
Wiraksara tertegun, musuhnya kali ini tidak hanya memiliki
ilmu bela diri yang hebat namun juga memiliki ilmu sihir yang berbahaya.
Melihat Wiraksara terdiam, Hamzah menghampirinya lalu berkata
“Jangan kuatir, sehebat-hebatnya ilmu sihir seseorang, dia
tidak akan mampu menandingi kekuasaan Tuhan. Tenang saja, percayalah bahwa
Tuhan akan menolong kita.”
Keesokan harinya, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke
Kuil Kahyangan Api. Menjelang maghrib,
mereka tiba di tepi Laut Khazar (nama kuno Laut Kaspia) lalu berhenti disebuah
dermaga.
“Tujuan kita sudah dekat, tinggal menyeberangi Laut Khazar
setelah itu kita sudah sampai di Kuil Kahyangan Api,” kata Hamzah.
“Tapi bagaimana kita bisa menyeberangi laut ini? Tak ada
satupun tukang perahu yang akan menyeberangkan kita ke Kuil Api,” kata
Wiraksara.
Hamzah tertegun, dia baru menyadari saat itu di tepi laut
Khazar situasi begitu sepi tak ada perahu nelayan yang lewat maupun jasa
penyeberangan.
Aneh, padahal di musim semi begini biasanya perahu masih ada
sampai sore. Mengapa hari ini para nelayan itu tidak melaut mencari ikan? Pikir Hamzah.
“Biasanya ada kapal-kapal nelayan yang akan pergi melaut, seharusnya
saat ini mereka sudah mulai berangkat ke laut. Tapi mungkin karena cuaca yang
sudah mulai berkabut sehingga mereka menunda kegiatan mencari ikan. Kalau
begitu kita menginap semalam di sini dulu. Semoga para nelayan itu bersedia
menerima kita di rumah mereka,” kata Hamzah.
Kabut semakin tebal, permukaan lautan yang sejatinya adalah
danau berair asin itu mulai tertutup kabut. Tiba-tiba Wiraksara berseru
“Hei lihat, ada perahu datang kemari, semoga saja dia
bersedia membawa kita ke seberang.”
Hamzah menoleh ke arah yang ditunjuk Wiraksara. Diantara
kabut, samar terlihat sebuah perahu dengan satu sosok yang sedang mendayung
perahu. Perahu itu semakin lama semakin dekat ke dermaga. Ketika perahu itu
tiba di hadapan mereka, di atas perahu tampaklah satu sosok memakai jubah yang
ada penutup kepalanya berwarna hitam. Wajahnya tidak begitu jelas karena
situasi yang berkabut dan tudung kepalanya yang menutupi sebagian besar
wajahnya, ditambah lagi sosok itu selalu menunduk seolah ingin menyembunyikan
wajahnya. Bahkan ketika dia berbicara
matanya tidak sekalipun menatap lawan bicaranya. Tangannya yang memegang dayung
tampak putih pucat, entah karena dingin atau memang secara alami memang seperti
itu.
Wiraksara dan Hamzah mendengar sosok itu berkata
“Silahkan naik perahu, saya akan membawa kalian ke seberang sana.”
Wiraksara dan Hamzah saling berpandangan, lalu Hamzah
bertanya
“Baiklah, berapa ongkos ke seberang per orang?”
“Tidak usah membayar, ini gratis saja,” jawab tukang perahu
itu.
__ADS_1
Hamzah dan Wiraksara berusaha melihat wajah tukang perahu,
namun pria itu selalu saja memalingkan muka jika mereka berusaha melihat
wajahnya.
Hamzah sebenarnya ragu-ragu, namun karena hari sudah gelap
dan perjalanan sudah mendekati akhir, maka dia mengajak Wiraksara naik perahu.
“Ayo kita naik perahu saja daripada harus bermalam di sini,”
kata Hamzah.
Mereka naik perahu lalu menyeberangi laut Khazar. Perjalanan terasa begitu lama, sementara kabut
semakin tebal.
“Hei tukang perahu, kabut ini begitu tebal, apa kau masih
bisa berlayar dengan keadaan seperti ini?” Tanya Wiraksara.
Terdengar suara tukang perahu menjawab
“Angin yang menunjukan jalan untukku dan membawaku pergi
mengikutinya.”
Wiraksara merasa aneh mendengar jawaban Tukang perahu tadi, namun dia tidak berkomentar lebih lanjut. Tukang perahu mendayung perahunya melaju
menembus kabut tanpa hambatan seolah perahunya memiliki mata yang bisa menembus
kabut yang pekat dan tahu ke arah mana dia harus menuju. Beberapa saat kemudian tibalah mereka di
seberang. Perahu merapat di dermaga dan
turunlah mereka berdua. Pada saat itulah Wiraksara melihat sekelebatan wajah
tukang perahu tadi. Ternyata tukang perahu itu tak berwajah, semua tampak gelap
dan hitam. Wiraksara berseru tertahan
karena terkejut
“Hah?!”
Mendadak tukang perahu tadi menoleh menghadap mereka,
sekarang wajahnya yang hitam dan rata mulai tampak jelas. Terdengar suara
“Ha ha ha ha, rupanya kalian sudah tahu ya? Hati-hati ya,
setelah ini kalian akan menghadapi rintangan lebih banyak!”
Tak lama kemudian, perahu dan tukang perahu tiba-tiba sudah
menghilang di dalam kabut namun suara tawa tukang perahu masih terus menggema.
Hamzah menoleh pada Wiraksara, lalu menepuk bahunya
menyadarkannya dari rasa terkejutnya dan
mengajaknya kembali berjalan sambil berkata
“Sudahlah, yang penting dia tidak mengganggu kita. Tadi
kudengar dia memperingatkan kita bahwa di depan kita ada banyak hal yang
membahayakan kita. Siapapun dia kurasa hal itu benar adanya, semoga saja Maheen
masih bisa selamat.”
“Apa Tuan tahu siapa dia?”
“Mereka penjaga Kahyangan Api, aku sendiri tidak tahu dimana
mereka tinggal. Sesekali mereka terkadang muncul jika cuaca berkabut dan menunjukan
jalan menuju Kahyangan Api,” ungkap Hamzah.
“Apakah kuilnya sudah dekat?” Tanya Wiraksara.
“Masih jauh, tapi hari sudah gelap, sebaiknya kita
beristirahat saja dulu di penginapan. Ada banyak penginapan di sekitar tempat
ini,” ujar Hamzah.
Wiraksara baru menyadari bahwa perutnya sudah lapar, dia
ingin segera
Wiraksara dan Hamzah berjalan menuju Kuil Kahyangan Api.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka melewati pegunungan yang mengobarkan api, sehingga
udara dingin di malam itu tak terasakan karena adanya api yang menyaka di
sekitar tempat itu menghangatkan udara di sekitarnya. Wiraksara yang merasa heran kemudian bertanya
“Tuan, tempat macam apa ini? Mengapa tempat ini dikelilingi
api seperti di neraka?”
“Namanya saja Kahyangan Api, tentu saja ada banyak sumber
api abadi di tempat ini. Api-api ini tidak pernah padam bahkan pada saat hujan dan musim salju,” jawab Hamzah.
Sementara itu Shaktar dan para pengikutnya berhasil
menguasai Kuil kahyangan Api dan membunuh para pendeta di dalamnya. Maheen yang
murka melihat kuilnya kini menjadi ajang pembantaian teman-temannya berseru
marah pada Shaktar
“Biadab kau Shaktar, kau bunuh teman-temanku dan kau kotori
kuil suci kami dengan darah!”
“Diamlah kau, aku masih memerlukan dirimu untuk
membangkitkan energi 5 elemen itu. Jadi lebih baik kau beristirahat dan jangan
menangis saja!” Bentak Shaktar.
“Heba, bawa dia ke kamarnya untuk beristirahat, beri dia
makanan yang cukup!” Perintah Shaktar.
Beberapa prajurit segera menyeret Maheen dan mengurungnya
dalam satu ruangan. Heba sang pendeta wanita Sekte Piramida Emas menghampiri
Maheen dan kembali memperingatkan
“Sebaiknya simpan energimu, terlalu banyak menangis akan
membuat energimu habis. Patuhi perintahnya, jangan buat Pangeran Shaktar marah,
jika dia sampai mengamuk kami yang repot menghadapinya!”
Heba berhenti berbicara, beberapa pelayan masuk menghidangkan
makanan di kamar Maheen, setelah meletakan makanan merekapun segera keluar kamar.
“Nah, sekarang kau harus makan setelah itu istirahat untuk
memulihkan energimu, sekarang makanlah!” perintah Heba.
Melihat Maheen yang masih saja tertunduk menangis, Heba keluar ruangan sambil membanting pintu
meninggalkan Maheen yang masih terus menangis.
*****
Di luar ruangan terlihat Shaktar sedang asyik makan dan
minum dilayani para pelayannya. Melihat Heba, Shaktar memanggilnya dan berkata
“Heba, jaga agar elemen ke lima kita tidak sampai jatuh
sakit.”
Heba berhenti berjalan lalu berdiri di depan meja Shaktar.
Setelah memberi hormat Heba berkata
“Dia baik-baik saja, Yang Mulia saat ini sudah ada dua
permata Azura Mahda yang kita kuasai.
Lalu bagaimana dengan elemen yang lainnya? Kita akan kesulitan mencari
keberadaan para pemegang permata yang lainnya.”
“Tenang saja, begitu kita tiba di Kuil Kahyangan Api dengan
Elemen ke Lima, Permata Logam dan
Permata Api, ketiganya akan mengirimkan gelombang energi mencari permata yang
lainnya. Gelombang energi itu sangat
kuat, pasti tak lama lagi mereka akan menuju kemari,” ujar Shaktar.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di bangunan Kuil paling
__ADS_1
depan, sejurus kemudian tampak seorang wanita masuk ke kuil
“Shaktar, berikan permarta-permata itu pada kami!”