
Terdengar Tie Shi melanjutkan ceritanya kembali
"Yongle kemudian memerintahkan Fang Xiaoru salah satu
menteri Jianwen sekaligus pencatat sejarah untuk membuat naskah proklamasi
penobatannya sebagai kaisar. Tentu saja Menteri Fang yang setia kepada Kaisar
Jianwen menolaknya.dan melempar kuasnya dihadapan Yongle. Yongle yang marah
kemudian mengancamnya
"Kamu mungkin tidak takut mati, tetapi apa kamu tidak
takut jika keluargamu hingga sembilan keturunan dihukum mati?"
Namun Menteri Fang tidak gentar dengan ancaman itu dan
menjawab
"Jangankan sembilan keturunan, sepuluh keturunanpun kau
bisa membunuhnya! Tetapi aku tidak akan pernah menuliskannya untukmu!"
Tie Shi menggelengkan kepala dengan sedih dan berkata
"Setelah itu dia menulis sesuatu di kertas dan
memberikannya kepada Yongle. Yongle sangat marah setelah membaca tulisan
itu."
"Apa yang dituliskannya Paman?"
"Dia menulis 'Maling Pencuri Tahta'. Yongle yang murka segera memerintahkan menteri
Fang disiksa dengan kejam. Seluruh kerabatnya dari buyut hingga cicit dihukum
mati. Bahkan para pelayan dan sahabatnya
tak luput dari kemurkaan Yongle. Menteri Fang didiksa dengan kejam kemudian
dipaksa untuk melihat kematian kerabatnya satu persatu di hadapannya untuk
membuatnya berubah pikiran. Waktu itu Ma Huan yang bersimpati kepadanya sudah
menyarankannya untuk menyerah demi keselamatan keluarga dan sahabatnya. Namun
dia tetap kukuh dengan pendiriannya yang akhirnya menyusahkan dirinya. Menteri
Fang tetap bertahan melihat kerabat dan para sahabatnya dihukum satu persatu
didepan matanya hingga tiba gilirannya untuk mati," ungkap Tie Shi dengan
sedih,"tutur Tie Shi.
Bergidik Wiraksara mendengar cerita kekejaman Yongle, lalu
diapun bertanya lagi.
"Lalu bagaimana Paman bisa lolos dari hukuman Kaisar
Yongle padahal dia sudah membunuh semua orang yang setia kepada Kaisar Jianwen.
"Dia bersedia memberi pengampunan para pengikut Kaisar
Jianwen asal mereka bersedia menyerah dan mengakuinya sebagai Kaisar yang
baru. Ketika tertangkap akhirnya aku
bersedia menyerah demi keselamatan keluarga dan teman-temanku. Ketika itu dia
berkata, "Kalian sekarang adalah bawahanku, selama kalian masih setia
kepadaku, marilah kita lupakan yang lalu dan menghadapi masa yang akan datang,"
__ADS_1
tutur Tie Shi.
“Lalu bagaimana
dengan nasib Jenderal Tie Xuan?” Tamya Wiraksara.
Saat itu setelah
membakar istana, aku dan beberapa orang-orangku berhasil melarikan diri, tapi sayang ayahku berhasil ditangkap pasukan
Yongle. Dia menyandera ayah, ibu dan
adik perempuanku agar aku datang
menyerah. Tetapi setelah aku menyerah, dia menghukum mati ayahku. Lalu Yongle memintaku untuk memusnahkan ilmu
silatku. Jika tidak dia akan membunuh anggota keluargaku yang lain sampai 9
keturunan. Untunglah saat itu aku telah mengungsikan isteri dan anakku ke
Goryeo.”
“Oh, jadi Paman Shi masih memiliki keluarga di Goryeo?”
Tie Shi mengangguk
“Ya, mereka aman di sana, isteri dan anak perempuanku
sekarang berada di kota Kaesong Goryeo tempat asal isteriku. Isteriku adalah putri bangsawan dari Klan Kim yang
berpengaruh di Goryeo jadi soal keamanan mereka sudah tidak perlu dicemaskan
lagi, kurasa jika tinggal di sana akan lebih aman bagi mereka. Aku selalu
bermimpi, suatu saat bisa kembali berkumpul dengan mereka. Setiap saat aku merindukan mereka dan ingin
sekali bisa bertemu dengan puteriku setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Tapi
aku tahu itu tidak mungkin kulakukan. Aku akan tetap di sini sampai aku mati
Wiraksara turut bersimpati dengan kesedihan sahabatnya
“Paman Shi, kelak jika aku bisa keluar dari tempat ini, aku
akan mencari putrimu di Goryeo. Siapa
nama Putrimu?”
“Putriku bernama Tie Li Yung.”
Dalam hati Wiraksara merasa geram, ternyata Kaisar Yongle
tidak sebaik yang dipikirkannya selama ini. Di dalam negeri dia berlaku sangat
kejam terhadap lawan-lawan politiknya. Tetapi jika melihat negara China yang
menjadi negeri yang disegani, dia mengakui bahwa untuk bisa menjadi negara yang
kuat dan disegani, terkadang seorang Raja harus bertindak kejam.
Tie Shi melangkah ke sudut ruangan, menggeser laci kecil
untuk tempat obat-obatan. Kening Wiraksara berkerut
“Paman, untuk apa kau menggeser laci itu? Biar aku saja yang
menggesernya,” Wiraksara bergegas membantu menggeser laci obat.
“Aku pinjam pedangmu, kurasa pedang ini bisa mengiris lantai
batu ini kan?” Tanya Tie Shi.
Wiraksara mengangguk lalu memberikan pedangnya dengan
perasaan heran. Tie Shi mengiris lantai
__ADS_1
menjadi bentuk bujur sangkar. Pedang itu dengan mudahnya mengiris batu seperti
mengiris roti. Setelah itu irisan batu dijugil dari tempatnya dan dibawah
lantai ada sebuah kotak tembaga. Tie Shi membuka kotaknya, di dalamnya ada
sebuah buku, diambilnya buku itu lalu diberikan kepada Wiraksara.
“Pelajari kitab ini dan kau akan menjadi seorang pendekar
yang tak terkalahkan. Kau bisa membacanya kan?” Tanya Tie Shi.
Wiraksara mengambil buku itu dan membukanya, ada tulisan dan
gambar-gambar orang memperagakan jurus-jurus silat di dalamnya. Dia mencoba
membaca buku itu tetapi ada beberapa karakter aksara China yang masih belum
dikenalnya.
“Aku mengerti huruf kanji, tetapi ada beberapa karakter di
sini yang aku tidak mengerti. Kurasa aku tetap memerlukan bantuanmu untuk
menerjemahkan aksara ini,” kata Wiraksara.
Tie Shi tergelak mendengar permintaan Wiraksara
“Ini adalah kitab pusaka Ilmu Pukulan Tapak Tangan Baja.”
“Oh, jadi ini pusaka keluarga Tie?” Tanya Wiraksara.
“Bukan, kitab ini bukan pusaka keluarga Tie. Sebenarnya kitab pusaka ini kuperoleh secara
tidak sengaja, aku menemukannya tergeletak di kolong altar sebuah kuil rusak. Buku ini
kutemukan di kolong altar dalam keadaan penuh debu bertumpuk bersama
benda-benda kuil yang lain. Kuil itu tampaknya diserang segerombolan orang lalu penghuninya melarikan diri meninggalkan
kuil atau dibunuh aku tidak tahu. Mungkin mereka mencari kitab itu tetapi tidak
menyangka kitab itu ada di kolong altar. Entah siapa yang menulisnya semenjak
mempelajari ilmu ini, kemajuan ku bertambah pesat, aku malang melintang di
dunia persilatan. Buku ini menjadi incaran para pendekar bahkan pendekar dari
Persia dan India mengincar kitab ini. Kau tahu bahkan Gaoxu juga mengincar buku
ini. Tetapi aku mengatakan bahwa buku itu telah hilang ketika aku ditangkap,”
tutur Tie Shi.
Wiraksara merasa heran, kitab pusaka itu justru diwariskan
kepadanya yang bukan keluarga Tie Shi
“Lalu mengapa kau justru memberikannya kepadaku? Aku hanya
orang asing yang datang dari jauh, kurasa anakmu lebih berhak mendapatkannya.”
Tie Shi tersenyum dan menepuk bahu Wiraksara
“Pewaris sebuah ilmu tidak mesti harus orang yang memiliki
hubungan darah. Anakku perempuan, belum tentu juga dia mau belajar ilmu silat.
Walaupun kau datang dari negeri yang jauh, tetapi aku tahu kau adalah seorang
ksatria pilih tanding yang berbudi luhur dan tidak mementingkan diri sendiri.
Kitab ini berbahaya kalau sampai jatuh ke tangan orang jahat. Pelajarilah dan
gunakan untuk kebaikan.”
__ADS_1