KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Gurun Gobi


__ADS_3

Setibanya di luar, orang-orang Persia itu membekap mulut


Wiraksara, tercium bau harum yang membuat kepalanya terasa pusing dan badannya


lemas. Wiraksara roboh tak berdaya setelah itu orang-orang Persia itu


membawanya pergi .


Sementara itu di dalam penginapan, Nyonya Ling bersama para


pegawai penginapan sibuk merawat orang-orang yang terluka karena pertarungan


tadi. Setelah merawat orang-orang yang terluka, Nyonya Ling pergi ke gudang di


belakang penginapan bersama para pegawainya. Di sana telah menunggu Ma Jingtao


dan Chen Nie. Nyonya Ling menghampiri mereka dan berkata


Jenderal Ma, Jenderal Chen, kami telah mendapatkan informasi


tentang siapa yang mencuri stempel itu dan tempat mereka menyembunyikan stempel


Kerajaan.”


Chen Nie dari kesatuan Telik Sandi Dongchang yang juga


sering disebut sebagai Depot Timur karena kantornya berada di sayap timur


istana tersenyum puas dan berkata


“Bagus Agen Mao, kau dan teman-temanmu telah melaksanakan


tugas dengan baik. Dimana stempel itu disembunyikan?”


“Mereka menyembunyikan di sebuah rumah bernama Gedung Hitam


di kota Gansu. Segera setelah urusan di sini selesai kami akan segera kesana


untuk mengambil kembali stempel itu.”


“Tapi kalian harus membawa kembali Nyonya Ling yang asli


beserta para pegawai penginapan kembali kemari sebelum kalian pergi, lakukan


semua ini dengan rapi dan secara diam-diam.  Jangan sampai para tamu hotel lainnya menyadarinya,” perintah Chen Nie.


Agen Mao tersenyum, dan berkata


“Jangan kuatir, besok Nyonya Ling yang asli sudah kembali


kemari bersama para pegawainya.  Kami


telah mengungsikan mereka ke tempat yang aman.”


Rupanya seluruh pegawai termasuk pemilik penginapan Naga


telah diganti dengan pasukan telik sandi Dongchang di bawah pimpinan Chen Nie


dibantu pasukan Jinyiwei di bawah pimpinan Ma Jingtao. Mereka di sebar di


penginapan-penginapan dan kedai di perbatasan untuk mengejar pelaku pencurian


stempel.  Ada dugaan mereka adalah


kelompok pemberontak Bunga Merah yang bekerjasama dengan Mongol untuk kembali


menguasai China.


“Jenderal Ma, saya sudah menyuruh beberapa pasukan Jinyiwei


untuk berangkat ke Gedung Hitam di Gansu. Kami akan mencoba menyamar untuk masuk


ke Gedung Hitam,” kata seorang pasukan Jinyiwei.


Majingtao mengangguk dan bertanya


“Gedung Hitam itu setahuku adalah sebuah kantor perusahaan


dagang milik Tuan Fu Shen pedagang sutera dan teh yang ternama. Kantor

__ADS_1


cabangnya tersebar di berbagai penjuru dunia, dia dikenal memiliki hubungan


yang dekat dengan Perdana Menteri.  Bahkan Kaisar sering mengundangnya dalam setiap perjamuan makan bersama


utusan dari negara sahabat jika mereka datang berkunjung. Semua orang di China


tahu dia adalah seorang Saudagar kaya yang sangat dermawan dan berjiwa


ksatria.  Bagaimana mungkin dia bisa


berkhianat pada Kaisar?”


“Ya, dia memang seorang tokoh yang sangat dihormati di


China, tetapi tahukah anda bahwa  sudah


setahun ini Tuan Fu Shen tidak pernah datang berkunjung ke istana bahkan tak


pernah menampakan dirinya di muka umum. Kalaupun suatu saat dia muncul, dia


hanya menampakan diri sebentar, sedikit bicara dan menyerahkan seluruh urusan


usaha pada orang-orang kepercayaannya. Mungkin orang akan menganggapnya sebagai


hal yang biasa karena memang dia tidak pernah berlama-lama di satu tempat


secara dia memiliki banyak kantor perwakilan yang tersebar ke seluruh negeri.  Namun bagi kami itu adalah hal yang luar


biasa karena Tuan Fu adalah orang yang memiliki kepribadian yang ceria, terbuka


dan banyak bicara.  Saat ini dia seolah


menjelma menjadi seseorang yang berbeda, kurasa sesuatu telah terjadi pada Tuan


Fu,” ungkap Chen Nie.


Ma Jingtao tertegun mendengarnya


“Ah, tak kusangka masalah ini menjadi sedemikian rumit dan


melibatkan banyak pihak. Setelah Wiraksara kita temukan, kita harus segera


menyelesaikan masalah ini.”


Hari sudah menjelang dini hari, Wiraksara terbangun dari


pingsannya, tiba-tiba dadanya terasa sesak dan memuntahkan darah kental hitam


dari mulutnya. Setelah itu Wiraksara merasakan tubuhnya mulai terasa ringan


walaupun tubuhnya sedikit terasa lemas. Dari keremangan cahaya bulan,  Wiraksara mendapati dirinya berada di antara


celah gunung batu yang sempit dengan ikatan di tangannya yang sudah terbuka,


tak lama kemudian tampak sepasang kaki di depannya.


“Sebaiknya kau tidak banyak bergerak, jika kau banyak


bergerak racun itu akan tersebar ke seluruh tubuhmu.  Hanya aku yang memiliki penawar racunnya,


jadi sebaiknya kau turuti saja perintah dari kami dan jangan mencoba membantah


apapun yang kami minta,” ujar Mehrak dengan suara dingin.


Wiraksara tertegun dan berpikir


Racun? Tapi mengapa tubuhku justru mulai  terasa lebih enak dan segar? Mungkinkah racun


dari Mehrak ini adalah penawar racun Zhang Hao? Tetapi hal ini mungkin saja


terjadi, racun melawan racun sehingga sekarang racun dari Zheng Hao justru


menjadi tawar, batin Wiraksara.


Namun di depan Mehrak dia bersikap seolah sedang kesakitan


agar musuhnya tidak curiga dan berkata


“Tolong bebaskan aku,” kata Wiraksara.

__ADS_1


“Tidak, kau masih bisa memberikan keuntungan ganda bagi


kami.  Besok mereka akan datang me,membawa


permata Azura Mahda dan uang, setelah permata dan uang kuterima kau bisa pergi


dari sini,” kata Mehrak.


Ah, benar dugaanku, mereka menjadikanku sandera untuk


mendapatkan benda yang mereka inginkan.   Sial benar nasibku di China, sudah menjadi


sandera hutang ganti rugi Majapahit dan sekarang menjadi sandera permata Azura


Mahda dan dimanfaatkan untuk meminta tebusan uang. Tapi untuk apa mereka


mengincar Permata Azura Mahda ya? batin Wiraksara dengan heran.


Mehrak pergi meninggalkan Wiraksara sendirian, setelah itu


Wiraksara mencoba mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Upayanya


berhasil, energinya mengalir ke seluruh tubuhnya memulihkan keadaannya yang


sudah terluka parah.  Perlahan kondisi


Wiraksara mulai membaik , dia melihat ke lingkungan sekelilingnya. Sekarang dia


berada di bukit batu di tengah Gurun pasir yang tandus.


“Keadaan lingkungan di sekitarnya membuatku sulit untuk


melarikan diri. Tapi kurasa mereka belum terlalu jauh dari Penginapan Naga. Aku


bisa melarikan diri dari sini dan kembali ke istana bersama kedua orang


penolongku tadi,” gumam Wiraksara.


Malam pun merayap menuju subuh, Wiraksara melihat  para penyanderanya


masih tertidur pulas di tempatnya.


“Ini kesempatanku untuk melarikan diri, sebaiknya aku


bersiap saja untuk melarikan diri toh sekarang tubuhku sudah mulai pulih,”


gumam Wiraksara.


Wiraksara kembali memperhatikan situasi di sekitarnya, hari


masih sedikit gelap.  Dengan


mengendap-endap, Wiraksara pergi meninggalkan tempatnya.  Orang-orang Persia itu masih saja terlelap, tubuhnya


berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Tetapi tubuhnya masih lemah sehingga ilmu


meringankan tubuhnya tidak dapat digunakan dengan maksimal.


Dengan gembira Wiraksara meninggalkan tempat itu mencari


kebebasan kembali ke Penginapan Naga.  Malampun merayap menuju subuh, matahari mulai menampakan sinarnya di ufuk


timur. Wirota masih terus berlari kembali ke Penginapan Naga. Ketika matahari


mulai tinggi barulah Wirota mulai menyadari, dia berada di tengah padang pasir


yang sangat luas, tidak ada manusia, hewan atau apapun yang lewat di tempat


itu. Wiraksara menghentikan langkahnya dan memandang ke sekelilingnya


“Celaka, aku mungkin salah arah, Penginapan Naga sampai


sekarang belum kutemukan dan tampaknya aku tersesat.”


Ketika melarikan diri, Wiraksara lupa bahwa saat itu dia


tengah berada di gurun Gobi yang sangat luas. Dia tidak membawa onta atau kuda


dan bekal air, bisa dipastikan hari itu dia akan mengalami dehidrasi di gurun

__ADS_1


Gobi dan belum tentu ada orang yang menolongnya. Wiraksara terduduk lemas


menyadari dirinya kini telah tersesat jauh dan tidak tahu arah.


__ADS_2