KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Duel


__ADS_3

Kembali badannya berkelebat menyerang Wiraksara. Wiraksara


tidak dapat membalas pukulan Gaoxu yang begitu cepat. Pelajaran ilmu silat yang


selama ini diterimanya seolah tak berguna melawan serangan Pangeran Kedua.


Kembali badannya terlempar oleh pukulan Gaoxu. Wiraksara memuntahkan darah


segar dari mulutnya.


“Hei berdirilah, aku benci melihat laki-laki banci


sepertimu, ayo pukul aku!” seru Pangeran Gaoxu sambil menghampiri Wiraksara


dengan senyuman mengejek.


Kejadian di lapangan panahan kemarin telah membuat


reputasinya sebagai pemanah ulung tanpa tanding hancur berantakan karena ulah


Wiraksara. Sejak itu perasaan dendam terhadap Wiraksara terus berkobar dalam


dirinya. Setiap saat dia selalu mencari kesempatan untuk dapat membunuh


Wiraksara.


Dibakar rasa amarah yang sudah memuncak karena penghinaan


Gaoxu, Wiraksara seolah memperoleh kekuatan baru. Dirasakannya energi Maha Aji


di dalam tubuhnya mulai memberikan sinyal-sinyal untuk melawan. Tubuhnya


bergetar hebat karena ledakan energi Maha Aji yang berada di dalam tubuhnya.


Terdengar suara di telinganya


“Hajar Pangeran Sombong itu, dia telah menghina bangsa


kita!”


Wiraksara mencoba meredakan ledakan energi itu, lalu


menyalurkan dan menggerakannya ke sekujur tubuhnya kemudian memusatkannya di tangan


dan kakinya. Sementara itu Gaoxu sudah semakin dekat, kakinya sudah bersiap


menendang tubuh Wiraksara yang rebah di tanah itu sekali lagi.


Kali ini kau akan mati di tanganku, tak ada yang dapat


menolongmu di sini karena saat ini siapapun tidak dapat memasuki kediamanku


tanpa seizinku, batin Gaoxu.


Tiba-tiba Wiraksara menarik kaki Gaoxu yang sudah sampai di


atas dadanya, Gaoxu terkejut kakinya tiba-tiba di tarik membuatnya jatuh


terjengkang karena kehilangan keseimbangan. Kali ini dia benar-benar murka,


reputasinya sebagai pesilat tangguh kembali dijatuhkan Wiraksara di depan anak


buahnya. Tanpa memberi kesempatan Gaoxu untuk bangun, Wiraksara dengan gencar


balik menyerang Gaoxu.


Gaoxu terkejut melihat kekuatan Wiraksara yang tiba-tiba


terasa begitu kuat. Tak disangkanya pemuda yang dikiranya hanya seorang penjaga


kuda yang lemah, ternyata memiliki ilmu beladiri yang tangguh. Tak ingin


dipermalukan lagi, kembali Gaoxu bergerak memukul Wiraksara, namun Wiraksara


kembali berkelebat menghindar.


Gaoxu semakin marah karena serangannya selalu dapat


dipatahkan oleh Wiraksara. Mulailah dia bergerak mengeluarkan ilmu andalannya.


Kali ini kau tak akan bisa melawan jurus Dewa Kematian


Menari, batin Gaoxu.


Gaoxu mulai mengerahkan kekuatannya di telapak tangannya, lalu


tubuhnya bergerak menyerang Wiraksara dengan gencarnya. Wiraksara terkesiap,

__ADS_1


ilmu silat Gaoxu ternyata cukup lumayan membuatnya kerepotan. Dia dapat melihat


tinju dan tendangan Gaoxu seolah berada di sekeliling tubuhnya, mengepungnya


sehingga dia hanya mampu menangkis dan bertahan tanpa mampu membalas.


Jurus apa yang dia gunakan, tinjunya seolah membayangiku di


mana-mana, pikir Wiraksara.


Wiraksara mendengar suara itu di telinganya memberinya


komando.


“Serang dia dari atas, serang pundaknya, gunakan jurus Garuda


Menyergap Mangsa!”


Wiraksara menutulkan kakinya ke tanah kemudian melompat


berkelebat di atas kepala Gaoxu, kakinya bergerak menendang pundak Gaoxu dengan


kuat. Pangeran kedua itu seketika jatuh tersungkur mencium bumi. Dia merasa


punggungnya seolah mau patah karena tendangan Wiraksara. Hidungnya berdarah


karena mendarat di tanah begitu keras. Gaoxu kembali dipermalukan Wiraksara di


depan anak buahnya, dendamnya kepada Wiraksara semakin membara.


Awas kau, setelah ini aku akan selalu mencoba membunuhmu,


batin Gaoxu. Tiba tiba terdengar suara kasim berseru


“Kaisar Yongle datang!”


Serentak orang-orang yang berada di tempat itu langsung


berlutut menyambut Kaisar.


Gaoxu terkejut mendengar kedatangan ayahnya ke kediamannya


secara mendadak. Walaupun dia telah melarang siapapun masuk ke istananya di


saat dia sedang menghajar Wiraksara. Namun siapa yang dapat menolak kedatangan


Kaisar Yongle masuk ke istana Gaoxu, namun melihat Gaoxu


yang terlihat kusut dan Wiraksara yang babak belur dia bertanya


“Apa yang terjadi Gaoxu, dan mengapa pejabat majapahit ini


ada bersamamu?” Tanya Kaisar dengan heran.


Gaoxu tergagap menjawab pertanyaan ayahnya.


Celaka, kalau ayah tahu aku hendak membunuh perwakilan


negara asing mampuslah aku, batin Gaoxu.


Namun dia tetap mencoba bertingkah wajar, dia melangkah


mendekati Wiraksara lalu memeluk bahunya seolah mereka berteman baik.


“Oh, aku hanya sedikit berlatih silat bersamanya saja Ayah.


Bukankah kau pernah bercerita bahwa ilmu silat bangsa Nusantara sangat hebat,


bahkan pasukan Kubilai Khanpun dibuat tak berkutik karenanya. Ternyata memang


benar ilmu silat Nusantara itu memang hebat. Bukankah begitu Wiraksara?” Ujar


Gaoxu sambil menoleh ke arah Wiraksara.


Kaisar Yongle tahu tabiat Gaoxu yang menyukai tantangan dan


cenderung ingin selalu mengungguli yang lain. Dia tak mudah percaya begitu saja


dengan kata-kata anak keduanya. Bukanlah sifat asli Gaoxu yang bersedia memuji


kehebatan ilmu lawannya di depan banyak orang.


“Semoga benar demikian, Gaoxu, aku tak melarangmu jika kau


memang ingin berlatih bersamanya. Tetapi orang ini tidak menguasai ilmu


beladiri karena dia bukan dari kalangan militer. Sebaiknya kau menahan diri

__ADS_1


terhadap dia. Aku tak mau dia terluka, kalau dia sampai mati bagaimana aku


mempertanggungjawabkannya kepada Kerajaan Majapahit. Jadi kuharap kau jangan


mengganggunya lagi termasuk menjadikannya sasaran latihan memanahmu. Kalau hal


ini sampai terjadi lagi, aku akan mengirimmu ke perbatasan untuk berperang


melawan serbuan Mongol,” usai berkata demikian Kaisar Yongle segera berlalu


pergi meninggalkan kediaman Gaoxu.


Kaisar Yongle menoleh kepada Wiraksara


“Sebaiknya kau segera kembali ke tempatmu.”


Wiraksara berdiri kemudian mengikuti rombongan kaisar meninggalkan


kediaman Gaoxu diikuti pendangan mata Gaoxu yang menatapnya penuh dendam.


Sepeninggal mereka Gaoxu menggeram


Awas kau Wiraksara, kali ini kau masih bisa selamat,  walaupun ayahku telah melarangku mengganggumu,


aku tetap akan berusaha membunuhmu, batin Gaoxu.


*******


 Tie Shi sedang berada


di depan rumahnya, ketika itu musim dingin baru saja di mulai, salju sudah


mulai turun. Berkali-kali dia keluar rumah berdiri di terasnya sambil melihat


ke jalan.


Ah kemana saja anak ini, sedari siang dia belum juga pulang


dari rumah Pangeran Pertama. Salju sudah mulai turun, bagaimana kalau dia nanti


kedinginan di jalan, batin Tie Shi dengan cemas sambil melihat salju yang


turun.


Dari kejauhan, tampak Wiraksara berjalan terseok-seok masuk


ke halaman. Tie Shi segera menghampiri.


“Ada apa denganmu kok sampai terluka parah begini? Siapa


yang melakukannya? Masuklah, bersihkan dirimu setelah ini aku akan mengobatimu.”


Wiraksara tidak menjawab, dia hanya ingin cepat pulang dan


beristirahat. Setelah membersihkan diri, Tie Shi segera membersihkan


luka-lukanya dan memberinya ramuan obat.


“Minumlah ramuan ini akan cepat menyembuhkan luka dalammu,”


kata Tie Shi sambil membantu meminumkannya.


Setelah meminum ramuan Tie Shi, Wiraksara merasa sedikit


lebih baik.


“Terimakasih Paman,”ujar Wiraksara dengan lirih.


“Siapa yang melakukannya terhadapmu?” Tanya Tie Shi.


Namun Wiraksara masih belum juga menjawabnya


“Ya sudahlah, kurasa aku tahu siapa yang melakukannya,


sekarang kau tidurlah, besok kau tidak usah bekerja dulu. Oh ya ini kubawakan


selimut dari bulu Yak, kurasa kau akan memerlukannya di musim dingin ini,” kata


Tie Shi sambil memberikan selimut dari bulu yak kepada Wiraksara.


Salju di luar rumah semakin tebal, udara semakin dingin,


tapi anehnya Wiraksara tidak merasakan dingin sama sekali. Tubuhnya justru


berpeluh seolah dia berada di padang pasir yag panas. Dirasakannya tenggorokannya


kering, Wiraksara berjalan ke dapur mencari air minum. Sudah banyak air yang

__ADS_1


dia minum, tapi tubuhnya tak kunjung mendingin.


__ADS_2