
Setelah makan malam, Tie Shi tidur di kamarnya setelah
seharian lelah bekerja di tambah lagi kaki dan persendiannya yang masih terasa
sakit.
“Daripada bengong sendirian lebih baik aku berlatih di luar
mumpung lagi dingin-dinginnya,” gumam Wiraksara sambil berlari keluar rumah.
Wiraksara kembali melatih ilmu energi Maha Aji di luar
rumah. Udara dingin itu tidak menghalanginya untuk terus berlatih. Pelahan dia
memusatkan peredaran hawa murninya ke pusar, lalu dicobanya mengedarkannya ke
seluruh tubuhnya. Namun upayanya gagal, energi itu masih saja berputar-putar
dalam tubuhnya membuat tubuhnya makin lama makin panas. Wiraksara merasakan
darah dan otaknya seolah mendidih di dalam kulit tubuhnya.
“Aaaaarggh … panaaas!”
Tubuh Wiraksara serasa bagai dipanggang di atas api, tak
tahan dengan rasa panas itu Wiraksara berteriak lalu tubuhnya roboh, jatuh
pingsan di atas salju. Di saat itulah Wiraksara merasakan tubuhnya begitu
ringan seperti kapas terbang melayang-layang di angkasa. Mpu SengSala tiba-tiba
sudah berada di hadapannya di sebuah ruangan serba putih tetapi bukan di padang
salju.
“Guru!” Panggil Wiraksara.
“Kau harus terus berlatih Wiraksara, caramu mengerahkan
tenaga dalammu masih salah. Cobalah gunakan pikiranmu untuk mengendalikan
energimu,” pesan gurunya, kemudian menghilang.
Wiraksara kembali melayang-layang di angkasa kemudian
terlempar ke dunianya kembali. Pemuda itu membuka matanya, dia masih bingung dengan keberadaan dirinya.
“Dimanakah aku, apakah aku sudah tiba di rumah?”
Wiraksara melihat pemandangan yang berbeda dengan kamarnya
di rumah keluarganya di Lasem.
“Siapa yang membawaku kemari?” Batin Wiraksara.
Tak lama kemudian Tie Shi masuk kamar membawa semangkuk
ramuan
“Minumlah ini, kau hampir saja mati di luar. Sudah kubilang
jangan tidur di salju nanti tubuhmu rusak,” kata Tie Shi dengan kesal.
Baru di sadarinya, saat ini dia berada di pondok Tie Shi di
China.
Huh, ternyata aku masih berada di tempat terkutuk ini,
batinnya dengan jengkel.
“Maafkan aku paman,”
kata Wiraksara lirih kemudian meminum ramuan itu. Setelah minum ramuan Wiraksara
merasa tubuhnya sedikit lebih enak
“Sekarang jawablah dengan jujur, apa yang membuatmu selalu merasa
harus tidur di atas salju?”
Wiraksara tertegun dengan pertanyaan Tie Shi,
Bagaimana ini haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Ah
sudahlah tampaknya dia orang baik, aku akan megatakan hal yang sebenarnya.
Wiraksara kemudian bertanya kepada Tie Shi
__ADS_1
“Paman, apakah di sini orang juga mempercayai pusaka-pusaka
yang bertuah?”
Tie Shi memandang Wiraksara dengan heran
“Tentu saja Sala, kami percaya bahwa pusaka-pusaka tertentu
memiliki kekuatan yang tersembunyi di dalamnya,” jawab Tie Shi.
“Aku memiliki pedang Maha Aji dan di dalam tubuhku energi
pedang Maha Aji telah bersatu denganku, namun aku sulit mengendalikan energi
Maha Aji dalam tubuhku. Terkadang energi itu membuat tubuhku terasa panas sehingga
aku harus tidur di salju. Energi itu
hanya berputar-putar saja di dalam tubuhku. Tetapi ketika aku sedang dalam
keadaan terdesak, energi itu dapat kuperintahkan mengalir ke tempat-tempat yang
kuinginkan. Salau aku tidak dapat menyalurkan energi itu, tubuhku akan terasa
panas sehingga aku harus tidur di salju,” kata Wiraksara dengan sedih.
“Seperti apa pedang Maha Aji itu?” Tanya Tie Shi.
Wiraksara mengambil pedang dari dalam bungkusannya lalu
melolosnya. Pedang itu pedang khas Jawa, tidak sepanjang pedang China namun dilihat
dari bilahnya dan pamor di bilahnya pedang itu tampak dibuat oleh seorang Mpu
yang ilmunya sudah mencapai tingkatan tinggi.
Tie Shi menggelengkan kepala setelah mendengar cerita Wiraksara
“Haiyaa Sala, kenapa kau tak bercerita masalah ini, Salau
saja kau mau terbuka padaku, aku akan mengajarkanmu mengendalikan tenaga dalammu,”
kata Tie Shi,
Wiraksara terkejut memandang Tie Shi, tak disangkanya
orangtua lemah dihadapannya ini ternyata juga seorang pendekar.
“Tentu saja, ayo kita di luar saja akan kuajarkan cara
mengendalikannya,” ajak Tie Shi.
Sesampainya di luar rumah, Tie Shi menyuruh Wiraksara mengerahkan hawa
murninya untuk mengerahkan energi Maha Aji agar keluar dari tubuhnya. Wiraksara
memusatkan hawa murninya lalu mengedarkannya ke seluruh tubuhnya. Tie Shi
menempelkan tangannya di punggung Wiraksara, tiba- tiba tangannya bergerak
menotok beberapa titik jalan darah Wiraksara dengan cepat.
“Sala. Coba arahkan energimu ke punggungmu untuk
mengeluarkan energi Maha Aji,” perintah Tie Shi
Paman, aku tidak bisa, hawa murni ini masih berputar di
tubuhku.” Kata Wiraksara
Tie Shi kembali menitok jalan darah Wiraksara di tangan kaki
dan bahunya. Setelah itu barulah Wiraksara dapat memusatkan aliran tenaga
dalamnya ke punggungnya.
“Alirkan hawa murnimu ke lenganmu untuk melepaskan energi
Maha Aji,” perintah Tie Shi.
Wiraksara mencoba mengikuti instruksi Tie Shi, memusatkan
pikiran dan tak lama kemudian gelombang energi yang dahsyat keluar dari
tangannya
“Sreeet,” keluarlah seberkas cahaya putih yang terang menyilaukan
mata, keluar dari telapak tangan Wiraksara. Cahaya putih itu melesat
__ADS_1
menghancurkan batu di depannya.
“Blaaar!” Batu pun hancur berkeping-keping/
Tie Shi terpana dan bergumam
“Paman, aku bisa
melakukannya, aku bisa!”
Setelah energi Maha Aji berhasil di keluarkan, Wiraksara segera
mengambil pedangnya dan mulai berlatih jurus-jurus Pedang Maha Aji di bawah
hujan salju. Tie Shi melihat pedang itu mengeluarkan cahaya setiap kali
berkelebat. Wiraksara menghantamkan ujung pedangnya ke arah batu besar di
hadapannya. Batu itu langsung berlubang terkena tusukan pedang Wiraksara. Namun
ujung pedang itu sama sekali tidak rusak setelah menghantam batu.
Tie Shi yang menonton latihan Wiraksara dari teras rumah,
terkesima melihat keampuhan pedang itu.
Terbuat dari apa bahan pedang itu, dia tidak rusak sama
sekali meskipun sudah menghantam batu,” batin Tie Shi.
Tie Shi tersenyum lega, Wiraksara telah berhasil
mengendalikan energinya.
“Sewaktu mengerahkan energimu untuk mengeluarkan energi Maha
Aji itu dari dalam dirimu, seharusnya kau juga menutup jalur energimu ke tempat
lain. Tadi aku terpaksa harus menotok jalur tenaga dalammu agar bisa terpusat
ke lenganmu,” tutur Tie Shi.
“Mengapa bisa seperti itu Paman?”
“Itu terjadi karena kau tidak dapat memusatkan pikiranmu
memerintahkan pikiranmu untuk mengarahkan gerakan energi itu agar sesuai
keinginanmu.”
Wiraksara sejenak tertegun mendengar penjelasan Tie Shi.
Hmm … kurasa permasalahannya bukan pada diriku tetapi pada Mpu
Sengkala, dia seharusnya mematuhi perintahku, bukan hanya menuruti perintahku
pada saat aku terdesak saja, batin Wiraksara.
Wiraksara menghampiri Tie Shi di teras rumah kemudian
berlutut memberi hormat dan berkata
“Paman, mulai sekarang kau adalah Suhu ku dan aku akan
memanggilmu Suhu. Suhu, terimalah hormat dari muridmu ini,” kata Wiraksara.
Tie Shi buru-buru menolak ketika Wiraksara berlutut kepadanya
dan berkata
“Hei jangan begitu, jangan panggil aku Suhu nanti kita akan
berada dalam masalah besar. Jika para prajurit itu tahu mereka akan
memberitahukan kepada Kaisar. Setelah itu kau pasti akan dibuang ke tempat lain
agar tidak bertemu denganku lagi. Mereka tidak mengijinkan aku menggunakan ilmu
silatku, orang-orang Kaisar Yongle telah memusnahkan ilmu silatku. Tetapi aku
masih bisa menggunakan tenaga dalamku sebatas untuk pengobatan bukan untuk
berkelahi. Itulah sebabnya aku masih bisa membantumu mengendalikan tenaga
dalammu yang jalannya tak beraturan itu,” ujar Tie Shi.
Wiraksara merasa sosok orang tua di depannya ini pastilah
seorang pendekar berilmu tinggi. Jika dia hanya orang biasa yang dipekerjakan
__ADS_1
sebagai pengurus kuda, bagaimana mungkin Kaisar begitu takut kepadanya bahkan
sampai memusnahkan ilmu silatnya.