KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Tersesat


__ADS_3

Sementara itu setelah subuh di penginapan Naga seorang


prajurit Jinyiwei datang melapor kepada Ma jIngtao.


“Prajurit bagaimana apakah kau berhasil mendapatkan utusan


Majapahit itu?”


“Jenderal Ma, semalaman saya telah mengikuti perginya Utusan


Majapahit itu, tetapi ketika saya mencoba membebaskan dia ternyata dia sudah


pergi. Saya mencoba mengejarnya tetapi gerakannya begitu cepat sehingga saya


tidak bisa menyusulnya. Padahal dia dalam keadaan terluka dan keracunan  tapi dia masih sanggup melarikan diri begitu


cepat,” ujar Prajurit itu.


Ma Jingtao tertegun


“Kemana dia berlari?” Tanya Ma Jingtao.


“Dia berlari ke arah Barat, saya kuatir dia akan tersesat di


gurun Gobi,” jawab prajurit itu.


“Dia tidak akan tahan menghadapi iklim gurun yang ganas


tanpa perbekalan yang cukup,” kata Chen Nie berkomentar.


“Kalau begitu kita harus segera berangkat menyusulnya


sebelum dia terlalu lama di padang gurun. Kita segera berangkat sekarang!” kata


Ma Jingtao.


Ketika mereka akan berangkat, di halaman penginapan mereka


bertemu dengan rombongan Tamaz yang akan mencari Wiraksara.


“Sepertinya mereka akan menemui pendeta Persia itu. Kita


beritahu saja mereka, kasihan jika mereka mengira Wiraksara masih ada bersama


mereka,” ujar Chen Nie


Ma Jingtao menemui rombongan Tamaz dan bertanya


“Tuan, apakah kalian akan mencari orang Majapahit itu?”


Tamaz mengerutkan keningnya keheranan


“Darimana kalian tahu?”


Semalam kami melihat pertikaian kalian, malam itu kami juga


menginap di Penginapan Naga.  Kami


melihat semua yang terjadi di sana. Saya telah menyuruh anak buah saya


mengikuti rombongan pendeta Persia itu. Terakhir kami menerima laporan bahwa Utusan


Majapahit itu telah melarikan diri,” tutur Ma Jingtao.


Tamaz tampak terkejut


“Tidak mungkin dia bisa melarikan diri, orang itu sedang


dalam keadaan keracunan yang sangat parah.”


Ma jingtao mengangguk


“Benar dia memang keracunan tetapi kenyatanya dia telah


berhasil melarikan diri. Saya kuatir dia tidak tahu mengenai medan di tempat


ini. Tanpa penunjuk jalan dan bekal yang cukup dia bisa mati di tengah Gurun


Gobi karena dia tidak mengenal daerah ini,” ujar Ma Jingtao.


“Apakah ada yang tahu ke arah mana dia pergi?” Tanya Tamaz.


“Dia berlari ke arah Barat.”


“Kami akan pulang ke Persia, kalau dia ke arah Barat,


berarti dia searah dengan kami,” ujar Tamaz.


“Tuan, siapa sebenarnya kalian? Saya tahu, anda bukanlah

__ADS_1


seorang pedagang biasa. Anda memiliki ilmu silat yang tinggi dan sepertinya


memiliki hubungan yang rumit dengan pihak pendeta Persia itu,” kata Ma Jingtao


Tamaz menghela nafas lalu mulai bercerita


“Kami adalah pendeta dari Kuil Kahyangan Api, pendeta Persia


kemarin itu adalah Mehrak, dia adalah pendeta jahat yang berkhianat. Beberapa


tahun yang lalu sebelum dia kabur dari Kuil, dia telah mencuri Permata Azura


Mahda simbol Kuil Kahyangan Api yang dikeramatkan selama berabad-abad. Akhirnya


kami berhasil merebut kembali permata itu tetapi Mehrak berhasil mengejar kami


sampai kemari. Agar mereka tidak curiga kami menyamar sebagai pedagang .”


Ma Jingtao tersenyum gembira tebakannya benar


“Tebakanku benar, kami adalah pasukan dari kerajaan yang


ditugaskan oleh Kaisar Yongle untuk mencari Utusan Majapahit itu dan membawanya


kembali sebelum musim panas datang.”


Tamaz tampak terkejut mendengar pernyataan Ma Jingtao


“Apakah dia seorang penjahat buronan yang berbahaya?”


“Oh tidak dia bukan buronan tetapi dia adalah tamu


kenegaraan kami yang diculik oleh para pemberontak. Kami harus bisa membawanya


pulang ke China sebelum musim panas tiba karena di saat itu Perwakilan Kerajaan


Majapahit akan datang berkunjung,” jawab Ma Jingtao.


Jawaban Ma Jingtao membuat Tamaz sedikit tenang


“Ooh, kukira dia adalah penjahat yang berbahaya. Jika dia


seorang penjahat, aku telah bersalah karena menyelamatkannya. Malam itu kami


menemukannya terbaring di tepi jalan dalam keadaan luka parah dan keracunan dan


orang yang lain,” kata Tamaz dengan nada prihatin.


*****


Sementara itu di pagi hari rombongan Mehrak menyadari bahwa


sandera mereka menghilang, Mehrak pun murka menyadari sanderanya telah hilang.


“Bagaimana dia bisa kabur? Padahal aku telah memberinya


racun yang melemahkan ototnya! Sekarang kita kehilangan kesempatan mendapatkan


kembali permata Azura Mahda dan uang tebusan!”


Anak buahnya tidak ada yang berani menatapnya, semua


tertunduk merasa bersalah bercampur rasa takut.


“Ampun Ketua, kami memang bersalah telah lalai menjaganya,


tetapi sekarang yang terpenting adalah kita harus bisa merebut kembali permata


Azura Mahda. Sekarang juga kami akan berangkat mengejar rombongan Tamaz,” kata


salah seorang pengikutnya.


“Kalian berangkat sekarang mencari jejak permata itu!”


Perintah Mehrak.


Pasukan Mehrak saat itu juga mulai bergerak ke arah barat


mencari permata itu.


*****


Matahari mulai tinggi, Wiraksara mulai merasakan panasnya hawa


di gurun yang semakin menyengat. Tenggorokannya mulai terasa kering. Mulutnya


mulai berguman lirih


“Air…air dimana aku dapat menemukannya? Tempat ini melulu

__ADS_1


hanya ada pasir,” keluh Wiraksara.


Tiba-tiba di depannya ada sebuah danau dengan airnya yang


biru jernih menggoda. Wiraksara merasa gembira dapat menemukan sebuah danau di


tengah ganasnya panas matahari di gurun Gobi. Tanpa membuang waktu dia segera


berlari menghampiri danau dan langsung melompat ke dalamnya.


Namun yang terjadi adalah, bukannya masuk ke air, Wiraksara jatuh


tersungkur di pasir, wajahnya berlepotan pasir.


“Buaaah, kurang ajar, mataku tertipu, ini bukan danau!” seru


Wiraksara dengan kesal sambil memuntahkan pasir yang masuk ke mulutnya.


Wiraksara ternyata hanya melihat fatamorgana, pantulan sinar


matahari yang jatuh di pasir membuat ilusi seperti air. Sementara Wiraksara


merasakan tubuhnya semakin lemah, dadanya terasa sesak. Wiraksara roboh setelah


berjalan beberapa langkah.


Beberapa saat kemudian beberapa orang lewat di dekat lokasi


Wiraksara pingsan,  beberapa orang di antara


mereka segera berlari menghampiri tubuh Wiraksara


“Dia masih hidup, Guru, sebaiknya kita bawa dia pulang ke


perguruan. Kasihan jika dibiarkan di sini.”


Namun temannya yang lain menyanggah


“Jangan, bagaimana jika ternyata dia adalah orang yang


jahat?”


Seorang pria tua melangkah mendekati Wiraksara


“Kita akan menolongnya, jangan sampai dia mati kekeringan di


tempat ini. Janganlah suka berburuk sangka. Menurutku dia bukan orang jahat,


bawa dia bersama kita!” Perintahnya kepada para pengikutnya.


*****


Wiraksara merasakan tubuhnya terasa sakit namun rasa sesak


di dadanya telah menghilang. Berulang kali di tepuknya dan dicubitnya kulit


tubuhnya untuk memastikan bahwa dia tidak bermimpi


Dimana aku sekarang? Apa aku sudah berda di surga? Pikir Wiraksara.


Tak lama kemudian pintu kamarnya dibuka dan masuklah seorang


pria tua yang segera berseru gembira melihat Wiraksara siuman.


“Alhamdulillah, akhirnya kau sudah sadar, kami menemukanmu


terbaring di gurun pasir karena kekeringan.  Ini aku bawakan air untukmu.”


Wiraksara perlahan bangun, orangtua itu mengambil air dari


teko dan menuangkannya ke cawan


“Minumlah ini, banyak minum air ya, nanti anakku akan


membawakanmu makanan.


“Terimakasih Tuan, siapa nama Tuan? Tanya Wiraksara.


“Panggil saja aku Paman Hamzah,” ucapnya sambil lalu.


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah seorang


gadis membawa nampan berisi makanan. Wiraksara menoleh namun dia terkejut


ketika melihat wajah gadis itu. Dia merasa sangat familiar dengan wajahnya.


Sepertinya aku pernah melihat wajahnya tapi aku lupa di mana


aku melihatnya, pikir Wiraksara.

__ADS_1


__ADS_2