
Malam hari setelah maghrib, Wiraksara sudah selesai dengan
tugasnya, hari ini ada beberapa anjing
yang harus dimandikan dan itu cukup menyita waktunya yang sama sekali belum
pernah memandikan seekor anjing. Ketika sedang berjalan pulang Paman Yue
memanggilnya
“Sala…Sala tunggu sebentar!”
Wiraksara menoleh, dilihatnya Paman Yue berlari menyusulnya,
dia berhenti sejenak menunggu Paman Yue
“Sala, tunggu aku mau berziarah ke makam Tie Shi, boleh aku
ikut ke rumahmu?”
Wiraksara mengangguk,” Silahkan Paman, rumahku ada di dekat
kandang kuda istana, tapi tempat itu agak jauh.”
“Ah tidak apa-apa, aku masih kuat berjalan, lagipula jarak
antara rumahmu dengan rumahku tidak terlalu jauh. Ayo kita jalan,” ajak Paman
Yue.
Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari kejauhan
terdengar suara derap kaki kuda. Berderap-derap suaranya menggetarkan bumi.
“Sala, minggirlah dan berlututlah cepat!”
Wiraksara ingin protes tetapi tangan Paman Yue sudah menekan
pundaknya lalu menendang betis bagian belakang sehingga dia jatuh berlutut.
Wiraksara ingin memprotes tindakan Paman Yue namun orang-orang berkuda itu
telah lewat di depan mereka. Orang-orang itu memakai baju panjang warna biru
tua dengan hiasan sulaman benang emas bergambar ular Sanca besar di dadanya.
“Paman, siapa mereka?” Tanya Wiraksara
“Mereka adalah Jinyiwei, pasukan khusus penjaga kaisar dan
keluarganya. Untuk menjadi anggota Jinyiwei kau harus melewati serangkaian
ujian yang berat. Tidak hanya memiliki ilmu silat yang tinggi tetapi kau juga harus
berani menghadapi tantangan alam dan yang paling berat tahan disiksa,” tutur
Paman Yue.
Mereka juga sama seperti pasukan Bhayangkara yang melindungi
Raja, batin Wiraksara.
“Tapi saat ini mereka bersaing dengan orang-orang Depot
Timur, memperebutkan pengaruh. Pasukan Jinyiwei lebih dekat dengan Pangeran
pertama Gaoxi sedangkan orang-orang
Depot Timur lebih dekat dengan Pangeran Gaoxu,” tutur Paman Yue.
“Orang-orang Depot Timur? Siapa mereka? Tanya Wiraksara.
“Mereka adalah telik sandi kerajaan, kudengar mereka sedang
merencanakan perebutan kekuasaan. Kau tahu sendiri kan persaingan antara
Pangeran Gaoxi dan Gauxu? Kaisar lebih senang kepada Pangeran Gaoxu yang
dinilainya lebih trampil bertempur dari pada Pangeran Gaochi yang sakit-sakitan.
Kabarnya setelah perang Annam ini jika Pangeran Gaoxu berhasil membawa
kemenangan untuk China, maka Kaisar Yongle akan memberikan tahtanya kepadanya,”
tutur Paman Yue.
__ADS_1
Huh, semoga saja Pangeran gila itu tidak jadi Kaisar, bisa
ambyar nasibku kalau dia yang jadi Raja, pikir Wiraksara.
“Ah, aku lebih suka jika Pangeran Gaoxi yang menjadi Kaisar
menggantikan ayahnya,” ujar Wiraksara.
“Anak muda, mengapa kau tidak melarikan diri saja? Masalah
itu sebenarnya bukanlah kesalahanmu, seharusnya Kaisar tidak menahanmu di sini.
Atau setidaknya jika dia menahanmu, seharusnya mereka memberikan tempat yang
pantas sebagai seorang tamu negara,” tanya Paman Yue.
Wiraksara hanya menggelengkan kepala
“Paman, aku bukanlah tawanan atau seorang pesakitan, tetapi
aku adalah jaminan hutang. Jadi buat apa aku melarikan diri? Kalau aku
melarikan diri, Kaisar Yongle akan bertambah marah dan mengirimkan pasukannya
ke Jawa. Negeri kami sedang dilanda perang Saudara, aku tak ingin ada
peperangan besar yang pada akhirnya hanya membuat rakyat menderita. Aku akan
tetap di sini sampai Majapahit dapat melunasi pembayaran ganti rugi pada China.”
*****
Sudah sebulan ini Wiraksara bertugas sebagai pengurus
anjing-anjing istana, Namun malam ini Wiraksara tidak dapat pulang ke pondok
karena ada anjing yang melahirkan di malam hari. Baru tengah malam akhirnya
Wiraksara dapat menyelesaikan tugasnya membantu mengurus kelahiran bayi-bayi
anjing itu. Dia memutuskan untuk tidak pulang ke pondok dan beristirahat di
barak pelayan.
Dengan langkah gontai Wiraksara menyusuri koridor istana
lagi. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat masuk ke ruang kerja
kaisar. Wiraksara terkejut, langkahnya
mendadak terhenti, dia mengamati bayangan hitam yang celingukan sebelum masuk
ke ruang kaisar, pakaiannya yang ketat berwarna serba hitam dan memakai kedok.
Dengan cepat pria berbaju hitam itu merobohkan pengawal yang sedang menjaga
ruang kerja kaisar.
Siapa orang itu, tampaknya mencurigakan, sebaiknya aku intip
saja dulu, batin Wiraksara.
Wiraksara berkelebat, membuat lubang di kertas yang melapisi
jendela lalu mengintip ke dalam. Terlihat pria berbaju hitam itu berusaha
membuka lemari mengambil sesuatu dari dalamnya. Orang itu tampaknya familiar
dengan kondisi di dalam ruangan itu.
Pasti dia orang dalam, tapi apa yang sebenarnya dia cari? Pikir
Wiraksara.
Orang itu menurunkan lukisan yang berada di belakang kursi
kerja kaisar. Ternyata dibelakangnya
terdapat sebuah dinding rahasia.
Wiraksara tidak dapat melihat jelas apa yang dia lakukan di dinding tetapi tak
lama kemudian dinding rahasia terbuka dan dari dalamnya orang berkedok itu
mengeluarkan sebuah stempel kerajaan. Stempel itu berukuran 10X10 cm, ada
__ADS_1
patung naga dari batu giok sebagai pegangan stempel dan landasannya terbuat
dari emas. Sampai di sini baru Wiraksara menyadari orang itu mencoba mencuri
stempel kaisar. Maka diapun berlari sambil berteriak
“Penyusup…ada penyusup!”
Tak berapa lama kemudian beberapa pasukan Jinyiwei
berdatangan
“Apa yang terjadi?”
“Ada penyusup masuk ruangan kaisar!” seru Wiraksara sambil
menunjuk ke ruang kerja kaisar.
Terdengar suara pertempuran di dalam ruang kerja kaisar,
tiba-tiba dari arah lain muncul pasukan berpakaian hitam yang langsung
menyerang pasukan Jinyiwei yang baru datang. Terjadi pertempuran antara pasukan
penyusup dan Jinyiwei. Tiba-tiba salah satu pasukan penyusup itu menyergap
Wiraksara, pemuda itu berusaha melawan namun gerakan orang itu lebih cepat,
tubuh Wiraksara mendadak kaku. Sadarlah dia orang itu sudah menotok jalan
darahnya, sebilah pedang dikalungkan ke lehernya.
“Kalau kau bergerak kau akan mati!”
Pasukan Jinyiwei telah mengepung Wiraksara dan
penyanderanya, namun orang itu sudah melayang ke atap rumah sambil berseru
“Kalau kalian mendekat, utusan Majapahit ini akan kubunuh.
Setelah itu di luar akan tersiar kabar bahwa Kaisar Yongle telah membunuh
utusan Majapahit dan itu artinya adalah China akan berperang melawan Majapahit dang
anti rugi kalian tidak akan dibayar oleh Majapahit!”
Pasukan Jinyiwei berhenti mengejar, mereka ragu-ragu untuk
mengejar karena pihak musuh sudah membawa sandera. Setelah itu pria berkedok
itu membawa Wiraksara bersamanya meninggalkan istana. Dia bergerak lincah
sambil memanggul tubuh Wiraksara di bahunya yang kokoh. Sama sekali tidak
terlihat keberatan atau terganggu gerakannya. Dengan lincah dia melompati
atap-atap rumah istana. Di belakangnya pasukan Jinyiwei berusaha menyusul namun
dalam sekejap pria itu telah menghilang dari pandangan mereka di kegelapan
malam.
*****
Malam itu istana geger, stempel kerajaan sudah dicuri,
Kaisar langsung mengumpulkan pasukan Jinyiwei dan Depot Timur di balariung
istana. Dalam pertemuan itu hadir juga Pangeran Gaoxi dan Gaoxu.
“Stempel istana telah dicuri, pelakunya tampaknya mengenal
baik bagian dalam ruang kerja kaisar. Aku yakin pelakunya pasti orang dalam. Utusan
Majapahit itu yang pertama kali memergokinya,” ujar Wang Yu Kepala Pasukan
Jinyiwei.
“Mengapa kalian tidak mengejarnya saja?” Tanya Pangeran
Gaoxi.
“Orang itu menyandera utusan Majapahit itu, kita tidak jadi
mengejarnya. Kalau kita nekat mengejar, orang itu akan membunuhnya dan Kerajaan
__ADS_1
Majapahit akan menyangka kita telah membunuh utusannya. Uang ganti rugi itu tidak akan dibayar dan
kita justru berperang dengan Majapahit,” ujar Wang Yu.