KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Gulya Sang Diva


__ADS_3

Suara Gulya menggaung di lingkungan sekitar alun-alun. Semua


orang terdiam terbius dengan alunan suara Gulya. Beberapa penonton tampak


menangis karena turut menjiwai lagu sedih yang dibawakan Gulya. Sedangkan


beberapa penonton yang lain ada yang terbatuk mengeluarkan darah kotor dari


mulutnya, ada pula yang tertidur karena merasa rileks setelah mendengar


suaranya. Wiraksara melirik Hamzah yang tampak meneteskan air mata.


“Anda menangis Tuan Hamzah?”


Hamzah menghapus air matanya lalu berkata


“Gulya menyanyikan lagu tentang kehancuran dunia. Aku takut


banjir besar seperti yang dialami Nabi Nuh, kehancuran Kota Sodom akan terulang


kembali, karena manusia telah banyak berbuat dosa namun mereka justru bangga


dengan dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Atau mungkin ini adalah sebuah


peringatan tentang kedatangan Yajuj Majuj makhluk dari dalam bumi.”


Wiraksara semakin tak mengerti dengan kata-kata Hamzah


Mungkin Tuan Hamzah ini melantur karena terlalu lelah


setelah melakukan perjalanan, pikir Wiraksara.


“Tuan, makhluk seperti apa Yajuj Majuj itu?” Tanya Wiraksara.


Hamzah menghela nafas lalu mulai bercerita


“Mereka adalah makhluk seram yang datang dari bawah tanah,


mereka sangat rakus karena sanggup menghabiskan air sungai untuk minumannya


hingga sungainya mengering dan memakan segala sesuatu yang ditemuinya dalam


perjalanan. Tak peduli hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan semua dimakannya.


Wiraksara bergidik ngeri membayangkan kekejaman yang akan


dialami para penduduk di bumi ketika makhluk-makhluk itu datang.


“Tapi darimana anda tahu hal itu? Siapa orang yang


mengabarkannya?” Tanya Wiraksara.


“Semua itu ada dalam kitab suci kami, kemunculan mereka


adalah sebuah pertanda bahwa kiamat sudah dekat,” kata Hamzah.


Wiraksara menggelengkan kepalanya


“Tidak, kuharap makhluk-makhluk itu tidak pernah menginjakan


kaki di Bumi ini. Aku yakin kiamat masih lama datangnya,” kata Wiraksara.


Hamzah menghela nafas


“Kita tidak pernah tahu kapak kiamat akan terjadi, karena


itu semua adalah rahasia Allah. Tapi jangan kuatir, mereka telah dikurung oleh


Raja Zulkarnain dalam sebuah benteng di bawah tanah yang terletak di antara 2


gunung,” kata Hamzah.


“Aku ingin melihat benteng itu bisakah anda membawa saya ke


sana jika nanti semua urusan ini selesai?”


“Tentu saja, aku akan mengajak kalian ke sana. Nanti kita


akan melewatinya.”


Sementara itu lagu yang dinyanyikan Gulya telah selesai.


Semua orang di alun-alun  bertepuk tangan,


suaranya bergemuruh menggetarkan. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras di


sekitaran panggung. Para penonton geger, mereka berteriak ketakutan dan panik.


Terlihat aliran penonton yang berebut meninggalkan alun-alun. Suasana mendadak


kacau, karena panik banyak para penonton yang mati atau terluka karena


terinjak-injak. Sementara itu Gulya sudah terbaring di atas panggung yang porak


poranda karena ledakan itu.


Hamzah terkejut lalu berkata pada Wiraksara


“Aku akan ke sana, sepertinya ini adalah pesan yang


dibawanya, pantas saja sedari tadi dia menyanyikan lagu sedih terus.”


Wiraksara dan Hamzah berkelebat, tak lama kemudian tubuhnya


sudah melayang melewati orang-orang menuju panggung. Bersamaan dengan itu


beberapa orang tampak melayang ke atas panggung lalu mencoba mengambil Gulya yang


tampaknya terluka karena ledakan itu. Beberapa pengikut dalam rombongan Gulya


berusaha mencegah orang-orang itu mengambil Gulya tetapi mereka kalah oleh


orang-orang itu.


Di saat itu Hamzah dan Wiraksara sudah tiba ke atas


panggung. Terdengar suara Gulya yang marah berteriak pada orang-orang yang


mengeroyoknya

__ADS_1


“Pergi…pergi jangan ganggu aku!”


“Apa yang kalian lakukan?! Kalau orangnya tidak mau pergi


jangan dipaksa!” Bentak Hamzah.


Orang-orang yang mencoba membawa Gulya terkejut, sontak


mereka semua menoleh ke arah Hamzah dan Wiraksara. Salah satu di antara


orang-orang itu menghampiri Hamzah dan Wiraksara lalu bertanya


“Siapa kalian? Beraninya kalian menghalangi kami.  Serang dia!” Seru salah satu dari para


penyerang Gulya.


Orang-orang itu langsung mengepung Wiraksara dan Hamzah


dengan pedang terhunus. Sejurus kemudian mereka sudah langsung mengeroyok


Wiraksara dan Hamzah. Ternyata orang-orang yang mengeroyok mereka bukanlah


pendekar abal-abal. Mereka benar-benar orang-orang yang berilmu tinggi dengan


pedang pusaka mereka yang berbentuk seperti bulan sabit pedang khas Timur


Tengah. Wiraksara dan Hamzah hanya bisa bertahan melompat ke sana ke mari


menghindari sambaran pedang.


Wiraksara dan Hamzah kewalahan tak mampu membalas serangan


mereka yang begitu cepat dan bertenaga, sehingga mereka terpaksa melompat


mundur menjauh.


“Tuan, siapa mereka? Sepertinya mereka bukan orang-orang


Kazakh, ilmu bela diri mereka benar-benar hebat,” ujar Wiraksara.


“Ya, mereka sepertinya orang Persia, Misr atau Sumeria, tapi


aku masih belum tahu apa tujuan mereka kemari menyerang Gulya. Berhati-hatilah


menghadapi mereka,” jawab Hamzah.


 Sebilah pedang


meluncur menyasar wajahnya, Wiraksara menghindari tusukan pedang di wajahnya


sambil melompat mundur. Sekarang Wiraksara hanya bisa melihat kelebatan pedang


mereka di sekeliling tubuhnya. Hingga suatu saat sebuah pukulan bersarang di


dadanya dan salah satu pedang dari penyerangnya membacok bahunya. Wiraksara


berseru tertahan, tubuhnya terbanting ke tanah


“Aaaargh!”


Wiraksara muntah darah, pandangan matanya berkunang-kunang. Mendadak


pukulan para pendekar itu tak dirasakannya lagi.  Perlahan tangan Wiraksara  berubah menjadi berwarna keperakan. Ilmu Tapak


Tangan Baja dikerahkan untuk melawan para pengeroyoknya karena dirinya tak


bersenjata. Para penyerangnya menatap Wiraksara dengan pandangan terkejut


“Lihat tangan orang itu berubah seperti tangan besi!”


Tubuh Wiraksara berkelebat ke arah orang-orang itu lalu


mulai menyerang mereka. Kali ini dia sudah tidak takut lagi dengan sambaran


pedang para penyerangnya. Sementara Hamzah memandang Wiraksara dengan pandangan


terkejut


“Ilmu Tapak Tangan Baja itu muncul kembali setelah sekian


lama menghilang. Siapa dia? Apa hubungannya dia dengan Tie Shi Pendekar Tangan


Baja?,” gumam Hamzah.


Sambaran pedang mengarah ke pinggangnya membuat Hamzah


terpaksa kembali bertarung.  Sementara


itu Wiraksara terlihat memegang sebilah pedang yang mengarah ke tubuhnya.


Pedang itu berhasil dibengkokan membuat orang-orang itu terkejut.


“Pedangku!” Seru orang itu panik.


Wiraksara tak berhenti, dia masih terus menyerang, tangannya


berkelebat menyambar tubuh para penyerangnya. Beberapa penyerangnya terluka


oleh sambaran tangan Wirota yang saat ini setajam pedang.


“Kau menggunakan ilmu sihir apa sehingga tanganmu setajam


pedang?” Tanya salah seorang penyerangnya.


Wiraksara hanya mendengus dan menjawab


“Ini bukan ilmu sihir, pergilah kalian yang sudah


mengacaukan pertunjukan ini!” Seru Wirota sambil tangannya berkelebat menyambar


penyerangnya.


Tangan Wiraksara berkelebat menyongsong ayunan pedang yang


mengarah kepadanya, kembali tangannya bergerak, Wiraksara merunduk menghindari


serangan sementara tangannya mengarah ke perut salah satu penyerangnya.


Sambaran tangan Wiraksara mengenai perut penyerangnya sehingga robohlah

__ADS_1


musuhnya tak bergerak lagi. Sementara itu, Hamzah juga berhasil merobohkan dua


orang lawannya.


Melihat temannya mati terbunuh oleh sambaran tangan


Wiraksara ditambah lagi senjata mereka yang rusak dan teman-teman mereka yang


berhasil dirobohkan Hamzah, tanpa berlama-lama pemimpin gerombolan itu berseru


“Kita lari minta bantuan!”


Orang-orang itu berlarian pergi meninggalkan panggung dalam


keadaan terluka dalam. Wiraksara dan Hamzah menghampiri Gulya yang saat ini


tengah sekarat di atas panggung.  Beberapa orang telah mengerumuni wanita bersuara emas itu.


“Nona, kau terluka parah karena ledakan itu.”


Melihat kedatangan Wiraksara wanita itu memanggilnya


“Tuan, mendekatlah kemari!”


Wiraksara mendekat dan berlutut di sisi Gulya yang nafasnya


sudah  tinggal satu-satu.


“Tuan, kau adalah penjaga Gadis Suci dari Persia itu kan?”


Wiraksara terkejut, di sebuah tempat yang asing ada orang


yang mengenalnya dan tahu siapa dirinya


“Ya, aku memang yang diberi amanat oleh Tamaz untuk


mengantarkan Maheen anak perempuannya pulang ke Persia dan menjaga permata Api


itu.”


“Dimana gadis itu sekarang?” Tanya Gulya dengan suara lemah.


Wiraksara menghela nafas penuh penyesalan


“Sayangnya di tengah perjalanan Maheen diculik, sekarang


kami masih harus menemukan Maheen dan Permata Api yang mungkin sudah berada di


tangan para penculiknya.”


Pandangan mata Gulya yang semula berbinar tampak meredup,


dia meraih tangan Wiraksara dan menggenggamnya erat-erat


“Tolong temukan Gadis Suci itu dan Permata Api.  Jika tidak seseorang yang jahat akan


menggunakannya untuk membangkitkan Anubis. Dia ingin menguasai dunia dengan


bantuan Dewa-dewa yang jahat. Temukan permata yang lain dan lawan mereka.”


Wiraksara kebingungan namun seorang pria tua dari salah satu


anggota rombongan Gulya berkata


“Gulya kemari mengikuti petunjuk roh yang suci untuk


menemukan pengawal elemen ke lima dan permata 4 elemen. Kaulah orang yang dia


cari, dia sudah tahu hari ini sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya, tapi


dia tetap bersikeras kemari mencarimu dan Gadis Suci itu.”


Wiraksara tertegun tak menyangka sampai sejauh ini peran


dirinya dalam perebutan permata 4 elemen itu.


“Cepat, bawa pergi Permata Elemen Bumi yang berada di dalam


perutku ini, selamatkan dunia dari kejahatan Anubis,” Gulya berbicara sembari


meraba perutnya.


Usai berbicara, mata Gulya meredup dan tubuhnya lunglai.


Teman-teman Gulya yang mengiringinya berteriak memanggil namanya dengan sedih


“Gulya…Gulya…jangan pergi, nanti tidak ada lagi yang


menyanyi untuk kesembuhan orang-orang itu!”


Pria tua itu mengambil sebilah belati dari pinggangnya,


kemudian tangannya bergerak membedah perut Gulya. Wiraksara dan orang-orang di


sekitarnya berseru tertahan.


“Hei apa yang kau lakukan?! Kau gila membedah perut mayat!”


Seru Hamzah dengan marah.


Pria tua itu tak menjawab, tangannya merogoh sesuatu di


dalam perut Gulya. Orang-orang yang tak tahan melihatnya segera pergi dari


tempat itu sambil muntah-muntah. Pria tua itu kemudian menarik tangannya dan


terlihat sebuah permata berwarna hijau sebesar telur ayam kampung berada di


tangannya.


“Permata Bumi ini berada di Sekte kami Sekte Bumi Hijau ribuan


tahun lamanya sejak banjir besar itu. Setelah banjir besar surut, leluhur kami


mengembara hingga akhirnya kami menetap di sini di puncak gunung Khan Tengri.


Permata ini turun temurun di simpan dalam perut pempimpin Sekte kami. Sekarang


saatnya Permata Bumi ini kami serahkan kembali pada Elemen ke lima yang baru

__ADS_1


muncul di masa ini untuk melawan kekuatan Anubis.”


__ADS_2