
Siapa kalian? Apa yang kalian cari di sini?” Tanya
Wiraksara.
“Serahkan permata Bumi pada kami dan setelah itu kami akan
membiarkan kalian hidup!”
Wiraksara tertegun dan merasa heran darimana mereka tahu
bahwa dia telah memegang permata Bumi.
“Kami tidak memiliki permata Bumi itu, siapa kalian apakah
kalian dari Sekte Air Perak atau orang-orang Mehrak?”
“Kami tidak termasuk salah satu dari sekte itu, sejak dari
alun-alun di Sirdarya, kami telah mengikuti kalian sampai kemari. Kami tahu Gulya telah memberikan permata itu
pada kalian. Sudah jangan banyak bicara
kalian serahkan saja permata itu!”
Setelah berbicara orang itu menyerang Wiraksara dengan
pedangnya. Wiraksara menghindar melompat beberapa depa ke belakang. Melihat
lawannya bersenjata, Wiraksara mengerahkan ilmu Tapak Tangan Besinya, dalam
sekejap tangannya berubah warna keperakan. Orang di depannya terkejut melihat
perubahan tangan Wiraksara. Orang itu mengubah gerakannya memotong tangan Wiraksara
yang seperti logam. Tapi yang terjadi ungguh di luar dugaannya, ketika pedang
beradu dengan tangan Wiraksara, terdengar bunyi logam.
“Traaang!”
Pedangnya seolah beradu dengan benda logam, orang itu
terkejut melihat tangan Wiraksara berubah menjadi seperti baja.
“Kau murid Tie Shi? Bukankah dia sudah mati setelah insiden
Jing Nan?”
“Bisa dibilang begitu!”
Tangan Wiraksara kembali bergerak merebut pedang
penyerangnya. Tangan Wiraksara berhasil menggenggam pedang lawannya, namun
lawannyapun tak tinggal diam, dia berusaha menarik pedangnya namun genggaman
tangan Wiraksara begitu kuat dan terdengar suara besi patah.
“Taak!”
Pedangnya patah jadi dua, terkesiap pemimpin rombongan itu,
pedangnya walaupun bukan pedang pusaka, namun pedang itu dibuat oleh seorang
Empu Pande Wesi yang sangat ahli di bidangnya. Tetapi dia tak ingin terlihat
lemah di hadapan musuh, dia mengeluarkan sebilah pisau besar. Kembali pisau itu
dibabitkan ke arah Wiraksara. Namun lagi-lagi orang itu menghadapi kenyataan pisaunya
patah jadi dua. Sekarang dia sudah tidak bersenjata lagi.
Sementara itu Hamzah sudah bertarung dengan para penyusup
bersa,a Tamara. Wanita itu walaupun umurnya sudah senja, namun serangannya
masih akurat dan bertenaga.
“Tamara, hati-hati!”
Hamzah mengingatkan Tamara ketika melihat ada pedang
menyambar Tamara dari belakang.
“Tenang saja Bahiri, aku masih dapat menghindarinya!”
Pedang Tamara berkelebat menyambar para penyerangnya. Tak
lama kemudian terdengar teriakan memilukan. Tamara telah membunuh para penyerangnya,
orang-orang berkedok itu mati dalam keadaan mengenaskan. Perut mereka terkoyak
oleh sambaran pedang Tamara
“Tamara, ternyata sambaran pedangmu masih sekuat dulu!” Seru
Hamzah.
“Huh, dari dulu kau selalu saja menyepelekan aku,”gerutu Tamara.
Menyadari lawannya lebih kuat, pemimpin gerombolan itu
berseru
“Cepat kita pergi dari sini!”
__ADS_1
Mereka segera melarikan diri bersama satu anak buahnya yang
masih tersisa dengan luka-luka yang sangat parah. Hamzah menghampiri salah satu
anggota gerombolan yang terbaring dengan luka sabetan pedang di perutnya. Orang
itu tampak menderita dan kesakitan, Hamzah kemudian membuka kedoknya. Melihat
wajah orang itu Hamzah mengerutkan keningnya. Orang itu ternyata adalah orang
kulit hitam.
“Darimana kalian berasal?”
Orang kulit hitam itu menjawab dengan suara lemah hampir tak
terdengar
“Saya Jamal… budak dari Habasyah… tolong bebaskan saya dari
Pangeran Shaktar …yang keji.”
Usai berbicara Jamal jatuh pingsan, Hamzah sempat melihat
sebuah kalung dari tembaga berbentuk piramida yang dikenakan Jamal, lalu dia
menoleh ke arah Wiraksara dan Tamara.
“Obati luka orang ini, dia akan berguna bagi kita nanti.”
Hamzah dan Wiraksara memeriksa orang-orang yang lainnya
“Mereka sudah mati, hanya Jamal saja yang bertahan hidup,”
ujar Hamzah.
Tamara memanggil para pelayannya untuk membawa tubuh Jamal
yang tinggi besar dan berat ke dalam kamar. Namun tak seorangpun dari
pelayannya yang datang. Wajah Tamara
tampak membesi dengan nada kesal dia berkata
“Huuh kemana saja mereka ini, masa tidak ada yang berjaga,
bagaimana nanti jika ada tamu?”
“Sudah biar saya dan Tuan Hamzah saja yang membawanya ke
kamar,” Wiraksara menengahi.
Setelah membaringkan tubuh Jamal di ranjang, Hamzah dan
Wiraksara segera membersihkan luka Jamal dan mengobatinya.
temui di pasar tempo hari. Kalau melihat logat bicara mereka, sepertinya mereka
berasal dari negeri Misr. Dan jika dilihat kalung yang dipakainya, mungkinkah
mereka orang-orang Sekte Piramida Emas? Tapi Sekte itu sudah lama hilang
semenjak negeri Misr mengalami kekacauan ketika negara-negara jajahannya mulai
memberontak.”
Wajah Tamara berubah, dia tampak ketakutan lalu berkata
“Sudah kuduga, mereka akan membangkitkan Anubis, Dewa yang
memberikan kekuatan bagi siapapun yang memiliki permata 4 elemen itu. Tapi
apakah mereka sudah memiliki elemen ke lima?” Tanya Tamara.
Wiraksara mengangguk dan berkata
“Sayangnya sudah, Maheen Pendeta Wanita dari Kuil Kahyangan
Api adalah Elemen ke Lima. Orang-orang itu sudah menyandera Maheen dan menguasai
Permata Api.”
Wajah Tamara langsung pucat, dia menghampiri Hamzah
“Bahiri, celaka kalau sampai Anubis memberikan kekuatannya
pada orang-orang Sekte Piramida Emas. Kau dengar tadi, budak tadi menyebut
Shaktar sebagai orang yang kejam. Kau pernah mendengar tentang Yajuj Majuj yang
dikurung Raja Zulkarnaen di sebuah benteng? Kekuaran Anubis akan membuat Yajuj
Majuj semakin kuat sehingga bisa menghancurkan benteng itu. Mungkinkah bumi ini
sebentar lagi lenyap?”
Hamzah menggelengkan kepalanya
“Tidak Tamara, aku merasa belum saatnya bumi ini untuk
kiamat. Kita pasti dapat mencegah kekuatan Anubis kembali. Permata Air masih
dikuasai Sekte Air Perak.”
Wiraksara segera menengahi
__ADS_1
“Maaf kurasa untuk saat ini sebaiknya kita membantu Jamal
menyembuhkan lukanya dan mengubur mayat-mayat ini sebelum para tamu bangun dari
tidurmya.”
Tamara seperti teringat sesuatu
“Oh iya., kau benar anak muda. Tapi mengapa para tamu itu
tidak ada yang panik dan berlarian keluar?” Tanya Tamara dengan heran.
“Jangan kuatir aku telah menyirep para tamu itu sehingga
mereka baru bisa bangun setelah lewat subuh.”
Hamzah tampak bingung dengan pernyataan Wiraksara
“Sirep? Apa itu Sirep?”
Itu adalah ilmu yang digunakan untuk melumpuhkan pertahanan
musuh. Siapapun yang terkena ajian ini, dia akan tertidur pulas dan tak bisa
dibangunkan kecuali…”
Wiraksara tak meneruskan kata-katanya karena Hamzah langsung
menukasnya
“Ada pelayan atau tidak sama saja, kita harus menyembuhkan
Jamal lalu kita akan mengajak Jamal untuk menunjukan sarang Sekte Piramida
Emas.”
“Hei jangan begitu, lalu siapa yang menyambut tamu jika ada
tamu datang pada dini hari? Bukhara terletak di jalur sutera yang tak pernah
tidur,” protes Tamara.
“Baiklah aku akan mebangunkan mereka untuk membantu mengubur
jenazah-jenazah itu,” kata Wiraksara.
Pemuda itu mengambil segenggam tanah, lalu menuju ke bagian
depan penginapan. Wiraksara membaca mantera lalu menaburkan debu ke arah para
pelayan yang sedang tertidur di tempatnya. Mereka yang terkena taburan tanah
mendadak terbangun, mereka serasa mengalami tidur yang panjang. Wajah mereka
tampak kebingungan
“Hei, ternyata aku tadi tertidur ya, celaka jika Nyonya
Tamara tahu dia pasti akan marah,” kata seorang pelayan.
“Aku sudah tahu kalian semua ketiduran, cepat bantu
menyingkirkan mayat-mayat di halaman tengah itu sebelum para tamu bangun,”
perintah Tamara.
*****
Sementara itu Ma Jingtao dan Chen Nie malam itu terpaksa
beristirahat di tengah jalan. Hari itu mereka benar-benar sial. Karena tidak
tahu arah jalan yang benar, perjalanan mereka menuju Kota Sirdarya di
Kazakhstan telah membawa mereka sampai ke sebuah gurun.
“Sial, kita tidak tahu jalan yang lebih nyaman untuk
dilewati sehingga kita tersesat di gurun pasir Taklamakan. Pantas saja sedari tadi jalan yang kita
lewati sepi tak ada rombongan pedagang yang lewat sini,” gerutu Ma Jingtao.
Chen Nie yang kesal lalu menimpali
“Apa kubilang, kita ini sudah terlalu lelah untuk melakukan
perjalanan dan sudah kemalaman juga sehingga kita terjebak ke jalur di gurun
pasir. Coba kalau kau mau mengikuti saranku menginap di Urumqi, kita bisa
istirahat dengan tenang dan besok kita bisa melanjutkan perjalanan dengan badan
segar.”
“Sudah, diamlah kalau kita menginap di Urumqi pekerjaan kita
tidak akan segera selesai. Orang Majapahit itu harus segera kita temukan
sebelum rombongan dari Jawa datang membayar cicilan mereka yang pertama,” kata
Ma Jingtao.
Merekapun kemudian bertengkar karenanya, tetapi tiba-tiba angin
yang semula bertiup pelan, semakin lama semakin kencang. Pasir mulai
__ADS_1
berterbangan mengurung mereka. Ma Jingtao tertegun
“Celaka, badai pasir datang!”