KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Permata Api


__ADS_3

“Baiklah kalau kau menginginkan aku menggunakan ilmu yang


bukan berasal dari Majusi. Keluarkan seluruh kemampuan jurus Api Suci Azura


Mahda dan aku akan melawanmu!”


“Ha ha ha ha baiklah, kita lihat saja apakah kau mampu


menahan seranganku!” Seru Mehrak dengan nada jumawa.


Kembali Mehrak mengerahkan tenaga dalamnya di tangannya, api


kembali muncul di telapak tangannya.  Mehrak kembali menyerang, cahaya api itu meluncur ke arah Hamzah. Di


saat yang sama, Hamzah menegadahkan kedua tangannya di udara setelah itu kedua


tangannya ditangkupkan di depan dadanya seperti menyembah. Tak lama kemudian


selarik sinaran putih muncul dari telapak tangannya menyambar api dari Mehrak. Kedua


cahaya itu bertabrakan membuat suara ledakan yang sangat  keras.


“Blaaar!”


Sontak semua orang terkejut dan lari menyingkir dari


gelanggang.  Maheen buru-buru


menyingkirkan ayahnya dengan dibantu Wiraksara dari gelanggang.


Mehrak terkejut, cahaya putih itu menelan api yang keluar


dari tangannya  dan memunahkannya tanpa


sisa. Kini hanya ada cahaya putih yang meluncur ke arahnya, Mehrak hanya bisa


memandang dengan  terkesima,  di saat cahaya itu sudah dekat, dia sudah tak


mampu lagi menghindar.  Cahaya itu kemudian


menabrak dadanya sehingga membuatnya roboh ke tanah. Dada Mehrak serasa ampeg


sehingga dia muntah darah.


“Ilmu apa yang kau gunakan?!” Tanya Mehrak.


“Jurus ini kunamakan Jurus Cahaya Illahi, jurus yang


kuciptakan setelah aku keluar dari Majusi,” ujar Hamzah.


Mehrak menggeram marah, dia mengerahkan kembali tenaganya,


kali ini api di tangannya muncul lebih banyak dan besar. Api itu menyembur


seperti penyembur api ke arah Hamzah. Kembali Hamzah menghadang semburan api


itu dengan Jurus Cahaya Illahi. Seberkas Cahaya langsung membentuk dinding


cahaya di depan Hamzah melindunginya dari semburan api Mehrak dan


memunahkannya.


Mehrak menggeram marah karena cahaya apinya berkali-kali di


telan oleh cahaya dari Hamzah. Merasa terdesak, Mehrak langsung melompat ke


atas genteng dan melarikan diri bersama para pengikutnya. Saat itu situasi di


sekitar gelanggang sudah porak poranda, seluruh anak buah Tamaz sudah mati


semua tinggalah Maheen yang tersisa dari rombongan Tamaz.


Hamzah langsung mendekati Tamaz yang berada di tepi


gelanggang bersama Wiraksara dan Maheen untuk melihat kondisinya. Dilihatnya


Tamaz sudah sekarat, tubuhnya mulai membiru karena racun Mehrak.


“Tamaz, Mehrak sudah meracunimu dengan racun Selaksa


Kematian yang ganas. Aku melihat bola berasap di dekat ranjangmu.  Untung saja pembakarannya tidak sempurna


sehingga racunnya tidak menyebar lebih luas lagi.  Maafkan aku yang  tidak dapat menolongmu karena racun itu tidak


ada penawarnya,” Hamzah menangis melihat penderitaan temannya.


“Ya, aku tahu Bahiri, ini memang sudah tiba saatnya aku

__ADS_1


menghadap Azura Mahda di Kahyangan. Maheen ambilkan buntelan permata yang


kausimpan,” perintah  Tamazpada anaknya


dengan suara lirih dan tertahan.


Maheen berlari ke kamar dan kembali dengan sebuah buntelan


kain. Buntelan itu diserahkan pada ayahnya lalu Tamaz menyerahkan buntelan itu


pada Wiraksara dan berpesan


“Anak muda, saat ini semua anggota rombonganku sudah mati,


tinggalah Maheen anakku. Aku minta tolong bawalah permata ini kembali ke Kuil


Kahyangan Api bersama Maheen. Jagalah Maheen dan permata ini agar tiba dengan


selamat di Kuil Kahyangan Api.”


Wiraksara tertegun, ada orang asing yang baru saja


dikenalnya tetapi sudah memberinya kepercayaan begitu besar kepadanya untuk mengantarkan


benda pusaka milik sekte mereka.


“Aku?....Tapi apakah saya mampu melakukannnya? Mengapa anda


begitu percaya kepada saya padahal saya orang asing?” Tanya Wiraksara dengan


heran.


Tamaz terbatuk-batuk, darah hitam keluar dari mulutnya,


Maheen menangis sambil membersihkan darah yang mengalir dari mulut ayahnya.


“Anak muda, aku percaya kau adalah orang yang baik dan aku


tahu kau memiliki kemampuan untuk mengemban tugas ini.  Mendekatlah kemari aku ingin memberimu


sesuatu.”


Wiraksara merasa heran dengan permintaan Tamaz namun dia


tetap menurutinya dan mendekat ke arah Tamaz.


“Menunduklah aku ingin memegang bahumu,” perintah Tamaz.


sudah mencengkram bahunya dengan sangat kuat. Wiraksara merasakan bahunya


seperti disetrum listrik. Dia ingin melepaskan diri namun tak mampu, tangan


Tamaz seperti memiliki lem menempel kuat di bahunya. Wiraksara berteriak


kesakitan namun Tamaz tak peduli dan masih mencengkram kuat bahunya, setelah


itu Wiraksara jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Ketika tersadar, Wiraksara sudah berada di kamarnya dengan


Hamzah menungguinya di sisi ranjangnya


“Apa yang terjadi padaku? Dimana Tuan Tamaz?”


“Tidak apa-apa, minumlah obat ini nanti tenagamu akan pulih


kembali,” Hamzah memberikan obat kepada Wiraksara.


Setelah meminum ramuan Hamzah, Wiraksara mulai sedikit lebih


enak tubuhnya.


“Terimakasih, tubuhku sekarang terasa lebih enak, Tuan, apa


yang dilakukan Tuan Tamaz kepadaku tadi?” Tanya Wiraksara.


“Tamaz mewariskan ilmu Api Suci Azura Mahda kepadamu, karena


kau sebagai pembawa Permata Azura Mahda pasti akan menghadapi banyak rintangan


di jalan. Orang-orang Mehrak pasti tidak akan tinggal diam melihat permata yang


telah mereka curi kembali ke Kahyangan Api,” ungkap Hamzah.


“Memangnya ada apa dengan permata ini?” Tanya Wiraksara.


“Permata ini melambangkan elemen dalam kepercayaan Majusi,

__ADS_1


ada 4 elemen yaitu Api, logam, tanah dan air. Siapapun yang memiliki ke 4


permata itu akan memiliki kekuatan  dari


ke 4 elemen itu,” ujar Tamaz.


“Jadi bangsa Persia pastinya bisa menjadi penguasa dunia


jika memiliki ke 4 permata itu?” Tanya Wiraksara.


“Tentu saja tidak, permata-permata itu sudah terpencar di


berbagai tempat di bumi. Hanya ada 1 permata yang dikuasai Kuil Kahyangan Api


yaitu Permata Api.  Sudah lama sejak


Permata Api itu dicuri, api abadi di Kuil Kahyangan Api padam. Dalam


kepercayaan Majusi api adalah lambang kebaikan Azura Mahda, sehingga jika api


itu padam maka kebaikan Azura Mahda akan hilang berganti dengan kegelapan yang


dikuasai Angra Mainyu. Sedangkan permata-permata yang lain telah menghilang


dari bumi ketika terjadi banjir besar yang menenggelamkan beberapa benua di


bumi,” tutur Hamzah.


“Aku tahu Mehrak pasti mengincar kekuatan ke 4 elemen itu,


saat ini dia dan pengikutnya pasti sedang mencari 3 permata lainnya,” ujar


Wiraksara.


“Benar, tetapi dia tidak akan dapat menemukannya karena


permata-permata itu sudah tersebar di berbagai tempat di bumi. Nah sekarang


beristirahatlah,  aku pergi dulu untuk


mempersiapkan pemakaman korban yang meninggal,” kata Hamzah.


******


Pagi harinya Wiraksara bangun dengan tubuh yang segar, rasa


sakit di sekujur tubuhnya sudah hilang. Wiraksara melompat dari ranjang dan


menggerak-gerakan tubuhnya.


Aneh sekali, kemarin tubuhku masih terasa sakit semua


sekarang tubuhku benar-benar terasa ringan dan nyaman. Apakah ini karena energi


dari ilmu Api Suci Azura Mahda yang diberikan oleh Tuan Tamaz kemarin? Pikir Wiraksara.


Tak lama kemudian Hamzah masuk ke kamar Wiraksara, melihat


pemuda itu sudah kembali sehat Hamzah tampak gembira


“Sala, kau sudah sehat.  Apa yang kau rasakan sekarang?”


“Tuan, tubuhku terasa ringan dan rasa sakit di sekujur


tubuhku sudah hilang. Apakah ini karena ilmu Api Suci Azura Mahda yang


diwariskan oleh Tuan Tamaz?” Tanya Wiraksara.


“Ya benar, Tamaz tidak hanya sekedar mewariskan ilmu tetapi


juga menyembuhkan luka dalammu. Ilmu Api Suci Azura Mahda sesungguhnya bukan


ilmu sesat, namun Mehrak menggunakannya untuk kejahatan sehingga di dunia


persilatan para pendekar menganggap orang-orang dari Kuil Kahyangan Api sebagai


orang-orang dari aliran sesat,” ungkap Hamzah.


“Tuan Hamzah, hari ini saya akan mengantarkan Maheen dan


permata Api  ke Kuil Kahyangan Api. Saya


harus segera pergi dari sini agar Mehrak tidak mengganggu anda lagi.”


Hari itu juga Wiraksara dan Maheen dengan membawa permata


api berangkat ke Persia. Barang-barang dagangan yang dibawa Tamaz dijual untuk bekal

__ADS_1


perjalanan. Mereka akan menempuh perjalanan yang jauh menyusuri jalur sutra ke


arah barat.


__ADS_2