
Paman Tie Shi menenggak araknya sampai tandas lalu
menuang arak ke cawannya berkali-kali. Sekarang wajahnya tampak merah padam.
Paman Tie Shi sekarang mulai mabuk. Wiraksara membiarkan saja sahabat barunya
itu mabuk berat untuk melupakan kesedihannya.
Seperti biasa, pagi itu Wiraksara memulai harinya dengan
memberi makan kuda lalu menyikat bulu kuda, di tengah pekerjaannya dua orang
gadis berseragam dayang-dayang istana mendatangi istal sambil berteriak
memanggil sebuah nama
“Chen Chen, dimana kamu?”
Tampak sekali mereka kebingungan mencarinya, melihat Wiraksara berada disitu, mereka
bertanya kepadanya
“Kau melihat seekor anjing kecil bermain di sini tidak?”
Tanya salah satu dayang.
Hmmm, pasti mereka ini tim pencari anjing yang kemarin itu,
batin Wiraksara.
Dengan wajah tak berdosa dan gaya yang pura-pura bodoh
Wiraksara menjawab
“Aku sempat melihatnya sekilas, tetapi kemudian dia berlari
ke arah hutan itu” kata Wiraksara sambil menunjuk ke arah hutan kecil.
Terkesiap kedua dayang itu mendengar kata-kata Wiraksara,
mereka saling berpandangan.
“Jika masuk ke hutan itu, dia pasti tidak akan selamat,
bagaimana ini, pasti Putri Xianning akan memenggal kita berdua,” kata salah
satu diantara mereka sambil menangis ketakutan.
Gila, nyawa manusia lebih murah daripada nyawa anjing, batin
Wiraksara.
Selagi kedua dayang itu berbincang tiba-tiba sebuah tandu
yang diangkut oleh beberapa laki-laki berbadan besar datang menghampiri tempat
mereka berdiri. Kedua dayang itu mengingatkan Wiraksara yang masih saja berdiri
mematung
“Hei kakak,cepat berlututlah Putri Xianning datang!”
Tandu diletakan di tanah kemudian dari dalamnya munculah
seraut wajah cantik bertanya kepada 2 orang dayangnya melalui jendela kecil di
samping tandu.
“Bagaimana, Chen Chen sudah ketemu?”
“Kami belum menemukannya Tuan Puteri, kami sudah mencoba
mencarinya kemana-mana tetapi masih saja belum ketemu,” kata dayang itu dengan
ketakutan.
Aku tak bisa membayangkan jika kau tahu anjing itu sudah
masuk perut ular, batin Wiraksara sambil menahan tawa.
Tetapi tak disangkanya sang Putri melihat Wiraksara sedang
menahan senyum, dia berhenti berbicara seketika dan menoleh kepada Wiraksara,
wajahnya tampak gusar dan marah
“Siapa kamu, berani sekali kau menertawaiku!” bentak sang
Putri dengan gusar.
Celaka si bawel ini melirikku juga, huh ngapain juga dia
lirik-lirik aku. Apa dia jarang melihat
__ADS_1
orang ganteng di sini, batin Wiraksara.
Namun Wiraksara menyadari, dia sedang berhadapan dengan
seorang Putri yang manja dan temperamental.
“Saya Wiraksara Tuan Puteri,” jawab Wiraksara.
Putri Xianning mengerutkan keningnya, dia memindai Wiraksara
dari ujung rambut ke ujung kaki.
Pemuda ini berkulit sedikit lebih gelap daripada pemuda
China pada umumnya, tapi dia tampan dan bermata indah, sepertinya dia orang
asing di sini. Seketika suaranya sedikit melunak.
“Namamu terdengar aneh, sepertinya kau bukan berasal dari
China. Darimana asalmu?”
“Saya berasal dari Nusantara, saya adalah utusan dari
Kerajaan Majapahit,” jawab Wiraksara.
“Bagaimana kau bisa berada di tempat seperti ini?” Tanya
Sang Putri dengan terkejut. Setahunya para tamu negara biasanya diperlakukan
dengan baik dan ditempatkan di komplek khusus tamu.
“Saya berada di sini sebagai jaminan hutang dari Kerajaan Majapahit. Karena kami harus membayar ganti
rugi atas kematian 170 orang delegasi China di Jawa,” tutur Wiraksara.
“Oh, ya aku tahu tragedi itu,” kata Sang Putri.
Pantas saja ayah menghukumnya karena kesalahan negaranya,
batin Xianning.
“Tapi kau melihat anjingku
tidak? Seekor anjing Shuh Tzu jantan berbulu coklat putih?” tanya Putri Xianning
kembali.
“Saya tidak melihatnya Tuan Puteri, tetapi mohon jangan
anjing jantan, bisa saja anjing itu birahi lalu mencari betina di luaran,” Wiraksara
mulai berargumentasi.
Terlihat putri Xianning berpikir mencerna kata-kata Wiraksara.
“Tapi di istana kami telah menyediakan betina untuknya, masa
dia masih mau mencari betina lagi di luar?”
“Tuan Putri, mana ada pejantan yang setia dengan
pasangannya. Berapa betina yang ada di istana? Bisa jadi dia sudah bosan dengan
pasangannya di istana. Mungkin dia ingin mencari anjing dengan model yang lain,
atau dia memiliki kekasih di luar sana kan kau tidak tahu?” Ujar Wiraksara
mulai berargumen.
Dia tetap berusaha menolong kedua dayang itu karena
kelalaian mereka menjaga anjing kesayangan majikannya.
Terlihat sang putri memikirkan kata-kata Wiraksara.
Benar juga, Chenchen mungkin perlu betina lain, hanya ada 3
betina di lingkungannya, karena betina yang lain sudah dibagikan ke negara-negara
sahabat pantas saja dia bosan. Tapi masa sih anjing bangsawan seperti Chenchen bisa
bersikap seperti anjing kampung, batin Xianning.
Melihat Xianning masih kelihatan ragu, Wiraksara berkata
lagi
“Sudahlah Tuan Putri, bukankah masih banyak anjing lain di
istana sebagai gantinya.”
Huh, dasar bodoh, namanya anjing ya tetap saja dia hewan,
__ADS_1
mana mau dipingit terus di kamar bersama betina yang sama. Maunya setiap hari
berganti betina. Lihat saja bapakmu yang selirnya bejibun, mana mau dia tidur
hanya dengan ibumu saja, batin Wiraksara dengan kesal.
Terlihat Xianning menghela nafas
“Baiklah, kalian tidak jadi kuhukum, sekarang kita pulang ke
istana.”
Xianning memberi tanda kepada para pengangkut tandu itu
untuk berjalan kembali. Sebelum berjalan mengikuti tandu Sang Putri, kedua
dayang itu memberi hormat pada Wiraksara dan berkata
“Terimakasih, terimakasih Kakak, sudah menolong kami.”
Wiraksara menganggukan kepalanya dan tersenyum
“Tidak apa-apa, aku hanya tidak suka melihat penguasa yang
tidak menghargai nyawa sesamanya.”
Setelah kedua dayang itu pergi, Tie Shi memanggilnya dan
berkata
“Sala, kemarilah!”
Wiraksara berlari menghampiri Tie Shi
“Ada apa Paman?”
“Bawalah kuda hitam ini kepada Pangeran Gaoxu, hari ini dia
akan latihan memanah sambil berkuda. Bawalah ke komplek latihan perang para Pangeran
di belakang komplek pangeran,” perintah Tie Shi.
Wiraksara membawa kuda untuk Pangeran kedua Zu Gaoxu ke
lapangan yang biasa digunakan untuk latihan perang-perangan oleh para pangeran.
Sesampainya di sana seorang prajurit sudah menyambutnya
“Ini kuda untuk Pangeran Kedua,” ujar Wiraksara.
Di lapangan dilihatnya Gaoxu sedang berlatih menggunakan
tombak bersama para prajurit. Gaoxu berbadan tinggi besar dan kekar, garis
rahangnya tegas, matanya tajam, gerakannya lincah, seolah dia memang dilahirkan
untuk menjadi seorang prajurit. Wiraksara mengagumi permainan tombaknya yang
begitu lincah dan indah.
Tanpa terasa dia sudah cukup lama memperhatikan Gaoxu
bermain tombak. Kini tiba saatnya Pangeran Gaoxu berlatih memanah.
“Mana kuda yang akan kupergunakan untuk latihan?” Tanya
Gaoxu.
“Kudanya sudah siap Pangeran,” kata seorang prajurit
kepadanya.
Gaoxu langsung melompat ke atas punggung kudanya dan mulai
memanah ke sebuah sasaran
“Sreet … jleb!”
Panah melesat ke sasarannya dan menancap tepat ke
sasarannya. Semua orang bertepuk tangan, tak terkecuali Wiraksara. Kemudian
Pangeran itu meminta seorang prajurit melempar sebuah bola kulit ke sembarang
arah. Kembali Pangeran Gaoxu bergerak memanah bola yang sedang melambung itu.
“Sreet … jleb!” Panah Gaoxu menembus tepat bola kulit itu.
Semua orang bertepuk tangan dan memuji ketrampilan Gaoxu
memanah.
Zhu Gaosui Pangeran ketiga yang ikut menonton, bertepuk
__ADS_1
tangan dan memuji kehebatan kakaknya
“Hebat Kakak, hebat hebat!”