KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Penginapan Naga


__ADS_3

Sementara itu di gelanggang pertempuran beberapa pasukan


Jinyiwei dan Dhongchang telah mengepung rumah persembunyian Wu Xien dan para


pengikutnya. Kaisar Yongle telah mengutus beberapa pasukan rahasianya untuk


menyelidiki hilangnya stempel dan mencari Wiraksara. Dia telah menugaskan Ma


Jingtao dari kesatuan Jinyinwei dan Chen Nie dari kesatuan Dhongchang untuk


mencari Wiraksara sampai ketemu.


“Jendral Wu, tak kusangka kau tega berkhianat kepada Kaisar


yang telah memberimu banyak kemuliaan.  Siapa yang telah menyuruhmu mencuri stempel? Sekarang juga kembalikan


stempel itu atau kalian akan kami habisi!” Kata Chen Nie.


Wu Xien hanya mendengus lalu berkata dengan nada mengejek


“Nona Chen, kau terlalu naïf, apa yang telah diberikan


kaisar kepadaku tidaklah sepadan dengan perjuanganku menjadikannya seorang


Kaisar. Dia bahkan tidak pernah menghargai pengabdian dan kesetiaan para


pendukungnya dahulu. Lihat saja kelakuannya, semua teman-temannya yang dulu


pernah membantunya telah habis dibantai hanya karena dia ketakutan


teman-temannya akan mengkhianatinya.”


“Tak usah banyak bicara, sekarang serahkan stempelnya!” perintah


Ma Jingtao.


“Kalian sudah terlambat, stempel itu sudah dibawa pergi dari


sini dan kalian tidak akan pernah dapat mengambilnya lagi sampai Kaisar Yongle


lengser!” Seru Wu Xien.


“Serang dia!”


Ma Jingtao berseru pada pasukannya


Pasukan Jinyiwei dan Dhongchang segera mengepung Wu Xien


beserta para pengikutnya.  Zhang Hao yang


berada di sisi Wu Xien berbisik kepadanya


“Jenderal, pergilah kami akan merampungi mereka.”


Orang-orang Wu Xien terlibat pertarungan dengan pasukan


kerajaan, Ma Jingtao mencoba mencari posisi Wu Xien, saat itu dia melihat Wu


Xien telah berkelebat lari menuju pegunungan. Ma Jingtao berusaha mengejar


namun ilmu meringankan tubuh Wu Xien Jenderal yang lebih senior bukanlah


tandingan Ma Jingtao. Dalam sekejap dia sudah ketinggalan jauh dan hanya bisa


menatap siluet Wu Xien berlari di bawah sinar bulan purnama.


Ma Jingtao segera kembali ke pasukannya, di sana para


pasukan kerajaan telah membekuk para pendekar dan pasukan Wu Xien. Melihat


kedatangan Ma Jingtao Chen Nie segera menghampirinya


“Mereka hanya orang-orang bayaran Wu Xien, yang mereka tahu


mereka hanya dibayar Wu Xien untuk membantunya mencuri stempel.  Tetapi mereka mengatakan selain Wu Xien ada


orang yang disebut sebagai Tuan Han.  Menurut mereka Tuan Han adalah pemimpin tertingginya, identitas Tuan Han


begitu misterius, tak seorangpun tahu siapa Tuan Han sebenarnya dan seperti apa


orangnya. Tetapi aku menduga ada para pejabat militer lainnya yang seperti Wu


Xien.”


“Ah, kita masih gagal mencari tahu siapa sebenarnya yang


memerintahkan mereka mencuri stempel itu dan untuk apa?” Kata Ma Jingtao dengan


nada kecewa.


“Tetapi sekarang yang penting kita harus mencari utusan


Majapahit itu sebelum musim panas tiba, soal stempel itu sudah ada kelompok


pasukan  yang mencarinya,” ujar Chen Nie.


Seorang anggota telik sandi dari kesatuan Dhongchang datang


menghadap

__ADS_1


“Nona Chen, aku menemukan bekas darah yang belum kering di


tepi jalan. Di jalan itu bisa kulihat ada tetesan darah di sepanjang jalan  dan jejak roda kereta. Tetapi noda tetesan


darah itu berhenti di satu titik, kurasa  ada rombongan pedagang yang menuju ke utara telah menolong dan


membawanya pergi.”


Chen Nie berpikir sejenak


“Kami akan ke utara mencari utusan Majapahit itu, aku akan


berkoordinasi dengan anggota telik sandi kita yang bertugas di perbatasan utara


agar ikut mencari utusan Majapahit itu. Yang lainnya segera mencari keberadaan


stempel kerajaan itu.”


“Nona Chen, kita harus ke utara mengejar utusan Majapahit


itu, dia pasti terluka parah setelah bertarung dengan Jendral Wu dan si Raja


Racun Zhang Hao. Aku kuatir racun itu akan membunuhnya,” ujar Ma Jingtao dengan


cemas.


Tanpa membuang waktu keduanya segera berkuda ke arah utara mengejar


Wiraksara.


********


Wiraksara akhirnya siuman dari pingsannya, ketika sadar  dia telah berada di sebuah penginapan ,


Seorang pria setengah baya berpakaian serba putih dengan sorban di kepalanya


sedang duduk di sisi ranjangnya. Dia berseru gembira ketika melihat Wiraksara


sudah terbangun


“Ah, syukurlah kau sudah bangun!”


Wiraksara mencoba bangun tetapi kemudian dia rubuh kembali


karena kepalanya terasa pusing.  Dengan


suara lemah dia bertanya


“Dimana aku sekarang?”


“Kau berada di penginapan Naga, kita sekarang berada di


gurun Gobi. Sudah 3 hari kau tidak sadarkan diri,” kata pria itu.


dengan nada terkejut.


“Ya, racun itu sangat ganas dan hampir saja membuatmu mati,


untung saja obat-obatan ramuanku masih bisa membuatmu bertahan, tetapi racun


itu belum semuanya bersih dari tubuhmu. Jika kau dalam keadaan lemah, racun itu


akan kembali bereaksi menyerangmu,” ujar pria itu.


Wiraksara menghela nafas kecewa, kini dia menjadi seorang


pria yang tidak memiliki kemampuan bertarung dan lemah seperti seorang pria


tua. Pria di depannya itu bertanya lagi


“Siapa namamu anak muda dan darimana asalmu? Tampaknya kau


bukan berasal dari China.”


“Aku Wiraksara, aku berasal dari Majapahit. Terimakasih


sudah menolongku, siapa nama anda Tuan?”


“Panggil saja aku Tamaz, aku pedagang dari Persia.  Ketika aku dan rombonganku akan pulang ke


Persia, kami menemukanmu dalam keadaan pingsan di jalan, lalu kami membawamu


kemari.  Baiklah kau istirahatlah dulu


aku akan membuatkan obat untukmu,” ungkap Tamaz.


Tamaz keluar kamar dan beberapa saat kemudian masuklah


seorang gadis ke dalam kamar membawa senampan makanan. Gadis itu berambut


coklat ikal, bermata hazel memakai baju putih seperti Tamaz.


“Tuan Wiraksara, kau sudah sadar, makanlah dulu supaya


tenagamu pulih,” ujar gadis itu.


Wiraksara melihat hidangan yang dibawa gadis itu, semangkuk


Mie dan ayam panggang, aromanya begitu menggoda membuat Wiraksara mendadak

__ADS_1


merasa lapar. Dia mengambil beberapa potong irisan daging ayam, meletakannya di


atas Mie lalu mengambil sumpit dan akan menyuapi Wiraksara. Namun pemuda itu


menolaknya


“Terimakasih, aku bisa makan sendiri” ujar Wiraksara sambil


berusaha meraih sumpit.


Mendadak Wiraksara berseru tertahan, dia merasakan tangannya


seperti disengat ribuan lebah. Sumpitnya terjatuh lalu gadis itu memungutnya


“Kau masih belum pulih, biar aku suapi saja tidak apa-apa.”


“Siapa namamu Nona?” Tanya Wiraksara.


“Namaku Maheen, ini makanlah,” ucap Maheen sambil menyuapkan


mie dan ayam ke mulut Wiraksara.


Wiraksara sebenarnya merasa malu disuapi oleh seorang gadis


yang tidak dikenalnya, tak lama kemudian masuklah Tamaz ke kamar membawa


semangkuk ramuan herbal.


“Ayah, obatnya sudah siap?”


“Ya, berikan kepadanya jika sudah selesai makan,” ucap


Tamaz.


******


Malam itu badai gurun bertiup menderu-deru, suara pasir


berterbangan memberikan sensasi suara seram bagi Wiraksara yang belum pernah


menemui badai pasir.  Dia mencoba bangkit


dari tidurnya, setelah diberi ramuan dan makanan yang cukup tubuhnya mulai


terasa kuat. Dia duduk bersila dan mulai menyalurkan hawa murninya ke seluruh


tubuhnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, Wiraksara terbatuk-batuk keras. Pintu


kamarnya terbuka dan masuklah Tamaz ke dalam kamar, melihat Wiraksara


terbatuk-batuk dia segera mengambil tempolong di sudut kamar dan disodorkan


kepada Wiraksara.


“Racunmu akan keluar, aku akan membantumu,” ujar Tamaz


sambil menempelkan tangannya ke punggung Wiraksara.


Punggung Wiraksara terasa panas, energi Tamaz membantu


mengeluarkan racun di tubuhnya, batuknya makin menghebat, setelah terbatuk


keras, Wiraksara memuntahkan darah hitam dan saat itu juga dadanya terasa lega


dan tubuhnya merasa sedikit lebih nyaman.


“Istirahatlah, besok racun itu kita keluarkan lagi,” ujar


Tamaz.


Badai pasir telah berhenti,  samar-samar terdengar suara seorang wanita


menyanyi dengan suarat genit dan suara para pria yang menggoda wanita itu.


“Tuan, tempat macam apa ini? Apakah kita menginap di rumah


plesir?” Tanya Wiraksara.


Tamaz tertawa dan berkata


“Ha ha ha tidak anak muda, Nyonya Ling pemilik penginapan


ini memiliki banyak penggemar di sini. Sudahlah yang penting kita hanya


menginap saja tidak ikut-ikutan mereka.”


Suara-suara berisik di bawah kamarnya mengganggu Wiraksara,


dia mencoba keluar kamar dan mengintip  dari pintunya. Dari loteng dia dapat melihat pemandangan di bawah dengan


jelas. Tampak satu sosok wanita cantik berumur 20 tahunan sedang menyanyi


sambil dipangku seorang laki-laki berwajah sangar. Beberapa laki-laki yang


mengelilinginya tampaknya juga dalam keadaan mabuk.


“Hei, apa kau sudah dengar berita stempel kerajaan yang hilang?”


Tanya Nyonya Ling.

__ADS_1


Wiraksara tertegun mendengarnya, tiba-tiba saja dia tertarik


dengan sosok Nyonya Ling.


__ADS_2