
“Ah sudahlah kau
memang kakak yang pelit mau menang sendiri saja,” ujar Xianning sambil berlalu.
Wiraksara hanya menggelengkan kepalanya
Ini Puteri Keraton tapi gayanya nyal-nyalan, menthel kaya
ledhek begitu, payah juga keong racun satu ini, batin Wiraksara.
Dilihatnya Gaochi sudah selesai berbicara dengan adiknya.
Wiraksara segera menyapa dan memberinya salam hormat.
“Siapa namamu?” Tanya Pangeran Gaochi.
“Saya Wiraksara Pangeran, tetapi jika anda kesulitan
menyebut nama saya, panggil saja saya dengan nama Sala.”
Pangeran Gaochi tersenyum dan berkata
“Ha ha ha ha baiklah Sala namamu memang sulit untuk
diucapkan, silahkan masuk!”
Wiraksara mengikuti Pangeran pertama ke kompleknya. Di sana
Gaochi menunjukan karya-karya lukisannya, kaligrafi dan puisi. Di rak pajangan terpajang barang-barang
pemberian dari negara sahabat. Ada pedang samurai pemberian kaisar Jepang, patung
Budha dari Tibet dan banyak lagi souvenir-suvenir dari kerajaan sahabat
termasuk gading gajah berukir pemberian Raja Hayam Wuruk.
“Nah gading gajah ini pemberian Raja Hayam Wuruk, gading
gajah yang sangat besar dan indah,” kata Pangeran Gaochi.
Wiraksara tertawa danberkata
“Ya, gajah memang banyak di wilayah kami, nanti kalau sudah
bebas saya akan membawakan gading gajah lagi untuk anda.”
Saat itu di pulau Jawa masih terdapat banyak gajah terutama
di daerah Wengker. Tetapi karena sering diburu untuk diambil gadingnya, gajah
di pulau Jawa lama-kelamaan punah seperti halnya harimau Jawa.
Ternyata pangeran Gaochi sangat menyukai karya sastra dan
seni. Ada beberapa lukisan yang dilukisnya sendiri dan beberapa lukisan yang
dilukis oleh seniman kerajaan. Dari semua lukisan yang dimilikinya ada satu
lukisan yang menarik perhatian Wiraksara. Lukisan itu adalah lukisan seorang
gadis yang sangat cantik dengan pakaian yang berbeda dengan pakaian suku Han
pada umumnya.
“Lukisan ini kau yang melukisnya?” Tanya Wiraksara.
“Oh yang itu bukan, lukisan ini dilukis oleh salah satu
utusanku yang berkunjung ke Uighur menemui kepala suku di sana. Gadis yang
cantik bukan?” Tanya Gaochi seolah tahu apa yang dipikirkan Wiraksara.
Wiraksara sedikit terkejut karena sang pangeran tahu apa
yang dipikirkannya namun dia hanya menanggapinya dengan tersenyum.
“Dia gadis dari suku Uighur namanya Atara. Kau tahu Sala,
gadis Uighur memang terkenal dengan kecantikannya yang mempesona. Tapi diantara
semua benda seni ini aku paling menyukai pedang pemberian Raja Persia,” ujar
Gaochi sambil menunjukan sebuah pedang khas Persia.
Pedang berbentuk bulan sabit itu sarungnya terbuat dari emas
bertahtakan intan permata. Pangeran Gaochi melolos pedangnya dan terlihatlah pamor
yang indah di bilahnya. Tanpa sadar Wiraksara berdesis
“Benar-benar pedang mustika yang sangat indah sekaligus
hebat.”
“Benar, pedang ini adalah pedang yang hebat, aku akan
__ADS_1
menunjukan lehebatannya kepadamu,” kata Pangeran Gaochi.
Pangeran Pertama itu mengajak Wiraksara ke halaman rumahnya,
di situ ada batu besar penghias taman.
“Lihat, ini batu asli yang keras. Pedang ini akan kugunakan
untuk membelah batu ini.”
Pangeran Gaochi mengangkat pedangnya dan memotong batu besar
itu
“Traaang!”
Terdengar bunyi pedang beradu dengan batu begitu kerasnya
sehingga bunga api meletik di sekitarnya. Ketika pedang diangkat, batu itu
sudah terbelah dua dengan rapi. Hanya dalam sekali potong batu sudah terbelah dengan
mudahnya seperti memotong roti.
Ketika sedang asyik bercakap-cakap datanglah Pangeran kedua
Gaoxu. Melihat Wiraksara berada di situ Gaoxu menegur kakaknya
“Kakak, mengapa kau mengotori istanamu dengan mengundang
budak ini? Bukankah dia seharusnya berada di kandang kuda?”
Bergemuruh dada Wiraksara mendengar ucapan Gaoxu yang
menyakitkan hati.
Seharusnya kalian memperlakukan aku dengan sepantasnya bukan
dihinakan disuruh bekerja sebagai pengurus kuda. Aku adalah Duta Besar mewakili
Kerajaan Majapahit. Jika kalian menghinaku itu sama saja dengan kalian menghina
Majapahit, batin Wiraksara.
Wiraksara masih mencoba bersabar, dia tak ingin mencari
masalah dengan Gaoxu di depan Gaochi yang memperlakukannya dengan lebih
beretika.
Jadi bersikap sopanlah terhadap tamu di rumahku!” Tegur Gauchi kepada adiknya.
“Oh kau yang mengundangnya, maaf aku tidak tahu, sebagai
Tuan Rumah yang baik, setelah ini aku akan ganti mengundangmu ke kediamanku.
Bukankah begitu Kak?” Ujar Gaoxu sambil menoleh kepada Gaochi.
Gaochi yang sudah kenal betul dengan tabiat adiknya hanya
diam saja sambil menatap adiknya dengan pandangan tak suka. Dia mendekati
adiknya lalu berkata lirih.
“Pergilah dari kediamanku, kau telah merusak acaraku.”
Wajah Gaoxu seketika membesi, tanpa berkata apa-apa dia
berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu bersama pengiringnya. Setelah Gaoxu
pergi Pangeran Pertama itu menghela nafas panjang dan berkata kepada Wiraksara.
“Maafkan kelakuan adikku yang tidak sopan tadi. Aku akan
usul kepada ayah untuk memindahkanmu ke komplek penginapan tamu negara agar dia
tidak memperlakukanmu lagi dengan tidak sopan.
“Tidak apa-apa, aku maklum, baiklah kurasa aku harus segera
kembali ke tempatku. Pekerjaan di sana sudah menumpuk, kasihan Paman Tie Shi
jika harus bekerja sendirian,” kata Wiraksara.
“Oh ya, maaf aku sudah terlalu lama menahanmu di sini,
silahkan,” kata Pangeran Gaochi.
Wiraksara segera kembali ke tempatnya bekerja, dia berjalan
keluar dari kekomplek kediaman Gaochi pulang ke pondoknya. Namun melewati
kediaman Pangeran Gaoxu tiba-tiba seorang prajurit menghampirinya dan berkata
“Pangeran Gaoxu mengundangmu ke kediamannya, kuharap kau
__ADS_1
bersedia memenuhi undangannya.”
Terkesiap Wiraksara mendengar permintaan prajurit itu. Dia
tahu Gaoxu mengundangnya pasti bukan dengan maksud yang baik. Maka dia mencoba
menolaknya
“Maaf, aku harus kembali ke tempatku bekerja,” kata Wiraksara
sambil berjalan lagi.
Tetapi prajurit itu menahannya dan berkata
“Maaf, ini perintah, kau harus memenuhi undangannya.”
Celaka, orang satu ini pasti mau mencari gara-gara, batin Wiraksara.
“Baiklah, aku ke sana,” jawab Wiraksara.
Pemuda itu terpaksa memenuhi undangan Gaoxu ke kediamannya.
Dia berjalan mengikuti langkah prajurit itu menemui Gaoxu. Sesampainya di
halaman, Gaoxu menyambutnya sambil menyeringai
“Giliran aku mengundangmu kemari, bukankah aku seorang Tuan
Rumah yang baiK?” Tanya Gaoxu kepada Wiraksara.
Wiraksara tak menjawabnya tetapi hanya berkata dengan nada
dingin.
“Katakan saja apa maumu mengundangku kemari?”
“Aku kesulitan menemukan teman untuk berlatih kungfu. Kata Cheng
Ho bangsa Nusantara memiliki ilmu beladiri yang handal. Bahkan sejarah telah
mencatat bahwa bangsa kalian berhasil mengusir pasukan Kubilai Khan yang
ditakuti negara-negara di seluruh dunia. Sekarang aku ingin membuktikannya, aku
ingin bertanding denganmu,” kata Gaoxu sambil tersenyum licik.
Dalam hatinya dia sudah tahu bahwa Wiraksara tidak akan
dapat melawannya. Dalam hal ilmu keprajuritan memang Gaoxu lebih baik daripada
Gaochi. Tak heran Kaisar Yongle lebih menyukai Gaoxu daripada Gaochi, karena
dia merasa Gaoxu lebih dapat diandalkan dalam memimpin negara.
Namun Wiraksara hanya tersenyum sinis dan berkata
“Saya tidak tahu yang kau katakan itu hinaan atau pujian,
tetapi jujur kukatakan kepadamu, saya tidak memiliki ilmu kanuragan seperti
para prajurit kami. Saya hanyalah seorang Nayaka Praja bukan pejabat militer.
Jadi ijinkan saya pulang sekarang, pekerjaanku sudah menunggu, saya mohon
diri.”
Wiraksara memberi hormat lalu berbalik pergi. Tetapi
tiba-tiba saja Pangeran Gaoxu telah menghadangnya kemudian menyerangnya secara
tiba-tiba.
“Buuk!”
Wiraksara jatuh terduduk akibat tendangan Gaoxu, nafasnya
terasa sesak karena tendangan itu yang membuatnya hampir-hampir tak bisa
berdiri. Namun dipaksakannya dirinya untuk berdiri dan dengan marah dia
bertanya
“Apa maksudku memukulku seperti ini?”
“Aku ingin bertarung denganmu, karena kau telah membuatku
kesal!” Ujar Gaoxu kepada Wiraksara.
Tampaknya Gaoxu sengaja mencari gara-gara agar Wiraksara
menyerangnya
“Apa salahku kepadamu? Kau jangan bicara sembarangan!” balas
Wiraksara,
__ADS_1
“Diam kau orang barbar!” bentak Gaoxu.