KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Penyusup di Istana


__ADS_3

Malam hari setelah maghrib, Wiraksara sudah selesai dengan


tugasnya, hari ini ada  beberapa anjing


yang harus dimandikan dan itu cukup menyita waktunya yang sama sekali belum


pernah memandikan seekor anjing. Ketika sedang berjalan pulang Paman Yue


memanggilnya


“Sala…Sala tunggu sebentar!”


Wiraksara menoleh, dilihatnya Paman Yue berlari menyusulnya,


dia berhenti sejenak menunggu Paman Yue


“Sala, tunggu aku mau berziarah ke makam Tie Shi, boleh aku


ikut ke rumahmu?”


Wiraksara mengangguk,” Silahkan Paman, rumahku ada di dekat


kandang kuda istana, tapi tempat itu agak jauh.”


“Ah tidak apa-apa, aku masih kuat berjalan, lagipula jarak


antara rumahmu dengan rumahku tidak terlalu jauh. Ayo kita jalan,” ajak Paman


Yue.


Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari kejauhan


terdengar suara derap kaki kuda. Berderap-derap suaranya menggetarkan bumi.


“Sala, minggirlah dan berlututlah cepat!”


Wiraksara ingin protes tetapi tangan Paman Yue sudah menekan


pundaknya lalu menendang betis bagian belakang sehingga dia jatuh berlutut.


Wiraksara ingin memprotes tindakan Paman Yue namun orang-orang berkuda itu


telah lewat di depan mereka. Orang-orang itu memakai baju panjang warna biru


tua dengan hiasan sulaman benang emas bergambar ular Sanca besar di dadanya.


“Paman, siapa mereka?” Tanya Wiraksara


“Mereka adalah Jinyiwei, pasukan khusus penjaga kaisar dan


keluarganya. Untuk menjadi anggota Jinyiwei kau harus melewati serangkaian


ujian yang berat. Tidak hanya memiliki ilmu silat yang tinggi tetapi kau juga harus


berani menghadapi tantangan alam dan yang paling berat tahan disiksa,” tutur


Paman Yue.


Mereka juga sama seperti pasukan Bhayangkara yang melindungi


Raja, batin Wiraksara.


“Tapi saat ini mereka bersaing dengan orang-orang Depot


Timur, memperebutkan pengaruh. Pasukan Jinyiwei lebih dekat dengan Pangeran


pertama Gaoxi sedangkan   orang-orang


Depot Timur lebih dekat dengan Pangeran Gaoxu,” tutur Paman Yue.


“Orang-orang Depot Timur? Siapa mereka? Tanya Wiraksara.


“Mereka adalah telik sandi kerajaan, kudengar mereka sedang


merencanakan perebutan kekuasaan. Kau tahu sendiri kan persaingan antara


Pangeran Gaoxi dan Gauxu? Kaisar lebih senang kepada Pangeran Gaoxu yang


dinilainya lebih trampil bertempur dari pada Pangeran Gaochi yang sakit-sakitan.


Kabarnya setelah perang Annam ini jika Pangeran Gaoxu berhasil membawa


kemenangan untuk China, maka Kaisar Yongle akan memberikan tahtanya kepadanya,”


tutur Paman Yue.

__ADS_1


Huh, semoga saja Pangeran gila itu tidak jadi Kaisar, bisa


ambyar nasibku kalau dia yang jadi Raja, pikir Wiraksara.


“Ah, aku lebih suka jika Pangeran Gaoxi yang menjadi Kaisar


menggantikan ayahnya,” ujar Wiraksara.


“Anak muda, mengapa kau tidak melarikan diri saja? Masalah


itu sebenarnya bukanlah kesalahanmu, seharusnya Kaisar tidak menahanmu di sini.


Atau setidaknya jika dia menahanmu, seharusnya mereka memberikan tempat yang


pantas sebagai seorang tamu negara,” tanya Paman Yue.


Wiraksara hanya menggelengkan kepala


“Paman, aku bukanlah tawanan atau seorang pesakitan, tetapi


aku adalah jaminan hutang. Jadi buat apa aku melarikan diri? Kalau aku


melarikan diri, Kaisar Yongle akan bertambah marah dan mengirimkan pasukannya


ke Jawa. Negeri kami sedang dilanda perang Saudara, aku tak ingin ada


peperangan besar yang pada akhirnya hanya membuat rakyat menderita. Aku akan


tetap di sini sampai Majapahit dapat melunasi pembayaran ganti rugi pada China.”


*****


Sudah sebulan ini Wiraksara bertugas sebagai pengurus


anjing-anjing istana, Namun malam ini Wiraksara tidak dapat pulang ke pondok


karena ada anjing yang melahirkan di malam hari. Baru tengah malam akhirnya


Wiraksara dapat menyelesaikan tugasnya membantu mengurus kelahiran bayi-bayi


anjing itu. Dia memutuskan untuk tidak pulang ke pondok dan beristirahat di


barak pelayan.


Dengan langkah gontai Wiraksara menyusuri koridor istana


lagi. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat masuk ke ruang kerja


kaisar.  Wiraksara terkejut, langkahnya


mendadak terhenti, dia mengamati bayangan hitam yang celingukan sebelum masuk


ke ruang kaisar, pakaiannya yang ketat berwarna serba hitam dan memakai kedok.


Dengan cepat pria berbaju hitam itu merobohkan pengawal yang sedang menjaga


ruang kerja kaisar.


Siapa orang itu, tampaknya mencurigakan, sebaiknya aku intip


saja dulu, batin Wiraksara.


Wiraksara berkelebat, membuat lubang di kertas yang melapisi


jendela lalu mengintip ke dalam. Terlihat pria berbaju hitam itu berusaha


membuka lemari mengambil sesuatu dari dalamnya. Orang itu tampaknya familiar


dengan kondisi di dalam ruangan itu.


Pasti dia orang dalam, tapi apa yang sebenarnya dia cari? Pikir


Wiraksara.


Orang itu menurunkan lukisan yang berada di belakang kursi


kerja kaisar.  Ternyata dibelakangnya


terdapat  sebuah dinding rahasia.


Wiraksara tidak dapat melihat jelas apa yang dia lakukan di dinding tetapi tak


lama kemudian dinding rahasia terbuka dan dari dalamnya orang berkedok itu


mengeluarkan sebuah stempel kerajaan. Stempel itu berukuran 10X10 cm, ada

__ADS_1


patung naga dari batu giok sebagai pegangan stempel dan landasannya terbuat


dari emas. Sampai di sini baru Wiraksara menyadari orang itu mencoba mencuri


stempel kaisar. Maka diapun berlari sambil berteriak


“Penyusup…ada penyusup!”


Tak berapa lama kemudian beberapa pasukan Jinyiwei


berdatangan


“Apa yang terjadi?”


“Ada penyusup masuk ruangan kaisar!” seru Wiraksara sambil


menunjuk ke ruang kerja kaisar.


Terdengar suara pertempuran di dalam ruang kerja kaisar,


tiba-tiba dari arah lain muncul pasukan berpakaian hitam yang langsung


menyerang pasukan Jinyiwei yang baru datang. Terjadi pertempuran antara pasukan


penyusup dan Jinyiwei. Tiba-tiba salah satu pasukan penyusup itu menyergap


Wiraksara, pemuda itu berusaha melawan namun gerakan orang itu lebih cepat,


tubuh Wiraksara mendadak kaku. Sadarlah dia orang itu sudah menotok jalan


darahnya, sebilah pedang dikalungkan ke lehernya.


“Kalau kau bergerak kau akan mati!”


Pasukan Jinyiwei telah mengepung Wiraksara dan


penyanderanya, namun orang itu sudah melayang ke atap rumah sambil berseru


“Kalau kalian mendekat, utusan Majapahit ini akan kubunuh.


Setelah itu di luar akan tersiar kabar bahwa Kaisar Yongle telah membunuh


utusan Majapahit dan itu artinya adalah China akan berperang melawan Majapahit dang


anti rugi kalian tidak akan dibayar oleh Majapahit!”


Pasukan Jinyiwei berhenti mengejar, mereka ragu-ragu untuk


mengejar karena pihak musuh sudah membawa sandera. Setelah itu pria berkedok


itu membawa Wiraksara bersamanya meninggalkan istana. Dia bergerak lincah


sambil memanggul tubuh Wiraksara di bahunya yang kokoh. Sama sekali tidak


terlihat keberatan atau terganggu gerakannya. Dengan lincah dia melompati


atap-atap rumah istana. Di belakangnya pasukan Jinyiwei berusaha menyusul namun


dalam sekejap pria itu telah menghilang dari pandangan mereka di kegelapan


malam.


*****


Malam itu istana geger, stempel kerajaan sudah dicuri,


Kaisar langsung mengumpulkan pasukan Jinyiwei dan Depot Timur di balariung


istana. Dalam pertemuan itu hadir juga Pangeran Gaoxi dan Gaoxu.


“Stempel istana telah dicuri, pelakunya tampaknya mengenal


baik bagian dalam ruang kerja kaisar.  Aku yakin pelakunya pasti orang dalam. Utusan


Majapahit itu yang pertama kali memergokinya,” ujar Wang Yu Kepala Pasukan


Jinyiwei.


“Mengapa kalian tidak mengejarnya saja?” Tanya Pangeran


Gaoxi.


“Orang itu menyandera utusan Majapahit itu, kita tidak jadi


mengejarnya. Kalau kita nekat mengejar, orang itu akan membunuhnya dan Kerajaan

__ADS_1


Majapahit akan menyangka kita telah membunuh utusannya.  Uang ganti rugi itu tidak akan dibayar dan


kita justru berperang dengan Majapahit,” ujar Wang Yu.


__ADS_2