
“Sepertinya begitu, berarti sekarang mereka telah berada di
kota Xinning, dan sekarang mereka dalam bahaya karena hanya berdua saja,” kata
Chen Nie.
“Wiraksara pasti pergi ke Persia untuk menyelamatkan gadis
Kuil Kahyangan Api itu beserta permatanya. Pencarian kita jadi tambah sulit,”
keluh Ma Jingtao.
“Kalau kita sudah tahu tujuan terakhirnya, mengapa tidak
kita susul saja dia ke Kuil Kahyangan Api di Persia?” Tanya Chen Nie.
“Kalau kesana sih masalah mudah, tapi kita tidak tahu jalur
mana yang dia lewati. Jika dia melewati jalur yang berbeda dengan kita, kalau
terjadi sesuatu kepadanya di jalan kita tidak tahu,” kata Ma Jingtao.
“Kalau begitu kita akan ke kota Xinning, kalaupun dia sudah
pergi dari sana kita bisa mencari informasi di penginapan yang disinggahi
pedagang itu,” ujar Chen Nie.
Saat itu seorang pria masuk ke kedai dan langsung berdiri di
hadapan Ma Jingtao.
“Jendral Ma, saya ada informasi baru mengenai stempel
kerajaan yang hilang dan utusan Majapahit itu.”
“Duduklah di sini, bersikaplah seperti biasa, jangan panggil
aku dengan sebutan Jendral karena kita sedang menyamar,” kata Ma Jingtao dengan
suara lirih.
“Maafkan saya Tuan, baiklah kemarin kami telah menangkap
salah satu prajurit bayaran orang yang disebut dengan Tuan Han. Tetapi tidak
banyak yang bisa kita dapat dari dia karena dia hanya prajurit yang cuma tahu
menjaga keamanan dan bertarung. Mereka semua bermarkas di Gedung Hitam dan
memiliki banyak senjata,” kata orang itu.
“Kurasa stempel itu disembunyikan di Gedung Hitam, kalau
begitu kita harus meminta pasukan di perbatasan Gansu untuk menggerebeg Gedung
Hitam dan menangkap Fu Shen karena telah melakukan makar,” kata Ma Jingtao.
“Masalah ini perlu kita bicarakan bersama Jenderal Sheng
yang menjaga Benteng di perbatasan Gansu,” kata Chen Nie.
“Baiklah buatkan janji untuk bertemu dengan Jenderal Sheng
besok pagi, aku akan menulis surat kepadanya mengenai masalah ini,” ujar Ma
Jingtao.
Sebuah rencana penyerangan ke Gedung Hitam telah
disusun rapi, pasukan gabungan Jenderal
Sheng bersama kesatuan Jinyiwei dan Dongchang akan bergerak menyerang Gedung
Hitam dan menangkap orang-orang Tuan Han. Pagi itu Gedung Hitam diserbu pasukan
gabungan di bawah pimpinan Ma Jingtao. Ketika
tiba di halaman Gedung Hitam, tidak ada aktivitas mencurigakan di tempat itu.
Hanya ada beberapa pedagang yang keluar masuk gedung. Lalu beberapa pegawainya
keluar berombongan dengan membawa kereta barang. Seorang prajurit berkata kepada seorang pegawai
di tempat itu
“Di mana majikanmu Tuan Fu Shen? Kami hendak menggeledah
__ADS_1
tempat ini!”
“Tuan Fu, sedang tidak ada di tempat. Saya tidak tahu kapan
dia akan pulang,” kata pelayan itu.
Prajurit itu tampak marah lalu mencengkram bahu pelayan itu
“Jangan coba-coba berbohong pada kami. Cepat suruh Tuan Fu
menemui kami atau nyawamu akan melayang!”
Pelayan itu langsung berteriak minta ampun
“Ampun…ampun baiklah tolong jangan sakiti saya!”
Prajurit melepaskan cengkeramannya dan membiarkan pelayan
itu masuk menemui majikannya. Pelayan itu langsung menghadap Fu Shen yang
sedang berada di ruang kerjanya di Gedung Hitam. Dengan nada panik dia
menyampaikan sebuah berita
“Tuan Fu, pasukan kerajaan mendatangi Gedung Hitam, mereka
hendak menggeledah gedung ini!”
Fu Shen tampak terkejut namun sejurus kemudian dia langsung
berdiri dan berkata
“Baiklah, aku akan keluar menemuinya.”
Fu Shen keluar menemui pasukan kerajaan. Ketika bertemu
dengan Jenderal Sheng Fu Shen langsung menyapanya dan menjura memberi hormat
“Ah, Jenderal Sheng, ternyata anda yang datang, ada masalah
apa sehingga anda harus datang dengan membawa begitu banyak pasukan? Bukankah
segala masalah bisa kita bicarakan secara baik-baik seperti biasanya?”
Fu Shen tersenyum penuh arti membuat Jenderal Sheng salah
“Tuan Fu, kali ini saya datang bersama teman saya Jendral Ma
dari Kesatuan Jinyiwei. Kami hendak menggeledah tempat ini terkait dengan
hilangnya stempel kerajaan.”
Mendadak Fu Shen tertawa, wajahnya begitu tenang tidak
tampak takut atau canggung, semuanya tampak wajar seolah dia adalah orang yang
bersih dari segala tuduhan
“Oh, rupanya ada Jendral Ma dari kesatuan Jinyiwei, salam
hormat dari saya, senang bisa mengenal anda.”
Ma Jingtao mengerutkan keningnya
Orang ini benar-benar licin seperti belut, sama sekali dia
tidak tampak gugup atau takut berhadapan dengan pasukan kerajaan yang mengepung
sarangnya, pikir Ma jingtao.
“Ini surat perintah penggeledahan, kuharap anda tidak
keberatan,” ujar Majingtao sambil menyerahkan surat perintah penggeledahan.
Fu Shen masih tampak tenang dan berkata
“Tentu saja, silahkan di geledah, tetapi ijinkan pelayan
saya mendampingi penggeledahan ini. Di tempat ini ada banyak barang-barang
titipan pedagang yang harus kami kirim sesuai pesanan. Jadi saya mohon kalian
harus berhati-hati jika akan meggeledah.”
Beberapa prajurit langsung masuk ke dalam gedung dan mulai menggeledah
Gedung Hitam, sementara Ma Jingtao mulai mengajukan pertanyaan pada Fu Shen.
__ADS_1
“Tuan Fu, mengapa anda memiliki prajurit bayaran begitu
banyak? Anda seorang pedagang untuk apa memiliki prajurit bayaran dan senjata
begitu banyak?”
“Jendral Ma, selain berdagang saya juga memiliki usaha
Ekspedisi Pengiriman Barang dan jasa pegawalan . Anda tahu sendiri situasi di sepanjang
jalur sutera banyak perampok dan begal. Belum lagi ancaman serangan dari
pasukan Mongol yang juga sering bertindak sebagai perampok. Jika saya
mempekerjakan orang-orang yang tidak menguasai ilmu bela diri dan tidak
bersenjata, bagaimana barang dagangan itu bisa selamat sampai ke tujuan?” Tanya
Fu Shen.
Ma Jingtao tertegun, jawaban Fu Shen dinilainya cukup masuk
akal. Jalur sutera di wilayah barat dan utara memang tidak aman. Terkadang para
pedagang itu juga harus melewati wilayah tak bertuan di Gurun Gobi, Gurun
Taklamakan dan Pegunungan Himalaya yang banyak begal dan rampok. Komoditi seperti sutera, keramik, gading,
emas dan permata adalah komoditi mahal. Sudah pasti komoditi itu menjadi
incaran begal dan rampok.
“Lalu apakah anda memiliki hubungan dengan seseorang yang
sering disapa sebagai Tuan Han?” Tanya Ma Jingtao lagi.
“Tuan Han yang mana yang anda maksud? Ada banyak orang
bermarga Han yang saya kenal tetapi mereka semua adalah pedagang. Lalu apa
maksud anda menggeledah tempat ini? Saya tidak ada keterkaitan dengan masalah
intrik politik di istana. Saya hanya seorang pedagang biasa yang tidak tertarik
dengan politik.”
Ma Jingtao mulai tidak sabar, semua fakta yang dihadirkan
oleh Fu Shen saat ini sangat berlawanan dengan laporan anak buahnya. Dia
menghunus pedangnya dan menyilangkan di leher Fu Shen.
“Tuan Fu, anda memang mahir berbicara, tetapi kami memiliki
bukti-bukti yang memberatkan anda. Saya kira pasukan Jinyiwei dan Dongchang
mungkin bisa membuatmu berbicara jujur!”
Terkesiap Fu Shen ketika pedang Ma Jingtao sudah menempel di
lehernya, rasa takut mendadak menguasai dirinya. Dia tahu apa yang akan
dilakukan oleh para prajurit di kesatuan Dongchang dan Jinyiwei jika
menginterogasi mata-mata musuh. Segala macam siksaan yang kejam akan dilakukan
terhadapnya sampai dia mau berbicara mengatakan hal yang sebenarnya.
“Saya bicara jujur, tanya saja pada Jendral Sheng, dia tahu
orang seperti apa saya. Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk mengkhianati
Kaisar dan negara!”
Jendral Sheng buru-buru mencegah Ma Jingtao bertindak lebih
jauh
“Jendral Ma, Tuan Fu adalah orang yang setia pada Kaisar dan
negara. Di saat perbekalan prajurit di perbatasan Gansu sudah menipis, dia
tidak segan-segan menyumbangkan bahan makanan untuk kami. Tolong jaga sikap
anda terhadapnya, jangan sampai kita dianggap telah bersikap sewenang-wenang
pada rakyat.”
__ADS_1