KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Perampok Jalur Sutra


__ADS_3

Gadis itu tersenyum ramah lalu meletakan makanan di meja


yang berada di depan tempat tidur


“Silahkan makan, kalau anda masih belum kuat makan sendiri


biar saya bantu anda.”


Untuk sesaat Wiraksara terbengong-bengong melihat kecantikan


gadis itu, melihat Wiraksara masih melongo gadis itu tertawa kecil


“Apa ada yang aneh denganku Tuan?” Tanya gadis itu.


Menyadari kesalahannya Wiraksara tergagap dan buru-buru


meminta maaf


“Maafkan saya Nona, saya sepertinya pernah melihat anda tapi


saya lupa di mana,” ujar Wiraksara.


Gadis itu mengerutkan keningnya


“Sepertinya anda bukan berasal dari China, jadi tidak


mungkin kita pernah berjumpa.”


Wiraksara mencoba mengingat-ingat kembali lalu tiba-tiba dia


berseru


“Ah, yaa…aku ingat, kau adalah gadis yang ada di lukisan


istana itu! Apakah kau yang bernama Atara?”


Gadis itu tergelak


“Ya akulah Atara, Paman Ma Huan yang melukisku tapi aku


tidak tahu bagaimana lukisan itu bisa sampai ke istana. Siapa nama anda Tuan?”


“Namaku Wiraksara tapi kau bisa memanggilku dengan nama


Sala.  Oh, kau juga mengenal Ma Huan


Sekretaris Laksamana Cheng Ho?” Tanya Wiraksara


“Benar, Paman Ma Huan adalah teman ayahku, Tuan Sala,


silahkan dimakan sebelum dingin, ada lagi yang bisa dibantu?” Tanya Atara.


“Tidak ada ini sudah cukup buatku.  Nona, sekarang aku berada di mana?”


“Anda berada di Ningxia, baiklah saya pergi dulu,” Atara


beranjak keluar kamar dan menutup pintu kamar Wiraksara.


Wiraksara menghela nafas


Benar kata Gaochi, gadis Uighur memang memiliki kecantikan


yang memukau, batin Wiraksara.


*******


Ma Jingtao dan Chen Nie dengan menyamar sebagai pedagang


bersama rombongannya sebanyak 5 orang berangkat menuju kota Gansu mencari


kemungkinan keberadaan Wiraksara.  Di


kota Bayannur rombongan Tamaz berhenti untuk beristirahat,  sedangkan rombongan Ma Jingtao dan Chen Nie


meneruskan perjalanan mereka.


“Saat ini kita sedang berada di perbatasan China dan Mongol,


Kita harus berhati-hati, sewaktu-waktu bangsa Mongol atau perampok Jalur Sutera


bisa menyerang kita di sini,” ujar Ma Jintao.


Memasuki kota Yinchuan, rombongan Ma Jingtao dikejutkan oleh


Terdengar suara senjata beradu, teriakan peperangan dan desingan panah. Ma


Jingtao dan rombongannya menghunus pedang berjaga.

__ADS_1


“Sepertinya ada suara peperangan di depan,   kita


tidak dapat meneruskan perjalanan!” kata Chen Nie.


“Awas serangan panah!” Seru Ma Jingtao.


Beberapa anak panah meluncur ke arah mereka, dengan sigap mereka


menangkis panah, namun sayang ada satu angota rombongan mereka yang tewas sedangkan


yang lainnya terluka terkena panah. Tak lama kemudian beberapa orang berkedok


telah mengepung mereka. Salah seorang pemimpinnya berkata


“Kalian pedagang dari China, berikan barang dagangan kalian


setelah itu kalian boleh pergi dari sini!”


“Para perampok Jalur Sutera! Mereka masih saja mengganggu


para pedagang yang lewat di jalur ini. Kita harus melapor pada Kaisar agar


menambah jumlah prajurit yang menjaga keamanan di sepanjang Jalur Sutera,” kata


Chen Nie.


“Kau kenal siapa dia?” Tanya Ma Jingtao pada Chen Nie.


“Kurasa dia adalah gerombolan perampok Turgen dari Mongolia


yang terkenal itu. Mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, berhati-hatilah pada


mereka,” jawab Chen Nie.


Ma Jingtao menyadari bahaya yang mengancam mereka, maka


diapun berkata


“Chen Nie bawa mereka yang terluka pergi!” ujar Ma Jingtao.


“Tidak, kita akan menghadapi mereka bersama-sama!” Tukas


Chen Nie.


Ma Jingtao maju menghadapi pemimpin bandit Jalur Sutera itu


Mongolia!” kata Ma Jingtao.


“Ha ha ha aku tak menyangka aku akan seterkenal itu, benar


aku adalah Turgen


Langkahi dulu mayatku jika kau ingin merampok kami!”


Turgen tampak terkejut, namun beberapa detik kemudian pedang


Ma Jingtao telah bergerak menyambar wajahnya. Terpaksa dia melompat mundur,


mencabut pedangnya dan membalas serangan lawan.


 “Kalian bukan


pedagang biasa, pasti kalian orang-orang dari kesatuan  Jinyiwei atau Dongchang yang menyamar!” Seru


Turgen dengan marah.


“Serang mereka!”


Ma Jingtao segera memerintahkan para angora pasukan lainnya


untuk menyelamatkan diri


“Cepat, kalian lari menyelamatkan diri, bawa yang terluka


pergi dari sini!”


Namun para perampok tidak bersedia melepas mereka begitu


saja, mereka tetap mengejar  rombongan Ma


Jingtao yang melarikan diri.


“Kalian tidak bisa pergi begitu saja!” Seru Turgen.


Turgen kembali menyerang Ma Jingtao dengan pedangnya bersama


sejumlah pengikutnya, Ma Jingtao mengayunkan pedangnya dan tiba-tiba saja

__ADS_1


pedangnya terbelah jadi dua. Sekarang Ma Jingtao menyerang Turgen dengan dua


pedangnya.


“Pedang Ganda Sakti yang sudah lama hilang, ternyata ada di


tanganmu!”


Ma Jingtao tersenyum sinis pedangnya kembali berkelebat membabat


wajah Turgen, sontak Turgen memiringkan kepalanya menghindari serangan Ma


Jingtao. Dia membabatkan pedangnya membalas serangan Ma Jingtao. Kembali pedang


mereka beradu, sekareang Turgen kesulitan membedakan mana pedang bayangan mana


yang asli. Kedua pedang milik Ma Jingtao berkelebat menyerang perampok Jalur


Sutera itu. Sementara Chen Nie sibuk membantu Ma Jingtao menghadapi gerombolan


perampok lainnya.


Gerombolan perampok itu sedikit demi sedikit mulai terdesak,


Turgen menusukan pedangnya ke arah dada Majingtao, namun serangannya gagal, Ma


Jingtao bergeser menangkis serangannya dan pedang di tangan kirinya berkelebat


menusuk perut Turgen. Pertarungan mereka terhenti, Turgen mati dengan perut


tertusuk pedang Ma Jingtao. Beberapa anak buah perampok Jalur Sutera tertegun,


mereka sontak mencoba kabur meninggalkan gelanggang.


Ma Jingtao tak ingin menyisakan para perampok yang sering


mengganggu pedagang yang lewat di tempat itu, maka dia mengejar sisa gerombolan


lainnya yang mencoba lari.


“Tangkap mereka jangan sisakan satu orangpun!”


Pasukan Ma Jingtao bergerak mengejar, di saat itulah


beberapa prajurit dari benteng di perbatasan datang menghampiri mereka.  Para prajurit itu langsung mengejar perampok


yang tersisa.  Tak lama kemudian beberapa


perampok yang tersisa itu telah tertangkap.


“Kalian akan pergi kemana?” Tanya salah satu pemimpin


prajurit itu.


Ma Jingtao mengeluarkan lencananya dan menunjukannya ke


hadapan pemimpin pasukan itu


“Kami adalah pasukan kerajaan, beberapa prajurit kami telah


terluka, ijinkan kami masuk ke benteng untuk merawat mereka.”


Pemimpin pasukan itu terkejut lalu memberi hormat


“Jenderal Ma, maafkan kami terlambat mengetahuinya, silahkan


masuk ke benteng, kami akan membantu merawat luka-luka pasukan anda!”


Ma Jingtao dan rombongannya masuk ke benteng kota Yinchuan.


Mereka beristirahat di kota Yinchuan sebelum kembali meneruskan perjalanan ke


kota Gansu.


Keesokan harinya, rombongan Tamaz kembali melanjutkan


perjalanannya. Tibalah mereka di kota Ningxia. Namun tanpa mereka sadari


beberapa orang-orang Mehrak telah mengikuti mereka sampai ke Ningxia.


“Mereka menginap di Penginapan Teratai Putih, apa perlu kita


menginap di sana juga?” Tanya salah seorang anak buah Mehrak.


“Tidak perlu, nanti malam kita curi permata yang mereka


ambil, sekarang kita menginap di penginapan yang ada di depan penginapan

__ADS_1


Teratai Putih,” perintah Mehrak.


__ADS_2