
Yongle terdiam jika isterinya memulai membicarakan masalah
ini, dia teringat kembali dengan apa yang telah di lakukan Kaisar Hongwe
ayahnya terhadap mertuanya yang telah banyak berjasa dalam pendirian dinasti
Ming. Sikap paranoid ayahnya karena ketakutannya akan di kudeta oleh
orang-orang terdekatnya membuatnya membunuhi orang-orang yang dulu pernah
berjasa kepadanya karena takut mereka akan balik memberontak terhadapnya.
Bahkan besannya sendiri dibunuh secara halus melalui makanan.
“Tidak bisa Yihua, sebagai kaisar aku harus bertindak tegas
mempertahankan tahta ini. Bagaimana jika anak cucu mereka balas dendam terhadap
kita?” Tanya Yongle.
Xu Yihua menghela nafas berat, menjadi seorang permaisuri
kaisar sebuah negara besar tidak membuatnya bahagia dan bangga, apalagi tahta
itu didapat suaminya dengan cara mengkudeta keponakannya sendiri. Sudah terlalu banyak pelanggaran HAM yang
dilakukan suaminya terhadap lawan-lawan politiknya. Pembunuhan sampai 9
keturunan, penyiksaan yang sangat kejam dilakukan oleh Yongle terhadap lawan
politiknya bahkan terhadap teman-temannya yang dulu pernah membantunya berjuang
merebut tahta hanya karena ketakutannya sendiri kuatir jika teman-temannya yang
memiliki massa kelak akan mengkudetanya.
Xu Yihua tiba-tiba terisak, air mata meleleh dari pipinya
membuat Yongle kuatir. Dipeluknya isterinya sambil membelai rambutnya
“Sayangku, apa yang membuatmu sedih?”
Sambil terisak Yihua berkata
“Suamiku, apakah kau tidak pernah merasa bahwa penyakitku
ini adalah hukuman dari Thian? Tidakkah kau sadar suatu saat nanti kau akan
mendapatkan balasan yang serupa dari Thian. Seharusnya aku dapat mencegah
perbuatanmu, tetapi kenyataannya aku hanya diam menonton kekejaman yang telah
kau lakukan selama ini. Lalu kau mengangkatku sebagai seorang Ratu di negeri
ini …ah, suamiku kau telah menjadikanku Ratu di atas penderitaan manusia lain.”
Yihua menggenggam tangan Yongle, memandangnya lekat-lekat
“Sadarlah suamiku, kita berdiri di atas tulang-tulang
orang-orang yang tidak berdosa, kita telah merenggut kehidupan mereka dengan
paksa hanya demi memenuhi nafsu akan kekuasaan dan harta. Bahkan terhadap
Jianwen keponakanmu sendiri kau tega.”
Yongle hanya termangu-mangu mendengar kata-kata isterinya
apa yang dikatakan istrinya adalah suatu kebenaran yang tak terbantahkan. Namun
sebagai seorang Kaisar yang berkuasa, Yongle tak mau dipersalahkan.
“Yihua, kau boleh saja menganggapku kejam, tapi kalau
Jianwen yang menjadi Raja, negara ini akan kembali dikuasai bangsa asing. Aku
melakukannya demi menyelamatkan negara dan rakyat China. Merebut China dari
tangan Dinasti Yuan Mongol adalah hal
yang sulit. Kalau kau biarkan Jianwen
Kaisar lemah itu menjadi Raja, dia akan menghancurkan negara ini dan bangsa
China akan kembali dikuasai bangsa Mongol yang masih saja mengganggu kita di
perbatasan,” tukas Yongle.
Permaisuri Xu memandang suaminya dengan tatapan putus asa
kemudian berkata dengan sedih
“Ah, kau selalu saja banyak alasan pembenaran atas semua
__ADS_1
tindakanmu.”
Sebelum Yongle sempat menyanggah kembali, terdengar suara
Kasim di luar kamar isterinya berteriak
“Nyonya Xu Miaojin dataaang!”
Yongle tertegun mendengar nama adik iparnya, jantungnya
berdebar setiap kali mendengar nama adik iparnya itu di sebut. Miaojin Putri ke
4 Jenderal Xu Da yang cantik, adik bungsu isterinya telah menawan hatinya sejak
awal. Namun orangtuanya terlanjur menjodohkannya dengan Xu Yihua putri Xu
Da tertua yang sudah cukup umur untuk
menikah. Xu Yihua memang tidak secantik
Miaojin tetapi dia adalah seorang wanita cerdas dan seorang politikus muda yang
handal. Miaojin ketika itu masih berusia
14 tahun, namun kecantikannya begitu memukaunya bagaikan bunga Bwe (Sakura)
yang bermekaran di musim semi.
Melihat kecantikan Miaojin, Yongle meminta orangtuanya menikahkannya
dengan Miaojin namun orangtuanya menolak dengan alasan Miaojin masih terlalu
kecil. Ketika Miaojin sudah cukup umur untuk menikah, Yongle bermaksud
mengambilnya sebagai selir, namun orang tuanya telah menjodohkannya dengan
seorang pejabat muda dari klan Lin. Takut
jika Yihua sampai tahu bahwa dia menyukai Miaojin, Yongle kemudian menutupi
perasaannya terhadap Miaojin jika di depan isterinya.
Tak lama kemudian datanglah Miaojin ke kamar istrinya
bersama dayangnya membawa keranjang makanan. Di usianya yang ke 35 tahun, janda
pejabat Lin itu masih cantik dan menarik. Kerutan di wajahnya tidak tampak sama
sekali hanya tubuhnya saja yang lebih berisi. Namun hal itu justru menambah
Lama tidak bertemu denganmu, kau masih saja tampak cantik
walaupun umurmu bertambah, batin Yongle.
Melihat kakak iparnya Kaisar Yongle berada di situ, Miaojin
dan dayangnya berlutut memberi salam dan hormat kepada kaisar.
"Kaisar Yongle, terimalah salam hormat kami," ujar
Miaojin.
Yongle mengangguk dan berkata
"Adik ipar, silahkan jika ingin menengok kakakmu, Yihua
sudah tampak sehat hari ini. Dia sangat merindukanmu setelah sekian lama tidak
bertemu.”
Yongle mengecup kening isterinya dan berkata dengan lembut
“Yihua, aku pergi dulu, Gaoxu akan bertempur di Annam, aku
mau melihat persiapan perang mereka."
Yihua mengangguk dan tersenyum
“Sebelum pergi, suruh Gaoxu menjengukku. Aku merindukannya
setelah lama tak bertemu.”
Yongle mengangguk menggenggam tangan isterinya
“Belakangan ini dia memang sering kuperintahkan menjaga
perbatasan utara jadi dia sudah mulai jarang pulang. Baiklah sebelum pergi ke
Annam, akan kuingatkan dia untuk menjengukmu.”
Yongle berlalu dari kamar isterinya diiringi oleh Kasimnya.
Sementara Miaojin segera masuk ke kamar Yihua. Miaojin terkejut melihat kondisi kakaknya yang berubah drastis, 6 bulan
__ADS_1
yang lalu tubuh kakaknya masih tampak berisi, kini wajahnya bagaikan tengkorak
hidup yang tergolek lemah di ranjang.
"Kakak, tubuhmu kurus sekali, apa yang terjadi denganmu
sehingga kau bisa seperti ini?" Tanya Miaojin sambil menangis sedih
memeluk kakaknya yang sakit.
"Miaojin, jangan menangis, aku baik-baik saja, jika
memang saatnya aku harus mati aku sudah siap. Semoga kelak aku dapat
bereinkarnasi dan bertemu denganmu lagi di kehidupan yang baru," kata Yihua.
Miaojin hanya bisa mengangguk sedih, dia memeluk kakaknya
dan berkata
“Kuharap kita tetap menjadi saudara lagi setelah
bereinkarnasi.”
Miaojin menyuruh
dayangnya mengeluarkan barang bawaannya lalu berkata
"Kakak, aku membawakanmu Sup Sarang Burung Walet
kesukaanmu. Cobalah selagi panas, aku baru saja memanaskannya di dapur
istana."
Dengan telaten Miaojin menyuapi kakaknya, sementara Yi Hua
yang sudah tak berselera makan memaksakan diri menelan sup kesukaannya. Namun
saat ini semua makanan yang masuk ke mulutnya seolah tak berasa dan jika
menelan kerongkongannya terasa sakit. Tak heran tubuhnya semakin kurus karena
susah makan.
Miaojin tersenyum gembira ketika kakaknya berhasil
menghabiskan satu mangkuk supnya.
"Sup ini baik untuk kesehatanmu. Ini masih ada sisa
bisa untuk dimakan nanti," kata Miaojin sambil meletakan tempat sup di
meja kamar Yihua.
“Terimakasih Miaojin, ah…seharusnya kau tak perlu repot
begini,” ujar Yihua.
Yihua ingin menyampaikan sesuatu kepada Miaojin adiknya,
namun dia sangat sulit untuk mengutarakan hal itu. Sebagai wanita dia tahu
Yongle suaminya sebenarnya lebih tertarik kepada Miaojin. Pernikahannya dengan
Yongle adalah pernikahan politis karena Kaisar Hongwu ayah Yongle saat itu
memerlukan dukungan dari Jenderal Xu Da ayahnya untuk memberontak terhadap
kekuasaan Dinasti Yuan penjajah negeri China dari bangsa Mongolia.
"Miaojin, suruh dayangmu itu menunggumu di luar, ada
yang ingin kubicarakan denganmu," kata Yi Hua dengan suara lemah.
Miaojin walaupun merasa heran akhirnya memenuhi permintaan
kakaknya
"Kau keluarlah, ada yang ingin kau bicarakan dengan
kakakku," perintah Miaojin kepada dayangnya.
Yihua memberikan tanda kepada dayangnya agar keluar dari
kamarnya. Setelah tidak ada lagi orang lain di kamar itu selain mereka berdua
tibalah saatnya Yihua mengatakan suatu hal yang telah menjadi ganjalannya
selama bertahun-tahun.
"Miaojin, mungkin hidupku akan berakhir tak lama lagi,
aku mohon agar kau bisa memenuhi permintaanku yang terakhir," kata Yihua.
__ADS_1
Miaojin terkejut, seketika perasaan cemas menderanya
"Apa itu Kak?"