KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Mengendalikan Energi Maha Aji


__ADS_3

Setelah makan malam, Tie Shi tidur di kamarnya setelah


seharian lelah bekerja di tambah lagi kaki dan persendiannya yang masih terasa


sakit.


“Daripada bengong sendirian lebih baik aku berlatih di luar


mumpung lagi dingin-dinginnya,” gumam Wiraksara sambil berlari keluar rumah.


Wiraksara kembali melatih ilmu energi Maha Aji di luar


rumah. Udara dingin itu tidak menghalanginya untuk terus berlatih. Pelahan dia


memusatkan peredaran hawa murninya ke pusar, lalu dicobanya mengedarkannya ke


seluruh tubuhnya. Namun upayanya gagal, energi itu masih saja berputar-putar


dalam tubuhnya membuat tubuhnya makin lama makin panas. Wiraksara merasakan


darah dan otaknya seolah mendidih di dalam kulit tubuhnya.


“Aaaaarggh … panaaas!”


Tubuh Wiraksara serasa bagai dipanggang di atas api, tak


tahan dengan rasa panas itu Wiraksara berteriak lalu tubuhnya roboh, jatuh


pingsan di atas salju. Di saat itulah Wiraksara merasakan tubuhnya begitu


ringan seperti kapas terbang melayang-layang di angkasa. Mpu SengSala tiba-tiba


sudah berada di hadapannya di sebuah ruangan serba putih tetapi bukan di padang


salju.


“Guru!” Panggil Wiraksara.


“Kau harus terus berlatih Wiraksara, caramu mengerahkan


tenaga dalammu masih salah. Cobalah gunakan pikiranmu untuk mengendalikan


energimu,” pesan gurunya, kemudian menghilang.


Wiraksara kembali melayang-layang di angkasa kemudian


terlempar ke dunianya kembali. Pemuda itu  membuka matanya, dia masih bingung dengan keberadaan dirinya.


“Dimanakah aku, apakah aku sudah tiba di rumah?”


Wiraksara melihat pemandangan yang berbeda dengan kamarnya


di rumah keluarganya di Lasem.


“Siapa yang membawaku kemari?” Batin Wiraksara.


Tak lama kemudian Tie Shi masuk kamar membawa semangkuk


ramuan


“Minumlah ini, kau hampir saja mati di luar. Sudah kubilang


jangan tidur di salju nanti tubuhmu rusak,” kata Tie Shi dengan kesal.


Baru di sadarinya, saat ini dia berada di pondok Tie Shi di


China.


Huh, ternyata aku masih berada di tempat terkutuk ini,


batinnya dengan jengkel.


 “Maafkan aku paman,”


kata Wiraksara lirih kemudian meminum ramuan itu. Setelah minum ramuan Wiraksara


merasa tubuhnya sedikit lebih enak


“Sekarang jawablah dengan jujur, apa yang membuatmu selalu merasa


harus tidur di atas salju?”


Wiraksara tertegun dengan pertanyaan Tie Shi,


Bagaimana ini haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Ah


sudahlah tampaknya dia orang baik, aku akan megatakan hal yang sebenarnya.


Wiraksara kemudian bertanya kepada Tie Shi

__ADS_1


“Paman, apakah di sini orang juga mempercayai pusaka-pusaka


yang bertuah?”


Tie Shi memandang Wiraksara dengan heran


“Tentu saja Sala, kami percaya bahwa pusaka-pusaka tertentu


memiliki kekuatan yang tersembunyi di dalamnya,” jawab Tie Shi.


“Aku memiliki pedang Maha Aji dan di dalam tubuhku energi


pedang Maha Aji telah bersatu denganku, namun aku sulit mengendalikan energi


Maha Aji dalam tubuhku. Terkadang energi itu membuat tubuhku terasa panas sehingga


aku harus tidur di salju.  Energi itu


hanya berputar-putar saja di dalam tubuhku. Tetapi ketika aku sedang dalam


keadaan terdesak, energi itu dapat kuperintahkan mengalir ke tempat-tempat yang


kuinginkan. Salau aku tidak dapat menyalurkan energi itu, tubuhku akan terasa


panas sehingga aku harus tidur di salju,” kata Wiraksara dengan sedih.


“Seperti apa pedang Maha Aji itu?” Tanya Tie Shi.


Wiraksara mengambil pedang dari dalam bungkusannya lalu


melolosnya. Pedang itu pedang khas Jawa, tidak sepanjang pedang China namun dilihat


dari bilahnya dan pamor di bilahnya pedang itu tampak dibuat oleh seorang Mpu


yang ilmunya sudah mencapai tingkatan tinggi.


Tie Shi menggelengkan kepala setelah mendengar cerita Wiraksara


“Haiyaa Sala, kenapa kau tak bercerita masalah ini, Salau


saja kau mau terbuka padaku, aku akan mengajarkanmu mengendalikan tenaga dalammu,”


kata Tie Shi,


Wiraksara terkejut memandang Tie Shi, tak disangkanya


orangtua lemah dihadapannya ini ternyata juga seorang pendekar.


“Tentu saja, ayo kita di luar saja akan kuajarkan cara


mengendalikannya,” ajak Tie Shi.


Sesampainya di luar rumah,  Tie Shi menyuruh Wiraksara mengerahkan hawa


murninya untuk mengerahkan energi Maha Aji agar keluar dari tubuhnya. Wiraksara


memusatkan hawa murninya lalu mengedarkannya ke seluruh tubuhnya. Tie Shi


menempelkan tangannya di punggung Wiraksara, tiba- tiba tangannya bergerak


menotok beberapa titik jalan darah Wiraksara dengan cepat.


“Sala. Coba arahkan energimu ke punggungmu untuk


mengeluarkan energi Maha Aji,” perintah Tie Shi


Paman, aku tidak bisa, hawa murni ini masih berputar di


tubuhku.” Kata Wiraksara


Tie Shi kembali menitok jalan darah Wiraksara di tangan kaki


dan bahunya. Setelah itu barulah Wiraksara dapat memusatkan aliran tenaga


dalamnya ke punggungnya.


“Alirkan hawa murnimu ke lenganmu untuk melepaskan energi


Maha Aji,” perintah Tie Shi.


Wiraksara mencoba mengikuti instruksi Tie Shi, memusatkan


pikiran dan tak lama kemudian gelombang energi yang dahsyat keluar dari


tangannya


“Sreeet,” keluarlah seberkas cahaya putih yang terang menyilaukan


mata, keluar dari telapak tangan Wiraksara. Cahaya putih itu melesat

__ADS_1


menghancurkan batu di depannya.


“Blaaar!” Batu pun hancur berkeping-keping/


Tie Shi terpana dan bergumam


 “Paman, aku bisa


melakukannya, aku bisa!”


Setelah energi Maha Aji  berhasil di keluarkan, Wiraksara segera


mengambil pedangnya dan mulai berlatih jurus-jurus Pedang Maha Aji di bawah


hujan salju. Tie Shi melihat pedang itu mengeluarkan cahaya setiap kali


berkelebat. Wiraksara menghantamkan ujung pedangnya ke arah batu besar di


hadapannya. Batu itu langsung berlubang terkena tusukan pedang Wiraksara. Namun


ujung pedang itu sama sekali tidak rusak setelah menghantam batu.


Tie Shi yang menonton latihan Wiraksara dari teras rumah,


terkesima melihat keampuhan pedang itu.


Terbuat dari apa bahan pedang itu, dia tidak rusak sama


sekali meskipun sudah menghantam batu,” batin Tie Shi.


Tie Shi tersenyum lega, Wiraksara telah berhasil


mengendalikan energinya.


“Sewaktu mengerahkan energimu untuk mengeluarkan energi Maha


Aji itu dari dalam dirimu, seharusnya kau juga menutup jalur energimu ke tempat


lain. Tadi aku terpaksa harus menotok jalur tenaga dalammu agar bisa terpusat


ke lenganmu,” tutur Tie Shi.


“Mengapa bisa seperti itu Paman?”


“Itu terjadi karena kau tidak dapat memusatkan pikiranmu


memerintahkan pikiranmu untuk mengarahkan gerakan energi itu agar sesuai


keinginanmu.”


Wiraksara sejenak tertegun mendengar penjelasan Tie Shi.


Hmm … kurasa permasalahannya bukan pada diriku tetapi pada Mpu


Sengkala, dia seharusnya mematuhi perintahku, bukan hanya menuruti perintahku


pada saat aku terdesak saja, batin Wiraksara.


Wiraksara menghampiri Tie Shi di teras rumah kemudian


berlutut memberi hormat dan berkata


“Paman, mulai sekarang kau adalah Suhu ku dan aku akan


memanggilmu Suhu. Suhu, terimalah hormat dari muridmu ini,” kata Wiraksara.


Tie Shi buru-buru menolak ketika Wiraksara berlutut kepadanya


dan berkata


“Hei jangan begitu, jangan panggil aku Suhu nanti kita akan


berada dalam masalah besar. Jika para prajurit itu tahu mereka akan


memberitahukan kepada Kaisar. Setelah itu kau pasti akan dibuang ke tempat lain


agar tidak bertemu denganku lagi. Mereka tidak mengijinkan aku menggunakan ilmu


silatku, orang-orang Kaisar Yongle telah memusnahkan ilmu silatku. Tetapi aku


masih bisa menggunakan tenaga dalamku sebatas untuk pengobatan bukan untuk


berkelahi. Itulah sebabnya aku masih bisa membantumu mengendalikan tenaga


dalammu yang jalannya tak beraturan itu,” ujar Tie Shi.


Wiraksara merasa sosok orang tua di depannya ini pastilah


seorang pendekar berilmu tinggi. Jika dia hanya orang biasa yang dipekerjakan

__ADS_1


sebagai pengurus kuda, bagaimana mungkin Kaisar begitu takut kepadanya bahkan


sampai memusnahkan ilmu silatnya.


__ADS_2