
Wiraksara merasa heran, di tempat asing seperti Urumqi ada seseorang
yang mengenalnya. Ketika dia menoleh di lihatnya Hamzah tengah berjalan ke
arahnya
“Tuan Hamzah, bagaimana anda bisa sampai di sini?” Sapa
Wiraksara.
“Penginapanku terbakar habis, sekelompok orang tak dikenal
merampok dan membakar penginapan kami. Sekarang kami tidak punya apa-apa lagi,
jadi kami kembali ke Urumqi kampung halaman isteriku, membuka kedai makan
dan penginapan di kota ini. Mampirlah ke kedai kami, ada berbagai menu khas
Uyghur yang pasti belum pernah kau coba.”
Wiraksara memandang Maheen lalu bertanya
“Maheen, kta mampir ke kedai makan Tuan Hamzah saja ya.”
Dari pandangan matanya Wiraksara tahu sebenarnya Maheen
keberatan, namun gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Baiklah, tak masalah.”
Bersama-sama Hamzah mereka berjalan menuju penginapan, dalam
perjalanan Maheen berbisik kepada Wiraksara
“Sebaiknya kita tidak menginap di rumah Tuan Hamzah, aku
takut kehadiran kita di sana akan membuat masalah bagi keluarga Paman Hamzah,
Aku yakin para pelaku pembakaran penginapan Tuan Hamzah adalah Mehrak yang
mengincar Permata Api Azura Mahda.”
“Sepertinya begitu, tapi aku tak enak hati jika menolak
ajakannya berkunjung ke penginapannya. Nanti kita akan berkunjung saja tanpa
menginap,” ujar Wiraksara.
Tetapi alasan yang sebenarnya bagi Wiraksara adalah karena dia
bisa berjumpa lagi dengan Atara puteri Hamzah yang cantik dan dikaguminya. Sejak
melihat lukisan Atara di rumah Pangeran Gaoxi, wajah Atara selalu
terbayang-bayang di wajahnya. Sepanjang jalan Wiraksara tersenyum kecil, beberapa
gadis Uyghur melintas di dekatnya dan tersenyum pada Wiraksara sehingga pemuda
itu bergumam
“Sepertinya aku akan betah di sini, gadis-gadis Uyghur
cantik mempesona dan ramah.”
Tiba-tiba Maheen menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan pandangan
mata tak suka.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Tanya Maheen dengan
nada ketus.
Wiraksara tertegun melihat perubahan sikap Maheen yang
mendadak jadi ketus dan berwajah masam.
“Oh, tidak apa-apa, hanya sekedar mengagumi pemandangan di
kota Urumqi yang indah,” Wiraksara berdalih.
“Ah, pemandangan di kota ini biasa saja menurutku, hanya
padang rumput dan gurun yang gersang. Tapi memang gadis-gadis Uyghur cantik-cantik
pantas saja kamu suka,” bantah Maheen ketus.
Tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah kedai makan kecil
namun ramai dikunjungi pedagang manca negara.
“Nah, kita sudah sampai, ini kedai makanku. Mari silahkan
masuk, biar kusiapkan hidangan untuk kalian,” kata Hamzah.
__ADS_1
Wiraksara dan Maheen masuk ke dalam kedai di saat itulah
seseorang menyapanya
“Wiraksara, kamu ada di sini ternyata?”
Wiraksara menoleh dan tampaklah wajah yang sangat
dikenalnya, Wukir pedagang rempah-rempah sahabat Wiraksara di Lasem ternyata
sedang berada di Urumqi.
“Ya, biasalah tugas dari Gusti Prabu Wikramawardhana,” ujar Wiraksara.
“Syukurlah ternyata mereka memperlakukanmu dengan baik
berita yang kudengar di Jawa ternyata tidak benar. Ayo kita ngobrol di mejaku
saja,” Wukir mempersilahkan Wiraksara duduk bersama teman-temannya di meja
mereka.
“Aku mau ngobrol dengan temanku dulu ya,” kata Wiraksara
pada Maheen.
Wiraksara dan Wukir kemudian terlibat dalam perbincangan,
namun hal itu membuat Maheen merasa kesal karena diabaikan lalu meninggalkan
kedai sementara Wiraksara masih saja berbincang dengan Wukir tanpa menyadari
bahwa Maheen sudah tidak ada di tempatnya lagi.
Tak lama kemudian makanan datang, Hamzah menghampiri Dimash
yang masih asyik berbincang dengan Wukir.
“Dimana Maheen? Mengapa dia tidak bersamamu di sini?” Tanya
Hamzah.
Wiraksara terkejut dan melihat ke kursi Maheen, gadis itu
sudah tidak ada di tempatnya. Wiraksara tertegun dan berseru
“Ah, dasar perempuan ngambekan. Aku tidak bisa membiarkannya
pergi sendirian, aku akan mencarinya sekarang!”
Hamzah bertanya pada seorang pelayan yang bertugas menyambut tamu
“Kemana pendeta wanita Persia itu pergi?”
“Dia menuju ke utara kira-kira 15 menit yang lalu,” jawab
pelayan itu.
“Dia membawa permata Api itu, aku kuatir orang-orang Mehrak
atau Sekte Air Perak mengambil permata itu darinya,” kata Wiraksara.
“Kita cari bersama-sama sekarang, menurutmu kalau seorang
gadis sedang kesal kemana dia pergi?,”tanya Hamzah.
Wiraksara memandang Hamzah dengan heran
“Mengapa anda bertanya seperti itu? Tapi menurutku jika
seorang gadis sedang kesal dia akan pergi ke rumah temannya dan bergunjing
membicarakan hal yang membuatnya marah.”
Hamzah menggelengkan kepalanya lalu berkata
“Ya kalau dia di sini punya teman, kalau tidak bagaimana?
Kita akan ke pasar, biasanya anak dan isteriku kalau sedang kesal pergi ke
pasar berbelanja barang yang tidak perlu. Ayo kita susul ke sana, siapa tahu
kita bisa menemukan Maheen.”
Sementara itu Maheen asyik menikmati suasana kota Urumqi,
gadis itu berjalan masuk pasar melihat-lihat dagangan yang ditawarkan di sana.
Dia mampir ke pedagang sutera, melihat-lihat dagangan, lalu dia pergi lagi mampir
ke pedagang kosmetik untuk membeli bedak dan gincu pemerah bibir. Seorang
wanita pedagang kosmetik tersenyum kepadanya
__ADS_1
“Nona, wajahmu akan semakin cantik jika kau menggunakan
bedak mutiara ini. Cobalah, wajahmu akan tampak berkilau seperti mutiara.
Khusus untuk gadis cantik sepertimu aku akan memberimu potongan harga,” ujart
wanita pedagang kosmetik itu sambil tersenyum.
Wanita itu memberikan sampel bedak mutiara dan mencobakannya
di wajah Maheen. Maheen memakai bedak itu di wajahnya lalu melihat pantulan
wajahnya di cermin tembaga yang dipegang wanita itu lalu meraba wajahnya.
“Wajahku jadi semakin halus ketika bedak ini kupakai di
wajah, baiklah aku beli satu.”
Wanita penjual kosmetik tersenyum lalu berkata lagi
“Agar penampilanmu jadi lebih sempurna, sebaiknya kau pakai
parfum ini. Parfum aroma melati dari negeri Selatan, cobalah.”
Wanita penjual kometik menyemprotkan parfum melati ke tubuh
Maheen. Bau harum seketika menyergap hidung Maheen, dihirupnya aroma melati itu
dalam-dalam.
“Harum sekali parfum ini, aku akan ….”
Belum lagi selesai ucapannya, tiba-tiba Maheen langsung
jatuh ke tanah. Wanita penjual kosmetik tersenyum puas lalu menghampiri Maheen
yang tergeletak di tanah.
“Nona…Nona…bangunlah!”
Orang-orang mulai berkerumun, lalu penjual kosmetik berkata
“Tidak apa-apa, mungkin dia kelelahan, sebaiknya kalian
jangan berkerumun nati dia tidak mendapatkan udara segar. Jangan kuatir, aku
akan menolongnya.”
Orang-orang itu segera membubarkan diri dan kembali pada
aktivitasnya masing-masing. Wanita itu kemudian menoleh ke belakangnya dan
berkata
“Kalian keluarlah, gadis ini sudah pingsan,” kata wanita
penjual kosmetik.
Tiba-tiba dari arah belakang meja dagangan muncul beberapa orang laki-laki. Salah seorang yang bertubuh tinggi besar menggendong
Maheen lalu pergi meninggalkan meja dagangan menuju ke sudut pasar yang sepi.
Sebelum ikut pergi bersama anak buahnya, wanita itu masuk ke dalam kios, di
situ ada seorang wanita dan anak laki-laki berusia 7 tahun, melihat kepada wanita itu dengan pandangan
ketakutan. Tubuh mereka tampak kaku, tidak bersuara ataupun bergerak, ternyata
penjual kosmetik yang asli telah disandera bersama anaknya. Wanita penjual kosmetik yang palsu telah menotok
jalan darah mereka sehingga tidak dapat bergerak dan bersuara.
“Maaf, kalian tidak bisa hidup lebih lama lagi, karena jika
kalian kubiarkan hidup pasti kalian akan menceritakan kejadian ini pada
orang-orang.”
Wanita penjual kosmetik yang palsu mengangkat tangannya siap
memukul kepala wanita yang disanderanya.
“Aku akan membunuhmu lebih dulu agar kau tidak sakit hati
melihat anakmu kubunuh di depan matamu,” kata wanita penjual kosmetik yang
palsu dengan wajah dingin.
Tangan wanita itu sudah bergerak melayang ke arah kepala
wanita penjual kosmetik yang asli, tetapi tiba-tiba dia berseru tertahan, wajahnya menahan rasa sakit di tangannya.
Mendadak tangan wanita penjual kosmetik palsu terasa kebas dan tak bisa
__ADS_1
bergerak. Sebuah kerikil yang dilempar seseorang telah membuat jtangannya lumpuh. Seseorang yang berilmu tinggi telah menotok tangannya dari jarak jauh menggunakan batu kerikil, membuatnya panik lalu berseru
“Siapa itu?!”