KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Kekejaman Pangeran Gaoxu


__ADS_3

“Apa tugasku nanti Paman?” Tanya Wiraksara.


“Kau sudah pernah mengurus kuda?” Tanya Tie Shi.


Wiraksara berpikir sebentar


“Ya, aku mengerti sedikit,” kata Wiraksara


“Tidak apa-apa baru pertama kali, nanti kau bertugas memberi


makan kuda dan menyisir bulunya. Pangeran kedua Gaoxu tidak suka melihat


kudanya tampak kurus dan tak terurus. Dia mau kuda yang sehat dan bulunya


mengkilat. Jadi kau harus rajin menyikat bulunya setiap hari agar bulu kudanya


bersih dan mengkilat,” tutur Tie Shi.


Wiraksara telah mengganti bajunya seperti pakaian penduduk


setempat. Angin musim gugur yang dingin menyambutnya ketika dia keluar rumah


bersama Tie Shi. Hari itu dia telah memulai tugasnya sebagai pekerja kasar


mengurus kuda di istal Kerajaan China. Ada beberapa pegawai lainnya di situ, usai


berkenalan dengan mereka, Wiraksara segera bekerja menyikat kuda.


“Kalau menyikat kuda sebaiknya dilakukan di luar kandang,


supaya jika sewaktu-waktu kuda mengamuk atau kaget karena ada sesuatu yang mengganggunya,


kau masih bisa menghindar,” Tie Shi menyarankan.


Setelah menyikat bulu kuda Tie Shi mengajarkannya merawat


kuku kuda.


“Kuku-kuku kuda itu harus dirawat agar mereka tetap dapat


berjalan dengan baik. Jangan sampai kuku mereka tumbuh terlalu panjang yang


akan membuat mereka sulit berjalan bahkan membuat tungkai mereka cacat. Ayo aku


ajarkan cara memotong kuku kuda,” kata Tie Shi.


Hari itu Wiraksara banyak belajar mengenai cara merawat kuda


dari Tie Shi. Selagi asyik bekerja tiba-tiba seekor anjing kecil berkaki


pendek, berbulu panjang, berwajah lucu dengan surai di wajahnya masuk ke dalam


istal dan mengganggu kuda-kuda disitu. Wiraksara merasa kesal karena anjing itu


menggonggong terus mengganggu kerjanya.


“Hush hush pergi pergi!” Wiraksara mengusir anjing itu.


Namun anjing itu tetap tak mau pergi, karena kesal, Wiraksara


lalu menyiram anjing tersebut dengan air untuk memandikan kuda.


“Kaing kaing kaing,” anjing itu berlari mendengking-dengking


ketakutan.


“Huh, rasain kamu, untung saja aku tidak memakanmu!” Maki Wiraksara


dalam bahasa Jawa.


Tie Shi terkejut mendengar suara anjing yang ketakutan,


orangtua itu langsung berlari keluar kandang kuda melihat apa yang terjadi. Dilihatnya


seekor anjing Shih Tzu berlari sambil mendengking-dengking ketakutan, ekornya


di jepit diantara kedua pahanya bulunya basah kuyup kena air. Seketika wajahnya


berubah, dia tahu apa yang terjadi saat itu


“Sala, apa yang terjadi? Apakah kau menyakiti anjing itu?”


Tanya Tie Shi.


“Anjing itu tidak kusakiti, hanya kusiram air karena membuat


kuda ini tidak tenang. Sedari tadi dia menggonggong di depanku, karena merasa


terganggu aku menyiramnya dengan air. Lihat, sekarang dia berlari ketakutan,”

__ADS_1


kata Wiraksara dengan bangga.


Seketika wajah Tie Shi berubah ketakutan dan berkata


“Haiyaaa … Sala, kenapa anjing itu kau tendang? Dia adalah


anjing kesayangan Putri Xianning, dia memang sering main ke sini, anjing itu


bahkan memiliki gelar kebangsawanan. Ketika anjing itu lewat, kami semua harus


menghormat kepadanya. Kalau sampai ada yang tahu kau menyiram anjing itu, kita akan


berada dalam masalah besar,” kata Tie Shi.


“Apa katamu, anjing itu bahkan memiliki gelar kebangsawanan


dan kita harus memberi hormat ketika dia lewat? Cih, adat yang gila, di


negeriku, anjing biasanya selain untuk berburu juga kami konsumsi. Paman Shi, anjing


jantan yang dikebiri rasanya enak lho, kapan-kapan aku akan memasakan untukmu,”


kata Wiraksara.


Tie Shi hanya menggelengkan kepalanya, dasar barbar ujarnya


dalam hati.


Keesokan harinya selagi bekerja, si anjing Shih Tzu kecil


yang usil itu datang kembali mengganggunya. Kali ini dia bahkan menggigit kaki


kuda yang sedang disisir Wiraksara membuat kuda itu berjingkrak kaget dan


hampir saja mencelakai Wiraksara. Untung saja Wiraksara menyisir kuda di luar


kandang sehingga Wiraksara bisa menghindar dari tendangan kaki kuda. Kini kuda


itu berjingkrak-jingkrak ketakutan, anjing kecil itu masih mengitarinya mungkin


ingin mengajak bermain.


Merasa geram dengan anjing kecil pengganggu itu. Wiraksara


mendekati anjing itu bermaksud menangkapnya dan mengembalikannya ke istana.


Namun sebelum dia dapat menangkapnya, kuda yang sedang panik itu telah


Terkesiap Wiraksara melihat kejadian itu. Dia menghampiri anjing Shih Tzu itu


lalu memeriksanya. Anjing itu sudah sekarat, nafasnya tinggal satu-satu. Tak


lama kemudian anjing itu mati.


Celaka, kuda itu hanya menendangnya dengan pelan kenapa dia


bisa mati? Kalau aku kubur, mereka tetap akan tahu jika bisa menemukan


kuburannya, dibuang kemana jasad anjing ini?


Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya, dia teringat di


dekat hutan ada sebuah danau besar.


Aku akan membuang bangkai anjing ini ke danau dengan


pemberat, dengan demikian mereka akan sulit menemukannya, pikir Wiraksara.


Wiraksara segera berjalan ke arah danau yang letaknya agak


jauh dari kandang kuda. Ketika dia berada di dekat danau tiba-tiba seekor ular


Sanca besar menghadangnya. Wiraksara yang terkejut secara reflek  langsung melempar bangkai anjing itu ke arah


ular Sanca lalu lari menjauh. Ketika menoleh dia melihat ular Sanca itu


langsung menelan bangkai anjing yang dilemparnya. Wiraksara merasa lega, anjing


itu sudah dimakan ular jadi amanlah dia.


“Huuh…slamet slamet anjingnya dimakan ular jadi aku tidak


usah repot-repot menguburnya,” gumam Wiraksara.


Di tengah perjalanan pulang, Wiraksara menemukan seekor ayam


yang terlepas dari kandangnya sedang mengais-ngais tanah mencari cacing.  Entah milik siapa ayam itu, mungkin saja dia


lepas dari kandang peternakan ayam milik istana atau mungkin milik salah satu

__ADS_1


penghuni komplek istana.


“Hmm…lumayan bisa buat makan malam,” gumam Wiraksara.


Tubuhnya berkelebat cepat mengejar ayam lalu menangkapnya


****


Sore hari Wiraksara telah siap di meja makan menyambut Tie


Shi dengan masakannya.


“Aku sudah memasak dan kuharap kau menyukai masakanku,” ujar


Wiraksara sambil menunjukan hasilnya.


“Apa ini?” Tanya Tie Shi.


“Ayam Betutu, cobalah rasanya enak,” kata Wiraksara.


Tie Shi mencicipinya, ayam  itu dagingnya begitu lembut dan bumbunya


terasa lebih tajam dan agak pedas seperti masakan Szechuan.


“Ah, aku jadi teringat masakan ibuku yang rasanya pedas dan


berbumbu tajam. Ibuku berasal dari daerah Szechuan, orang-orang Szechuan


menyukai rasa yang tajam seperti ini.”


“Paman Shi, bagaimana anda bisa sampai di tempat ini? Apakah


anda sudah lama bekerja di sini?” Tanya Wiraksara.


Tie Shi menghela nafas lalu mulai bercerita.


“Aku dijadikan budak oleh Kaisar Yongle karena ayahku


jenderal Tie Xuan pernah menentangnya. Ayahku adalah Jenderal di masa


pemerintahan  Kaisar Jianwen,  kaisar kedua dinasti Min. Dia sangat setia


pada Kaisar Jianwen. Ketika Yongle mengkudeta Kaisar Jianwen, ayahku menghadang


pasukan Yongle, agar tidak mengejar Kaisar Jianwen yang melarikan diri bersama anaknya


yang sulung Pangeran Zhu Wenkui.”


Ternyata perang Saudara tidak hanya terjadi di Majapahit


saja, tetapi terjadi juga di China, batin Wiraksara.


“Lalu apakah Kaisar Jianwen dan Pangeran Zhu Wenkui selamat?”


Tanya Wiraksara.


“Saat itu ayahku sengaja membakar istana agar Yongle


menyangka bahwa keluarga Kaisar Jianwen sudah tumpas, padahal  Kaisar Jianwen dan Pangeran Zhu Wenkui sudah


pergi melalui jalur rahasia. Tetapi ternyata dia tidak mudah ditipu, mungkin


ada orang yang membocorkan rencana ini. Sayangnya ayahku tertangkap dan dibunuh


karena tidak bersedia memberitahu kemana Kaisar dan Putra mahkota pergi,” tutur


Tie Shi dengan sedih.


“Lalu bagaimana nasib ibu dan saudara anda yang lain?” Tanya


Wiraksara.


Tie Shi tiba-tiba menangis sedih dan berkata


“Ibu dan adik perempuanku dijual ke rumah plesir, sementara aku dan


adikku laki-laki dijadikan budak di sini. Sebulan yang lalu adik laki-lakiku di bunuh Pangeran


Kedua Gaoxu hanya karena kuda kesayangannya sakit. Padahal kuda kesayangannya


memang usianya sudah tua dan tidak sehat lagi karena sudah terlalu sering


diajak berperang. Adikku meninggal karena dijadikan sasaran panah oleh Pangeran


GaoXu.”


Bergidik Wiraksara mendengar kekejaman Pangeran Gaoxu.


Kejam sekali Pangeran Gaoxu, jangan-jangan nanti aku

__ADS_1


dijadikan sasaran panah, pikir Wiraksara.


__ADS_2