
Gadis itu tersenyum ramah lalu meletakan makanan di meja
yang berada di depan tempat tidur
“Silahkan makan, kalau anda masih belum kuat makan sendiri
biar saya bantu anda.”
Untuk sesaat Wiraksara terbengong-bengong melihat kecantikan
gadis itu, melihat Wiraksara masih melongo gadis itu tertawa kecil
“Apa ada yang aneh denganku Tuan?” Tanya gadis itu.
Menyadari kesalahannya Wiraksara tergagap dan buru-buru
meminta maaf
“Maafkan saya Nona, saya sepertinya pernah melihat anda tapi
saya lupa di mana,” ujar Wiraksara.
Gadis itu mengerutkan keningnya
“Sepertinya anda bukan berasal dari China, jadi tidak
mungkin kita pernah berjumpa.”
Wiraksara mencoba mengingat-ingat kembali lalu tiba-tiba dia
berseru
“Ah, yaa…aku ingat, kau adalah gadis yang ada di lukisan
istana itu! Apakah kau yang bernama Atara?”
Gadis itu tergelak
“Ya akulah Atara, Paman Ma Huan yang melukisku tapi aku
tidak tahu bagaimana lukisan itu bisa sampai ke istana. Siapa nama anda Tuan?”
“Namaku Wiraksara tapi kau bisa memanggilku dengan nama
Sala. Oh, kau juga mengenal Ma Huan
Sekretaris Laksamana Cheng Ho?” Tanya Wiraksara
“Benar, Paman Ma Huan adalah teman ayahku, Tuan Sala,
silahkan dimakan sebelum dingin, ada lagi yang bisa dibantu?” Tanya Atara.
“Tidak ada ini sudah cukup buatku. Nona, sekarang aku berada di mana?”
“Anda berada di Ningxia, baiklah saya pergi dulu,” Atara
beranjak keluar kamar dan menutup pintu kamar Wiraksara.
Wiraksara menghela nafas
Benar kata Gaochi, gadis Uighur memang memiliki kecantikan
yang memukau, batin Wiraksara.
*******
Ma Jingtao dan Chen Nie dengan menyamar sebagai pedagang
bersama rombongannya sebanyak 5 orang berangkat menuju kota Gansu mencari
kemungkinan keberadaan Wiraksara. Di
kota Bayannur rombongan Tamaz berhenti untuk beristirahat, sedangkan rombongan Ma Jingtao dan Chen Nie
meneruskan perjalanan mereka.
“Saat ini kita sedang berada di perbatasan China dan Mongol,
Kita harus berhati-hati, sewaktu-waktu bangsa Mongol atau perampok Jalur Sutera
bisa menyerang kita di sini,” ujar Ma Jintao.
Memasuki kota Yinchuan, rombongan Ma Jingtao dikejutkan oleh
Terdengar suara senjata beradu, teriakan peperangan dan desingan panah. Ma
Jingtao dan rombongannya menghunus pedang berjaga.
__ADS_1
“Sepertinya ada suara peperangan di depan, kita
tidak dapat meneruskan perjalanan!” kata Chen Nie.
“Awas serangan panah!” Seru Ma Jingtao.
Beberapa anak panah meluncur ke arah mereka, dengan sigap mereka
menangkis panah, namun sayang ada satu angota rombongan mereka yang tewas sedangkan
yang lainnya terluka terkena panah. Tak lama kemudian beberapa orang berkedok
telah mengepung mereka. Salah seorang pemimpinnya berkata
“Kalian pedagang dari China, berikan barang dagangan kalian
setelah itu kalian boleh pergi dari sini!”
“Para perampok Jalur Sutera! Mereka masih saja mengganggu
para pedagang yang lewat di jalur ini. Kita harus melapor pada Kaisar agar
menambah jumlah prajurit yang menjaga keamanan di sepanjang Jalur Sutera,” kata
Chen Nie.
“Kau kenal siapa dia?” Tanya Ma Jingtao pada Chen Nie.
“Kurasa dia adalah gerombolan perampok Turgen dari Mongolia
yang terkenal itu. Mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, berhati-hatilah pada
mereka,” jawab Chen Nie.
Ma Jingtao menyadari bahaya yang mengancam mereka, maka
diapun berkata
“Chen Nie bawa mereka yang terluka pergi!” ujar Ma Jingtao.
“Tidak, kita akan menghadapi mereka bersama-sama!” Tukas
Chen Nie.
Ma Jingtao maju menghadapi pemimpin bandit Jalur Sutera itu
Mongolia!” kata Ma Jingtao.
“Ha ha ha aku tak menyangka aku akan seterkenal itu, benar
aku adalah Turgen
Langkahi dulu mayatku jika kau ingin merampok kami!”
Turgen tampak terkejut, namun beberapa detik kemudian pedang
Ma Jingtao telah bergerak menyambar wajahnya. Terpaksa dia melompat mundur,
mencabut pedangnya dan membalas serangan lawan.
“Kalian bukan
pedagang biasa, pasti kalian orang-orang dari kesatuan Jinyiwei atau Dongchang yang menyamar!” Seru
Turgen dengan marah.
“Serang mereka!”
Ma Jingtao segera memerintahkan para angora pasukan lainnya
untuk menyelamatkan diri
“Cepat, kalian lari menyelamatkan diri, bawa yang terluka
pergi dari sini!”
Namun para perampok tidak bersedia melepas mereka begitu
saja, mereka tetap mengejar rombongan Ma
Jingtao yang melarikan diri.
“Kalian tidak bisa pergi begitu saja!” Seru Turgen.
Turgen kembali menyerang Ma Jingtao dengan pedangnya bersama
sejumlah pengikutnya, Ma Jingtao mengayunkan pedangnya dan tiba-tiba saja
__ADS_1
pedangnya terbelah jadi dua. Sekarang Ma Jingtao menyerang Turgen dengan dua
pedangnya.
“Pedang Ganda Sakti yang sudah lama hilang, ternyata ada di
tanganmu!”
Ma Jingtao tersenyum sinis pedangnya kembali berkelebat membabat
wajah Turgen, sontak Turgen memiringkan kepalanya menghindari serangan Ma
Jingtao. Dia membabatkan pedangnya membalas serangan Ma Jingtao. Kembali pedang
mereka beradu, sekareang Turgen kesulitan membedakan mana pedang bayangan mana
yang asli. Kedua pedang milik Ma Jingtao berkelebat menyerang perampok Jalur
Sutera itu. Sementara Chen Nie sibuk membantu Ma Jingtao menghadapi gerombolan
perampok lainnya.
Gerombolan perampok itu sedikit demi sedikit mulai terdesak,
Turgen menusukan pedangnya ke arah dada Majingtao, namun serangannya gagal, Ma
Jingtao bergeser menangkis serangannya dan pedang di tangan kirinya berkelebat
menusuk perut Turgen. Pertarungan mereka terhenti, Turgen mati dengan perut
tertusuk pedang Ma Jingtao. Beberapa anak buah perampok Jalur Sutera tertegun,
mereka sontak mencoba kabur meninggalkan gelanggang.
Ma Jingtao tak ingin menyisakan para perampok yang sering
mengganggu pedagang yang lewat di tempat itu, maka dia mengejar sisa gerombolan
lainnya yang mencoba lari.
“Tangkap mereka jangan sisakan satu orangpun!”
Pasukan Ma Jingtao bergerak mengejar, di saat itulah
beberapa prajurit dari benteng di perbatasan datang menghampiri mereka. Para prajurit itu langsung mengejar perampok
yang tersisa. Tak lama kemudian beberapa
perampok yang tersisa itu telah tertangkap.
“Kalian akan pergi kemana?” Tanya salah satu pemimpin
prajurit itu.
Ma Jingtao mengeluarkan lencananya dan menunjukannya ke
hadapan pemimpin pasukan itu
“Kami adalah pasukan kerajaan, beberapa prajurit kami telah
terluka, ijinkan kami masuk ke benteng untuk merawat mereka.”
Pemimpin pasukan itu terkejut lalu memberi hormat
“Jenderal Ma, maafkan kami terlambat mengetahuinya, silahkan
masuk ke benteng, kami akan membantu merawat luka-luka pasukan anda!”
Ma Jingtao dan rombongannya masuk ke benteng kota Yinchuan.
Mereka beristirahat di kota Yinchuan sebelum kembali meneruskan perjalanan ke
kota Gansu.
Keesokan harinya, rombongan Tamaz kembali melanjutkan
perjalanannya. Tibalah mereka di kota Ningxia. Namun tanpa mereka sadari
beberapa orang-orang Mehrak telah mengikuti mereka sampai ke Ningxia.
“Mereka menginap di Penginapan Teratai Putih, apa perlu kita
menginap di sana juga?” Tanya salah seorang anak buah Mehrak.
“Tidak perlu, nanti malam kita curi permata yang mereka
ambil, sekarang kita menginap di penginapan yang ada di depan penginapan
__ADS_1
Teratai Putih,” perintah Mehrak.