
Suara Gulya menggaung di lingkungan sekitar alun-alun. Semua
orang terdiam terbius dengan alunan suara Gulya. Beberapa penonton tampak
menangis karena turut menjiwai lagu sedih yang dibawakan Gulya. Sedangkan
beberapa penonton yang lain ada yang terbatuk mengeluarkan darah kotor dari
mulutnya, ada pula yang tertidur karena merasa rileks setelah mendengar
suaranya. Wiraksara melirik Hamzah yang tampak meneteskan air mata.
“Anda menangis Tuan Hamzah?”
Hamzah menghapus air matanya lalu berkata
“Gulya menyanyikan lagu tentang kehancuran dunia. Aku takut
banjir besar seperti yang dialami Nabi Nuh, kehancuran Kota Sodom akan terulang
kembali, karena manusia telah banyak berbuat dosa namun mereka justru bangga
dengan dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Atau mungkin ini adalah sebuah
peringatan tentang kedatangan Yajuj Majuj makhluk dari dalam bumi.”
Wiraksara semakin tak mengerti dengan kata-kata Hamzah
Mungkin Tuan Hamzah ini melantur karena terlalu lelah
setelah melakukan perjalanan, pikir Wiraksara.
“Tuan, makhluk seperti apa Yajuj Majuj itu?” Tanya Wiraksara.
Hamzah menghela nafas lalu mulai bercerita
“Mereka adalah makhluk seram yang datang dari bawah tanah,
mereka sangat rakus karena sanggup menghabiskan air sungai untuk minumannya
hingga sungainya mengering dan memakan segala sesuatu yang ditemuinya dalam
perjalanan. Tak peduli hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan semua dimakannya.
Wiraksara bergidik ngeri membayangkan kekejaman yang akan
dialami para penduduk di bumi ketika makhluk-makhluk itu datang.
“Tapi darimana anda tahu hal itu? Siapa orang yang
mengabarkannya?” Tanya Wiraksara.
“Semua itu ada dalam kitab suci kami, kemunculan mereka
adalah sebuah pertanda bahwa kiamat sudah dekat,” kata Hamzah.
Wiraksara menggelengkan kepalanya
“Tidak, kuharap makhluk-makhluk itu tidak pernah menginjakan
kaki di Bumi ini. Aku yakin kiamat masih lama datangnya,” kata Wiraksara.
Hamzah menghela nafas
“Kita tidak pernah tahu kapak kiamat akan terjadi, karena
itu semua adalah rahasia Allah. Tapi jangan kuatir, mereka telah dikurung oleh
Raja Zulkarnain dalam sebuah benteng di bawah tanah yang terletak di antara 2
gunung,” kata Hamzah.
“Aku ingin melihat benteng itu bisakah anda membawa saya ke
sana jika nanti semua urusan ini selesai?”
“Tentu saja, aku akan mengajak kalian ke sana. Nanti kita
akan melewatinya.”
Sementara itu lagu yang dinyanyikan Gulya telah selesai.
Semua orang di alun-alun bertepuk tangan,
suaranya bergemuruh menggetarkan. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras di
sekitaran panggung. Para penonton geger, mereka berteriak ketakutan dan panik.
Terlihat aliran penonton yang berebut meninggalkan alun-alun. Suasana mendadak
kacau, karena panik banyak para penonton yang mati atau terluka karena
terinjak-injak. Sementara itu Gulya sudah terbaring di atas panggung yang porak
poranda karena ledakan itu.
Hamzah terkejut lalu berkata pada Wiraksara
“Aku akan ke sana, sepertinya ini adalah pesan yang
dibawanya, pantas saja sedari tadi dia menyanyikan lagu sedih terus.”
Wiraksara dan Hamzah berkelebat, tak lama kemudian tubuhnya
sudah melayang melewati orang-orang menuju panggung. Bersamaan dengan itu
beberapa orang tampak melayang ke atas panggung lalu mencoba mengambil Gulya yang
tampaknya terluka karena ledakan itu. Beberapa pengikut dalam rombongan Gulya
berusaha mencegah orang-orang itu mengambil Gulya tetapi mereka kalah oleh
orang-orang itu.
Di saat itu Hamzah dan Wiraksara sudah tiba ke atas
panggung. Terdengar suara Gulya yang marah berteriak pada orang-orang yang
mengeroyoknya
__ADS_1
“Pergi…pergi jangan ganggu aku!”
“Apa yang kalian lakukan?! Kalau orangnya tidak mau pergi
jangan dipaksa!” Bentak Hamzah.
Orang-orang yang mencoba membawa Gulya terkejut, sontak
mereka semua menoleh ke arah Hamzah dan Wiraksara. Salah satu di antara
orang-orang itu menghampiri Hamzah dan Wiraksara lalu bertanya
“Siapa kalian? Beraninya kalian menghalangi kami. Serang dia!” Seru salah satu dari para
penyerang Gulya.
Orang-orang itu langsung mengepung Wiraksara dan Hamzah
dengan pedang terhunus. Sejurus kemudian mereka sudah langsung mengeroyok
Wiraksara dan Hamzah. Ternyata orang-orang yang mengeroyok mereka bukanlah
pendekar abal-abal. Mereka benar-benar orang-orang yang berilmu tinggi dengan
pedang pusaka mereka yang berbentuk seperti bulan sabit pedang khas Timur
Tengah. Wiraksara dan Hamzah hanya bisa bertahan melompat ke sana ke mari
menghindari sambaran pedang.
Wiraksara dan Hamzah kewalahan tak mampu membalas serangan
mereka yang begitu cepat dan bertenaga, sehingga mereka terpaksa melompat
mundur menjauh.
“Tuan, siapa mereka? Sepertinya mereka bukan orang-orang
Kazakh, ilmu bela diri mereka benar-benar hebat,” ujar Wiraksara.
“Ya, mereka sepertinya orang Persia, Misr atau Sumeria, tapi
aku masih belum tahu apa tujuan mereka kemari menyerang Gulya. Berhati-hatilah
menghadapi mereka,” jawab Hamzah.
Sebilah pedang
meluncur menyasar wajahnya, Wiraksara menghindari tusukan pedang di wajahnya
sambil melompat mundur. Sekarang Wiraksara hanya bisa melihat kelebatan pedang
mereka di sekeliling tubuhnya. Hingga suatu saat sebuah pukulan bersarang di
dadanya dan salah satu pedang dari penyerangnya membacok bahunya. Wiraksara
berseru tertahan, tubuhnya terbanting ke tanah
“Aaaargh!”
Wiraksara muntah darah, pandangan matanya berkunang-kunang. Mendadak
pukulan para pendekar itu tak dirasakannya lagi. Perlahan tangan Wiraksara berubah menjadi berwarna keperakan. Ilmu Tapak
Tangan Baja dikerahkan untuk melawan para pengeroyoknya karena dirinya tak
bersenjata. Para penyerangnya menatap Wiraksara dengan pandangan terkejut
“Lihat tangan orang itu berubah seperti tangan besi!”
Tubuh Wiraksara berkelebat ke arah orang-orang itu lalu
mulai menyerang mereka. Kali ini dia sudah tidak takut lagi dengan sambaran
pedang para penyerangnya. Sementara Hamzah memandang Wiraksara dengan pandangan
terkejut
“Ilmu Tapak Tangan Baja itu muncul kembali setelah sekian
lama menghilang. Siapa dia? Apa hubungannya dia dengan Tie Shi Pendekar Tangan
Baja?,” gumam Hamzah.
Sambaran pedang mengarah ke pinggangnya membuat Hamzah
terpaksa kembali bertarung. Sementara
itu Wiraksara terlihat memegang sebilah pedang yang mengarah ke tubuhnya.
Pedang itu berhasil dibengkokan membuat orang-orang itu terkejut.
“Pedangku!” Seru orang itu panik.
Wiraksara tak berhenti, dia masih terus menyerang, tangannya
berkelebat menyambar tubuh para penyerangnya. Beberapa penyerangnya terluka
oleh sambaran tangan Wirota yang saat ini setajam pedang.
“Kau menggunakan ilmu sihir apa sehingga tanganmu setajam
pedang?” Tanya salah seorang penyerangnya.
Wiraksara hanya mendengus dan menjawab
“Ini bukan ilmu sihir, pergilah kalian yang sudah
mengacaukan pertunjukan ini!” Seru Wirota sambil tangannya berkelebat menyambar
penyerangnya.
Tangan Wiraksara berkelebat menyongsong ayunan pedang yang
mengarah kepadanya, kembali tangannya bergerak, Wiraksara merunduk menghindari
serangan sementara tangannya mengarah ke perut salah satu penyerangnya.
Sambaran tangan Wiraksara mengenai perut penyerangnya sehingga robohlah
__ADS_1
musuhnya tak bergerak lagi. Sementara itu, Hamzah juga berhasil merobohkan dua
orang lawannya.
Melihat temannya mati terbunuh oleh sambaran tangan
Wiraksara ditambah lagi senjata mereka yang rusak dan teman-teman mereka yang
berhasil dirobohkan Hamzah, tanpa berlama-lama pemimpin gerombolan itu berseru
“Kita lari minta bantuan!”
Orang-orang itu berlarian pergi meninggalkan panggung dalam
keadaan terluka dalam. Wiraksara dan Hamzah menghampiri Gulya yang saat ini
tengah sekarat di atas panggung. Beberapa orang telah mengerumuni wanita bersuara emas itu.
“Nona, kau terluka parah karena ledakan itu.”
Melihat kedatangan Wiraksara wanita itu memanggilnya
“Tuan, mendekatlah kemari!”
Wiraksara mendekat dan berlutut di sisi Gulya yang nafasnya
sudah tinggal satu-satu.
“Tuan, kau adalah penjaga Gadis Suci dari Persia itu kan?”
Wiraksara terkejut, di sebuah tempat yang asing ada orang
yang mengenalnya dan tahu siapa dirinya
“Ya, aku memang yang diberi amanat oleh Tamaz untuk
mengantarkan Maheen anak perempuannya pulang ke Persia dan menjaga permata Api
itu.”
“Dimana gadis itu sekarang?” Tanya Gulya dengan suara lemah.
Wiraksara menghela nafas penuh penyesalan
“Sayangnya di tengah perjalanan Maheen diculik, sekarang
kami masih harus menemukan Maheen dan Permata Api yang mungkin sudah berada di
tangan para penculiknya.”
Pandangan mata Gulya yang semula berbinar tampak meredup,
dia meraih tangan Wiraksara dan menggenggamnya erat-erat
“Tolong temukan Gadis Suci itu dan Permata Api. Jika tidak seseorang yang jahat akan
menggunakannya untuk membangkitkan Anubis. Dia ingin menguasai dunia dengan
bantuan Dewa-dewa yang jahat. Temukan permata yang lain dan lawan mereka.”
Wiraksara kebingungan namun seorang pria tua dari salah satu
anggota rombongan Gulya berkata
“Gulya kemari mengikuti petunjuk roh yang suci untuk
menemukan pengawal elemen ke lima dan permata 4 elemen. Kaulah orang yang dia
cari, dia sudah tahu hari ini sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya, tapi
dia tetap bersikeras kemari mencarimu dan Gadis Suci itu.”
Wiraksara tertegun tak menyangka sampai sejauh ini peran
dirinya dalam perebutan permata 4 elemen itu.
“Cepat, bawa pergi Permata Elemen Bumi yang berada di dalam
perutku ini, selamatkan dunia dari kejahatan Anubis,” Gulya berbicara sembari
meraba perutnya.
Usai berbicara, mata Gulya meredup dan tubuhnya lunglai.
Teman-teman Gulya yang mengiringinya berteriak memanggil namanya dengan sedih
“Gulya…Gulya…jangan pergi, nanti tidak ada lagi yang
menyanyi untuk kesembuhan orang-orang itu!”
Pria tua itu mengambil sebilah belati dari pinggangnya,
kemudian tangannya bergerak membedah perut Gulya. Wiraksara dan orang-orang di
sekitarnya berseru tertahan.
“Hei apa yang kau lakukan?! Kau gila membedah perut mayat!”
Seru Hamzah dengan marah.
Pria tua itu tak menjawab, tangannya merogoh sesuatu di
dalam perut Gulya. Orang-orang yang tak tahan melihatnya segera pergi dari
tempat itu sambil muntah-muntah. Pria tua itu kemudian menarik tangannya dan
terlihat sebuah permata berwarna hijau sebesar telur ayam kampung berada di
tangannya.
“Permata Bumi ini berada di Sekte kami Sekte Bumi Hijau ribuan
tahun lamanya sejak banjir besar itu. Setelah banjir besar surut, leluhur kami
mengembara hingga akhirnya kami menetap di sini di puncak gunung Khan Tengri.
Permata ini turun temurun di simpan dalam perut pempimpin Sekte kami. Sekarang
saatnya Permata Bumi ini kami serahkan kembali pada Elemen ke lima yang baru
__ADS_1
muncul di masa ini untuk melawan kekuatan Anubis.”