KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Kesaksian Seorang Budak


__ADS_3

Siapa kalian? Apa yang kalian cari di sini?” Tanya


Wiraksara.


“Serahkan permata Bumi pada kami dan setelah itu kami akan


membiarkan kalian hidup!”


Wiraksara tertegun dan merasa heran darimana mereka tahu


bahwa dia telah memegang permata Bumi.


“Kami tidak memiliki permata Bumi itu, siapa kalian apakah


kalian dari Sekte Air Perak atau orang-orang Mehrak?”


“Kami tidak termasuk salah satu dari sekte itu, sejak dari


alun-alun di Sirdarya, kami telah mengikuti kalian sampai kemari.  Kami tahu Gulya telah memberikan permata itu


pada kalian.  Sudah jangan banyak bicara


kalian serahkan saja permata itu!”


Setelah berbicara orang itu menyerang Wiraksara dengan


pedangnya. Wiraksara menghindar melompat beberapa depa ke belakang. Melihat


lawannya bersenjata, Wiraksara mengerahkan ilmu Tapak Tangan Besinya, dalam


sekejap tangannya berubah warna keperakan. Orang di depannya terkejut melihat


perubahan tangan Wiraksara. Orang itu mengubah gerakannya memotong tangan Wiraksara


yang seperti logam. Tapi yang terjadi ungguh di luar dugaannya, ketika pedang


beradu dengan tangan Wiraksara, terdengar bunyi logam.


“Traaang!”


Pedangnya seolah beradu dengan benda logam, orang itu


terkejut melihat tangan Wiraksara berubah menjadi seperti baja.


“Kau murid Tie Shi? Bukankah dia sudah mati setelah insiden


Jing Nan?”


“Bisa dibilang begitu!”


Tangan Wiraksara kembali bergerak merebut pedang


penyerangnya. Tangan Wiraksara berhasil menggenggam pedang lawannya, namun


lawannyapun tak tinggal diam, dia berusaha menarik pedangnya namun genggaman


tangan Wiraksara begitu kuat dan terdengar suara besi patah.


“Taak!”


Pedangnya patah jadi dua, terkesiap pemimpin rombongan itu,


pedangnya walaupun bukan pedang pusaka, namun pedang itu dibuat oleh seorang


Empu Pande Wesi yang sangat ahli di bidangnya. Tetapi dia tak ingin terlihat


lemah di hadapan musuh, dia mengeluarkan sebilah pisau besar. Kembali pisau itu


dibabitkan ke arah Wiraksara. Namun lagi-lagi orang itu menghadapi kenyataan pisaunya


patah jadi dua. Sekarang dia sudah tidak bersenjata lagi.


Sementara itu Hamzah sudah bertarung dengan para penyusup


bersa,a Tamara. Wanita itu walaupun umurnya sudah senja, namun serangannya


masih akurat dan bertenaga.


“Tamara, hati-hati!”


Hamzah mengingatkan Tamara ketika melihat ada pedang


menyambar Tamara dari belakang.


“Tenang saja Bahiri, aku masih dapat menghindarinya!”


Pedang Tamara berkelebat menyambar para penyerangnya. Tak


lama kemudian terdengar teriakan memilukan. Tamara telah membunuh para penyerangnya,


orang-orang berkedok itu mati dalam keadaan mengenaskan. Perut mereka terkoyak


oleh sambaran pedang Tamara


“Tamara, ternyata sambaran pedangmu masih sekuat dulu!” Seru


Hamzah.


“Huh, dari dulu kau selalu saja menyepelekan aku,”gerutu Tamara.


Menyadari lawannya lebih kuat, pemimpin gerombolan itu


berseru


“Cepat kita pergi dari sini!”

__ADS_1


Mereka segera melarikan diri bersama satu anak buahnya yang


masih tersisa dengan luka-luka yang sangat parah. Hamzah menghampiri salah satu


anggota gerombolan yang terbaring dengan luka sabetan pedang di perutnya. Orang


itu tampak menderita dan kesakitan, Hamzah kemudian membuka kedoknya. Melihat


wajah orang itu Hamzah mengerutkan keningnya. Orang itu ternyata adalah orang


kulit hitam.


“Darimana kalian berasal?”


Orang kulit hitam itu menjawab dengan suara lemah hampir tak


terdengar


“Saya Jamal… budak dari Habasyah… tolong bebaskan saya dari


Pangeran Shaktar …yang keji.”


Usai berbicara Jamal jatuh pingsan, Hamzah sempat melihat


sebuah kalung dari tembaga berbentuk piramida yang dikenakan Jamal, lalu dia


menoleh ke arah Wiraksara dan Tamara.


“Obati luka orang ini, dia akan berguna bagi kita nanti.”


Hamzah dan Wiraksara memeriksa orang-orang yang lainnya


“Mereka sudah mati, hanya Jamal saja yang bertahan hidup,”


ujar Hamzah.


Tamara memanggil para pelayannya untuk membawa tubuh Jamal


yang tinggi besar dan berat ke dalam kamar. Namun tak seorangpun dari


pelayannya yang datang.  Wajah Tamara


tampak membesi dengan nada kesal dia berkata


“Huuh kemana saja mereka ini, masa tidak ada yang berjaga,


bagaimana nanti jika ada tamu?”


“Sudah biar saya dan Tuan Hamzah saja yang membawanya ke


kamar,” Wiraksara menengahi.


Setelah membaringkan tubuh Jamal di ranjang, Hamzah dan


Wiraksara segera membersihkan luka Jamal dan mengobatinya.


temui di pasar tempo hari. Kalau melihat logat bicara mereka, sepertinya mereka


berasal dari negeri Misr. Dan jika dilihat kalung yang dipakainya, mungkinkah


mereka orang-orang Sekte Piramida Emas? Tapi Sekte itu sudah lama hilang


semenjak negeri Misr mengalami kekacauan ketika negara-negara jajahannya mulai


memberontak.”


Wajah Tamara berubah, dia tampak ketakutan lalu berkata


“Sudah kuduga, mereka akan membangkitkan Anubis, Dewa yang


memberikan kekuatan bagi siapapun yang memiliki permata 4 elemen itu. Tapi


apakah mereka sudah memiliki elemen ke lima?” Tanya Tamara.


Wiraksara mengangguk dan berkata


“Sayangnya sudah, Maheen Pendeta Wanita dari Kuil Kahyangan


Api adalah Elemen ke Lima. Orang-orang itu sudah menyandera Maheen dan menguasai


Permata Api.”


Wajah Tamara langsung pucat, dia menghampiri Hamzah


“Bahiri, celaka kalau sampai Anubis memberikan kekuatannya


pada orang-orang Sekte Piramida Emas. Kau dengar tadi, budak tadi menyebut


Shaktar sebagai orang yang kejam. Kau pernah mendengar tentang Yajuj Majuj yang


dikurung Raja Zulkarnaen di sebuah benteng? Kekuaran Anubis akan membuat Yajuj


Majuj semakin kuat sehingga bisa menghancurkan benteng itu. Mungkinkah bumi ini


sebentar lagi lenyap?”


Hamzah menggelengkan kepalanya


“Tidak Tamara, aku merasa belum saatnya bumi ini untuk


kiamat. Kita pasti dapat mencegah kekuatan Anubis kembali. Permata Air masih


dikuasai Sekte Air Perak.”


Wiraksara segera menengahi

__ADS_1


“Maaf kurasa untuk saat ini sebaiknya kita membantu Jamal


menyembuhkan lukanya dan mengubur mayat-mayat ini sebelum para tamu bangun dari


tidurmya.”


Tamara seperti teringat sesuatu


“Oh iya., kau benar anak muda. Tapi mengapa para tamu itu


tidak ada yang panik dan berlarian keluar?” Tanya Tamara dengan heran.


“Jangan kuatir aku telah menyirep para tamu itu sehingga


mereka baru bisa bangun setelah lewat subuh.”


Hamzah tampak bingung dengan pernyataan Wiraksara


“Sirep? Apa itu Sirep?”


Itu adalah ilmu yang digunakan untuk melumpuhkan pertahanan


musuh. Siapapun yang terkena ajian ini, dia akan tertidur pulas dan tak bisa


dibangunkan kecuali…”


Wiraksara tak meneruskan kata-katanya karena Hamzah langsung


menukasnya


“Ada pelayan atau tidak sama saja, kita harus menyembuhkan


Jamal lalu kita akan mengajak Jamal untuk menunjukan sarang Sekte Piramida


Emas.”


“Hei jangan begitu, lalu siapa yang menyambut tamu jika ada


tamu datang pada dini hari? Bukhara terletak di jalur sutera yang tak pernah


tidur,” protes Tamara.


“Baiklah aku akan mebangunkan mereka untuk membantu mengubur


jenazah-jenazah itu,” kata Wiraksara.


Pemuda itu mengambil segenggam tanah, lalu menuju ke bagian


depan penginapan. Wiraksara membaca mantera lalu menaburkan debu ke arah para


pelayan yang sedang tertidur di tempatnya. Mereka yang terkena taburan tanah


mendadak terbangun, mereka serasa mengalami tidur yang panjang. Wajah mereka


tampak kebingungan


“Hei, ternyata aku tadi tertidur ya, celaka jika Nyonya


Tamara tahu dia pasti akan marah,” kata seorang pelayan.


“Aku sudah tahu kalian semua ketiduran, cepat bantu


menyingkirkan mayat-mayat di halaman tengah itu sebelum para tamu bangun,”


perintah Tamara.


*****


Sementara itu Ma Jingtao dan Chen Nie malam itu terpaksa


beristirahat di tengah jalan. Hari itu mereka benar-benar sial. Karena tidak


tahu arah jalan yang benar, perjalanan mereka menuju Kota Sirdarya di


Kazakhstan telah membawa mereka sampai ke sebuah gurun.


“Sial, kita tidak tahu jalan yang lebih nyaman untuk


dilewati sehingga kita tersesat di gurun pasir Taklamakan.  Pantas saja sedari tadi jalan yang kita


lewati sepi tak ada rombongan pedagang yang lewat sini,” gerutu Ma Jingtao.


Chen Nie yang kesal lalu menimpali


“Apa kubilang, kita ini sudah terlalu lelah untuk melakukan


perjalanan dan sudah kemalaman juga sehingga kita terjebak ke jalur di gurun


pasir. Coba kalau kau mau mengikuti saranku menginap di Urumqi, kita bisa


istirahat dengan tenang dan besok kita bisa melanjutkan perjalanan dengan badan


segar.”


“Sudah, diamlah kalau kita menginap di Urumqi pekerjaan kita


tidak akan segera selesai. Orang Majapahit itu harus segera kita temukan


sebelum rombongan dari Jawa datang membayar cicilan mereka yang pertama,” kata


Ma Jingtao.


Merekapun kemudian bertengkar karenanya, tetapi tiba-tiba angin


yang semula bertiup pelan, semakin lama semakin kencang.  Pasir mulai

__ADS_1


berterbangan mengurung mereka. Ma Jingtao tertegun


“Celaka, badai pasir datang!”


__ADS_2