KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Penggeledahan di Gedung Hitam


__ADS_3

“Sepertinya begitu, berarti sekarang mereka telah berada di


kota Xinning, dan sekarang mereka dalam bahaya karena hanya berdua saja,” kata


Chen Nie.


“Wiraksara pasti pergi ke Persia untuk menyelamatkan gadis


Kuil Kahyangan Api itu beserta permatanya. Pencarian kita jadi tambah sulit,”


keluh Ma Jingtao.


“Kalau kita sudah tahu tujuan terakhirnya, mengapa tidak


kita susul saja dia ke Kuil Kahyangan Api di Persia?” Tanya Chen Nie.


“Kalau kesana sih masalah mudah, tapi kita tidak tahu jalur


mana yang dia lewati. Jika dia melewati jalur yang berbeda dengan kita, kalau


terjadi sesuatu kepadanya di jalan kita tidak tahu,” kata Ma Jingtao.


“Kalau begitu kita akan ke kota Xinning, kalaupun dia sudah


pergi dari sana kita bisa mencari informasi di penginapan yang disinggahi


pedagang itu,” ujar Chen Nie.


Saat itu seorang pria masuk ke kedai dan langsung berdiri di


hadapan Ma Jingtao.


“Jendral Ma, saya ada informasi baru mengenai stempel


kerajaan yang hilang dan utusan Majapahit itu.”


“Duduklah di sini, bersikaplah seperti biasa, jangan panggil


aku dengan sebutan Jendral karena kita sedang menyamar,” kata Ma Jingtao dengan


suara lirih.


“Maafkan saya Tuan, baiklah kemarin kami telah menangkap


salah satu prajurit bayaran orang yang disebut dengan Tuan Han. Tetapi tidak


banyak yang bisa kita dapat dari dia karena dia hanya prajurit yang cuma tahu


menjaga keamanan dan bertarung. Mereka semua bermarkas di Gedung Hitam dan


memiliki banyak senjata,” kata orang itu.


“Kurasa stempel itu disembunyikan di Gedung Hitam, kalau


begitu kita harus meminta pasukan di perbatasan Gansu untuk menggerebeg Gedung


Hitam dan menangkap Fu Shen karena telah melakukan makar,” kata Ma Jingtao.


“Masalah ini perlu kita bicarakan bersama Jenderal Sheng


yang menjaga Benteng di perbatasan Gansu,” kata Chen Nie.


“Baiklah buatkan janji untuk bertemu dengan Jenderal Sheng


besok pagi, aku akan menulis surat kepadanya mengenai masalah ini,” ujar Ma


Jingtao.


Sebuah rencana penyerangan ke Gedung Hitam telah


disusun  rapi, pasukan gabungan Jenderal


Sheng bersama kesatuan Jinyiwei dan Dongchang akan bergerak menyerang Gedung


Hitam dan menangkap orang-orang Tuan Han. Pagi itu Gedung Hitam diserbu pasukan


gabungan di bawah pimpinan Ma Jingtao.  Ketika


tiba di halaman Gedung Hitam, tidak ada aktivitas mencurigakan di tempat itu.


Hanya ada beberapa pedagang yang keluar masuk gedung. Lalu beberapa pegawainya


keluar berombongan dengan membawa kereta barang.  Seorang prajurit berkata kepada seorang pegawai


di tempat itu


“Di mana majikanmu Tuan Fu Shen? Kami hendak menggeledah

__ADS_1


tempat ini!”


“Tuan Fu, sedang tidak ada di tempat. Saya tidak tahu kapan


dia akan pulang,” kata pelayan itu.


Prajurit itu tampak marah lalu mencengkram bahu pelayan itu


“Jangan coba-coba berbohong pada kami. Cepat suruh Tuan Fu


menemui kami atau nyawamu akan melayang!”


Pelayan itu langsung berteriak minta ampun


“Ampun…ampun baiklah tolong jangan sakiti saya!”


Prajurit melepaskan cengkeramannya dan membiarkan pelayan


itu masuk menemui majikannya. Pelayan itu langsung menghadap Fu Shen yang


sedang berada di ruang kerjanya di Gedung Hitam. Dengan nada panik dia


menyampaikan sebuah berita


“Tuan Fu, pasukan kerajaan mendatangi Gedung Hitam, mereka


hendak menggeledah gedung ini!”


Fu Shen tampak terkejut namun sejurus kemudian dia langsung


berdiri dan berkata


“Baiklah, aku akan keluar menemuinya.”


Fu Shen keluar menemui pasukan kerajaan. Ketika bertemu


dengan Jenderal Sheng Fu Shen langsung menyapanya dan menjura memberi hormat


“Ah, Jenderal Sheng, ternyata anda yang datang, ada masalah


apa sehingga anda harus datang dengan membawa begitu banyak pasukan? Bukankah


segala masalah bisa kita bicarakan secara baik-baik seperti biasanya?”


Fu Shen tersenyum penuh arti membuat Jenderal Sheng salah


“Tuan Fu, kali ini saya datang bersama teman saya Jendral Ma


dari Kesatuan Jinyiwei. Kami hendak menggeledah tempat ini terkait dengan


hilangnya stempel kerajaan.”


Mendadak Fu Shen tertawa, wajahnya begitu tenang tidak


tampak takut atau canggung, semuanya tampak wajar seolah dia adalah orang yang


bersih dari segala tuduhan


“Oh, rupanya ada Jendral Ma dari kesatuan Jinyiwei, salam


hormat dari saya, senang bisa mengenal anda.”


Ma Jingtao mengerutkan keningnya


Orang ini benar-benar licin seperti belut, sama sekali dia


tidak tampak gugup atau takut berhadapan dengan pasukan kerajaan yang mengepung


sarangnya, pikir Ma jingtao.


“Ini surat perintah penggeledahan, kuharap anda tidak


keberatan,” ujar Majingtao sambil menyerahkan surat perintah penggeledahan.


Fu Shen masih tampak tenang dan berkata


“Tentu saja, silahkan di geledah, tetapi ijinkan pelayan


saya mendampingi penggeledahan ini. Di tempat ini ada banyak barang-barang


titipan pedagang yang harus kami kirim sesuai pesanan. Jadi saya mohon kalian


harus berhati-hati jika akan meggeledah.”


Beberapa prajurit langsung masuk ke dalam gedung dan mulai menggeledah


Gedung Hitam, sementara Ma Jingtao mulai mengajukan pertanyaan pada Fu Shen.

__ADS_1


“Tuan Fu, mengapa anda memiliki prajurit bayaran begitu


banyak? Anda seorang pedagang untuk apa memiliki prajurit bayaran dan senjata


begitu banyak?”


“Jendral Ma, selain berdagang saya juga memiliki usaha


Ekspedisi Pengiriman Barang dan jasa pegawalan . Anda tahu sendiri situasi di sepanjang


jalur sutera banyak perampok dan begal. Belum lagi ancaman serangan dari


pasukan Mongol yang juga sering bertindak sebagai perampok. Jika saya


mempekerjakan orang-orang yang tidak menguasai ilmu bela diri dan tidak


bersenjata, bagaimana barang dagangan itu bisa selamat sampai ke tujuan?” Tanya


Fu Shen.


Ma Jingtao tertegun, jawaban Fu Shen dinilainya cukup masuk


akal. Jalur sutera di wilayah barat dan utara memang tidak aman. Terkadang para


pedagang itu juga harus melewati wilayah tak bertuan di Gurun Gobi, Gurun


Taklamakan dan Pegunungan Himalaya yang banyak begal dan rampok.  Komoditi seperti sutera, keramik, gading,


emas dan permata adalah komoditi mahal. Sudah pasti komoditi itu menjadi


incaran begal dan rampok.


“Lalu apakah anda memiliki hubungan dengan seseorang yang


sering disapa sebagai Tuan Han?” Tanya Ma Jingtao lagi.


“Tuan Han yang mana yang anda maksud? Ada banyak orang


bermarga Han yang saya kenal tetapi mereka semua adalah pedagang. Lalu apa


maksud anda menggeledah tempat ini? Saya tidak ada keterkaitan dengan masalah


intrik politik di istana. Saya hanya seorang pedagang biasa yang tidak tertarik


dengan politik.”


Ma Jingtao mulai tidak sabar, semua fakta yang dihadirkan


oleh Fu Shen saat ini sangat berlawanan dengan laporan anak buahnya. Dia


menghunus pedangnya dan menyilangkan di leher Fu Shen.


“Tuan Fu, anda memang mahir berbicara, tetapi kami memiliki


bukti-bukti yang memberatkan anda. Saya kira pasukan Jinyiwei dan Dongchang


mungkin bisa membuatmu berbicara jujur!”


Terkesiap Fu Shen ketika pedang Ma Jingtao sudah menempel di


lehernya, rasa takut mendadak menguasai dirinya. Dia tahu apa yang akan


dilakukan oleh para prajurit di kesatuan Dongchang dan Jinyiwei jika


menginterogasi mata-mata musuh. Segala macam siksaan yang kejam akan dilakukan


terhadapnya sampai dia mau berbicara mengatakan hal yang sebenarnya.


“Saya bicara jujur, tanya saja pada Jendral Sheng, dia tahu


orang seperti apa saya. Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk mengkhianati


Kaisar dan negara!”


Jendral Sheng buru-buru mencegah Ma Jingtao bertindak lebih


jauh


“Jendral Ma, Tuan Fu adalah orang yang setia pada Kaisar dan


negara. Di saat perbekalan prajurit di perbatasan Gansu sudah menipis, dia


tidak segan-segan menyumbangkan bahan makanan untuk kami. Tolong jaga sikap


anda terhadapnya, jangan sampai kita dianggap telah bersikap sewenang-wenang


pada rakyat.”

__ADS_1


__ADS_2