
Kembali badannya berkelebat menyerang Wiraksara. Wiraksara
tidak dapat membalas pukulan Gaoxu yang begitu cepat. Pelajaran ilmu silat yang
selama ini diterimanya seolah tak berguna melawan serangan Pangeran Kedua.
Kembali badannya terlempar oleh pukulan Gaoxu. Wiraksara memuntahkan darah
segar dari mulutnya.
“Hei berdirilah, aku benci melihat laki-laki banci
sepertimu, ayo pukul aku!” seru Pangeran Gaoxu sambil menghampiri Wiraksara
dengan senyuman mengejek.
Kejadian di lapangan panahan kemarin telah membuat
reputasinya sebagai pemanah ulung tanpa tanding hancur berantakan karena ulah
Wiraksara. Sejak itu perasaan dendam terhadap Wiraksara terus berkobar dalam
dirinya. Setiap saat dia selalu mencari kesempatan untuk dapat membunuh
Wiraksara.
Dibakar rasa amarah yang sudah memuncak karena penghinaan
Gaoxu, Wiraksara seolah memperoleh kekuatan baru. Dirasakannya energi Maha Aji
di dalam tubuhnya mulai memberikan sinyal-sinyal untuk melawan. Tubuhnya
bergetar hebat karena ledakan energi Maha Aji yang berada di dalam tubuhnya.
Terdengar suara di telinganya
“Hajar Pangeran Sombong itu, dia telah menghina bangsa
kita!”
Wiraksara mencoba meredakan ledakan energi itu, lalu
menyalurkan dan menggerakannya ke sekujur tubuhnya kemudian memusatkannya di tangan
dan kakinya. Sementara itu Gaoxu sudah semakin dekat, kakinya sudah bersiap
menendang tubuh Wiraksara yang rebah di tanah itu sekali lagi.
Kali ini kau akan mati di tanganku, tak ada yang dapat
menolongmu di sini karena saat ini siapapun tidak dapat memasuki kediamanku
tanpa seizinku, batin Gaoxu.
Tiba-tiba Wiraksara menarik kaki Gaoxu yang sudah sampai di
atas dadanya, Gaoxu terkejut kakinya tiba-tiba di tarik membuatnya jatuh
terjengkang karena kehilangan keseimbangan. Kali ini dia benar-benar murka,
reputasinya sebagai pesilat tangguh kembali dijatuhkan Wiraksara di depan anak
buahnya. Tanpa memberi kesempatan Gaoxu untuk bangun, Wiraksara dengan gencar
balik menyerang Gaoxu.
Gaoxu terkejut melihat kekuatan Wiraksara yang tiba-tiba
terasa begitu kuat. Tak disangkanya pemuda yang dikiranya hanya seorang penjaga
kuda yang lemah, ternyata memiliki ilmu beladiri yang tangguh. Tak ingin
dipermalukan lagi, kembali Gaoxu bergerak memukul Wiraksara, namun Wiraksara
kembali berkelebat menghindar.
Gaoxu semakin marah karena serangannya selalu dapat
dipatahkan oleh Wiraksara. Mulailah dia bergerak mengeluarkan ilmu andalannya.
Kali ini kau tak akan bisa melawan jurus Dewa Kematian
Menari, batin Gaoxu.
Gaoxu mulai mengerahkan kekuatannya di telapak tangannya, lalu
tubuhnya bergerak menyerang Wiraksara dengan gencarnya. Wiraksara terkesiap,
__ADS_1
ilmu silat Gaoxu ternyata cukup lumayan membuatnya kerepotan. Dia dapat melihat
tinju dan tendangan Gaoxu seolah berada di sekeliling tubuhnya, mengepungnya
sehingga dia hanya mampu menangkis dan bertahan tanpa mampu membalas.
Jurus apa yang dia gunakan, tinjunya seolah membayangiku di
mana-mana, pikir Wiraksara.
Wiraksara mendengar suara itu di telinganya memberinya
komando.
“Serang dia dari atas, serang pundaknya, gunakan jurus Garuda
Menyergap Mangsa!”
Wiraksara menutulkan kakinya ke tanah kemudian melompat
berkelebat di atas kepala Gaoxu, kakinya bergerak menendang pundak Gaoxu dengan
kuat. Pangeran kedua itu seketika jatuh tersungkur mencium bumi. Dia merasa
punggungnya seolah mau patah karena tendangan Wiraksara. Hidungnya berdarah
karena mendarat di tanah begitu keras. Gaoxu kembali dipermalukan Wiraksara di
depan anak buahnya, dendamnya kepada Wiraksara semakin membara.
Awas kau, setelah ini aku akan selalu mencoba membunuhmu,
batin Gaoxu. Tiba tiba terdengar suara kasim berseru
“Kaisar Yongle datang!”
Serentak orang-orang yang berada di tempat itu langsung
berlutut menyambut Kaisar.
Gaoxu terkejut mendengar kedatangan ayahnya ke kediamannya
secara mendadak. Walaupun dia telah melarang siapapun masuk ke istananya di
saat dia sedang menghajar Wiraksara. Namun siapa yang dapat menolak kedatangan
Kaisar Yongle masuk ke istana Gaoxu, namun melihat Gaoxu
yang terlihat kusut dan Wiraksara yang babak belur dia bertanya
“Apa yang terjadi Gaoxu, dan mengapa pejabat majapahit ini
ada bersamamu?” Tanya Kaisar dengan heran.
Gaoxu tergagap menjawab pertanyaan ayahnya.
Celaka, kalau ayah tahu aku hendak membunuh perwakilan
negara asing mampuslah aku, batin Gaoxu.
Namun dia tetap mencoba bertingkah wajar, dia melangkah
mendekati Wiraksara lalu memeluk bahunya seolah mereka berteman baik.
“Oh, aku hanya sedikit berlatih silat bersamanya saja Ayah.
Bukankah kau pernah bercerita bahwa ilmu silat bangsa Nusantara sangat hebat,
bahkan pasukan Kubilai Khanpun dibuat tak berkutik karenanya. Ternyata memang
benar ilmu silat Nusantara itu memang hebat. Bukankah begitu Wiraksara?” Ujar
Gaoxu sambil menoleh ke arah Wiraksara.
Kaisar Yongle tahu tabiat Gaoxu yang menyukai tantangan dan
cenderung ingin selalu mengungguli yang lain. Dia tak mudah percaya begitu saja
dengan kata-kata anak keduanya. Bukanlah sifat asli Gaoxu yang bersedia memuji
kehebatan ilmu lawannya di depan banyak orang.
“Semoga benar demikian, Gaoxu, aku tak melarangmu jika kau
memang ingin berlatih bersamanya. Tetapi orang ini tidak menguasai ilmu
beladiri karena dia bukan dari kalangan militer. Sebaiknya kau menahan diri
__ADS_1
terhadap dia. Aku tak mau dia terluka, kalau dia sampai mati bagaimana aku
mempertanggungjawabkannya kepada Kerajaan Majapahit. Jadi kuharap kau jangan
mengganggunya lagi termasuk menjadikannya sasaran latihan memanahmu. Kalau hal
ini sampai terjadi lagi, aku akan mengirimmu ke perbatasan untuk berperang
melawan serbuan Mongol,” usai berkata demikian Kaisar Yongle segera berlalu
pergi meninggalkan kediaman Gaoxu.
Kaisar Yongle menoleh kepada Wiraksara
“Sebaiknya kau segera kembali ke tempatmu.”
Wiraksara berdiri kemudian mengikuti rombongan kaisar meninggalkan
kediaman Gaoxu diikuti pendangan mata Gaoxu yang menatapnya penuh dendam.
Sepeninggal mereka Gaoxu menggeram
Awas kau Wiraksara, kali ini kau masih bisa selamat, walaupun ayahku telah melarangku mengganggumu,
aku tetap akan berusaha membunuhmu, batin Gaoxu.
*******
Tie Shi sedang berada
di depan rumahnya, ketika itu musim dingin baru saja di mulai, salju sudah
mulai turun. Berkali-kali dia keluar rumah berdiri di terasnya sambil melihat
ke jalan.
Ah kemana saja anak ini, sedari siang dia belum juga pulang
dari rumah Pangeran Pertama. Salju sudah mulai turun, bagaimana kalau dia nanti
kedinginan di jalan, batin Tie Shi dengan cemas sambil melihat salju yang
turun.
Dari kejauhan, tampak Wiraksara berjalan terseok-seok masuk
ke halaman. Tie Shi segera menghampiri.
“Ada apa denganmu kok sampai terluka parah begini? Siapa
yang melakukannya? Masuklah, bersihkan dirimu setelah ini aku akan mengobatimu.”
Wiraksara tidak menjawab, dia hanya ingin cepat pulang dan
beristirahat. Setelah membersihkan diri, Tie Shi segera membersihkan
luka-lukanya dan memberinya ramuan obat.
“Minumlah ramuan ini akan cepat menyembuhkan luka dalammu,”
kata Tie Shi sambil membantu meminumkannya.
Setelah meminum ramuan Tie Shi, Wiraksara merasa sedikit
lebih baik.
“Terimakasih Paman,”ujar Wiraksara dengan lirih.
“Siapa yang melakukannya terhadapmu?” Tanya Tie Shi.
Namun Wiraksara masih belum juga menjawabnya
“Ya sudahlah, kurasa aku tahu siapa yang melakukannya,
sekarang kau tidurlah, besok kau tidak usah bekerja dulu. Oh ya ini kubawakan
selimut dari bulu Yak, kurasa kau akan memerlukannya di musim dingin ini,” kata
Tie Shi sambil memberikan selimut dari bulu yak kepada Wiraksara.
Salju di luar rumah semakin tebal, udara semakin dingin,
tapi anehnya Wiraksara tidak merasakan dingin sama sekali. Tubuhnya justru
berpeluh seolah dia berada di padang pasir yag panas. Dirasakannya tenggorokannya
kering, Wiraksara berjalan ke dapur mencari air minum. Sudah banyak air yang
__ADS_1
dia minum, tapi tubuhnya tak kunjung mendingin.