
Mereka berdua membentangkan selimut dan menutupi kuda dan
diri mereka dengan selimut itu. Dalam hati Ma Jingtao berdoa agar badai segera
berlalu. Di gurun pasir bisa saja badai terjadi selama beberapa jam tetapi
terkadang badai pasir berlangsung dalam jangka waktu yang singkat.
Satu jam kemudian badaipun mulai mereda, namun angin masih bertiup
walaupun sudah tidak sekencang tadi dan
debu pasir masih berterbangan. Ma Jingtao dan Chen Nie mengintip dari selimut
mereka. Lamat-lamat Ma Jingtao mendengar
ada suara derap kaki kuda mendekat, suara itu makin dekat dan samar-samar di
bawah sinar bulan purnama dia melihat bayangan sekelompok orang berkuda datang
menerjang debu pasir. Sosok mereka tidak begitu jelas karena keterbatasan pandangan di malam hari sehingga Ma Jingtao
tidak dapat memperkirakan berapa jumlah mereka dan tidak dapat mendeteksi
apakah mereka kawan atau lawan.
“Siapa mereka?” Tanya Chen Nie.
“Aku tidak tahu apakah mereka musuh atau bukan. Sebaiknya kita tunggu saja, jika mereka
menyerang kita akan bergerak melawan,” jawab Majingtao.
Suara itu makin dekat dengan lokasi mereka, tak lama
kemudian Setelah cukup dekat tiba-tiba Ma Jingtao merasakan sambaran angin,
reflek dia menunduk.
“Chen Nie, hati-hati!”
Chen Nie yang hendak bangkit kembali tiarap, beberapa orang
menyambarkan pedang ke arah mereka. Sambaran pedang itu luput, orang-orang itu
berhenti dan berbalik ke arah mereka dan bersiap menyambarkan pedangnya kembali.
Ma Jing Tao dan Chen Nie serentak menghunus pedang menghadang serangan
orang-orang itu. Badai pasir sudah mereda, sekarang Ma Jingtao dapat melihat
lebih jelas, orang-orang itu adalah sekelompok orang berpakaian serba hitam.
Tidak jelas apakah mereka anggota sekte dari golongan hitam, perampok atau
orang-orang Mongol. Tapi sekarang dia sudah dapat menghitung kekuatan musuh,
jumlah mereka sekitar 7 orang lengkap dengan senjata pedang.
Pedang Ma Jingtao berkelebat, satu orang berhasil dijatuhkan
dari kuda. Temannya yang lain kembali menyerang.
Kembali terdengar bunyi suara pedang beradu dan Chen Nie
berhasil merobohkan satu orang lagi. Orang itu mati tertusuk pedang di perutnya,
__ADS_1
sekarang tinggal 5 orang lagi yang harus mereka hadapi.
“Siapa kalian dan apa maksud kalian menyerang kami?!” Bentak
Ma Jingtao.
Namun orang-orang itu tak menjawab dan tetap menyerang
mereka berdua. Kembali terdengar suara denting pedang beradu. Ma Jingtao menyapu
orang-orang itu tanpa ampun. Satu per satu orang-orang itu dihabisi oleh mereka
berdua, hingga tinggal satu orang yang masih tersisa, tampaknya dia adalah
pemimpin gerombolan itu.
“Sekarang kau tinggal sendirian saja, kalau kau masih ingin
tetap hidup, katakan siapa kalian dan mengapa kalian menyerang kami?!” Tanya Ma
Jingtao.
Orang itu tampak terkejut, ada sedikit keraguan di wajahnya,
melihat orang di depannya mulai tampak meragu, Ma Jingtao melanjutkan kata-katanya
“Jika kau bersedia mengatakan siapa kalian, aku akan
melepaskan kalian!”
Tetapi orang itu bukannya menyerah, walaupun di sekujur
tubuhnya sudah dipenuhi dengan cacahan pedang, dia tetap kembali menyerang Ma
Jingtao dan Chen Nie.
Pertarungan kembali berlanjut, pria itu mulai tampak
kelelahan dan serangannya mulai tidak akurat. Ma Jingtao berusaha melumpuhkannya,
dia tak ingin membunuhnya karena dia masih ingin tahu siapa orang itu
sebenarnya. Hingga akhirnya sebuah tendangan dari Ma Jingtao berhasil mengenai
ulu hatinya. Orang itu berseru tertahan dan robohlah dia seketika.
Saat dia roboh, ujung pedang Chen Nie langsung di arahkan ke
leher orang itu.
“Siapa kau dan mengapa kau menyerang kami?” Tanya Chen Nie.
Wajah orang itu berubah pucat pasi, namun dia masih tak
bersedia memberitahu siapa dirinya
“Aku tidak akan pernah mengatakannnya.”
Ma Jingtao terkejut, sebelum dia bertindak lebih jauh dari
mulut orang itu keluar darah segar dan matilah dia.
“Sial, dia bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri!”
Ma Jingtao menggeledah tubuh orang itu sedangkan Chen Nie
__ADS_1
yang tampak lelah berkata
“Ayo cepat kita harus segera pergi dari sini!” Seru Chen
NIe.
“Tunggu aku harus memeriksa orang ini! kau periksalah mayat yuang lainnya, siapa tahu kita menemukan petunjuk," perintah Ma Jingtao.
Saat merogoh kantongnya Ma Jingtao menemukan sebuah lencana
dari batu giok yang sangat dikenalnya. Lencana tanda pengenal anggota
Dhongchang. Ma Jingtao tertegun ternyata mereka diserang oleh orang-orang
istana juga. Diliriknya Chen Nie yang masih memeriksa mayat anggota gerombolan
yang lain.
Sebaiknya aku tidak usah memberitahu Chen Nie karena ternyata
mereka orang-orang Dhongchang. Tapi masa dia tidak tahu kalau yang menyerang
adalah orang-orang Dhongchang? Kurasa ini pasti ada hubungannya dengan hilangnya stempel Kaisar yang sampai saat ini masih bellum ketemu, batin Ma Jingtao.
“Chen Nie aoa yang kau temukan?”
Chen Nie menggeleng lalu berkata
“Aku tak menemukan apapun, sepertinya mereka cuma begal
biasa yang mungkin ingin merampok uang kita.”
“Baiklah, kalau begitu kita harus segera pergi dari tempat
ini,” kata Ma Jingtao sambil naik ke pelana kudanya lalu menghelanya ke arah barat
diikuti dengan Chen NIe.
****
Sementara itu di Bukhara, Jamal Budak Pangeran Shaktar mulai membaik keadaannya, Wiraksara mendatanginya di kamarnya bersama tabib untuk melihat kondisinya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Wiraksara.
"Dia sudah mulai membaik, tapi masih perlu waktu untuk menyembuhkan lukanya," jawab Tabib.
Usai merawat dan mengobati Jamal tabib itu memberikan obat lalu berpamitan
"Besok aku akan kemari lagi, berikan obat itu kepadanya sehari tiga kali."
Setelah tabib itu pergi Wiraksara mulai menginterogasi Jamal
"Apa rencana Shaktar selanjutnya? Apakah Maheen dibawa bersamanya?"
Dengan suara lemah Jamal menjawab
"Gadis Persia itu sekarang telah dikuasai Pangeran Shaktar, dia sekarang sedang memburu Permata Bumi dan Air, setelah dia menguasai kelima elemen itu, dia akan memperoleh kekuatan Dewa Anubis. Setelah itu dia akan menjadi penguasa dunia seperti Jenghiz Khan."
"Tapi permata Bumi dan Air masih belum dikuasainya, dimana dia akan mencarinya?" Tanya Wiraksara.
"Pangeran Shaktar sudah tahu kemana dia harus mencari, Sekte Air Perak yang menguasai Permata Air kini sedang bergerak ke Kuil Kahyangan Api mencari Permata Api itu. Sekarang Pangeran Shaktar sedang menuju ke kuil Kahyangan Api menunggu orang-orang yang menguasai permata elemen yang lain datang, Setelah itu dia akan menjebak mereka lalu menguasai permatanya. Berita tentang permata Azura Mahda telah tersebar di kalangan para pemburu benda mustika. Kurasa saat ini mereka juga tengah menuju ke Kuil Kahyangan Api memburu permata yang lainnya," jawab Jamal.
"Di mana Shaktar tinggal bersama para pengikutnya?" Tanya Wiraksara.
"Kami tinggal di Misr di Lembah Para Raja, Selama ratusan tahun leluhur kami tinggal di sana di antara pebukitan batu menjaga agar piramida-piramida itu tidak di jarrah orang."
__ADS_1
"Siapa Shaktar sebenarnya?"
"Dia adalah keturunan Firaun terakhir, di masa lalu setelah orang-orang Rum menguasai Misr, kami terdesak mundur dan bersembunyi di Lembah Para Raja menyamar sebagai rakyat jelata sampai sekarang. Pangeran Shaktar ingin membangkitkan kembali kekuasaan leluhurmya dan mengusir bangsa Arab yang saat ini menguasai Misr. Itulah sebabnya, setelah membaca catatan kuno yang ditemukan di Kuil kami, Pangeran Shaktar telah mendapatkan cara untuk memperoleh kekuatan Dewa Anubis. Tuan, cegahlah Pangeran Shaktar sebelum dia bertindak lebih jauh. Pangeran Shaktar selain kejam dan berbahaya, dia juga menguasai ilmu sihir peninggalan leluhurnya," kata Jamal.