KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Menjadi Sasaran Memanah


__ADS_3

Paman Tie Shi  menenggak araknya sampai tandas lalu


menuang arak ke cawannya berkali-kali. Sekarang wajahnya tampak merah padam.


Paman Tie Shi sekarang mulai mabuk. Wiraksara membiarkan saja sahabat barunya


itu mabuk berat untuk melupakan kesedihannya.


Seperti biasa, pagi itu Wiraksara memulai harinya dengan


memberi makan kuda lalu menyikat bulu kuda, di tengah pekerjaannya dua orang


gadis berseragam dayang-dayang istana mendatangi istal sambil berteriak


memanggil sebuah nama


“Chen Chen, dimana kamu?”


Tampak sekali mereka kebingungan mencarinya,  melihat Wiraksara berada disitu, mereka


bertanya kepadanya


“Kau melihat seekor anjing kecil bermain di sini tidak?”


Tanya salah satu dayang.


Hmmm, pasti mereka ini tim pencari anjing yang kemarin itu,


batin Wiraksara.


Dengan wajah tak berdosa dan gaya yang pura-pura bodoh


Wiraksara menjawab


“Aku sempat melihatnya sekilas, tetapi kemudian dia berlari


ke arah hutan itu” kata Wiraksara sambil menunjuk ke arah hutan kecil.


Terkesiap kedua dayang itu mendengar kata-kata Wiraksara,


mereka saling berpandangan.


“Jika masuk ke hutan itu, dia pasti tidak akan selamat,


bagaimana ini, pasti Putri Xianning akan memenggal kita berdua,” kata salah


satu diantara mereka sambil menangis ketakutan.


Gila, nyawa manusia lebih murah daripada nyawa anjing, batin


Wiraksara.


Selagi kedua dayang itu berbincang tiba-tiba sebuah tandu


yang diangkut oleh beberapa laki-laki berbadan besar datang menghampiri tempat


mereka berdiri. Kedua dayang itu mengingatkan Wiraksara yang masih saja berdiri


mematung


“Hei kakak,cepat  berlututlah Putri Xianning datang!”


Tandu diletakan di tanah kemudian dari dalamnya munculah


seraut wajah cantik bertanya kepada 2 orang dayangnya melalui jendela kecil di


samping tandu.


“Bagaimana, Chen Chen sudah ketemu?”


“Kami belum menemukannya Tuan Puteri, kami sudah mencoba


mencarinya kemana-mana tetapi masih saja belum ketemu,” kata dayang itu dengan


ketakutan.


Aku tak bisa membayangkan jika kau tahu anjing itu sudah


masuk perut ular, batin Wiraksara sambil menahan tawa.


Tetapi tak disangkanya sang Putri melihat Wiraksara sedang


menahan senyum, dia berhenti berbicara seketika dan menoleh kepada Wiraksara,


wajahnya tampak gusar dan marah


“Siapa kamu, berani sekali kau menertawaiku!” bentak sang


Putri dengan gusar.


Celaka si bawel ini melirikku juga, huh ngapain juga dia


lirik-lirik aku.  Apa dia jarang melihat

__ADS_1


orang ganteng di sini, batin Wiraksara.


Namun Wiraksara menyadari, dia sedang berhadapan dengan


seorang Putri yang manja dan temperamental.


“Saya Wiraksara Tuan Puteri,” jawab Wiraksara.


Putri Xianning mengerutkan keningnya, dia memindai Wiraksara


dari ujung rambut ke ujung kaki.


Pemuda ini berkulit sedikit lebih gelap daripada pemuda


China pada umumnya, tapi dia tampan dan bermata indah, sepertinya dia orang


asing di sini. Seketika suaranya sedikit melunak.


“Namamu terdengar aneh, sepertinya kau bukan berasal dari


China. Darimana asalmu?”


“Saya berasal dari Nusantara, saya adalah utusan dari


Kerajaan Majapahit,” jawab Wiraksara.


“Bagaimana kau bisa berada di tempat seperti ini?” Tanya


Sang Putri dengan terkejut. Setahunya para tamu negara biasanya diperlakukan


dengan baik dan ditempatkan di komplek khusus tamu.


“Saya berada di sini sebagai jaminan hutang dari Kerajaan   Majapahit. Karena kami harus membayar ganti


rugi atas kematian 170 orang delegasi China di Jawa,” tutur Wiraksara.


“Oh, ya aku tahu tragedi itu,” kata Sang Putri.


Pantas saja ayah menghukumnya karena kesalahan negaranya,


batin Xianning.


 “Tapi kau melihat anjingku


tidak? Seekor anjing Shuh Tzu jantan berbulu coklat putih?” tanya Putri Xianning


kembali.


“Saya tidak melihatnya Tuan Puteri, tetapi mohon jangan


anjing jantan, bisa saja anjing itu birahi lalu mencari betina di luaran,” Wiraksara


mulai berargumentasi.


Terlihat putri Xianning berpikir mencerna kata-kata Wiraksara.


“Tapi di istana kami telah menyediakan betina untuknya, masa


dia masih mau mencari betina lagi di luar?”


“Tuan Putri, mana ada pejantan yang setia dengan


pasangannya. Berapa betina yang ada di istana? Bisa jadi dia sudah bosan dengan


pasangannya di istana. Mungkin dia ingin mencari anjing dengan model yang lain,


atau dia memiliki kekasih di luar sana kan kau tidak tahu?” Ujar Wiraksara


mulai berargumen.


Dia tetap berusaha menolong kedua dayang itu karena


kelalaian mereka menjaga anjing kesayangan majikannya.


Terlihat sang putri memikirkan kata-kata Wiraksara.


Benar juga, Chenchen mungkin perlu betina lain, hanya ada 3


betina di lingkungannya, karena betina yang lain sudah dibagikan ke negara-negara


sahabat pantas saja dia bosan. Tapi masa sih anjing bangsawan seperti Chenchen bisa


bersikap seperti anjing kampung, batin Xianning.


Melihat Xianning masih kelihatan ragu, Wiraksara berkata


lagi


“Sudahlah Tuan Putri, bukankah masih banyak anjing lain di


istana sebagai gantinya.”


Huh, dasar bodoh, namanya anjing ya tetap saja dia hewan,

__ADS_1


mana mau dipingit terus di kamar bersama betina yang sama. Maunya setiap hari


berganti betina. Lihat saja bapakmu yang selirnya bejibun, mana mau dia tidur


hanya dengan ibumu saja, batin Wiraksara dengan kesal.


Terlihat Xianning menghela nafas


“Baiklah, kalian tidak jadi kuhukum, sekarang kita pulang ke


istana.”


Xianning memberi tanda kepada para pengangkut tandu itu


untuk berjalan kembali. Sebelum berjalan mengikuti tandu Sang Putri, kedua


dayang itu memberi hormat pada Wiraksara dan berkata


“Terimakasih, terimakasih Kakak, sudah menolong kami.”


Wiraksara menganggukan kepalanya dan tersenyum


“Tidak apa-apa, aku hanya tidak suka melihat penguasa yang


tidak menghargai nyawa sesamanya.”


Setelah kedua dayang itu pergi, Tie Shi memanggilnya dan


berkata


“Sala, kemarilah!”


Wiraksara berlari menghampiri Tie Shi


“Ada apa Paman?”


“Bawalah kuda hitam ini kepada Pangeran Gaoxu, hari ini dia


akan latihan memanah sambil berkuda. Bawalah ke komplek latihan perang para Pangeran


di belakang komplek pangeran,” perintah Tie Shi.


Wiraksara membawa kuda untuk Pangeran kedua Zu Gaoxu ke


lapangan yang biasa digunakan untuk latihan perang-perangan oleh para pangeran.


Sesampainya di sana seorang prajurit sudah menyambutnya


“Ini kuda untuk Pangeran Kedua,” ujar Wiraksara.


Di lapangan dilihatnya Gaoxu sedang berlatih menggunakan


tombak bersama para prajurit. Gaoxu berbadan tinggi besar dan kekar, garis


rahangnya tegas, matanya tajam, gerakannya lincah, seolah dia memang dilahirkan


untuk menjadi seorang prajurit. Wiraksara mengagumi permainan tombaknya yang


begitu lincah dan indah.


Tanpa terasa dia sudah cukup lama memperhatikan Gaoxu


bermain tombak. Kini tiba saatnya Pangeran Gaoxu berlatih memanah.


“Mana kuda yang akan kupergunakan untuk latihan?” Tanya


Gaoxu.


“Kudanya sudah siap Pangeran,” kata seorang prajurit


kepadanya.


Gaoxu langsung melompat ke atas punggung kudanya dan mulai


memanah ke sebuah sasaran


“Sreet … jleb!”


Panah melesat ke sasarannya dan menancap tepat ke


sasarannya. Semua orang bertepuk tangan, tak terkecuali Wiraksara. Kemudian


Pangeran itu meminta seorang prajurit melempar sebuah bola kulit ke sembarang


arah. Kembali Pangeran Gaoxu bergerak memanah bola yang sedang melambung itu.


“Sreet … jleb!” Panah Gaoxu menembus tepat bola kulit itu.


Semua orang bertepuk tangan dan memuji ketrampilan Gaoxu


memanah.


Zhu Gaosui Pangeran ketiga yang ikut menonton, bertepuk

__ADS_1


tangan dan memuji kehebatan kakaknya


“Hebat Kakak, hebat hebat!”


__ADS_2