
Sementara itu setelah subuh di penginapan Naga seorang
prajurit Jinyiwei datang melapor kepada Ma jIngtao.
“Prajurit bagaimana apakah kau berhasil mendapatkan utusan
Majapahit itu?”
“Jenderal Ma, semalaman saya telah mengikuti perginya Utusan
Majapahit itu, tetapi ketika saya mencoba membebaskan dia ternyata dia sudah
pergi. Saya mencoba mengejarnya tetapi gerakannya begitu cepat sehingga saya
tidak bisa menyusulnya. Padahal dia dalam keadaan terluka dan keracunan tapi dia masih sanggup melarikan diri begitu
cepat,” ujar Prajurit itu.
Ma Jingtao tertegun
“Kemana dia berlari?” Tanya Ma Jingtao.
“Dia berlari ke arah Barat, saya kuatir dia akan tersesat di
gurun Gobi,” jawab prajurit itu.
“Dia tidak akan tahan menghadapi iklim gurun yang ganas
tanpa perbekalan yang cukup,” kata Chen Nie berkomentar.
“Kalau begitu kita harus segera berangkat menyusulnya
sebelum dia terlalu lama di padang gurun. Kita segera berangkat sekarang!” kata
Ma Jingtao.
Ketika mereka akan berangkat, di halaman penginapan mereka
bertemu dengan rombongan Tamaz yang akan mencari Wiraksara.
“Sepertinya mereka akan menemui pendeta Persia itu. Kita
beritahu saja mereka, kasihan jika mereka mengira Wiraksara masih ada bersama
mereka,” ujar Chen Nie
Ma Jingtao menemui rombongan Tamaz dan bertanya
“Tuan, apakah kalian akan mencari orang Majapahit itu?”
Tamaz mengerutkan keningnya keheranan
“Darimana kalian tahu?”
Semalam kami melihat pertikaian kalian, malam itu kami juga
menginap di Penginapan Naga. Kami
melihat semua yang terjadi di sana. Saya telah menyuruh anak buah saya
mengikuti rombongan pendeta Persia itu. Terakhir kami menerima laporan bahwa Utusan
Majapahit itu telah melarikan diri,” tutur Ma Jingtao.
Tamaz tampak terkejut
“Tidak mungkin dia bisa melarikan diri, orang itu sedang
dalam keadaan keracunan yang sangat parah.”
Ma jingtao mengangguk
“Benar dia memang keracunan tetapi kenyatanya dia telah
berhasil melarikan diri. Saya kuatir dia tidak tahu mengenai medan di tempat
ini. Tanpa penunjuk jalan dan bekal yang cukup dia bisa mati di tengah Gurun
Gobi karena dia tidak mengenal daerah ini,” ujar Ma Jingtao.
“Apakah ada yang tahu ke arah mana dia pergi?” Tanya Tamaz.
“Dia berlari ke arah Barat.”
“Kami akan pulang ke Persia, kalau dia ke arah Barat,
berarti dia searah dengan kami,” ujar Tamaz.
“Tuan, siapa sebenarnya kalian? Saya tahu, anda bukanlah
__ADS_1
seorang pedagang biasa. Anda memiliki ilmu silat yang tinggi dan sepertinya
memiliki hubungan yang rumit dengan pihak pendeta Persia itu,” kata Ma Jingtao
Tamaz menghela nafas lalu mulai bercerita
“Kami adalah pendeta dari Kuil Kahyangan Api, pendeta Persia
kemarin itu adalah Mehrak, dia adalah pendeta jahat yang berkhianat. Beberapa
tahun yang lalu sebelum dia kabur dari Kuil, dia telah mencuri Permata Azura
Mahda simbol Kuil Kahyangan Api yang dikeramatkan selama berabad-abad. Akhirnya
kami berhasil merebut kembali permata itu tetapi Mehrak berhasil mengejar kami
sampai kemari. Agar mereka tidak curiga kami menyamar sebagai pedagang .”
Ma Jingtao tersenyum gembira tebakannya benar
“Tebakanku benar, kami adalah pasukan dari kerajaan yang
ditugaskan oleh Kaisar Yongle untuk mencari Utusan Majapahit itu dan membawanya
kembali sebelum musim panas datang.”
Tamaz tampak terkejut mendengar pernyataan Ma Jingtao
“Apakah dia seorang penjahat buronan yang berbahaya?”
“Oh tidak dia bukan buronan tetapi dia adalah tamu
kenegaraan kami yang diculik oleh para pemberontak. Kami harus bisa membawanya
pulang ke China sebelum musim panas tiba karena di saat itu Perwakilan Kerajaan
Majapahit akan datang berkunjung,” jawab Ma Jingtao.
Jawaban Ma Jingtao membuat Tamaz sedikit tenang
“Ooh, kukira dia adalah penjahat yang berbahaya. Jika dia
seorang penjahat, aku telah bersalah karena menyelamatkannya. Malam itu kami
menemukannya terbaring di tepi jalan dalam keadaan luka parah dan keracunan dan
orang yang lain,” kata Tamaz dengan nada prihatin.
*****
Sementara itu di pagi hari rombongan Mehrak menyadari bahwa
sandera mereka menghilang, Mehrak pun murka menyadari sanderanya telah hilang.
“Bagaimana dia bisa kabur? Padahal aku telah memberinya
racun yang melemahkan ototnya! Sekarang kita kehilangan kesempatan mendapatkan
kembali permata Azura Mahda dan uang tebusan!”
Anak buahnya tidak ada yang berani menatapnya, semua
tertunduk merasa bersalah bercampur rasa takut.
“Ampun Ketua, kami memang bersalah telah lalai menjaganya,
tetapi sekarang yang terpenting adalah kita harus bisa merebut kembali permata
Azura Mahda. Sekarang juga kami akan berangkat mengejar rombongan Tamaz,” kata
salah seorang pengikutnya.
“Kalian berangkat sekarang mencari jejak permata itu!”
Perintah Mehrak.
Pasukan Mehrak saat itu juga mulai bergerak ke arah barat
mencari permata itu.
*****
Matahari mulai tinggi, Wiraksara mulai merasakan panasnya hawa
di gurun yang semakin menyengat. Tenggorokannya mulai terasa kering. Mulutnya
mulai berguman lirih
“Air…air dimana aku dapat menemukannya? Tempat ini melulu
__ADS_1
hanya ada pasir,” keluh Wiraksara.
Tiba-tiba di depannya ada sebuah danau dengan airnya yang
biru jernih menggoda. Wiraksara merasa gembira dapat menemukan sebuah danau di
tengah ganasnya panas matahari di gurun Gobi. Tanpa membuang waktu dia segera
berlari menghampiri danau dan langsung melompat ke dalamnya.
Namun yang terjadi adalah, bukannya masuk ke air, Wiraksara jatuh
tersungkur di pasir, wajahnya berlepotan pasir.
“Buaaah, kurang ajar, mataku tertipu, ini bukan danau!” seru
Wiraksara dengan kesal sambil memuntahkan pasir yang masuk ke mulutnya.
Wiraksara ternyata hanya melihat fatamorgana, pantulan sinar
matahari yang jatuh di pasir membuat ilusi seperti air. Sementara Wiraksara
merasakan tubuhnya semakin lemah, dadanya terasa sesak. Wiraksara roboh setelah
berjalan beberapa langkah.
Beberapa saat kemudian beberapa orang lewat di dekat lokasi
Wiraksara pingsan, beberapa orang di antara
mereka segera berlari menghampiri tubuh Wiraksara
“Dia masih hidup, Guru, sebaiknya kita bawa dia pulang ke
perguruan. Kasihan jika dibiarkan di sini.”
Namun temannya yang lain menyanggah
“Jangan, bagaimana jika ternyata dia adalah orang yang
jahat?”
Seorang pria tua melangkah mendekati Wiraksara
“Kita akan menolongnya, jangan sampai dia mati kekeringan di
tempat ini. Janganlah suka berburuk sangka. Menurutku dia bukan orang jahat,
bawa dia bersama kita!” Perintahnya kepada para pengikutnya.
*****
Wiraksara merasakan tubuhnya terasa sakit namun rasa sesak
di dadanya telah menghilang. Berulang kali di tepuknya dan dicubitnya kulit
tubuhnya untuk memastikan bahwa dia tidak bermimpi
Dimana aku sekarang? Apa aku sudah berda di surga? Pikir Wiraksara.
Tak lama kemudian pintu kamarnya dibuka dan masuklah seorang
pria tua yang segera berseru gembira melihat Wiraksara siuman.
“Alhamdulillah, akhirnya kau sudah sadar, kami menemukanmu
terbaring di gurun pasir karena kekeringan. Ini aku bawakan air untukmu.”
Wiraksara perlahan bangun, orangtua itu mengambil air dari
teko dan menuangkannya ke cawan
“Minumlah ini, banyak minum air ya, nanti anakku akan
membawakanmu makanan.
“Terimakasih Tuan, siapa nama Tuan? Tanya Wiraksara.
“Panggil saja aku Paman Hamzah,” ucapnya sambil lalu.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah seorang
gadis membawa nampan berisi makanan. Wiraksara menoleh namun dia terkejut
ketika melihat wajah gadis itu. Dia merasa sangat familiar dengan wajahnya.
Sepertinya aku pernah melihat wajahnya tapi aku lupa di mana
aku melihatnya, pikir Wiraksara.
__ADS_1