar membawa
semangkuk ramuan herbal.
“Ayah, obatnya sudah siap?”
“Ya, berikan kepadanya jika sudah selesai makan,” ucap
Tamaz.
******
Malam itu badai gurun bertiup menderu-deru, suara pasir
berterbangan memberikan sensasi suara seram bagi Wiraksara yang belum pernah
menemui badai pasir. Dia mencoba bangkit
dari tidurnya, setelah diberi ramuan dan makanan yang cukup tubuhnya mulai
terasa kuat. Dia duduk bersila dan mulai menyalurkan hawa murninya ke seluruh
tubuhnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, Wiraksara terbatuk-batuk keras. Pintu
kamarnya terbuka dan masuklah Tamaz ke dalam kamar, melihat Wiraksara
terbatuk-batuk dia segera mengambil tempolong di sudut kamar dan disodorkan
kepada Wiraksara.
“Racunmu akan keluar, aku akan membantumu,” ujar Tamaz
sambil menempelkan tangannya ke punggung Wiraksara.
Punggung Wiraksara terasa panas, energi Tamaz membantu
mengeluarkan racun di tubuhnya, batuknya makin menghebat, setelah terbatuk
keras, Wiraksara memuntahkan darah hitam dan saat itu juga dadanya terasa lega
dan tubuhnya merasa sedikit lebih nyaman.
“Istirahatlah, besok racun itu kita keluarkan lagi,” ujar
Tamaz.
Badai pasir telah berhenti, samar-samar terdengar suara seorang wanita
menyanyi dengan suarat genit dan suara para pria yang menggoda wanita itu.
“Tuan, tempat macam apa ini? Apakah kita menginap di rumah
plesir?” Tanya Wiraksara.
Tamaz tertawa dan berkata
“Ha ha ha tidak anak muda, Nyonya Ling pemilik penginapan
ini memiliki banyak penggemar di sini. Sudahlah yang penting kita hanya
menginap saja tidak ikut-ikutan mereka.”
Suara-suara berisik di bawah kamarnya mengganggu Wiraksara,
dia mencoba keluar kamar dan mengintip dari pintunya. Dari loteng dia dapat melihat pemandangan di bawah dengan
jelas. Tampak satu sosok wanita cantik berumur 20 tahunan sedang menyanyi
sambil dipangku seorang laki-laki berwajah sangar. Beberapa laki-laki yang
mengelilinginya tampaknya juga dalam keadaan mabuk.
“Hei, apa kau sudah dengar berita stempel kerajaan yang hilang?”
Tanya Nyonya Ling.
__ADS_1
Wiraksara tertegun mendengarnya, tiba-tiba saja dia tertarik
dengan sosok Nyonya Ling.