KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Tukang Perahu yang Aneh


__ADS_3

Wiraksara tertegun, musuhnya kali ini tidak hanya memiliki


ilmu bela diri yang hebat namun juga memiliki ilmu sihir yang berbahaya.


Melihat Wiraksara terdiam, Hamzah menghampirinya lalu berkata


“Jangan kuatir, sehebat-hebatnya ilmu sihir seseorang, dia


tidak akan mampu menandingi kekuasaan Tuhan. Tenang saja, percayalah bahwa


Tuhan akan menolong kita.”


Keesokan harinya, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke


Kuil Kahyangan Api.  Menjelang maghrib,


mereka tiba di tepi Laut Khazar (nama kuno Laut Kaspia) lalu berhenti disebuah


dermaga.


“Tujuan kita sudah dekat, tinggal menyeberangi Laut Khazar


setelah itu kita sudah sampai di Kuil Kahyangan Api,” kata Hamzah.


“Tapi bagaimana kita bisa menyeberangi laut ini? Tak ada


satupun tukang perahu yang akan menyeberangkan kita ke Kuil Api,” kata


Wiraksara.


Hamzah tertegun, dia baru menyadari saat itu di tepi laut


Khazar situasi begitu sepi tak ada perahu nelayan yang lewat maupun jasa


penyeberangan.


Aneh, padahal di musim semi begini biasanya perahu masih ada


sampai sore. Mengapa hari ini para nelayan itu tidak melaut mencari  ikan? Pikir Hamzah.


“Biasanya ada kapal-kapal nelayan yang akan pergi melaut, seharusnya


saat ini mereka sudah mulai berangkat ke laut. Tapi mungkin karena cuaca yang


sudah mulai berkabut sehingga mereka menunda kegiatan mencari ikan. Kalau


begitu kita menginap semalam di sini dulu. Semoga para nelayan itu bersedia


menerima kita di rumah mereka,” kata Hamzah.


Kabut semakin tebal, permukaan lautan yang sejatinya adalah


danau berair asin itu mulai tertutup kabut. Tiba-tiba Wiraksara berseru


“Hei lihat, ada perahu datang kemari, semoga saja dia


bersedia membawa kita ke seberang.”


Hamzah menoleh ke arah yang ditunjuk Wiraksara. Diantara


kabut, samar terlihat sebuah perahu dengan satu sosok yang sedang mendayung


perahu. Perahu itu semakin lama semakin dekat ke dermaga. Ketika perahu itu


tiba di hadapan mereka, di atas perahu tampaklah satu sosok memakai jubah yang


ada penutup kepalanya berwarna hitam. Wajahnya tidak begitu jelas karena


situasi yang berkabut dan tudung kepalanya yang menutupi sebagian besar


wajahnya, ditambah lagi sosok itu selalu menunduk seolah ingin menyembunyikan


wajahnya.  Bahkan ketika dia berbicara


matanya tidak sekalipun menatap lawan bicaranya. Tangannya yang memegang dayung


tampak putih pucat, entah karena dingin atau memang secara alami memang seperti


itu.


Wiraksara dan Hamzah mendengar sosok itu berkata


“Silahkan naik perahu, saya  akan membawa kalian ke seberang sana.”


Wiraksara dan Hamzah saling berpandangan, lalu Hamzah


bertanya


“Baiklah, berapa ongkos ke seberang per orang?”


“Tidak usah membayar, ini gratis saja,” jawab tukang perahu


itu.

__ADS_1


Hamzah dan Wiraksara berusaha melihat wajah tukang perahu,


namun pria itu selalu saja memalingkan muka jika mereka berusaha melihat


wajahnya.


Hamzah sebenarnya ragu-ragu, namun karena hari sudah gelap


dan perjalanan sudah mendekati akhir, maka dia mengajak Wiraksara naik perahu.


“Ayo kita naik perahu saja daripada harus bermalam di sini,”


kata Hamzah.


Mereka naik perahu lalu menyeberangi laut Khazar.  Perjalanan terasa begitu lama, sementara kabut


semakin tebal.


“Hei tukang perahu, kabut ini begitu tebal, apa kau masih


bisa berlayar dengan keadaan seperti ini?” Tanya Wiraksara.


Terdengar suara tukang perahu menjawab


“Angin yang menunjukan jalan untukku dan membawaku pergi


mengikutinya.”


Wiraksara merasa aneh mendengar jawaban Tukang perahu tadi,  namun dia tidak berkomentar lebih lanjut.  Tukang perahu mendayung perahunya melaju


menembus kabut tanpa hambatan seolah perahunya memiliki mata yang bisa menembus


kabut yang pekat dan tahu ke arah mana dia harus menuju.  Beberapa saat kemudian tibalah mereka di


seberang.  Perahu merapat di dermaga dan


turunlah mereka berdua. Pada saat itulah Wiraksara melihat sekelebatan wajah


tukang perahu tadi. Ternyata tukang perahu itu tak berwajah, semua tampak gelap


dan hitam.  Wiraksara berseru tertahan


karena terkejut


“Hah?!”


Mendadak tukang perahu tadi menoleh menghadap mereka,


sekarang wajahnya yang hitam dan rata mulai tampak jelas. Terdengar suara


“Ha ha ha ha, rupanya kalian sudah tahu ya? Hati-hati ya,


setelah ini kalian akan menghadapi rintangan lebih banyak!”


Tak lama kemudian, perahu dan tukang perahu tiba-tiba sudah


menghilang di dalam kabut namun suara tawa tukang perahu masih terus menggema.


Hamzah menoleh pada Wiraksara, lalu menepuk bahunya


menyadarkannya dari rasa terkejutnya  dan


mengajaknya kembali berjalan sambil berkata


“Sudahlah, yang penting dia tidak mengganggu kita. Tadi


kudengar dia memperingatkan kita bahwa di depan kita ada banyak hal yang


membahayakan kita. Siapapun dia kurasa hal itu benar adanya, semoga saja Maheen


masih bisa selamat.”


“Apa Tuan tahu siapa dia?”


“Mereka penjaga Kahyangan Api, aku sendiri tidak tahu dimana


mereka tinggal. Sesekali mereka terkadang muncul jika cuaca berkabut dan menunjukan


jalan menuju Kahyangan Api,” ungkap Hamzah.


“Apakah kuilnya sudah dekat?” Tanya Wiraksara.


“Masih jauh, tapi hari sudah gelap, sebaiknya kita


beristirahat saja dulu di penginapan. Ada banyak penginapan di sekitar tempat


ini,” ujar Hamzah.


Wiraksara baru menyadari bahwa perutnya sudah lapar, dia


ingin segera


Wiraksara dan Hamzah berjalan menuju Kuil Kahyangan Api.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mereka melewati pegunungan yang mengobarkan api, sehingga


udara dingin di malam itu tak terasakan karena adanya api yang menyaka di


sekitar tempat itu menghangatkan udara di sekitarnya.  Wiraksara yang merasa heran kemudian bertanya


“Tuan, tempat macam apa ini? Mengapa tempat ini dikelilingi


api seperti di neraka?”


“Namanya saja Kahyangan Api, tentu saja ada banyak sumber


api abadi di tempat ini. Api-api ini tidak pernah padam bahkan pada  saat  hujan dan musim salju,” jawab Hamzah.


Sementara itu Shaktar dan para pengikutnya berhasil


menguasai Kuil kahyangan Api dan membunuh para pendeta di dalamnya. Maheen yang


murka melihat kuilnya kini menjadi ajang pembantaian teman-temannya berseru


marah pada Shaktar


“Biadab kau Shaktar, kau bunuh teman-temanku dan kau kotori


kuil suci kami dengan darah!”


“Diamlah kau, aku masih memerlukan dirimu untuk


membangkitkan energi 5 elemen itu. Jadi lebih baik kau beristirahat dan jangan


menangis saja!” Bentak Shaktar.


“Heba, bawa dia ke kamarnya untuk beristirahat, beri dia


makanan yang cukup!” Perintah Shaktar.


Beberapa prajurit segera menyeret Maheen dan mengurungnya


dalam satu ruangan. Heba sang pendeta wanita Sekte Piramida Emas menghampiri


Maheen dan kembali memperingatkan


“Sebaiknya simpan energimu, terlalu banyak menangis akan


membuat energimu habis. Patuhi perintahnya, jangan buat Pangeran Shaktar marah,


jika dia sampai mengamuk kami yang repot menghadapinya!”


Heba berhenti berbicara, beberapa pelayan masuk menghidangkan


makanan di kamar Maheen, setelah meletakan makanan merekapun segera keluar kamar.


“Nah, sekarang kau harus makan setelah itu istirahat untuk


memulihkan energimu, sekarang makanlah!” perintah Heba.


Melihat Maheen yang masih saja tertunduk menangis, Heba  keluar ruangan sambil membanting pintu


meninggalkan Maheen yang masih terus menangis.


*****


Di luar ruangan terlihat Shaktar sedang asyik makan dan


minum dilayani para pelayannya. Melihat Heba, Shaktar memanggilnya dan berkata


“Heba, jaga agar elemen ke lima kita tidak sampai jatuh


sakit.”


Heba berhenti berjalan lalu berdiri di depan meja Shaktar.


Setelah memberi hormat Heba berkata


“Dia baik-baik saja, Yang Mulia saat ini sudah ada dua


permata Azura Mahda  yang kita kuasai.


Lalu bagaimana dengan elemen yang lainnya? Kita akan kesulitan mencari


keberadaan para pemegang permata yang lainnya.”


“Tenang saja, begitu kita tiba di Kuil Kahyangan Api dengan


Elemen ke Lima,  Permata Logam dan


Permata Api, ketiganya akan mengirimkan gelombang energi mencari permata yang


lainnya.  Gelombang energi itu sangat


kuat, pasti tak lama lagi mereka akan menuju kemari,” ujar Shaktar.


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di bangunan Kuil paling

__ADS_1


depan, sejurus kemudian tampak seorang wanita masuk ke kuil


“Shaktar, berikan permarta-permata itu pada kami!”


__ADS_2