
Kaisar Yongle tertegun lalu berkata
“Jangan ceritakan hal ini pada siapapun, biar aku yang
menyelesaikannya.”
Sementara itu Wiraksara telah dibawa ke pinggiran kota, di
sana sebuah kereta kuda yang tertutup telah menunggu. Wiraksara di bawa masuk
kereta bersama penculiknya, setelah itu kereta melaju kembali membawa Wiraksara
menjauh dari istana.
Setelah kurang lebih satu jam berkuda, kereta berhenti di
satu tempat. Ketika di panggul keluar,
Wiralsara melihat sebuah gedung tua yang besar, di sana ada beberapa orang
berpakaian pendekar berkumpul di ruangan depan di gedung itu. Ketika rombongan dari istana itu datang,
teman-teman mereka menyambutnya dan bertanya
“Bagaimana, kalian berhasil mendapatkannya?”
Orang itu tertawa bangga
“Tentu saja, aku yakin ketua pasti akan senang mendengar
berita ini, kalian urus tawanan kita ini. Dia masih bisa kita manfaatkan.”
Wiraksara dibanting ke lantai yang keras sehingga dia
berteriak kesakitan, orang-orang itu segera membawanya ke sebuah ruangan dengan
pintu jeruji dan mengurungnya di situ. Di dalam ruangan Wiraksara berusaha
membuka totokan di jalan darahnya, berulang kali dia mencoba membebaskan diri dari
totokan pria berkedok tadi namun selalu gagal.
Ilmu apa yang dipakai orang ini sehingga aku gagal membuka
totokannya? batin Wiraksara.
Keringat sebesar biji kedelai mulai mengalir deras di
tubuhnya namun tetap saja dia msih belum bisa membebaskan diri dari totokan
orang itu. Akhirnya dia pasrah beristirahat sebentar sambil mengamati keadaan
di sekelilingnya termasuk orang-orang yang berada di tempat itu. Terdengar langkah kaki mendekat ke arah selnya,
Wiraksara buru-buru bersikap seolah lemas tak berdaya. Ternyata orang yang
menggendongnya telah kembali, kedoknya masih tetap dipakai.
“Tidak usah mencoba membebaskan totokanku, setelah 3 jam kau
bisa bergerak lagi!” Kata orang itu.
Wiraksara hanya mendengus kesal lalu menunggu waktu berlalu
sampai dirinya terbebas dari pengaruh totokan di jalan darahnya.
Malampun semakin larut, Wiraksara yang kelelahan sudah
tertidur lelap di tempatnya. Ketika hari sudah menjelang subuh Wiraksara
terbangun, situasi di sekitar tempat itu terasa sepi sepertinya orang-orang itu
sudah tertidur semua. Wiraksara merasakan tubuhnya mulai terasa ringan dan
dapat digerakan. Wiraksara merasa lega
dia sudah terbebas dari totokan di jalan darahnya.
Sekarang aku harus memikirkan cara agar dapat keluar dari
tempat ini, batin Wiraksara.
Dia memegang jeruji pintu penjara, jeruji itu tampaknya
tidak begitu kuat dan tebal, dengan mudah Wiraksara membengkokan besinya lalu
__ADS_1
menyelinap keluar. Di ruangan depan Wiraksara mendapati para pendekar itu sudah
tertidur lelap. Wiraksara berjalan ke pintu depan dan membuka pintunya.
“Kriiieeet!”
Pintu itu berderit ketika dia membukanya, sepertinya
engselnya tidak pernah diminyaki. Wiraksara berhenti sejenak dan menoleh
memeriksa situasi di sekitarnya. Dia bernafas lega orang-orang itu masih
terlelap di tempatnya. Wiraksara segera menyelinap keluar dan melarikan diri
dari tempat itu. Belum lagi jauh dia berlari, tiba-tiba satu sosok bayangan
menghadangnya.
“Sudah kubilang jangan mencoba lari dari tempat ini!”
Wiraksara terkejut, orang itu berusaha menangkapnya namun
dengan gesit Wiraksara menghindarinya. Merekapun bertarung dengan tangan
kosong, gerakan orang itu begitu cepat berkali-kali Wiraksara terkena pukulan
orang itu tanpa mampu membalasnya. Hingga suatu saat setelah 3 jurus berlalu,
di jurus ke 4 sebuah tendangan bersarang telak di dadanya membuat Wiraksara
muntah darah. Orang itu tersenyum sinis
“Ilmu silatmu bagus juga, kau masih bisa menahan 4 jurus
seranganku walaupun babak belur.”
Orang itu bergerak ke arah Wiraksara dan berusaha
menangkapnya kembali.
Wiraksara diam-diam mengerahkan hawa murni ke telapak
tangannya, seketika telapak tangannya berubah menjadi berwarna keperakan. Ketika orang itu sudah berada dalam jarak
yang dekat, tangannya bergerak menyerang dan meraih kedoknya. Kedoknya terbuka
Xien anak buah sekaligus salah satu kepercayaan Pangeran Gaoxu.
Wu Xien terperanjat menyadari kedoknya terlepas, dia tak
ingin rahasianya terbongkar dan ingin membunuh Wiraksara.
“Kau telah mengetahui jati diriku, jadi aku harus
membunuhmu!”
Tangan Wu Xien berkelebat mencengkram Wiraksara, namu
Wiraksara menangkisnya dengan ilmu Tapak Tangan Baja, upayanya berhasil, tangan
Wu Xien terluka terkena sambaran tangannya. Wu Xien terperanjat melihat
tangannya lalu memandang Wiraksara dan bertanya
“Ilmu Tapak Tangan Baja, dari siapa kau mendapatkan ilmu
ini? Berikan kitab Tapak Tangan Baja itu!”
“Tidak, kitab itu telah kubakar agar tidak ada orang yang
bisa menguasainya lagi,” jawab Wiraksara.
Sementara itu beberapa pendekar sudah terbangun dan bergegas
keluar untuk melihat apa yang terjadi. Wu Xien menggeram marah dan berseru
“Tangkap dia!”
Para pendekar itu segera bergerak menangkap Wiraksara, tak ada jalan lain Wiraksara terpaksa berlari
dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Wiraksara memang berhasil
meloloskan diri dari kejaran para pendekar tadi, namun Wu Xien mengejarnya dan
berhasil menghadangnya
__ADS_1
“Sudah kubilang kau tak akan bisa lolos dariku!”
Wu Xien kembali menyerang, kembali tangan Wiraksara bergerak
berusaha mencengkeram tangan Wu Xien. Tangan penyerangnya kembali berdarah-darah karena luka terbeset tangan Wiraksara
yang saat ini seperti amplas. Sementara
serombongan pendekar tadi telah sampai di tempat Wiraksara bertarung.
Orang-orang itu segera bergerak berusaha menangkap Wiraksara.
“Jenderal Wu, biar aku saja yang membereskannya!”
Seorang laki-laki berwajah tirus seperti wajah tikus
menghadangnya, Wiraksara menyerang pria berwajah tirus tadi, namun baru saja
hendak memukulnya, tiba-tiba tangannya terasa sakit seperti di sengat lebah. Wiraksara
berseru tertahan, sebuah senjata rahasia berbentuk jarum-jarum halus seperti
bulu kucing menancap di tangannya.
“Senjata rahasia beracun,” desis Wiraksara.
“He he he kau tidak akan bisa lolos dari racunku, tidak ada
yang bisa menandingi ilmu Zhang Hao si Raja Racun. Penawarnya hanya ada padaku,
kalau kau mau selamat, menyerahlah. Nanti penawar itu akan kuberikan kepadamu,”
kata Zhang Hao.
Wiraksara mulai merasakan perutnya mual, kepalanya pusing,
tetapi dia masih mampu berdiri. Dia
segera menotok jalan darahnya untuk mencegah racun itu menyebar ke seluruh
tubuhnya. Tiba-tiba terdengar suara orang berkelebat.
“Sala, cepat lari!”
Wiraksara melihat ada dua pria datang menghadang kejaran si
Raja Racun Zhang Hao. Dia tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera lari menjauh dengan menggunakan ilmu
meringankan tubuh. Dalam sekejap
Wiraksara telah menjauhi gelanggang. Di tengah jalan, Wiraksara merasakan
tubuhnya makin lama makin lemah, perutnya semakin mual dan matanya
berkunang-kunang. Namun Wiraksara tetap berlari dan berusaha melupakan rasa
sakitnya. Namun pada akhirnya dia sudah tidak mampu lagi berlari dan jatuh
tersungkur di tepi jalan.
Tak lama kemudian dari jauh terdengar suara bergemerincing,
beberapa caravan membawa barang dagangan lewat. Salah seorang dari rombongan
caravan itu berseru
“Lihat, ada orang pingsan di tepi jalan!”
Rombongan caravan berhenti, salah satu di antara orang-orang
itu turun dari kudanya memeriksa Wiraksara. Tak lama kemudian orang itu berseru
“Dia masih hidup, tampaknya dia terluka parah dan butuh
pertolongan. Kita bawa saja dia bersama kita, nanti kita bisa mencari tabib di
kota terdekat!”
Rombongan pedagang itu membaringkan Wiraksara di dalam
caravan, lalu caravan itu kembali melanjutkan perjalanan ke Utara. Di dalam
Caravan seorang pria memeriksa luka Wiraksara. Keningnya berkerut, dia
__ADS_1
mengambil sebuah tas dan mengambil sebuah pinset dan piring kecil. Dengan
hati-hati dia mencabuti jarum-jarum halus yang menancap di tangan Wiraksara.