
Sementara Ma Yingtao dan Chen Nie sudah kembali bersiap
berangkat ke Gansu dan mencari keberadaan Wiraksara yang menghilang. Namun
kepergian mereka terpaksa ditunda. Pagi itu Komandan pasukan penjaga perbatasan
Yinchuan mengabarkan sesuatu.
“Prajurit di menara pengintai melaporkan adanya rombongan
pasukan berkuda sedang menuju kemari. Mereka membawa banyak pasukan
kemari. Kurasa persitiwa terbunuhnya
Turgen telah memicu perang, perampok itu memang sengaja di tempatkan oleh pihak
Mongol untuk mengganggu stabilitas keamanan di jalur sutera yang menghubungkan China dengan negeri-negeri
di sekitarnya.”
“Jadi kami belum bisa pergi dari sini?” Tanya Chen Nie.
“Mohon maaf, anda sekalian belum bisa meninggalkan kota ini
karena tempat ini akan di serang. Kalaupun akan tetap pergi ke Gansu, anda
harus memutar melewati jalur yang lebih jauh.”
Ma Yingtao menghela nafas kesal karena pekerjaannya
terhambat
“Waktunya semakin mepet, 2 bulan lagi musim panas tiba.
Tidak ada jalan lain, Sala harus segera ditemukan, kita berangkat sekarang dan pergi lewat jalur
selatan,” kata Ma Yingtao.
*****
Malam itu di kota Gansu, di Gedung Hitam sosok misterius
Tuan Han tengah menyelenggarakan rapat bersama para pengikutnya. Tuan Han
mengenakan jubah sutera hitam dan memakai kedok di wajahnya tengah berbicara dengan para
pengikutnya.
“Setelah stempel kerajaan dapat kita curi, kita akan
melakukan kudeta terhadap kaisar Yongle. Tetapi permasalahannya di perbatasan
masih banyak orang-orang kaisar yang setia dan ini menyulitkan kita dalam
melakukan kudeta.”
Fu Shen sang Tuan rumah berdiri di hadapan Tuan Han
“Separuh Kasim dalam pasukan Jinyiwei dan para kasim yang
menjadi pejabat kerajaan telah berpihak
kepada anda, saya kira itu sudah cukup. Beberapa kesatuan pasukan penjaga
perbatasan juga sudah kita kuasai, apa lagi yang kita tunggu? Kita sudah cukup
lama memanti saat kudeta itu.”
“Tidak semudah itu Tuan Fu, tidak semua Kasim dapat kita
luasai, armada laut China di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho masih sulit kita
kuasai. Mereka sangat loyal pada kaisar, kalian jangan menyepelekan kekuatan
Cheng Ho. Dia memiliki banyak pendukung dari kelompok sukunya yaitu Suku Hui
__ADS_1
bahkan dia bisa saja meminta bantuan pada negara sahabat karena hubungan
baiknya dengan negara-negara di luar China. Kurasa aku masih memerlukan
dukungan lagi terutama dalam hal persenjataan dan prajurit, tukas Tuan Han.
Tak lama kemudian dari ujung ruangan, terlihat pintu masuk
ruang pertemuan terbuka lebar, seorang pria tua berpakaian serba putih masuk ke
dalam. Pandangan mata orang-orang di
dalam ruangan sontak langsung tertuju pada pria tua itu. Terdengar suara Tuan
Han menyambut kedatangan orang Persia itu
“Mehrak, di mana permata Kuil Kahyangan yang kau janjikan?”
“Ampun Tuan Han, permata Kuil Kahyangan Api itu telah hilang
diambil orang. Beri saya waktu untuk mencarinya kembali.”
Sontak orang-orang di dalam ruangan langsung geger mendengar
berita hilangnya permata Kuil Kahyangan Api.
Tun Han tampak terkejut, wajahnya berubah
“Kau jangan bohong Mehrak, bukankah aku telah berjanji akan
memberikan sebagian dari wilayahku untukmu jika kudeta ini berhasil.”
“Saya tahu Tuan Han, tetapi apa yang saya katakan itu benar.
Pemuda Jawa itu telah mengambil permata itu,” kata Mehrak dengan geram.
“Bagaimana bisa sampai hilang? Kalau begitu cari sampai
ketemu, saat ini aku benar-benar memerlukan kekuatan dari ke 4 elemen itu,”
Wajah Mehrak bersemu merah karena malu di marahi di depan
banyak orang.
“Baiklah, malam ini juga saya akan pergi mencari orang itu
dan merebut permata itu darinya!”
Jendral Wu Xie buru-buru menengahi
“Tuan Han, Tuan Mehrak baru saja datang, tidak sepantasnya
dia langsung pergi dari sini. Dia juga harus tahu rencana-rencana kita ke
depannya. Biarlah Tuan Mehrak mengikuti rapat ini dulu setelah selesai rapat
dia bisa pergi mencari pencuri permata Kahyangan Api dan merebut permata itu
darinya!”
Mehrak bernafas lega, dia lalu berkata lagi
“Tuan Han, sesungguhnya permata itu jumlahnya ada 4. Mereka
mewakili ke 4 unsur di bumi yaitu Permata Api, Tanah, Logam dan Air. Sayangnya
ketiga permata yang lainnya telah hilang di saat banjir besar melanda seluruh
bumi. Permata yang tersisa tinggalah Permata Api saja sedangkan Permata simbol Tanah,
Logam dan air sudah menghilang. “
“Kalau begitu kau juga harus mencari ke 4 permata itu agar
kekuatan mereka dapat bergabung menjadi satu!”
__ADS_1
Tuan Han menoleh kepada Jenderal Wu
“Jenderal , kerahkan orang-orangmu untuk mencari keberadaan
ketiga permata lainnya.”
Jendral Wu Xie dan Mehrak tertegun, permintaan Tuan Han
dinilainya terlalu berlebihan
“Tapi darimana kita akan mencarinya? Banjir besar itu sudah
ribuan tahun lamanya terjadi dan kita sekarang tidak tahu dimana ketiga permata
itu. Konon kabarnya permata elemen Air sudah jatuh di sebuah samudra yang luas
. Samudera itu tidak mungkin diselami karena terlalu dalam. Tuan, satu permata
Api itu sudah cukup memberikan kekuatan untuk anda. Siapapun yang memiliki
permata itu akan dapat mengendalikan elemen api dengan mudah,” kata Mehrak.
“Benar Tuan, saat ini kita harus fokus pada tujuan kita yang
sebenarnya, lebih baik seluruh daya upaya kita kerahkan untuk kudeta kaisar
daripada mencari permata yang tidak kita ketahui keberadaannya,” ucap Jendral
Wu.
Beberapa orang yang hadir di tempat itu rupanya lebih
condong kepada usulan Jendral Wu. Malam itu sebuah rencana kudeta telah
disusun. Tuan Han kembali masuk ke ruangannya dan selesailah rapat malam itu.
*****
Perjalanan Wiraksara dan Maheen telah membawa mereka sampai
di Lanzhou, sebuah kota di jalur sutera.
Hingga malam hari kota Lanzhou dikunjungi para pedagang dari mancanegara yang
singgah untuk berdagang atau beristirahat sebelum meneruskan perjalanan ke arah
timur.
“Maheen, kita mampir di kedai makan setelah itu kita mencari
penginapan,” kata Wiraksara.
“Wiraksara, aku takut anak buah Mehrak masih mengikuti kita,
ada banyak orang-orang Persia di kota ini. Aku kuatir salah satunya adalah anak
buah Mehrak yang diutus memata-matai kita. Sebaiknya kita jangan banyak keluar,
kita cari penginapan yang juga menyediakan makanan. Aku tahu tempatnya, kita
bisa mampir ke penginapan itu,” saran Maheen.
“Kurasa kau benar, apa nama penginapannya?”
“Penginapan Cemara Gunung, letaknya ada di ujung jalan ini.
Aku kenal baik dengan pemiliknya.”
Wiraksara dan Maheen kembali meneruskan perjalanan ke
Penginapan Cemara Gunung .Tetapi tanpa mereka sadari beberapa pasang mata
mengikuti kepergian mereka ke Penginapan Cemara Gunung.
“Ikuti kemanapun mereka pergi, jangan sampai terlepas.”
__ADS_1
Tujuh orang Persia berkelebat mengikuti Wiraksara dan Maheen