
Dengan tangan gemetar Wiraksara menerima permata yang masih berlumuran darah Gulya. Pria tua
itu berkata lagi
“Pergilah cepat, selamatkan temanmu, waktunya sudah mepet.”
Wiraksara mengangguk, seorang wanita datang membawakan
mangkuk berisi air
“Bersihkan dulu permata itu sebelum kau bawa pergi.”
Setelah membungkus permata dan menyimpannya dalam kantongnya
Wiraksara dan Hamzah berpamitan pergi dan kembali melanjutkan perjalanan
mencari Maheen.
*****
Sementara itu Wan Ling pemimpin Sekte Air Perak telah
menerima vonis 3 tahun penjara dari hakim yang mengadilnya karena terbukti
melakukan percobaan pembunuhan dan masih harus menjalani hukuman cambuk di
alun-alun besok siang bersama para tahanan lainnya.
Malam itu Wan Ling duduk di sudut penjara yang gelap,
rambutnya yang panjang terurai berantakan. Dia menanti kabar dari para anggota
sektenya yang sempat berhasil menculik Maheen. Namun sudah 2 minggu lebih dia
belum mendengar kabar dari anak buahnya. Hatinya mulai mendongkol karena dia
harus mendekam di sel sempit dan berbau busuk yang penuh dengan narapidana
kelas kakap. Melarikan diri dari penjara tampaknya sangat sulit dilakukan
sendirian karena penjara khusus kriminal itu terletak di bawah tanah yang gelap
dan dingin, sedangkan tangan dan kakinya diborgol. Ditambah lagi dia sama
sekali tidak doyan dengan makanan penjara yang menurutnya seperti pakan babi.
Sehingga tubuhnya melemah karena asupan makanan berkurang.
Tiba-tiba lorong penjara mulai terang dan terdengar suara
orang memanggil Wan Ling.
“Ketua Wan…Ketua Wan, dimana anda berada?”
Wan Ling terkejut, dia bangkit dari duduknya lalu berseru
__ADS_1
“Aku di sini, cepat bebaskan aku dari sini!”
Sejurus kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke penjara,
beberapa anak buah Wan Ling datang melongok ke dalam sel. Salah satu
diantaranya mengangkat obornya menerangi bagian dalam sel. Wan Ling maju mendekat ke pintu penjara dan
berseru
“Cepat keluarkan aku dari sini, aku sudah tidak tahan lagi!”
Para Napi dalam sel Wan Ling mulai ramai bersuara
“Hei cepat, keluarkan kami dari sini juga, kami sudah lama menderita
dalam sel ini!”
Salah seorang anak buah Wan Ling mengeluarkan kawat dan
mulai membuka gembok kunci penjara. Tetapi ketika Wan Ling sudah keluar,
buru-buru pintu sel ditutup sehingga para Napi itu berteriak marah
“Hei, kami juga mau kabur dari sini. Cepat bebaskan kami!”
Namun Wan Ling berkata pada mereka
“Hanya aku saja yang boleh kabur, kalian tetap di sini!”
tak peduli, mereka menyusuri lorong penjara bawah tanah keluar dari penjara.
Beberapa anak buah Wan Ling mengeluarkan sebuah botol dari tas cangklongnya. Di
dalam botol ada bubuk hitam yang kemudian ditaburkan di sepanjang jalan keluar
penjara.
Ketika mereka tiba di depan gerbang penjara, salah satu
pengikutnya mulai membakar bubuk hitam
itu. Api dengan cepat menjalar ke seluruh penjara, membakar seluruh isi penjara
di bawah tanah itu. Para Napi di dalam sel mulai berteriak-teriak panik dan
takut
“Tolong lepaskan kami…tolong kami, bebaskan kami di sini
panas sekali!”
“Cepat segera keluar dari sini. Sebentar lagi penjara ini meledak!”
Setelah mereka keluar dari gerbang penjara bawah tanah,
__ADS_1
terdengar ledakan keras
“Blaaar…blaaar…blaaar!”
Penjara bawah tanah meledak karena bubuk mesiu yang
ditaburkan anak buah Wan Ling. Anehnya
tidak ada satu penjaga penjara yang datang melihat apa yang terjadi.
“Apa yang telah kalian lakukan terhadap mereka? Kemana para
pengawal penjara ini?” Tanya Wan Ling dengan heran.
Salah satu anak buahnya menunjuk ke depan, yang lainnya
mengangkat ibirnya menerangi seluruh lingkungan
“Lihat, para penjaga penjara di sini telah kami berikan racun
bubuk Penghancur Sukma. Sekarang mereka semua sudah mati dan kita bisa
melarikan diri dengan mudah!”
Wan Ling melihat ke sekelilingnya dan melihat para prajurit
yang menawannya tadi sudah mati kaku terduduk di tempatnya. Segera dia keluar
dari tempat itu bersama anak buahnya. Wan Ling dan para pengkutnya terus
berlari menembus gelapnya malam.
Di sebuah tempat yang sepi di pojok kota, ada sebuah rumah tua, mereka masuk ke dalamnya. Seorang pelayan menyambut Wan Ling .
"Siapkan air mandi dan sediakan makanan untukku," perintah Wanling.
Usai mandi Wan Ling langsung makan makanan yang sudah disediakan para pelayannya.Dengan rakus Wan Ling mulai memakan makanan yang dihidangkan, Setelah sekian lama dipenjara tidak makan enak membuat Wan Ling makan seperti kesurupan. Usai makan Wan Ling memanggil para anak buahnya dan memarahi mereka
"Kemana saja kalian selama ini? Mengapa tidak segera membebaskan aku dari penjara?"
Dengan nada takut salah satu anak buahnya maju ke hadapannya dan berkata
"Maafkan kami Ketua, kami kesulitan mencari anda, apalagi penjara itu ternyata dijaga ketat. Kalau saja kami tidak menyandera seluruh keluarga Kepala Penjara di sini, sudah pasti kami akan kesulitan membebaskan anda dari penjara itu."
"Lalu bagaimana kabar Gadis Suci dan Permata Api itu? Dimana gadis dan permata itu berada sekarang?" Tanya Wan Ling lagi,
Anak buah Wan Ling saling berpandangan lalu berkata
"Mohon ampun Ketua, orang yang bertugas membawa Gadis Suci dan Permata Api telah gugur dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal. Sedangkan Gadis Suci dan Permata Api menghilang, kami tidak tahu harus mencari kemana lagi."
Wan Ling terkejut dan bertambah murka karena gadis dan permata Api yang diperjuangkan mati-matian telah hilang.
"Dasar bodoh, kalian semua tidak becus bekerja! Pergi kalian semua. menyusahkan aku saja," seru Wan Ling dengan kesal.
Saat itu tak ada seorangpun yang berani bicara, mereka segera pergi ketika Wan Ling memerintahkan mereka pergi dari hadapannya. Setelah mereka pergi Wan Ling mulai berpikir
__ADS_1
Sekte mana lagi yang menginginkan permata Api? Ah, sial, para pemburu benda mustika itu rupanya sudah tahu dengan keberadaan Legenda 4 Elemen Azura Mahda. Tapi sekte mana lagi yang menginginkan permata itu? pikir Wan Ling.