KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Penyusup


__ADS_3

“He he he aku bukanlah siapa-siapa, aku cuma pemabuk tua,”


jawab orang tua itu.


Wiraksara tak ingin ada orang lain yang menjadi korban maka


dia langsung berdiri di depan orangtua itu


“Jangan lukai dia, orang ini tidak ada sangkut pautnya


dengan aku, biarkan dia pergi,” kata Wiraksara sambil mendorong orangtua itu


pergi menjauh dari gelanggang.


Orangtua itu terdorong keluar gelanggang hingga terjatuh.


Anggota gerombolan yang lain segera mengeroyok orangtua itu, tetapi ketika


mereka mencoba menariknya tiba-tiba tubuh  mereka langsung terlempar kuat seperti dedaunan yang dihempaskan angin kencang.


Terdengar teriakan terkejut, ke enam anggota gerombolan itu tubuhnya terhempas


ke tanah dengan kuatnya sehingga membuat mereka kesulitan berdiri.


Sementara itu pemimpin gerombolan  langsung menyerang Wiraksara dalam jarak yang


cukup dekat, pedangnya mengarah ke wajah Wiraksara, pemuda itu bergeser sedikit


sehingga pedang itu menusuk ke tempat yang kosong.  Namun pihak lawan dengan cepat  kembali menebaskan pedang ke leher Wiraksara.


Pemuda itu  menghindar dengan menekuk


punggungnya ke belakang seperti akan melakukan gerakan kayang.  Terkesiap pemimpin gerombolan itu, gerakannya


yang cepat masih dapat dihindari oleh musuh.


Kembali dia menusukan pedang ke dada lawannya, Wiraksara


yang sudah akan meluruskan badannya terpaksa  kembali menjatuhkan badan ke belakang, pedang


pria berkedok itu kembali luput mengenai sasarannya.  Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Wiraksara


menahan tubuhnya dengan tangannya agar tubuhnya tidak menyentuh tanah kemudian


dia menggunakan tangannya untuk mendorong tubuhnya agar kembali berdiri tegak.


Tubuh Wiraksara kembali berdiri tegak, pria berkedok yang merasa kesal karena


serangannya luput terus, kembali mengarahkan pedang ke wajah Wiraksara. Dengan


cepat Wiraksara menangkap ujung pedang dan menahannya dengan kedua telapak


tangannya.


Pria berkedok berusaha menarik pedangnya, namun tangan


Wiraksara lebih kuat. Tak lama kemudian terdengar suara besi patah


“Taaak!”


Ujung pedang pria berkedok patah dan jatuh ke tanah.


Terkesiap pria berkedok itu melihat pedangnya patah. Merasa pedangnya sudah tak


berguna, pria berkedok membuang pedangnya lalu lembali menyerang Wiraksara


dengan tangan kosong. Pukulan pria berkedok bergerak cepat, bayangan tinjunya


seolah ada di mana-mana.  Wiraksara


sedikit keteteran melawannya, hingga suatu saat pukulan mereka beradu, kedua


tyelapak tangan mereka saling menempel. Kini Wiraksara beradu tenaga dalam


dengan musuhnya. Cukup lama mereka dalam posisi kedua telapak tangan saling

__ADS_1


menempel. Peluh sebesar biji kedelai mulai keluar dari tubuh mereka. Tiba-tiba


Wiraksara menghentakan tangannya sambil berteriak keras. Tangannya bergerak


mendorong tubuh musuhnya. Perlawanan Wiraksara memberikan hasil. Pria berkedok


itu terdorong mundur hingga beberapa langkah.


Terkesiap pria berkedok itu, tiba-tiba dari mulutnya


menyembur darah segar, orang itu sudah terkena  luka dalam yang parah.  Menyadari  dirinya terluka pemimpin gerombolan berseru


pada anak buahnya


“Kita pergi dari tempat ini!”


Satu persatu anak buahnya bersiap lari, tubuh mereka melayang


ke atas genting lalu menghilang di gelapnya malam. Wiraksara menghela nafas


lega.  Dia menghampiri pemabuk tua yang


masih terlentang di tanah. Wiraksara memeriksa tubuhnya namun dia tidak


menemukan luka atau bekas pukulan di tubuh orang tua itu.


“Tuan, siapakah nama anda? Terimakasih sudah membantu saya


menghadapi para perampok itu,” ujar Wiraksara.


“Anak muda bantu aku kembali ke kamarku, badanku rasanya


lemas tak bertenaga,” perintah orangtua itu.


“Anda terlalu banyak minum arak sehingga tubuh anda terasa


lemas,” ujar Wiraksara sambil membantunya memapah ke kamarnya.


Ternyata kamar pemabuk tua itu terletak di samping kamarnya,


setelah membawa orangtua itu ke kamarnya. Wiraksara kembali menemui Maheen dan


“Maheen berkemaslah, mala mini kita harus egera pergi dari


sini. Orang-orang Mehrak sudah mengikuti kita.”


Maheen dan Wiraksara kembali meneruskan perjalanan ke arah


barat, sementara hari masih gelap tetapi tidak ada pilihan bagi mereka. Kuda


mereka berlari menembus kegelapan malam  ke


arah barat.


*****


Sementara itu kapal Majapahit sudah meninggalkan pulau Jawa.


Hari itu mereka telah tiba di Tumasik dan mampir di sana untuk mengisi


persediaan air tawar bersih.


Brajasela ayah Wiraksara terlihat


turut serta dalam rombongan Majapahit itu. Kedatangan mereka kali ini adalah


untuk membayar cicilan hutang denda perang paregreg. Hatinya gelisah, dia ingin


segera bertemu anaknya. Ketika mendengar anaknya menjadi sandera hutang  di China, perasaannya mulai tak enak


mencemaskan kondisi anaknya di China.


Dia menanyakan kondisi


anaknya pada setiap pedagang China maupun para pejabat dari China yang mampir

__ADS_1


ke Lasem namun taka da yang tahu bagaimana kondisi anaknya di perantauan. Kali


ini rombongan Majapahit telah bertolak ke China membawa emas senilai 2000 tahil


emas untuk cicilan pertama.


Setelah mencukupi


perbekalannya, kapal Majapahit kembali berlayar mengarungi lautan menuju ke


China. Kapal mulai bergerak meninggalkan Tumasik menuju ke China. Namun baru


saja meninggalkan perairan Tumasik, tiba-tiba badai menyerang kapal mereka,


seorang awak kapal masuk ke dalam ruang penumpang dan memberitahu


“Ada badai, kita terpaksa berlabuh


di pelabuhan Johor sambil menunggu badai reda!”


Brajasela sedikit kecewa


karena perjalanan tertunda, namun dia memahami, kapal itu membawa uang senilai


2000 Tahil emas. Jika nekat menerjang badai kapal beresiko tenggelam dan mereka


gagal membayar cicilan denda perang Paregreg.


*******


Siang hari Wiraksara dan Maheen sudah tiba di kota Xinning.


Kota itu adalah kota kecil yang tidak terlalu ramai.


“Wiraksara, aku merasa lelah, bisakah kau cari penginapan


untuk kita beristirahat?” Tanya Maheen.


Wiraksara segera mencari penginapan untuk menginap.  Kali ini dia sengaja mencari penginapan yang


tidak terlalu ramai.


Ketika malam tiba, Wiraksara memesan makanan pada pelayan, kali


dia tak ingin banyak keluar penginapan takut dikejar anak buah Mehrak yang


seolah seperti bayangan yang melekat di tubuhnya. Usai makan Wiraksara berkata


pada Maheen


“Berhati-hatilah malam ini, kurasa orang-orang Mehrak tak


akan melepaskan kita begitu saja.”


“Aku tahu mereka akan tetap mengejar kita, semoga malam ini tidak


ada lagi pertarungan seperti kemarin,” ujar Maheen.


Ketika kembali ke kamarnya Wiraksara kembali berjumpa dengan


pemabuk tua itu. Tertegun Wiraksara melihat keberadaan pemabuk itu di kota


Xinning di penginapan yang sama. Dia menghampiri pemabuk tua yang saat itu


sedang tidak mabuk


“Tuan, kita bertemu lagi, apakah anda juga akan ke Persia?”


Tanya Wiraksara


"Ah, kau lagi kali ini kau harus mau main mahyong denganku. Ayo ke kamarku temani aku minum arak dan main mahyong. Oh ya, siapa namamu?" tanya orangtua itu.


"Nama saya Wiraksara, tetapi mohon maaf saya tidak bisa main mahyong dan untuk saat ini saya belum bisa menemani anda minum arak.  Saya tidak boleh mabuk karena saya masih harus bertanggung jawab terhadap keselamatan seseorang.  Siapa nama Tuan?" Tanya Wiraksara


"Namaku Kwan Haisan, panggil saja aku kakek Kwan. Ah sayang sekali kau tidak bisa menemaniku minum, tapi maukah kau menemaniku main mahyong saja? Jangan kuatir aku akan mengajarimu," kata Kakek Kwan.

__ADS_1


Wiraksara tertegun, orangtua itu masih saja memaksanya padahal mereka tidak saling mengenal.


Dasar Kakek yang aneh, batin Wiraksara.


__ADS_2