KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Kekejaman Kaisar Yongle


__ADS_3

Terdengar Tie Shi melanjutkan ceritanya kembali


"Yongle kemudian memerintahkan Fang Xiaoru salah satu


menteri Jianwen sekaligus pencatat sejarah untuk membuat naskah proklamasi


penobatannya sebagai kaisar. Tentu saja Menteri Fang yang setia kepada Kaisar


Jianwen menolaknya.dan melempar kuasnya dihadapan Yongle. Yongle yang marah


kemudian mengancamnya


"Kamu mungkin tidak takut mati, tetapi apa kamu tidak


takut jika keluargamu hingga sembilan keturunan dihukum mati?"


Namun Menteri Fang tidak gentar dengan ancaman itu dan


menjawab


"Jangankan sembilan keturunan, sepuluh keturunanpun kau


bisa membunuhnya! Tetapi aku tidak akan pernah menuliskannya untukmu!"


Tie Shi menggelengkan kepala dengan sedih dan berkata


"Setelah itu dia menulis sesuatu di kertas dan


memberikannya kepada Yongle. Yongle sangat marah setelah membaca tulisan


itu."


"Apa yang dituliskannya Paman?"


"Dia menulis 'Maling Pencuri Tahta'.  Yongle yang murka segera memerintahkan menteri


Fang disiksa dengan kejam. Seluruh kerabatnya dari buyut hingga cicit dihukum


mati.  Bahkan para pelayan dan sahabatnya


tak luput dari kemurkaan Yongle. Menteri Fang didiksa dengan kejam kemudian


dipaksa untuk melihat kematian kerabatnya satu persatu di hadapannya untuk


membuatnya berubah pikiran. Waktu itu Ma Huan yang bersimpati kepadanya sudah


menyarankannya untuk menyerah demi keselamatan keluarga dan sahabatnya. Namun


dia tetap kukuh dengan pendiriannya yang akhirnya menyusahkan dirinya. Menteri


Fang tetap bertahan melihat kerabat dan para sahabatnya dihukum satu persatu


didepan matanya hingga tiba gilirannya untuk mati," ungkap Tie Shi dengan


sedih,"tutur Tie Shi.


Bergidik Wiraksara mendengar cerita kekejaman Yongle, lalu


diapun bertanya lagi.


"Lalu bagaimana Paman bisa lolos dari hukuman Kaisar


Yongle padahal dia sudah membunuh semua orang yang setia kepada Kaisar Jianwen.


"Dia bersedia memberi pengampunan para pengikut Kaisar


Jianwen asal mereka bersedia menyerah dan mengakuinya sebagai Kaisar yang


baru.  Ketika tertangkap akhirnya aku


bersedia menyerah demi keselamatan keluarga dan teman-temanku. Ketika itu dia


berkata, "Kalian sekarang adalah bawahanku, selama kalian masih setia


kepadaku, marilah kita lupakan yang lalu dan menghadapi masa yang akan datang,"

__ADS_1


tutur Tie Shi.


 “Lalu bagaimana


dengan nasib Jenderal Tie Xuan?” Tamya Wiraksara.


 Saat itu setelah


membakar istana, aku dan beberapa orang-orangku berhasil melarikan diri,  tapi sayang ayahku berhasil ditangkap pasukan


Yongle.  Dia menyandera ayah, ibu dan


adik perempuanku  agar aku datang


menyerah. Tetapi setelah aku menyerah,  dia menghukum mati ayahku. Lalu Yongle memintaku untuk memusnahkan ilmu


silatku. Jika tidak dia akan membunuh anggota keluargaku yang lain sampai 9


keturunan. Untunglah saat itu aku telah mengungsikan isteri dan anakku ke


Goryeo.”


“Oh, jadi Paman Shi masih memiliki keluarga di Goryeo?”


Tie Shi mengangguk


“Ya, mereka aman di sana, isteri dan anak perempuanku


sekarang berada di kota Kaesong Goryeo  tempat asal isteriku. Isteriku adalah putri bangsawan dari Klan Kim yang


berpengaruh di Goryeo jadi soal keamanan mereka sudah tidak perlu dicemaskan


lagi, kurasa jika tinggal di sana akan lebih aman bagi mereka. Aku selalu


bermimpi, suatu saat bisa kembali berkumpul dengan mereka.  Setiap saat aku merindukan mereka dan ingin


sekali bisa bertemu dengan puteriku setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Tapi


aku tahu itu tidak mungkin kulakukan. Aku akan tetap di sini sampai aku mati


Wiraksara turut bersimpati dengan kesedihan sahabatnya


“Paman Shi, kelak jika aku bisa keluar dari tempat ini, aku


akan mencari  putrimu di Goryeo. Siapa


nama Putrimu?”


“Putriku bernama Tie Li Yung.”


Dalam hati Wiraksara merasa geram, ternyata Kaisar Yongle


tidak sebaik yang dipikirkannya selama ini. Di dalam negeri dia berlaku sangat


kejam terhadap lawan-lawan politiknya. Tetapi jika melihat negara China yang


menjadi negeri yang disegani, dia mengakui bahwa untuk bisa menjadi negara yang


kuat dan disegani, terkadang seorang Raja harus bertindak kejam.


Tie Shi melangkah ke sudut ruangan, menggeser laci kecil


untuk tempat obat-obatan. Kening Wiraksara berkerut


“Paman, untuk apa kau menggeser laci itu? Biar aku saja yang


menggesernya,” Wiraksara bergegas membantu menggeser laci obat.


“Aku pinjam pedangmu, kurasa pedang ini bisa mengiris lantai


batu ini kan?” Tanya Tie Shi.


Wiraksara mengangguk lalu memberikan pedangnya dengan


perasaan heran.  Tie Shi mengiris lantai

__ADS_1


menjadi bentuk bujur sangkar. Pedang itu dengan mudahnya mengiris batu seperti


mengiris roti. Setelah itu irisan batu dijugil dari tempatnya dan dibawah


lantai ada sebuah kotak tembaga. Tie Shi membuka kotaknya, di dalamnya ada


sebuah buku, diambilnya buku itu lalu diberikan kepada Wiraksara.


“Pelajari kitab ini dan kau akan menjadi seorang pendekar


yang tak terkalahkan. Kau bisa membacanya kan?” Tanya Tie Shi.


Wiraksara mengambil buku itu dan membukanya, ada tulisan dan


gambar-gambar orang memperagakan jurus-jurus silat di dalamnya. Dia mencoba


membaca buku itu tetapi ada beberapa karakter aksara China yang masih belum


dikenalnya.


“Aku mengerti huruf kanji, tetapi ada beberapa karakter di


sini yang aku tidak mengerti. Kurasa aku tetap memerlukan bantuanmu untuk


menerjemahkan aksara ini,” kata Wiraksara.


Tie Shi tergelak mendengar permintaan Wiraksara


“Ini adalah kitab pusaka Ilmu Pukulan Tapak Tangan Baja.”


“Oh, jadi ini pusaka keluarga Tie?” Tanya Wiraksara.


“Bukan, kitab ini bukan pusaka keluarga Tie.  Sebenarnya kitab pusaka ini kuperoleh secara


tidak sengaja, aku menemukannya tergeletak  di kolong altar sebuah kuil rusak. Buku ini


kutemukan di kolong altar dalam keadaan penuh debu bertumpuk bersama


benda-benda kuil yang lain. Kuil itu tampaknya diserang segerombolan orang  lalu penghuninya melarikan diri meninggalkan


kuil atau dibunuh aku tidak tahu. Mungkin mereka mencari kitab itu tetapi tidak


menyangka kitab itu ada di kolong altar. Entah siapa yang menulisnya semenjak


mempelajari ilmu ini, kemajuan ku bertambah pesat, aku malang melintang di


dunia persilatan. Buku ini menjadi incaran para pendekar bahkan pendekar dari


Persia dan India mengincar kitab ini. Kau tahu bahkan Gaoxu juga mengincar buku


ini. Tetapi aku mengatakan bahwa buku itu telah hilang ketika aku ditangkap,”


tutur Tie Shi.


Wiraksara merasa heran, kitab pusaka itu justru diwariskan


kepadanya yang bukan keluarga Tie Shi


“Lalu mengapa kau justru memberikannya kepadaku? Aku hanya


orang asing yang datang dari jauh, kurasa anakmu lebih berhak mendapatkannya.”


Tie Shi tersenyum dan menepuk bahu Wiraksara


“Pewaris sebuah ilmu tidak mesti harus orang yang memiliki


hubungan darah. Anakku perempuan, belum tentu juga dia mau belajar ilmu silat.


Walaupun kau datang dari negeri yang jauh, tetapi aku tahu kau adalah seorang


ksatria pilih tanding yang berbudi luhur dan tidak mementingkan diri sendiri.


Kitab ini berbahaya kalau sampai jatuh ke tangan orang jahat. Pelajarilah dan


gunakan untuk kebaikan.”

__ADS_1


__ADS_2