
Mehrak segera menyeret Maheen keluar dari kereta
“Dimana permata itu kau sembunyikan?”
Maheen yang ketakutan menggeleng, dia mencari kedua
penculiknya, mereka sedang bertarung menghadapi anak buah Mehrak, tampaknya
mereka sudah kewalahan menghadapi lima anak buah Mehrak yang mengeroyok.
“Aku tidak tahu, kau cari saja sendiri!”
Mehrak bertambah marah, tangannya bergerak hendak mencengkram
leher Maheen, dengan gesit gadis itu menghindar dan menangkap tangan Mehrak
lalu mendorongnya.
“Cepat katakan dimana permata Api itu, jika tidak nyawamu akan melayang!”
“Aku benar-benar tidak tahu!”
Mehrak mulai habis kesabarannya, dia memanggil anak buahnya
yang lain
“Tangkap gadis itu, permata itu ada padanya!”
Ke tiga anak buahnya yang lain segera menyerang Maheen,
pedang berkelebat menyapu tubuh Maheen. Dengan gesit Maheen melayang
menghindari pedang mereka. Ketiga anak buah Mehrak terkejut, mereka tak
menyangka gadis yang tampaknya lemah seperti Maheen mampu menghindari serangan
mereka.
Kembali Mehrak dan anak buahnya maju menyerang, Maheen
melepas selendang panjang dari sutera yang terikat di pinggangnya, selendang
itu lalu dikebutkan ke arah penyerangnya. Mehrak dan ketiga anak buahnya berhamburan
menghindari kebutan selendang Maheen. Bahkan ujung selendang Maheen sempat
mengenai wajahnya membuat wajahnya terasa pedas seperti di tampar. Mehrak
tampak gusar karena perlawanan Maheen.
“Baiklah, jika kau masih tidak mau menyerahkannya, aku akan
membakarmu dengan api suci Azura Mahda!”
Terkesiap Maheen mendengar ancaman Mehrak, tingkatan ilmu Api
Suci Mehrak telah mencapai tingkatan tertinggi, jelas dirinya bukan tandingan
Mehrak. Namun Maheen tak ingin menyerah begitu saja.
“Aku tidak takut menghadapi kalian, jangan harap aku akan
menyerahkan permata ini kepada kalian!”
Mehrak langsung mengerahkan ilmu Api Suci Azura Mahda,
sejurus kemudian api muncul dari tangannya. Mehrak mengarahkan tangannya ke
tubuh Maheen, sinaran api meluncur ke tubuh gadis pendeta itu, dengan cepat
Maheen melompat ke samping menghindari serangan Mehrak. Sambaran api itu tepat
mengenai pohon Bwe di belakangnya. Api langsung berkobar membakar pohon Bwe.
Mehrak mendengus kesal melihat Maheen berhasil menghindari
serangannya, kembali dia mengerahkan energi Api Suci ke tangannya. Maheen
segera bergerak cepat, kembali selendangnya berkelebat menyapu Mehrak, tetapi
bertepatan dengan sambaran selendang Maheen, api Mehrak telah meluncur dan
membakar selendang Maheen. Maheen terkejut melihat selendangnya terbakar,
buru-buru di lepasnya selendangnya dilempar ke arah anak buah Mehrak. Selendang
itu bagai ular api melayang ke arah ketiga anak muah Mehrak yang sedang
menyerang dirinya. Ketiga orang yang menyerangnya tak menyangka selendang yang
sudah separuh terbakar itu akan di lemparkan ke mereka. Mehrak terkejut melihat
selendang yang terbakar itu melayang ke arah anak buahnya
“Awas, ada selendang terbakar!”
Tetapi peringatan Mehrak sudah terlambat, selendang sudah
melayang membelit ketiga anak buahnya. Api segera membakar mereka. Mehrak
tertegun tak mampu menolong anak buahnya, Api Suci Azura Mahda jika jika sudah
mengenai sasaran sulit untuk dipadamkan. Kecuali jika Permata Api Azura Mahda
masih dikuasainya, dia mampu mengendalikan api yang mengamuk.
“Sial, permata Api dibawa Maheen, jika tidak aku mampu
mengendalikan amukan api suci itu,” gumam Mehrak dengan geram.
Maheen melihat ke sekelilingnya, kedua penculiknya sudah
tewas bersimbah darah. Sejenak terjadi kekacauan, kedua anak buah Mehrak yang
lainnya, setelah membunuh kedua penculik Maheen, mereka mencoba memadamkan api.
Kesempatan itu digunakan Maheen untuk lari, tetapi Mehrak sempat melihat
bayangan Maheen yang berkelebat meninggalkan gelanggang.
__ADS_1
“Mau kemana kau Maheen?!”
Tubuh Mehrak sudah berkelebat hendak menangkap Maheen,
tetapi baru saja dia mencoba mengejar, sekelompok orang berpakaian emas
menghadangnya. Mehrak terkejut dan berseru
“Siapa kalian? Minggirlah aku tidak ada urusan dengan kalian!”
“Memang awalnya tidak ada, tetapi sekarang ada!” Seorang
pria menjawab pertanyaan Mehrak.
“Apa yang kalian inginkan?” Tanya Mehrak.
“Kami menginginkan Permata Api itu, sudah sejak lama leluhur
kami mencari keberadaan ke empat Permata Elemen Azura Mahda, jika kami telah
menguasainya, maka sekte kami akan menjadi penguasa dunia.”
“Darimana kalian tahu keberadaan Permata Api itu?”
Pria berbaju emas di depannya tertawa mengejek
“Sejak sekelompok pendeta dari Kuil Kahyangan Api
mengambilnya darimu dan kau sibuk memburu permata Api itu, berita dan legenda
ke 4 Permata Elemen Azura Mahda segera tersebar di dunia persilatan. Kau saja
yang bodoh selama kau kuasai kau tidak mampu memanfaatkannya secara maksimal.
Permata Api itu akan lebih berguna jika digabung bersama Permata dari unsur
logam, air dan tanah. Dengan demikian kau akan menjadi pengendali ke 4 unsur
itu dan memiliki kekuatan besar tanpa batas.”
Mehrak tertegun mendengar penjelasan pria berbaju emas itu.
“Siapa kamu sebenarnya dan dari mana asalmu?”
“Aku Shaktar dari negeri Misr.”
Bersamaan dengan itu, salah seorang anak buah dari pria
berpakaian emas itu datang kehadapan pria itu dengan membawa Maheen.
“Lepaskan aku!”
“Bawa dia ke dalam kereta, hari ini juga kita akan
membawanya ke Misr,” perintah Shaktar.
Mehrak tak ingin buruannya terlepas
“Hei, gadis itu milikku, kau tidak dapat mengambilnya begitu
saja!”
Tangan Shaktar berkelebat, tiba-tiba tubuh Mehrak
terpelanting jauh lalu jatuh ke tanah. Mehrak bangkit dari tanah, dia mengerahkan
ilmu Api Suci, tangan Mehrak bergerak dan sinaran api menerjang ke arah Shaktar
siap membakarnya. Shaktar hanya terdiam tidak tampak berusaha menghindar atau
balas menyerang.
“Sekarang matilah kau Shaktar!”
Api itu menerjang tubuh Shaktar, Maheen berseru tertahan
ketika api menerjang dada Shaktar. Tetapi api itu tak mampu membakar Shaktar,
bahkan langsung padam ketika mengenai dada Shaktar. Terkesiap Mehrak melihat
Shaktar mampu menahan serangannya
“Ha ha ha ha, Api Sucimu tidak akan mampu membakar pakaian
anti api ini. Baiklah kurasa percakapan ini hanya membuang waktuku saja.”
Tubuh Shaktar berkelebat menyerang Mehrak, keduanya kemudian
terlibat dalam pertarungan. Sedangkan anak buah Shaktar langsung bergerak
menyerang sisa anak buah Mehrak. Berkali-kali api di tangan Mehrak berkelebat
berusaha membakar Shaktar namun api itu tak juga dapat membakar Shaktar. Hingga
pada satu kesempatan Shaktar akhirnya dapat memukul Mehrak membuat Mehrak
muntah darah dan menderita luka dalam yang cukup parah.
“Kita pergi sekarang!” Perintah Shaktar setelah melihat
Mehrak sudah roboh tak sadarkan diri.
*****
Sementara itu di pasar Wiraksara dan Hamzah masih mencari
keberadaan Maheen. Sampai di bagaian belakang pasar yang tampak sepi mereka tidak
menemukan jejak Maheen. Hanya ada seorang
anak kecil berumur 9 tahun duduk sambil memeluk lututnya di pojokan. Wajahnya
tampak pucat karena rasa ketakutan. Hamzah menghampiri anak itu lalu bertanya
“Nak, apa kau melihat ada seorang gadis berbaju serba putih
lewat di sini?”
Anak itu mengangguk lemah lalu berkata
__ADS_1
“Mereka membawa gadis itu ke Selatan.”
Wiraksara dan Hamzah saling berpandangan. Wiraksara segera
meneliti jalanan di belakang pasar mencari jejak Maheen. Disatu tempat
Wiraksara menemukan sebuah hiasan rambut berbentuk bunga terbuat dari emas. Dia
mengambil hiasan rambut berbentuk bunga dan menelitinya
“Lihat, ini hiasan rambut milik Maheen, kurasa dia telah
diculik dan dibawa pergi dari sini.”
“Kita akan menyusul mereka ke Selatan! Aku akan mengambil
kudaku dan Maheen,” kata Wiraksara.
Setelah mendapatkan kudanya, Hamzah dan Wiraksara langsung
bergerak mengejar Maheen. Di sebuah
persimpangan jalan mereka berhenti, Wiraksara yang bingung akan memilih jalan bertanya
pada Hamzah
“Tuan, kita harus lewat jalan yang mana?”
“Kita ambil yang ke arah kiri, aku yakin orang-orang Sekte
Air Perak itu telah membawanya ke sarang mereka di Gunung Kun Lun,” ujar
Hamzah.
Kembali mereka berkuda menuju gunung Kun Lun. Setelah
berkuda beberapa saat, Wiraksara terkejut ketika melihat ada sebuah kereta kuda
dan tubuh-tubuh manusia bergelimpangan. Bergegas mereka mendekati kereta kuda.
Wiraksara segera turun dari kudanya lalu memeriksa bagian dalam kereta kuda.
“Tidak ada apa-apa di dalam,” kata Wiraksara kecewa.
“Ya, orang-orang itu tampaknya juga sudah mati,” ujar
Hamzah.
Pandangan mata Wiraksara tertumbuk pada selembar kain sutera
putih yang sudah terbakar di beberapa bagian. Diambilnya kain itu lalu berseru
“Ini sepertinya sobekan baju Maheen, tapi kain ini terbakar!”
“Ya, ada jasad yang sudah terbakar juga,” kata Hamzah.
Terdengar suara orang mengeluh kesakitan perlahan, Wiraksara
dan Hamzah segera menghampirinya
“Apa yang terjadi?”
Nafas orang itu tinggal satu-satu suaranya sangat lirih dan
tidak jelas sehingga Wiraksara harus mendekatkan telinganya ke mulut orang itu
“Gadis itu… orang emas… Misr.”
Setelah berbicara kepala orang itu terkulai lemas, namun
Hamzah tampak terkejut wajahnya berubah menampakan ketakutan yang amat sangat.
Belum pernah Wiraksara melihat wajah Hamzah yang biasanya tenang jadi seperti
itu.
“Tuan, apa yang terjadi?”
“Celaka, orang-orang Sekte Piramida Emas itu ternyata juga
mengejar permata Api. Pasti mereka juga mengincar Permata Air, Permata Bumi dan
juga Maheen,” ucap Hamzah lirih.
Wiraksara bertambah bingung dengan ucapan Hamzah
“Tuan, apa maksudnya dengan kata-kata anda?”
“Orang-orang Sekte Piramida Emas itu pasti ingin
membangkitkan Anubis, Dewa yang memberikan kekuatan dan energi yang besar untuk
menguasai Bumi. Berarti Permata Logam itu dalam penguasaan mereka,” ungkap
Hamzah.
“Tapi kau bilang permata itu hilang dalam banjir besar?”
“Seharusnya permata itu hilang, tetapi jika mereka saat ini
memburu Permata Api pasti mereka juga memiliki Permata Logam. Piramida itu telah
melindunginya dari banjir besar,” tutur Hamzah.
“Tapi mengapa mereka juga mengincar Maheen? Mengapa mereka
tidak mengambil permata itu dan melepaskan Maheen?”
“Maheen adalah elemen yang ke lima, tanpa dia Anubis tidak
akan bangkit dari tidurnya.,” ungkap Hamzah.
“Darimana anda tahu semua itu?”
“Semua tertulis dalam tablet dari lempengan tanah liat di Asyurbanipal,
perpustakaan kuno bangsa Persia kuno. Kita susul mereka sekarang sebelum
terlambat,” kata Hamzah.
__ADS_1