
Setibanya di luar, orang-orang Persia itu membekap mulut
Wiraksara, tercium bau harum yang membuat kepalanya terasa pusing dan badannya
lemas. Wiraksara roboh tak berdaya setelah itu orang-orang Persia itu
membawanya pergi .
Sementara itu di dalam penginapan, Nyonya Ling bersama para
pegawai penginapan sibuk merawat orang-orang yang terluka karena pertarungan
tadi. Setelah merawat orang-orang yang terluka, Nyonya Ling pergi ke gudang di
belakang penginapan bersama para pegawainya. Di sana telah menunggu Ma Jingtao
dan Chen Nie. Nyonya Ling menghampiri mereka dan berkata
Jenderal Ma, Jenderal Chen, kami telah mendapatkan informasi
tentang siapa yang mencuri stempel itu dan tempat mereka menyembunyikan stempel
Kerajaan.”
Chen Nie dari kesatuan Telik Sandi Dongchang yang juga
sering disebut sebagai Depot Timur karena kantornya berada di sayap timur
istana tersenyum puas dan berkata
“Bagus Agen Mao, kau dan teman-temanmu telah melaksanakan
tugas dengan baik. Dimana stempel itu disembunyikan?”
“Mereka menyembunyikan di sebuah rumah bernama Gedung Hitam
di kota Gansu. Segera setelah urusan di sini selesai kami akan segera kesana
untuk mengambil kembali stempel itu.”
“Tapi kalian harus membawa kembali Nyonya Ling yang asli
beserta para pegawai penginapan kembali kemari sebelum kalian pergi, lakukan
semua ini dengan rapi dan secara diam-diam. Jangan sampai para tamu hotel lainnya menyadarinya,” perintah Chen Nie.
Agen Mao tersenyum, dan berkata
“Jangan kuatir, besok Nyonya Ling yang asli sudah kembali
kemari bersama para pegawainya. Kami
telah mengungsikan mereka ke tempat yang aman.”
Rupanya seluruh pegawai termasuk pemilik penginapan Naga
telah diganti dengan pasukan telik sandi Dongchang di bawah pimpinan Chen Nie
dibantu pasukan Jinyiwei di bawah pimpinan Ma Jingtao. Mereka di sebar di
penginapan-penginapan dan kedai di perbatasan untuk mengejar pelaku pencurian
stempel. Ada dugaan mereka adalah
kelompok pemberontak Bunga Merah yang bekerjasama dengan Mongol untuk kembali
menguasai China.
“Jenderal Ma, saya sudah menyuruh beberapa pasukan Jinyiwei
untuk berangkat ke Gedung Hitam di Gansu. Kami akan mencoba menyamar untuk masuk
ke Gedung Hitam,” kata seorang pasukan Jinyiwei.
Majingtao mengangguk dan bertanya
“Gedung Hitam itu setahuku adalah sebuah kantor perusahaan
dagang milik Tuan Fu Shen pedagang sutera dan teh yang ternama. Kantor
__ADS_1
cabangnya tersebar di berbagai penjuru dunia, dia dikenal memiliki hubungan
yang dekat dengan Perdana Menteri. Bahkan Kaisar sering mengundangnya dalam setiap perjamuan makan bersama
utusan dari negara sahabat jika mereka datang berkunjung. Semua orang di China
tahu dia adalah seorang Saudagar kaya yang sangat dermawan dan berjiwa
ksatria. Bagaimana mungkin dia bisa
berkhianat pada Kaisar?”
“Ya, dia memang seorang tokoh yang sangat dihormati di
China, tetapi tahukah anda bahwa sudah
setahun ini Tuan Fu Shen tidak pernah datang berkunjung ke istana bahkan tak
pernah menampakan dirinya di muka umum. Kalaupun suatu saat dia muncul, dia
hanya menampakan diri sebentar, sedikit bicara dan menyerahkan seluruh urusan
usaha pada orang-orang kepercayaannya. Mungkin orang akan menganggapnya sebagai
hal yang biasa karena memang dia tidak pernah berlama-lama di satu tempat
secara dia memiliki banyak kantor perwakilan yang tersebar ke seluruh negeri. Namun bagi kami itu adalah hal yang luar
biasa karena Tuan Fu adalah orang yang memiliki kepribadian yang ceria, terbuka
dan banyak bicara. Saat ini dia seolah
menjelma menjadi seseorang yang berbeda, kurasa sesuatu telah terjadi pada Tuan
Fu,” ungkap Chen Nie.
Ma Jingtao tertegun mendengarnya
“Ah, tak kusangka masalah ini menjadi sedemikian rumit dan
melibatkan banyak pihak. Setelah Wiraksara kita temukan, kita harus segera
menyelesaikan masalah ini.”
Hari sudah menjelang dini hari, Wiraksara terbangun dari
pingsannya, tiba-tiba dadanya terasa sesak dan memuntahkan darah kental hitam
dari mulutnya. Setelah itu Wiraksara merasakan tubuhnya mulai terasa ringan
walaupun tubuhnya sedikit terasa lemas. Dari keremangan cahaya bulan, Wiraksara mendapati dirinya berada di antara
celah gunung batu yang sempit dengan ikatan di tangannya yang sudah terbuka,
tak lama kemudian tampak sepasang kaki di depannya.
“Sebaiknya kau tidak banyak bergerak, jika kau banyak
bergerak racun itu akan tersebar ke seluruh tubuhmu. Hanya aku yang memiliki penawar racunnya,
jadi sebaiknya kau turuti saja perintah dari kami dan jangan mencoba membantah
apapun yang kami minta,” ujar Mehrak dengan suara dingin.
Wiraksara tertegun dan berpikir
Racun? Tapi mengapa tubuhku justru mulai terasa lebih enak dan segar? Mungkinkah racun
dari Mehrak ini adalah penawar racun Zhang Hao? Tetapi hal ini mungkin saja
terjadi, racun melawan racun sehingga sekarang racun dari Zheng Hao justru
menjadi tawar, batin Wiraksara.
Namun di depan Mehrak dia bersikap seolah sedang kesakitan
agar musuhnya tidak curiga dan berkata
“Tolong bebaskan aku,” kata Wiraksara.
__ADS_1
“Tidak, kau masih bisa memberikan keuntungan ganda bagi
kami. Besok mereka akan datang me,membawa
permata Azura Mahda dan uang, setelah permata dan uang kuterima kau bisa pergi
dari sini,” kata Mehrak.
Ah, benar dugaanku, mereka menjadikanku sandera untuk
mendapatkan benda yang mereka inginkan. Sial benar nasibku di China, sudah menjadi
sandera hutang ganti rugi Majapahit dan sekarang menjadi sandera permata Azura
Mahda dan dimanfaatkan untuk meminta tebusan uang. Tapi untuk apa mereka
mengincar Permata Azura Mahda ya? batin Wiraksara dengan heran.
Mehrak pergi meninggalkan Wiraksara sendirian, setelah itu
Wiraksara mencoba mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Upayanya
berhasil, energinya mengalir ke seluruh tubuhnya memulihkan keadaannya yang
sudah terluka parah. Perlahan kondisi
Wiraksara mulai membaik , dia melihat ke lingkungan sekelilingnya. Sekarang dia
berada di bukit batu di tengah Gurun pasir yang tandus.
“Keadaan lingkungan di sekitarnya membuatku sulit untuk
melarikan diri. Tapi kurasa mereka belum terlalu jauh dari Penginapan Naga. Aku
bisa melarikan diri dari sini dan kembali ke istana bersama kedua orang
penolongku tadi,” gumam Wiraksara.
Malam pun merayap menuju subuh, Wiraksara melihat para penyanderanya
masih tertidur pulas di tempatnya.
“Ini kesempatanku untuk melarikan diri, sebaiknya aku
bersiap saja untuk melarikan diri toh sekarang tubuhku sudah mulai pulih,”
gumam Wiraksara.
Wiraksara kembali memperhatikan situasi di sekitarnya, hari
masih sedikit gelap. Dengan
mengendap-endap, Wiraksara pergi meninggalkan tempatnya. Orang-orang Persia itu masih saja terlelap, tubuhnya
berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Tetapi tubuhnya masih lemah sehingga ilmu
meringankan tubuhnya tidak dapat digunakan dengan maksimal.
Dengan gembira Wiraksara meninggalkan tempat itu mencari
kebebasan kembali ke Penginapan Naga. Malampun merayap menuju subuh, matahari mulai menampakan sinarnya di ufuk
timur. Wirota masih terus berlari kembali ke Penginapan Naga. Ketika matahari
mulai tinggi barulah Wirota mulai menyadari, dia berada di tengah padang pasir
yang sangat luas, tidak ada manusia, hewan atau apapun yang lewat di tempat
itu. Wiraksara menghentikan langkahnya dan memandang ke sekelilingnya
“Celaka, aku mungkin salah arah, Penginapan Naga sampai
sekarang belum kutemukan dan tampaknya aku tersesat.”
Ketika melarikan diri, Wiraksara lupa bahwa saat itu dia
tengah berada di gurun Gobi yang sangat luas. Dia tidak membawa onta atau kuda
dan bekal air, bisa dipastikan hari itu dia akan mengalami dehidrasi di gurun
__ADS_1
Gobi dan belum tentu ada orang yang menolongnya. Wiraksara terduduk lemas
menyadari dirinya kini telah tersesat jauh dan tidak tahu arah.