KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Permintaan Terakhir


__ADS_3

Yongle terdiam jika isterinya memulai membicarakan masalah


ini, dia teringat kembali dengan apa yang telah di lakukan Kaisar Hongwe


ayahnya terhadap mertuanya yang telah banyak berjasa dalam pendirian dinasti


Ming. Sikap paranoid ayahnya karena ketakutannya akan di kudeta oleh


orang-orang terdekatnya membuatnya membunuhi orang-orang yang dulu pernah


berjasa kepadanya karena takut mereka akan balik memberontak terhadapnya.


Bahkan besannya sendiri dibunuh secara halus melalui makanan.


“Tidak bisa Yihua, sebagai kaisar aku harus bertindak tegas


mempertahankan tahta ini. Bagaimana jika anak cucu mereka balas dendam terhadap


kita?” Tanya Yongle.


Xu Yihua menghela nafas berat, menjadi seorang permaisuri


kaisar sebuah negara besar tidak membuatnya bahagia dan bangga, apalagi tahta


itu didapat suaminya dengan cara mengkudeta keponakannya sendiri.  Sudah terlalu banyak pelanggaran HAM yang


dilakukan suaminya terhadap lawan-lawan politiknya. Pembunuhan sampai 9


keturunan, penyiksaan yang sangat kejam dilakukan oleh Yongle terhadap lawan


politiknya bahkan terhadap teman-temannya yang dulu pernah membantunya berjuang


merebut tahta hanya karena ketakutannya sendiri kuatir jika teman-temannya yang


memiliki massa kelak akan mengkudetanya.


Xu Yihua tiba-tiba terisak, air mata meleleh dari pipinya


membuat Yongle kuatir. Dipeluknya isterinya sambil membelai rambutnya


“Sayangku, apa yang membuatmu sedih?”


Sambil terisak Yihua berkata


“Suamiku, apakah kau tidak pernah merasa bahwa penyakitku


ini adalah hukuman dari Thian? Tidakkah kau sadar suatu saat nanti kau akan


mendapatkan balasan yang serupa dari Thian. Seharusnya aku dapat mencegah


perbuatanmu, tetapi kenyataannya aku hanya diam menonton kekejaman yang telah


kau lakukan selama ini. Lalu kau mengangkatku sebagai seorang Ratu di negeri


ini …ah, suamiku kau telah menjadikanku Ratu di atas penderitaan manusia lain.”


Yihua menggenggam tangan Yongle, memandangnya lekat-lekat


“Sadarlah suamiku, kita berdiri di atas tulang-tulang


orang-orang yang tidak berdosa, kita telah merenggut kehidupan mereka dengan


paksa hanya demi memenuhi nafsu akan kekuasaan dan harta. Bahkan terhadap


Jianwen keponakanmu sendiri kau tega.”


Yongle hanya termangu-mangu mendengar kata-kata isterinya


apa yang dikatakan istrinya adalah suatu kebenaran yang tak terbantahkan. Namun


sebagai seorang Kaisar yang berkuasa, Yongle tak mau dipersalahkan.


“Yihua, kau boleh saja menganggapku kejam, tapi kalau


Jianwen yang menjadi Raja, negara ini akan kembali dikuasai bangsa asing. Aku


melakukannya demi menyelamatkan negara dan rakyat China. Merebut China dari


tangan Dinasti Yuan  Mongol adalah hal


yang sulit.  Kalau kau biarkan Jianwen


Kaisar lemah itu menjadi Raja, dia akan menghancurkan negara ini dan bangsa


China akan kembali dikuasai bangsa Mongol yang masih saja mengganggu kita di


perbatasan,” tukas Yongle.


Permaisuri Xu memandang suaminya dengan tatapan putus asa


kemudian berkata dengan sedih


“Ah, kau selalu saja banyak alasan pembenaran atas semua

__ADS_1


tindakanmu.”


Sebelum Yongle sempat menyanggah kembali, terdengar suara


Kasim di luar kamar isterinya berteriak


“Nyonya Xu Miaojin dataaang!”


Yongle tertegun mendengar nama adik iparnya, jantungnya


berdebar setiap kali mendengar nama adik iparnya itu di sebut. Miaojin Putri ke


4 Jenderal Xu Da yang cantik, adik bungsu isterinya telah menawan hatinya sejak


awal. Namun orangtuanya terlanjur menjodohkannya dengan Xu Yihua putri Xu


Da  tertua yang sudah cukup umur untuk


menikah.  Xu Yihua memang tidak secantik


Miaojin tetapi dia adalah seorang wanita cerdas dan seorang politikus muda yang


handal.  Miaojin ketika itu masih berusia


14 tahun, namun kecantikannya begitu memukaunya bagaikan bunga Bwe (Sakura)


yang bermekaran di musim semi.


Melihat kecantikan Miaojin, Yongle meminta orangtuanya menikahkannya


dengan Miaojin namun orangtuanya menolak dengan alasan Miaojin masih terlalu


kecil. Ketika Miaojin sudah cukup umur untuk menikah, Yongle bermaksud


mengambilnya sebagai selir, namun orang tuanya telah menjodohkannya dengan


seorang pejabat muda dari klan Lin.  Takut


jika Yihua sampai tahu bahwa dia menyukai Miaojin, Yongle kemudian menutupi


perasaannya terhadap Miaojin jika di depan isterinya.


Tak lama kemudian datanglah Miaojin ke kamar istrinya


bersama dayangnya membawa keranjang makanan. Di usianya yang ke 35 tahun, janda


pejabat Lin itu masih cantik dan menarik. Kerutan di wajahnya tidak tampak sama


sekali hanya tubuhnya saja yang lebih berisi. Namun hal itu justru menambah


Lama tidak bertemu denganmu, kau masih saja tampak cantik


walaupun umurmu bertambah, batin Yongle.


Melihat kakak iparnya Kaisar Yongle berada di situ, Miaojin


dan dayangnya berlutut memberi salam dan hormat kepada kaisar.


"Kaisar Yongle, terimalah salam hormat kami," ujar


Miaojin.


Yongle mengangguk dan berkata


"Adik ipar, silahkan jika ingin menengok kakakmu, Yihua


sudah tampak sehat hari ini. Dia sangat merindukanmu setelah sekian lama tidak


bertemu.”


Yongle mengecup kening isterinya dan berkata dengan lembut


“Yihua, aku pergi dulu, Gaoxu akan bertempur di Annam, aku


mau melihat persiapan perang mereka."


Yihua mengangguk dan tersenyum


“Sebelum pergi, suruh Gaoxu menjengukku. Aku merindukannya


setelah lama tak bertemu.”


Yongle mengangguk menggenggam tangan isterinya


“Belakangan ini dia memang sering kuperintahkan menjaga


perbatasan utara jadi dia sudah mulai jarang pulang. Baiklah sebelum pergi ke


Annam, akan kuingatkan dia untuk menjengukmu.”


Yongle berlalu dari kamar isterinya diiringi oleh Kasimnya.


Sementara Miaojin segera masuk ke kamar Yihua.  Miaojin terkejut melihat kondisi kakaknya yang berubah drastis, 6 bulan

__ADS_1


yang lalu tubuh kakaknya masih tampak berisi, kini wajahnya bagaikan tengkorak


hidup yang tergolek lemah di ranjang.


"Kakak, tubuhmu kurus sekali, apa yang terjadi denganmu


sehingga kau bisa seperti ini?" Tanya Miaojin sambil menangis sedih


memeluk kakaknya yang sakit.


"Miaojin, jangan menangis, aku baik-baik saja, jika


memang saatnya aku harus mati aku sudah siap. Semoga kelak aku dapat


bereinkarnasi dan bertemu denganmu lagi di kehidupan yang baru," kata Yihua.


Miaojin hanya bisa mengangguk sedih, dia memeluk kakaknya


dan berkata


“Kuharap kita tetap menjadi saudara lagi setelah


bereinkarnasi.”


 Miaojin menyuruh


dayangnya mengeluarkan barang bawaannya lalu berkata


"Kakak, aku membawakanmu Sup Sarang Burung Walet


kesukaanmu. Cobalah selagi panas, aku baru saja memanaskannya di dapur


istana."


Dengan telaten Miaojin menyuapi kakaknya, sementara Yi Hua


yang sudah tak berselera makan memaksakan diri menelan sup kesukaannya. Namun


saat ini semua makanan yang masuk ke mulutnya seolah tak berasa dan jika


menelan kerongkongannya terasa sakit. Tak heran tubuhnya semakin kurus karena


susah makan.


Miaojin tersenyum gembira ketika kakaknya berhasil


menghabiskan satu mangkuk supnya.


"Sup ini baik untuk kesehatanmu. Ini masih ada sisa


bisa untuk dimakan nanti," kata Miaojin sambil meletakan tempat sup di


meja kamar Yihua.


“Terimakasih Miaojin, ah…seharusnya kau tak perlu repot


begini,” ujar Yihua.


Yihua ingin menyampaikan sesuatu kepada Miaojin adiknya,


namun dia sangat sulit untuk mengutarakan hal itu. Sebagai wanita dia tahu


Yongle suaminya sebenarnya lebih tertarik kepada Miaojin. Pernikahannya dengan


Yongle adalah pernikahan politis karena Kaisar Hongwu ayah Yongle saat itu


memerlukan dukungan dari Jenderal Xu Da ayahnya untuk memberontak terhadap


kekuasaan Dinasti Yuan penjajah negeri China dari bangsa Mongolia.


"Miaojin, suruh dayangmu itu menunggumu di luar, ada


yang ingin kubicarakan denganmu," kata Yi Hua dengan suara lemah.


Miaojin walaupun merasa heran akhirnya memenuhi permintaan


kakaknya


"Kau keluarlah, ada yang ingin kau bicarakan dengan


kakakku," perintah Miaojin kepada dayangnya.


Yihua memberikan tanda kepada dayangnya agar keluar dari


kamarnya. Setelah tidak ada lagi orang lain di kamar itu selain mereka berdua


tibalah saatnya Yihua mengatakan suatu hal yang telah menjadi ganjalannya


selama bertahun-tahun.


"Miaojin, mungkin hidupku akan berakhir tak lama lagi,


aku mohon agar kau bisa memenuhi permintaanku yang terakhir," kata Yihua.

__ADS_1


Miaojin terkejut, seketika perasaan cemas menderanya


"Apa itu Kak?"


__ADS_2