KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Pedang Maha Aji


__ADS_3

 “Ngger, orang-orang


itu mengejarku karena pedang Maha Aji ini, aku tidak ingin pedang ini jatuh ke


tangan yang salah. Terimalah pedang Maha Aji ini, pedang ini terbuat dari batu


bintang berusia ribuan tahun dan sudah menyatu denganku selama bertahun-tahun.


Aku tahu kau adalah orang yang baik yang tidak memiliki sikap tamak, iri dan


dengki. Maka aku memilihmu untuk mewarisi ilmu Maha Aji ini. Terimalah pedang


ini Ngger,” kata laki–laki itu.


Wiraksara menerima pedang Maha Aji, pedang itu terasa berat


di tangannya. Ketika menerima pedang dari tangan orang misterius itu, hampir


saja pedang itu terjatuh dari genggamannya. Dilolosnya pedang Maha Aji dari


sarungnya yang terbuat dari kulit ikan pari. Pedang itu tampak seperti pedang


biasa saja tidak ada hiasan emas permata seperti layaknya pedang pusaka yang


hebat.


Setelah itu, laki-laki misterius tadi menempelkan tangannya


ke dada Wiraksara. Dada Wiraksara terasa sesak sebuah gelombang energi dahsyat


yang panas memasuki tubuhnya. Wiraksara tak tahan lagi dengan panasnya energi


itu, di saat rasa sakit yang dialaminya kian memuncak, tubuhnya tiba-tiba


terasa ringan, dan terlempar di sebuah ruangan kosong yang sangat terang.


“Tempat macam apa ini? Tidak ada benda apapun di sekitar


sini yang ada hanyalah sebuah cahaya terang serba putih. Apakah aku sudah mati


dan berada di perbatasan dunia dan akherat,” gumam Wiraksara sambil berkeliling


melihat-lihat ruangan itu.


“Ruangan apa ini, begitu terang, luas dan tidak ada


batasnya,” gumam Wiraksara sambil mondar-mandir mengelilingi ruangan.


Tiba-tiba terdengar suara


“Ngger, kemarilah, aku ingin memberi sesuatu untukmu,” ujar


suara itu.


Wiraksara menoleh ke arah suara itu, dilihatnya sebuah sosok


berpakaian serba putih seperti pakaian seorang Brahmana. Namun betapa


terkejutnya Wiraksara manakala melihat wajah sosok itu. Wajah sosok itu begitu


mirip dengan dirinya.


“Siapa sebenarnya dirimu Ki Sanak, mengapa kau menampakan


wujudmu dengan wajah yang mirip dengan diriku?” Tanya Wiraksara dengan heran.


Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian berkata


“Aku adalah Mpu Sengkala, penguasa seluruh Tanah Jawa. Tidak


masalah jika aku menampakan diriku dalam wujud yang mirip denganmu.  Aku dapat berwujud menyerupai siapa saja yang


kuinginkan. Kemarilah aku akan mengajarkanmu jurus-jurus untuk menggunakan pedang


Maha Aji ini.”


Usai berkata tiba-tiba di tangannya tergenggam sebuah pedang


yang diberikan orang misterius tadi.


Tanpa sadar Wiraksara meraba pinggangnya,  bingung mencari pedangnya. Melihat kelakuan Wiraksara,Mpu


Sengkala tertawa terkekeh

__ADS_1


“Pedang  itu ada di


sini, ini ambilah!” Katanya sambil melempar pedang ke arah Wiraksara.


Wiraksara terkejut, barulah dia sadar ketika tubuhnya


terlempar dalam ruangan yang terang, dia tidak membawa pedangnya. Pemuda itu  gelagapan saat menerima lemparan pedang Maha


Aji.  Ketika pedang  sudah berada di tangannya, tangannya terasa


kesemutan, pedang itu terasa berat seperti membawa besi puluhan kilo, hampir


saja Wiraksara menjatuhkan pedang itu karena sudah tak kuat.


“Ki Sanak, pedang apa ini, mengapa berat sekali?” Tanya Wiraksara


sambil memegangi pedang dengan kedua tangannya agar tidak jatuh. Wiraksara merasa


heran, dia sendiri merasa pedang itu sangat berat dan harus dipegangi dengan 2


tangan, namun laki-laki didepannya itu memegangnya dengan mudah seperti memegang


sapu lidi saja.


“Ah, masa sih berat? Pedang pendek ini tidak berat, biasa


saja,” kata orang itu lagi.


Wiraksara terbengong-bengong mendengar jawaban laki-laki itu


“Ini Pedang yang ringan?” Tanya Wiraksara.


Mpu Sengkala mengangguk


“Ya benar, kau harus menyatukan jiwamu dengan pedang ini


maka pedang ini akan terasa ringan. Wiraksara, separuh jiwamu sudah berada di


dalam pedang ini, jangan anggap ini hanya sebuah benda, tetapi pedang Maha Aji


itu adalah dirimu sendiri.  Jangan


kuatir, aku akan mengajarkanmu cara menggunakan pedang ini.”


“Darimana aku harus memulainya?” Tanya Wiraksara.


tersumbat, itulah sebabnya tenaga dalammu selama ini tidak dapat mengalir


dengan lancar,” kata orang itu.


“Oh begitu, jadi selama ini tenaga dalamku tidak dapat


mengalir dengan lancar ya. Pantas saja Guruku bilang pukulanku tidak cukup


berenergi dan mengatakan akuu adalah muridnya yang paling tidak becus berkelahi,”


kata Wiraksara.


 “Setelah aku


memberimu ajian Maha Aji dan membuka jalur utama untuk aliran tenaga dalammu,


sekarang kau memiliki kekuatan yang sangat besar. Tapi kau harus bisa mengendalikan


kekuatan itu, jika tidak kekuatan itu akan menghantam dirimu sendiri,” kataMpu


Sengkala.


Mereka duduk bersila saling berhadapan,Mpu Sengkala mulai


memberinya pengarahan.


“Coba kau rasakan hawa murni yang terkumpul di pusarmu,


terasa hangat kan? Sekarang pikiranmu harus bisa memerintahkan energi itu


mengalir ke tempat yang kau mau,” kataMpu Sengkala.


Wiraksara mencoba mengikuti petunjuk orang itu, tetapi yang


terjadi adalah aliran hawa murni itu hanya berputar-putar saja di dalam


badannya tanpa bisa diperintah untuk di arahkan ke tempat tertentu. Hawa

__ADS_1


murninya memang terasa lancar mengalir namun aliran itu tidak terkendali dan Wiraksara


tidak dapat mengendalikannya dan mengarahkannya sesuai keinginannya.


“Ki Sanak, aku tidak bisa mengarahkannya sesuai yang


kuinginkan,” keluh Wiraksara.


Kusumowicitro memperingatkannya lagi


“Coba pusatkan  lagi


keinginanmu, kemana kau ingin mengalirkan tenaga dalam?”


Wiraksara mencoba mengikuti arahan Mpu Sengkala dengan susah


payah.  Akhirnya dia bisa mengendalikan


energinya yang meledak-ledak membuat tubuhnya terasa panas dan meriang. Ketika


dia membuka matanya,Mpu Sengkala melemparkan pedangnya ke arah Wiraksara yang


segera menangkapnya dengan kedua tangannya.


“Coba rasakan apakah pedang ini masih berat untukmu?” TanyaMpu


Sengkala.


Wiraksara menimang pedangnya, sekarang. Betapa terkejutnya Wiraksara


ketika merasakan pedang itu kini berubah menjadi lebih ringan.


“Hei, lihat pedang berat ini sekarang jadi ringan,” ujar Wiraksara


sambil mengayunkan pedangnya dengan gembira.


Setelah itu mulailah orang itu mengajarinya jurus-jurus Maha


Aji.  Wiraksara mengikuti semua gerakannya


dengan seksama sampai hafal. Dengan kecerdasannya Wiraksara dapat menghafalkan


jurus-jurus itu dengan mudah.  Mpu Sengkala tersenyum puas melihat kemajuan yang


diperoleh Wiraksara.


Sekarang coba kau serang aku!” Perintah Mpu Sengkala.


Wiraksara segera menyerang dengan pedangnya menggunakan


jurus-jurus yang diajarkan tadi. Melihat caranya bertarung, kembaran Wiraksara


itu tampaknya cukup puas melihat kemajuan yang diperoleh Wiraksara.


“Bagus seranganmu sekarang sudah lebih terarah. Tetapi kau


masih belum dapat menggunakan potensi energimu yang sangat besar itu. Sehingga


sambaran pedangmu terasa kurang berenergi. Kau harus sering berlatih mengendalikan


tenaga dalammu,” kata Mpu Sengkala.


Wiraksara yang merasa senang karena memperoleh peningkatan


dalam ilmu kanuragannya, berlutut di depan Mpu Sengkala dan berkata


“Mulai sekarang, aku akan memanggil anda dengan sebutan


Guru, terimakasih sudah memberiku pelajaran yang berharga ini.


Mpu Sengkala mengangguk gembira dan berkata


“Tidak semua orang dapat memperoleh ilmu ini Ngger, ilmu ini


diturunkan tidak berdasarkan keturunan dan tidak bisa diajarkan kepada


sembarang orang. Hanya orang-orang yang terpilih yang bisa menguasai ilmu ini.


Kau adalah pemuda yang baik, cerdas, memiliki tulang dan otot yang bagus, tidak


memiliki sifat jahat, iri dan dengki. Sebelumnya ilmu ini dikuasai oleh muridku


Singasardhula, pria yang kau temui di pantai kemarin.  Akulah yang membawa dia menemuimu di pantai.  Kasihan Singasardhula, dia harus mati di

__ADS_1


keroyok para pendekar, dicurangi dengan racun karena keserakahan orang-orang di


dunia persilatan yang memburu Pedang Maha Aji itu,” tuturMpu Sengkala.


__ADS_2