
“Apa tugasku nanti Paman?” Tanya Wiraksara.
“Kau sudah pernah mengurus kuda?” Tanya Tie Shi.
Wiraksara berpikir sebentar
“Ya, aku mengerti sedikit,” kata Wiraksara
“Tidak apa-apa baru pertama kali, nanti kau bertugas memberi
makan kuda dan menyisir bulunya. Pangeran kedua Gaoxu tidak suka melihat
kudanya tampak kurus dan tak terurus. Dia mau kuda yang sehat dan bulunya
mengkilat. Jadi kau harus rajin menyikat bulunya setiap hari agar bulu kudanya
bersih dan mengkilat,” tutur Tie Shi.
Wiraksara telah mengganti bajunya seperti pakaian penduduk
setempat. Angin musim gugur yang dingin menyambutnya ketika dia keluar rumah
bersama Tie Shi. Hari itu dia telah memulai tugasnya sebagai pekerja kasar
mengurus kuda di istal Kerajaan China. Ada beberapa pegawai lainnya di situ, usai
berkenalan dengan mereka, Wiraksara segera bekerja menyikat kuda.
“Kalau menyikat kuda sebaiknya dilakukan di luar kandang,
supaya jika sewaktu-waktu kuda mengamuk atau kaget karena ada sesuatu yang mengganggunya,
kau masih bisa menghindar,” Tie Shi menyarankan.
Setelah menyikat bulu kuda Tie Shi mengajarkannya merawat
kuku kuda.
“Kuku-kuku kuda itu harus dirawat agar mereka tetap dapat
berjalan dengan baik. Jangan sampai kuku mereka tumbuh terlalu panjang yang
akan membuat mereka sulit berjalan bahkan membuat tungkai mereka cacat. Ayo aku
ajarkan cara memotong kuku kuda,” kata Tie Shi.
Hari itu Wiraksara banyak belajar mengenai cara merawat kuda
dari Tie Shi. Selagi asyik bekerja tiba-tiba seekor anjing kecil berkaki
pendek, berbulu panjang, berwajah lucu dengan surai di wajahnya masuk ke dalam
istal dan mengganggu kuda-kuda disitu. Wiraksara merasa kesal karena anjing itu
menggonggong terus mengganggu kerjanya.
“Hush hush pergi pergi!” Wiraksara mengusir anjing itu.
Namun anjing itu tetap tak mau pergi, karena kesal, Wiraksara
lalu menyiram anjing tersebut dengan air untuk memandikan kuda.
“Kaing kaing kaing,” anjing itu berlari mendengking-dengking
ketakutan.
“Huh, rasain kamu, untung saja aku tidak memakanmu!” Maki Wiraksara
dalam bahasa Jawa.
Tie Shi terkejut mendengar suara anjing yang ketakutan,
orangtua itu langsung berlari keluar kandang kuda melihat apa yang terjadi. Dilihatnya
seekor anjing Shih Tzu berlari sambil mendengking-dengking ketakutan, ekornya
di jepit diantara kedua pahanya bulunya basah kuyup kena air. Seketika wajahnya
berubah, dia tahu apa yang terjadi saat itu
“Sala, apa yang terjadi? Apakah kau menyakiti anjing itu?”
Tanya Tie Shi.
“Anjing itu tidak kusakiti, hanya kusiram air karena membuat
kuda ini tidak tenang. Sedari tadi dia menggonggong di depanku, karena merasa
terganggu aku menyiramnya dengan air. Lihat, sekarang dia berlari ketakutan,”
__ADS_1
kata Wiraksara dengan bangga.
Seketika wajah Tie Shi berubah ketakutan dan berkata
“Haiyaaa … Sala, kenapa anjing itu kau tendang? Dia adalah
anjing kesayangan Putri Xianning, dia memang sering main ke sini, anjing itu
bahkan memiliki gelar kebangsawanan. Ketika anjing itu lewat, kami semua harus
menghormat kepadanya. Kalau sampai ada yang tahu kau menyiram anjing itu, kita akan
berada dalam masalah besar,” kata Tie Shi.
“Apa katamu, anjing itu bahkan memiliki gelar kebangsawanan
dan kita harus memberi hormat ketika dia lewat? Cih, adat yang gila, di
negeriku, anjing biasanya selain untuk berburu juga kami konsumsi. Paman Shi, anjing
jantan yang dikebiri rasanya enak lho, kapan-kapan aku akan memasakan untukmu,”
kata Wiraksara.
Tie Shi hanya menggelengkan kepalanya, dasar barbar ujarnya
dalam hati.
Keesokan harinya selagi bekerja, si anjing Shih Tzu kecil
yang usil itu datang kembali mengganggunya. Kali ini dia bahkan menggigit kaki
kuda yang sedang disisir Wiraksara membuat kuda itu berjingkrak kaget dan
hampir saja mencelakai Wiraksara. Untung saja Wiraksara menyisir kuda di luar
kandang sehingga Wiraksara bisa menghindar dari tendangan kaki kuda. Kini kuda
itu berjingkrak-jingkrak ketakutan, anjing kecil itu masih mengitarinya mungkin
ingin mengajak bermain.
Merasa geram dengan anjing kecil pengganggu itu. Wiraksara
mendekati anjing itu bermaksud menangkapnya dan mengembalikannya ke istana.
Namun sebelum dia dapat menangkapnya, kuda yang sedang panik itu telah
Terkesiap Wiraksara melihat kejadian itu. Dia menghampiri anjing Shih Tzu itu
lalu memeriksanya. Anjing itu sudah sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tak
lama kemudian anjing itu mati.
Celaka, kuda itu hanya menendangnya dengan pelan kenapa dia
bisa mati? Kalau aku kubur, mereka tetap akan tahu jika bisa menemukan
kuburannya, dibuang kemana jasad anjing ini?
Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya, dia teringat di
dekat hutan ada sebuah danau besar.
Aku akan membuang bangkai anjing ini ke danau dengan
pemberat, dengan demikian mereka akan sulit menemukannya, pikir Wiraksara.
Wiraksara segera berjalan ke arah danau yang letaknya agak
jauh dari kandang kuda. Ketika dia berada di dekat danau tiba-tiba seekor ular
Sanca besar menghadangnya. Wiraksara yang terkejut secara reflek langsung melempar bangkai anjing itu ke arah
ular Sanca lalu lari menjauh. Ketika menoleh dia melihat ular Sanca itu
langsung menelan bangkai anjing yang dilemparnya. Wiraksara merasa lega, anjing
itu sudah dimakan ular jadi amanlah dia.
“Huuh…slamet slamet anjingnya dimakan ular jadi aku tidak
usah repot-repot menguburnya,” gumam Wiraksara.
Di tengah perjalanan pulang, Wiraksara menemukan seekor ayam
yang terlepas dari kandangnya sedang mengais-ngais tanah mencari cacing. Entah milik siapa ayam itu, mungkin saja dia
lepas dari kandang peternakan ayam milik istana atau mungkin milik salah satu
__ADS_1
penghuni komplek istana.
“Hmm…lumayan bisa buat makan malam,” gumam Wiraksara.
Tubuhnya berkelebat cepat mengejar ayam lalu menangkapnya
****
Sore hari Wiraksara telah siap di meja makan menyambut Tie
Shi dengan masakannya.
“Aku sudah memasak dan kuharap kau menyukai masakanku,” ujar
Wiraksara sambil menunjukan hasilnya.
“Apa ini?” Tanya Tie Shi.
“Ayam Betutu, cobalah rasanya enak,” kata Wiraksara.
Tie Shi mencicipinya, ayam itu dagingnya begitu lembut dan bumbunya
terasa lebih tajam dan agak pedas seperti masakan Szechuan.
“Ah, aku jadi teringat masakan ibuku yang rasanya pedas dan
berbumbu tajam. Ibuku berasal dari daerah Szechuan, orang-orang Szechuan
menyukai rasa yang tajam seperti ini.”
“Paman Shi, bagaimana anda bisa sampai di tempat ini? Apakah
anda sudah lama bekerja di sini?” Tanya Wiraksara.
Tie Shi menghela nafas lalu mulai bercerita.
“Aku dijadikan budak oleh Kaisar Yongle karena ayahku
jenderal Tie Xuan pernah menentangnya. Ayahku adalah Jenderal di masa
pemerintahan Kaisar Jianwen, kaisar kedua dinasti Min. Dia sangat setia
pada Kaisar Jianwen. Ketika Yongle mengkudeta Kaisar Jianwen, ayahku menghadang
pasukan Yongle, agar tidak mengejar Kaisar Jianwen yang melarikan diri bersama anaknya
yang sulung Pangeran Zhu Wenkui.”
Ternyata perang Saudara tidak hanya terjadi di Majapahit
saja, tetapi terjadi juga di China, batin Wiraksara.
“Lalu apakah Kaisar Jianwen dan Pangeran Zhu Wenkui selamat?”
Tanya Wiraksara.
“Saat itu ayahku sengaja membakar istana agar Yongle
menyangka bahwa keluarga Kaisar Jianwen sudah tumpas, padahal Kaisar Jianwen dan Pangeran Zhu Wenkui sudah
pergi melalui jalur rahasia. Tetapi ternyata dia tidak mudah ditipu, mungkin
ada orang yang membocorkan rencana ini. Sayangnya ayahku tertangkap dan dibunuh
karena tidak bersedia memberitahu kemana Kaisar dan Putra mahkota pergi,” tutur
Tie Shi dengan sedih.
“Lalu bagaimana nasib ibu dan saudara anda yang lain?” Tanya
Wiraksara.
Tie Shi tiba-tiba menangis sedih dan berkata
“Ibu dan adik perempuanku dijual ke rumah plesir, sementara aku dan
adikku laki-laki dijadikan budak di sini. Sebulan yang lalu adik laki-lakiku di bunuh Pangeran
Kedua Gaoxu hanya karena kuda kesayangannya sakit. Padahal kuda kesayangannya
memang usianya sudah tua dan tidak sehat lagi karena sudah terlalu sering
diajak berperang. Adikku meninggal karena dijadikan sasaran panah oleh Pangeran
GaoXu.”
Bergidik Wiraksara mendengar kekejaman Pangeran Gaoxu.
Kejam sekali Pangeran Gaoxu, jangan-jangan nanti aku
__ADS_1
dijadikan sasaran panah, pikir Wiraksara.