KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Jarum Beracun


__ADS_3

Kaisar Yongle tertegun lalu berkata


“Jangan ceritakan hal ini pada siapapun, biar aku yang


menyelesaikannya.”


Sementara itu Wiraksara telah dibawa ke pinggiran kota, di


sana sebuah kereta kuda yang tertutup telah menunggu. Wiraksara di bawa masuk


kereta bersama penculiknya, setelah itu kereta melaju kembali membawa Wiraksara


menjauh dari istana.


Setelah kurang lebih satu jam berkuda, kereta berhenti di


satu tempat.  Ketika di panggul keluar,


Wiralsara melihat sebuah gedung tua yang besar, di sana ada beberapa orang


berpakaian pendekar berkumpul di ruangan depan di gedung itu.  Ketika rombongan dari istana itu datang,


teman-teman mereka menyambutnya dan bertanya


“Bagaimana, kalian berhasil mendapatkannya?”


Orang itu tertawa bangga


“Tentu saja, aku yakin ketua pasti akan senang mendengar


berita ini, kalian urus tawanan kita ini. Dia masih bisa kita manfaatkan.”


Wiraksara dibanting ke lantai yang keras sehingga dia


berteriak kesakitan, orang-orang itu segera membawanya ke sebuah ruangan dengan


pintu jeruji dan mengurungnya di situ. Di dalam ruangan Wiraksara berusaha


membuka totokan di jalan darahnya, berulang kali dia mencoba membebaskan diri dari


totokan pria berkedok tadi namun selalu gagal.


Ilmu apa yang dipakai orang ini sehingga aku gagal membuka


totokannya? batin Wiraksara.


Keringat sebesar biji kedelai mulai mengalir deras di


tubuhnya namun tetap saja dia msih belum bisa membebaskan diri dari totokan


orang itu. Akhirnya dia pasrah beristirahat sebentar sambil mengamati keadaan


di sekelilingnya termasuk orang-orang yang berada di tempat itu.  Terdengar langkah kaki mendekat ke arah selnya,


Wiraksara buru-buru bersikap seolah lemas tak berdaya. Ternyata orang yang


menggendongnya telah kembali, kedoknya masih tetap dipakai.


“Tidak usah mencoba membebaskan totokanku, setelah 3 jam kau


bisa bergerak lagi!” Kata orang itu.


Wiraksara hanya mendengus kesal lalu menunggu waktu berlalu


sampai dirinya terbebas dari pengaruh totokan di jalan darahnya.


Malampun semakin larut, Wiraksara yang kelelahan sudah


tertidur lelap di tempatnya. Ketika hari sudah menjelang subuh Wiraksara


terbangun, situasi di sekitar tempat itu terasa sepi sepertinya orang-orang itu


sudah tertidur semua. Wiraksara merasakan tubuhnya mulai terasa ringan dan


dapat digerakan.  Wiraksara merasa lega


dia sudah terbebas dari totokan di jalan darahnya.


Sekarang aku harus memikirkan cara agar dapat keluar dari


tempat ini, batin Wiraksara.


Dia memegang jeruji pintu penjara, jeruji itu tampaknya


tidak begitu kuat dan tebal, dengan mudah Wiraksara membengkokan besinya lalu

__ADS_1


menyelinap keluar. Di ruangan depan Wiraksara mendapati para pendekar itu sudah


tertidur lelap. Wiraksara berjalan ke pintu depan dan membuka pintunya.


“Kriiieeet!”


Pintu itu berderit ketika dia membukanya, sepertinya


engselnya tidak pernah diminyaki. Wiraksara berhenti sejenak dan menoleh


memeriksa situasi di sekitarnya. Dia bernafas lega orang-orang itu masih


terlelap di tempatnya. Wiraksara segera menyelinap keluar dan melarikan diri


dari tempat itu. Belum lagi jauh dia berlari, tiba-tiba satu sosok bayangan


menghadangnya.


“Sudah kubilang jangan mencoba lari dari tempat ini!”


Wiraksara terkejut, orang itu berusaha menangkapnya namun


dengan gesit Wiraksara menghindarinya. Merekapun bertarung dengan tangan


kosong, gerakan orang itu begitu cepat berkali-kali Wiraksara terkena pukulan


orang itu tanpa mampu membalasnya. Hingga suatu saat setelah 3 jurus berlalu,


di jurus ke 4 sebuah tendangan bersarang telak di dadanya membuat Wiraksara


muntah darah.   Orang itu tersenyum sinis


“Ilmu silatmu bagus juga, kau masih bisa menahan 4 jurus


seranganku walaupun babak belur.”


Orang itu bergerak ke arah Wiraksara dan berusaha


menangkapnya kembali.


Wiraksara diam-diam mengerahkan hawa murni ke telapak


tangannya, seketika telapak tangannya berubah menjadi berwarna keperakan.  Ketika orang itu sudah berada dalam jarak


yang dekat, tangannya bergerak menyerang dan meraih kedoknya. Kedoknya terbuka


Xien anak buah sekaligus salah satu kepercayaan Pangeran Gaoxu.


Wu Xien terperanjat menyadari kedoknya terlepas, dia tak


ingin rahasianya terbongkar dan ingin membunuh Wiraksara.


“Kau telah mengetahui jati diriku, jadi aku harus


membunuhmu!”


Tangan Wu Xien berkelebat mencengkram Wiraksara, namu


Wiraksara menangkisnya dengan ilmu Tapak Tangan Baja, upayanya berhasil, tangan


Wu Xien terluka terkena sambaran tangannya. Wu Xien terperanjat melihat


tangannya lalu memandang Wiraksara dan bertanya


“Ilmu Tapak Tangan Baja, dari siapa kau mendapatkan ilmu


ini? Berikan kitab Tapak Tangan Baja itu!”


“Tidak, kitab itu telah kubakar agar tidak ada orang yang


bisa menguasainya lagi,” jawab Wiraksara.


Sementara itu beberapa pendekar sudah terbangun dan bergegas


keluar untuk melihat apa yang terjadi. Wu Xien menggeram marah dan berseru


“Tangkap dia!”


Para pendekar itu segera bergerak menangkap Wiraksara, tak  ada jalan lain Wiraksara terpaksa berlari


dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Wiraksara memang berhasil


meloloskan diri dari kejaran para pendekar tadi, namun Wu Xien mengejarnya dan


berhasil menghadangnya

__ADS_1


“Sudah kubilang kau tak akan bisa lolos dariku!”


Wu Xien kembali menyerang, kembali tangan Wiraksara bergerak


berusaha mencengkeram tangan Wu Xien.  Tangan penyerangnya kembali berdarah-darah karena luka terbeset tangan Wiraksara


yang saat ini seperti amplas.  Sementara


serombongan pendekar tadi telah sampai di tempat Wiraksara bertarung.


Orang-orang itu segera bergerak berusaha menangkap Wiraksara.


“Jenderal Wu, biar aku saja yang membereskannya!”


Seorang laki-laki berwajah tirus seperti wajah tikus


menghadangnya, Wiraksara menyerang pria berwajah tirus tadi, namun baru saja


hendak memukulnya, tiba-tiba tangannya terasa sakit seperti di sengat lebah. Wiraksara


berseru tertahan, sebuah senjata rahasia berbentuk jarum-jarum halus seperti


bulu kucing menancap di tangannya.


“Senjata rahasia beracun,” desis Wiraksara.


“He he he kau tidak akan bisa lolos dari racunku, tidak ada


yang bisa menandingi ilmu Zhang Hao si Raja Racun. Penawarnya hanya ada padaku,


kalau kau mau selamat, menyerahlah. Nanti penawar itu akan kuberikan kepadamu,”


kata Zhang Hao.


Wiraksara mulai merasakan perutnya mual, kepalanya pusing,


tetapi dia masih mampu berdiri.  Dia


segera menotok jalan darahnya untuk mencegah racun itu menyebar ke seluruh


tubuhnya. Tiba-tiba terdengar suara orang berkelebat.


“Sala, cepat lari!”


Wiraksara melihat ada dua pria datang menghadang kejaran si


Raja Racun Zhang Hao.  Dia tidak


menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera lari menjauh dengan menggunakan ilmu


meringankan tubuh.  Dalam sekejap


Wiraksara telah menjauhi gelanggang. Di tengah jalan, Wiraksara merasakan


tubuhnya makin lama makin lemah, perutnya semakin mual dan matanya


berkunang-kunang. Namun Wiraksara tetap berlari dan berusaha melupakan rasa


sakitnya. Namun pada akhirnya dia sudah tidak mampu lagi berlari dan jatuh


tersungkur di tepi jalan.


Tak lama kemudian dari jauh terdengar suara bergemerincing,


beberapa caravan membawa barang dagangan lewat. Salah seorang dari rombongan


caravan itu berseru


“Lihat, ada orang pingsan di tepi jalan!”


Rombongan caravan berhenti, salah satu di antara orang-orang


itu turun dari kudanya memeriksa Wiraksara. Tak lama kemudian orang itu berseru


“Dia masih hidup, tampaknya dia terluka parah dan butuh


pertolongan. Kita bawa saja dia bersama kita, nanti kita bisa mencari tabib di


kota terdekat!”


Rombongan pedagang itu membaringkan Wiraksara di dalam


caravan, lalu caravan itu kembali melanjutkan perjalanan ke Utara. Di dalam


Caravan seorang pria memeriksa luka Wiraksara. Keningnya berkerut, dia

__ADS_1


mengambil sebuah tas dan mengambil sebuah pinset dan piring kecil. Dengan


hati-hati dia mencabuti jarum-jarum halus yang menancap di tangan Wiraksara.


__ADS_2