
“He he he aku bukanlah siapa-siapa, aku cuma pemabuk tua,”
jawab orang tua itu.
Wiraksara tak ingin ada orang lain yang menjadi korban maka
dia langsung berdiri di depan orangtua itu
“Jangan lukai dia, orang ini tidak ada sangkut pautnya
dengan aku, biarkan dia pergi,” kata Wiraksara sambil mendorong orangtua itu
pergi menjauh dari gelanggang.
Orangtua itu terdorong keluar gelanggang hingga terjatuh.
Anggota gerombolan yang lain segera mengeroyok orangtua itu, tetapi ketika
mereka mencoba menariknya tiba-tiba tubuh mereka langsung terlempar kuat seperti dedaunan yang dihempaskan angin kencang.
Terdengar teriakan terkejut, ke enam anggota gerombolan itu tubuhnya terhempas
ke tanah dengan kuatnya sehingga membuat mereka kesulitan berdiri.
Sementara itu pemimpin gerombolan langsung menyerang Wiraksara dalam jarak yang
cukup dekat, pedangnya mengarah ke wajah Wiraksara, pemuda itu bergeser sedikit
sehingga pedang itu menusuk ke tempat yang kosong. Namun pihak lawan dengan cepat kembali menebaskan pedang ke leher Wiraksara.
Pemuda itu menghindar dengan menekuk
punggungnya ke belakang seperti akan melakukan gerakan kayang. Terkesiap pemimpin gerombolan itu, gerakannya
yang cepat masih dapat dihindari oleh musuh.
Kembali dia menusukan pedang ke dada lawannya, Wiraksara
yang sudah akan meluruskan badannya terpaksa kembali menjatuhkan badan ke belakang, pedang
pria berkedok itu kembali luput mengenai sasarannya. Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Wiraksara
menahan tubuhnya dengan tangannya agar tubuhnya tidak menyentuh tanah kemudian
dia menggunakan tangannya untuk mendorong tubuhnya agar kembali berdiri tegak.
Tubuh Wiraksara kembali berdiri tegak, pria berkedok yang merasa kesal karena
serangannya luput terus, kembali mengarahkan pedang ke wajah Wiraksara. Dengan
cepat Wiraksara menangkap ujung pedang dan menahannya dengan kedua telapak
tangannya.
Pria berkedok berusaha menarik pedangnya, namun tangan
Wiraksara lebih kuat. Tak lama kemudian terdengar suara besi patah
“Taaak!”
Ujung pedang pria berkedok patah dan jatuh ke tanah.
Terkesiap pria berkedok itu melihat pedangnya patah. Merasa pedangnya sudah tak
berguna, pria berkedok membuang pedangnya lalu lembali menyerang Wiraksara
dengan tangan kosong. Pukulan pria berkedok bergerak cepat, bayangan tinjunya
seolah ada di mana-mana. Wiraksara
sedikit keteteran melawannya, hingga suatu saat pukulan mereka beradu, kedua
tyelapak tangan mereka saling menempel. Kini Wiraksara beradu tenaga dalam
dengan musuhnya. Cukup lama mereka dalam posisi kedua telapak tangan saling
__ADS_1
menempel. Peluh sebesar biji kedelai mulai keluar dari tubuh mereka. Tiba-tiba
Wiraksara menghentakan tangannya sambil berteriak keras. Tangannya bergerak
mendorong tubuh musuhnya. Perlawanan Wiraksara memberikan hasil. Pria berkedok
itu terdorong mundur hingga beberapa langkah.
Terkesiap pria berkedok itu, tiba-tiba dari mulutnya
menyembur darah segar, orang itu sudah terkena luka dalam yang parah. Menyadari dirinya terluka pemimpin gerombolan berseru
pada anak buahnya
“Kita pergi dari tempat ini!”
Satu persatu anak buahnya bersiap lari, tubuh mereka melayang
ke atas genting lalu menghilang di gelapnya malam. Wiraksara menghela nafas
lega. Dia menghampiri pemabuk tua yang
masih terlentang di tanah. Wiraksara memeriksa tubuhnya namun dia tidak
menemukan luka atau bekas pukulan di tubuh orang tua itu.
“Tuan, siapakah nama anda? Terimakasih sudah membantu saya
menghadapi para perampok itu,” ujar Wiraksara.
“Anak muda bantu aku kembali ke kamarku, badanku rasanya
lemas tak bertenaga,” perintah orangtua itu.
“Anda terlalu banyak minum arak sehingga tubuh anda terasa
lemas,” ujar Wiraksara sambil membantunya memapah ke kamarnya.
Ternyata kamar pemabuk tua itu terletak di samping kamarnya,
setelah membawa orangtua itu ke kamarnya. Wiraksara kembali menemui Maheen dan
“Maheen berkemaslah, mala mini kita harus egera pergi dari
sini. Orang-orang Mehrak sudah mengikuti kita.”
Maheen dan Wiraksara kembali meneruskan perjalanan ke arah
barat, sementara hari masih gelap tetapi tidak ada pilihan bagi mereka. Kuda
mereka berlari menembus kegelapan malam ke
arah barat.
*****
Sementara itu kapal Majapahit sudah meninggalkan pulau Jawa.
Hari itu mereka telah tiba di Tumasik dan mampir di sana untuk mengisi
persediaan air tawar bersih.
Brajasela ayah Wiraksara terlihat
turut serta dalam rombongan Majapahit itu. Kedatangan mereka kali ini adalah
untuk membayar cicilan hutang denda perang paregreg. Hatinya gelisah, dia ingin
segera bertemu anaknya. Ketika mendengar anaknya menjadi sandera hutang di China, perasaannya mulai tak enak
mencemaskan kondisi anaknya di China.
Dia menanyakan kondisi
anaknya pada setiap pedagang China maupun para pejabat dari China yang mampir
__ADS_1
ke Lasem namun taka da yang tahu bagaimana kondisi anaknya di perantauan. Kali
ini rombongan Majapahit telah bertolak ke China membawa emas senilai 2000 tahil
emas untuk cicilan pertama.
Setelah mencukupi
perbekalannya, kapal Majapahit kembali berlayar mengarungi lautan menuju ke
China. Kapal mulai bergerak meninggalkan Tumasik menuju ke China. Namun baru
saja meninggalkan perairan Tumasik, tiba-tiba badai menyerang kapal mereka,
seorang awak kapal masuk ke dalam ruang penumpang dan memberitahu
“Ada badai, kita terpaksa berlabuh
di pelabuhan Johor sambil menunggu badai reda!”
Brajasela sedikit kecewa
karena perjalanan tertunda, namun dia memahami, kapal itu membawa uang senilai
2000 Tahil emas. Jika nekat menerjang badai kapal beresiko tenggelam dan mereka
gagal membayar cicilan denda perang Paregreg.
*******
Siang hari Wiraksara dan Maheen sudah tiba di kota Xinning.
Kota itu adalah kota kecil yang tidak terlalu ramai.
“Wiraksara, aku merasa lelah, bisakah kau cari penginapan
untuk kita beristirahat?” Tanya Maheen.
Wiraksara segera mencari penginapan untuk menginap. Kali ini dia sengaja mencari penginapan yang
tidak terlalu ramai.
Ketika malam tiba, Wiraksara memesan makanan pada pelayan, kali
dia tak ingin banyak keluar penginapan takut dikejar anak buah Mehrak yang
seolah seperti bayangan yang melekat di tubuhnya. Usai makan Wiraksara berkata
pada Maheen
“Berhati-hatilah malam ini, kurasa orang-orang Mehrak tak
akan melepaskan kita begitu saja.”
“Aku tahu mereka akan tetap mengejar kita, semoga malam ini tidak
ada lagi pertarungan seperti kemarin,” ujar Maheen.
Ketika kembali ke kamarnya Wiraksara kembali berjumpa dengan
pemabuk tua itu. Tertegun Wiraksara melihat keberadaan pemabuk itu di kota
Xinning di penginapan yang sama. Dia menghampiri pemabuk tua yang saat itu
sedang tidak mabuk
“Tuan, kita bertemu lagi, apakah anda juga akan ke Persia?”
Tanya Wiraksara
"Ah, kau lagi kali ini kau harus mau main mahyong denganku. Ayo ke kamarku temani aku minum arak dan main mahyong. Oh ya, siapa namamu?" tanya orangtua itu.
"Nama saya Wiraksara, tetapi mohon maaf saya tidak bisa main mahyong dan untuk saat ini saya belum bisa menemani anda minum arak. Saya tidak boleh mabuk karena saya masih harus bertanggung jawab terhadap keselamatan seseorang. Siapa nama Tuan?" Tanya Wiraksara
"Namaku Kwan Haisan, panggil saja aku kakek Kwan. Ah sayang sekali kau tidak bisa menemaniku minum, tapi maukah kau menemaniku main mahyong saja? Jangan kuatir aku akan mengajarimu," kata Kakek Kwan.
__ADS_1
Wiraksara tertegun, orangtua itu masih saja memaksanya padahal mereka tidak saling mengenal.
Dasar Kakek yang aneh, batin Wiraksara.