KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Penculikan


__ADS_3

Wiraksara merasa heran, di tempat asing seperti Urumqi ada seseorang


yang mengenalnya. Ketika dia menoleh di lihatnya Hamzah tengah berjalan ke


arahnya


“Tuan Hamzah, bagaimana anda bisa sampai di sini?” Sapa


Wiraksara.


“Penginapanku terbakar habis, sekelompok orang tak dikenal


merampok dan membakar penginapan kami. Sekarang kami tidak punya apa-apa lagi,


jadi kami kembali ke Urumqi kampung halaman isteriku, membuka kedai makan


dan penginapan di kota ini. Mampirlah ke kedai kami, ada berbagai menu khas


Uyghur yang pasti belum pernah kau coba.”


Wiraksara memandang Maheen lalu bertanya


“Maheen, kta mampir ke kedai makan Tuan Hamzah saja ya.”


Dari pandangan matanya Wiraksara tahu sebenarnya Maheen


keberatan, namun gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.


“Baiklah, tak masalah.”


Bersama-sama Hamzah mereka berjalan menuju penginapan, dalam


perjalanan Maheen berbisik kepada Wiraksara


“Sebaiknya kita tidak menginap di rumah Tuan Hamzah, aku


takut kehadiran kita di sana akan membuat masalah bagi keluarga Paman Hamzah,


Aku yakin para pelaku pembakaran penginapan Tuan Hamzah adalah Mehrak yang


mengincar Permata Api Azura Mahda.”


“Sepertinya begitu, tapi aku tak enak hati jika menolak


ajakannya berkunjung ke penginapannya. Nanti kita akan berkunjung saja tanpa


menginap,” ujar Wiraksara.


Tetapi alasan yang sebenarnya bagi Wiraksara adalah karena dia


bisa berjumpa lagi dengan Atara puteri Hamzah yang cantik dan dikaguminya. Sejak


melihat lukisan Atara di rumah Pangeran Gaoxi, wajah Atara selalu


terbayang-bayang di wajahnya. Sepanjang jalan Wiraksara tersenyum kecil, beberapa


gadis Uyghur melintas di dekatnya dan tersenyum pada Wiraksara sehingga pemuda


itu bergumam


“Sepertinya aku akan betah di sini, gadis-gadis Uyghur


cantik mempesona dan ramah.”


Tiba-tiba Maheen menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan pandangan


mata tak suka.


“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Tanya Maheen dengan


nada ketus.


Wiraksara tertegun melihat perubahan sikap Maheen yang


mendadak jadi ketus dan berwajah masam.


“Oh, tidak apa-apa, hanya sekedar mengagumi pemandangan di


kota Urumqi yang indah,” Wiraksara berdalih.


“Ah, pemandangan di kota ini biasa saja menurutku, hanya


padang rumput dan gurun yang gersang. Tapi memang gadis-gadis Uyghur cantik-cantik


pantas saja kamu suka,” bantah Maheen ketus.


Tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah kedai makan kecil


namun ramai dikunjungi pedagang manca negara.


“Nah, kita sudah sampai, ini kedai makanku. Mari silahkan


masuk, biar kusiapkan hidangan untuk kalian,” kata Hamzah.

__ADS_1


Wiraksara dan Maheen masuk ke dalam kedai di saat itulah


seseorang menyapanya


“Wiraksara, kamu ada di sini ternyata?”


Wiraksara menoleh dan tampaklah wajah yang sangat


dikenalnya, Wukir pedagang rempah-rempah sahabat Wiraksara di Lasem ternyata


sedang berada di Urumqi.


“Ya, biasalah tugas dari Gusti Prabu Wikramawardhana,” ujar Wiraksara.


“Syukurlah ternyata mereka memperlakukanmu dengan baik


berita yang kudengar di Jawa ternyata tidak benar. Ayo kita ngobrol di mejaku


saja,” Wukir mempersilahkan Wiraksara duduk bersama teman-temannya di meja


mereka.


“Aku mau ngobrol dengan temanku dulu ya,” kata Wiraksara


pada Maheen.


Wiraksara dan Wukir kemudian terlibat dalam perbincangan,


namun hal itu membuat Maheen merasa kesal karena diabaikan lalu meninggalkan


kedai sementara Wiraksara masih saja berbincang dengan Wukir tanpa menyadari


bahwa Maheen sudah tidak ada di tempatnya lagi.


Tak lama kemudian makanan datang, Hamzah menghampiri Dimash


yang masih asyik berbincang dengan Wukir.


“Dimana Maheen? Mengapa dia tidak bersamamu di sini?” Tanya


Hamzah.


Wiraksara terkejut dan melihat ke kursi Maheen, gadis itu


sudah tidak ada di tempatnya. Wiraksara tertegun dan berseru


“Ah, dasar perempuan ngambekan. Aku tidak bisa membiarkannya


pergi sendirian, aku akan mencarinya sekarang!”


Hamzah bertanya pada seorang pelayan yang bertugas menyambut tamu


“Kemana pendeta wanita Persia itu pergi?”


“Dia menuju ke utara kira-kira 15 menit yang lalu,” jawab


pelayan itu.


“Dia membawa permata Api itu, aku kuatir orang-orang Mehrak


atau Sekte Air Perak mengambil permata itu darinya,” kata Wiraksara.


“Kita cari bersama-sama sekarang, menurutmu kalau seorang


gadis sedang kesal kemana dia pergi?,”tanya Hamzah.


Wiraksara memandang Hamzah dengan heran


“Mengapa anda bertanya seperti itu? Tapi menurutku jika


seorang gadis sedang kesal dia akan pergi ke rumah temannya dan bergunjing


membicarakan hal yang membuatnya marah.”


Hamzah menggelengkan kepalanya lalu berkata


“Ya kalau dia di sini punya teman, kalau tidak bagaimana?


Kita akan ke pasar, biasanya anak dan isteriku kalau sedang kesal pergi ke


pasar berbelanja barang yang tidak perlu. Ayo kita susul ke sana, siapa tahu


kita bisa menemukan Maheen.”


Sementara itu Maheen asyik menikmati suasana kota Urumqi,


gadis itu berjalan masuk pasar melihat-lihat dagangan yang ditawarkan di sana.


Dia mampir ke pedagang sutera, melihat-lihat dagangan, lalu dia pergi lagi mampir


ke pedagang kosmetik untuk membeli bedak dan gincu pemerah bibir. Seorang


wanita pedagang kosmetik tersenyum kepadanya

__ADS_1


“Nona, wajahmu akan semakin cantik jika kau menggunakan


bedak mutiara ini. Cobalah, wajahmu akan tampak berkilau seperti mutiara.


Khusus untuk gadis cantik sepertimu aku akan memberimu potongan harga,” ujart


wanita pedagang kosmetik itu sambil tersenyum.


Wanita itu memberikan sampel bedak mutiara dan mencobakannya


di wajah Maheen. Maheen memakai bedak itu di wajahnya lalu melihat pantulan


wajahnya di cermin tembaga yang dipegang wanita itu lalu meraba wajahnya.


“Wajahku jadi semakin halus ketika bedak ini kupakai di


wajah, baiklah aku beli satu.”


Wanita penjual kosmetik tersenyum lalu berkata lagi


“Agar penampilanmu jadi lebih sempurna, sebaiknya kau pakai


parfum ini. Parfum aroma melati dari negeri Selatan, cobalah.”


Wanita penjual kometik menyemprotkan parfum melati ke tubuh


Maheen. Bau harum seketika menyergap hidung Maheen, dihirupnya aroma melati itu


dalam-dalam.


“Harum sekali parfum ini, aku akan ….”


Belum lagi selesai ucapannya, tiba-tiba Maheen langsung


jatuh ke tanah. Wanita penjual kosmetik tersenyum puas lalu menghampiri Maheen


yang tergeletak di tanah.


“Nona…Nona…bangunlah!”


Orang-orang mulai berkerumun, lalu penjual kosmetik berkata


“Tidak apa-apa, mungkin dia kelelahan, sebaiknya kalian


jangan berkerumun nati dia tidak mendapatkan udara segar. Jangan kuatir, aku


akan menolongnya.”


Orang-orang itu segera membubarkan diri dan kembali pada


aktivitasnya masing-masing. Wanita itu kemudian menoleh ke belakangnya dan


berkata


“Kalian keluarlah, gadis ini sudah pingsan,” kata wanita


penjual kosmetik.


Tiba-tiba dari arah belakang meja dagangan  muncul beberapa orang laki-laki.  Salah seorang yang bertubuh tinggi besar menggendong


Maheen lalu pergi meninggalkan meja dagangan menuju ke sudut pasar yang sepi.


Sebelum ikut pergi bersama anak buahnya, wanita itu masuk ke dalam kios, di


situ ada seorang wanita dan anak laki-laki berusia 7 tahun,  melihat kepada wanita itu dengan pandangan


ketakutan. Tubuh mereka tampak kaku, tidak bersuara ataupun bergerak, ternyata


penjual kosmetik yang asli telah disandera bersama anaknya.  Wanita penjual kosmetik yang palsu telah menotok


jalan darah mereka sehingga tidak dapat bergerak dan bersuara.


“Maaf, kalian tidak bisa hidup lebih lama lagi, karena jika


kalian kubiarkan hidup pasti kalian akan menceritakan kejadian ini pada


orang-orang.”


Wanita penjual kosmetik yang palsu mengangkat tangannya siap


memukul kepala wanita yang disanderanya.


“Aku akan membunuhmu lebih dulu agar kau tidak sakit hati


melihat anakmu kubunuh di depan matamu,” kata wanita penjual kosmetik yang


palsu dengan wajah dingin.


Tangan wanita itu sudah bergerak melayang ke arah kepala


wanita penjual kosmetik yang asli, tetapi tiba-tiba dia berseru tertahan,  wajahnya menahan rasa sakit di tangannya.


Mendadak tangan wanita penjual kosmetik palsu terasa kebas dan tak bisa

__ADS_1


bergerak. Sebuah kerikil yang dilempar seseorang telah membuat jtangannya lumpuh.  Seseorang yang berilmu tinggi telah menotok tangannya dari jarak jauh menggunakan batu kerikil, membuatnya panik lalu berseru


“Siapa itu?!”


__ADS_2