
“Baiklah kalau kau menginginkan aku menggunakan ilmu yang
bukan berasal dari Majusi. Keluarkan seluruh kemampuan jurus Api Suci Azura
Mahda dan aku akan melawanmu!”
“Ha ha ha ha baiklah, kita lihat saja apakah kau mampu
menahan seranganku!” Seru Mehrak dengan nada jumawa.
Kembali Mehrak mengerahkan tenaga dalamnya di tangannya, api
kembali muncul di telapak tangannya. Mehrak kembali menyerang, cahaya api itu meluncur ke arah Hamzah. Di
saat yang sama, Hamzah menegadahkan kedua tangannya di udara setelah itu kedua
tangannya ditangkupkan di depan dadanya seperti menyembah. Tak lama kemudian
selarik sinaran putih muncul dari telapak tangannya menyambar api dari Mehrak. Kedua
cahaya itu bertabrakan membuat suara ledakan yang sangat keras.
“Blaaar!”
Sontak semua orang terkejut dan lari menyingkir dari
gelanggang. Maheen buru-buru
menyingkirkan ayahnya dengan dibantu Wiraksara dari gelanggang.
Mehrak terkejut, cahaya putih itu menelan api yang keluar
dari tangannya dan memunahkannya tanpa
sisa. Kini hanya ada cahaya putih yang meluncur ke arahnya, Mehrak hanya bisa
memandang dengan terkesima, di saat cahaya itu sudah dekat, dia sudah tak
mampu lagi menghindar. Cahaya itu kemudian
menabrak dadanya sehingga membuatnya roboh ke tanah. Dada Mehrak serasa ampeg
sehingga dia muntah darah.
“Ilmu apa yang kau gunakan?!” Tanya Mehrak.
“Jurus ini kunamakan Jurus Cahaya Illahi, jurus yang
kuciptakan setelah aku keluar dari Majusi,” ujar Hamzah.
Mehrak menggeram marah, dia mengerahkan kembali tenaganya,
kali ini api di tangannya muncul lebih banyak dan besar. Api itu menyembur
seperti penyembur api ke arah Hamzah. Kembali Hamzah menghadang semburan api
itu dengan Jurus Cahaya Illahi. Seberkas Cahaya langsung membentuk dinding
cahaya di depan Hamzah melindunginya dari semburan api Mehrak dan
memunahkannya.
Mehrak menggeram marah karena cahaya apinya berkali-kali di
telan oleh cahaya dari Hamzah. Merasa terdesak, Mehrak langsung melompat ke
atas genteng dan melarikan diri bersama para pengikutnya. Saat itu situasi di
sekitar gelanggang sudah porak poranda, seluruh anak buah Tamaz sudah mati
semua tinggalah Maheen yang tersisa dari rombongan Tamaz.
Hamzah langsung mendekati Tamaz yang berada di tepi
gelanggang bersama Wiraksara dan Maheen untuk melihat kondisinya. Dilihatnya
Tamaz sudah sekarat, tubuhnya mulai membiru karena racun Mehrak.
“Tamaz, Mehrak sudah meracunimu dengan racun Selaksa
Kematian yang ganas. Aku melihat bola berasap di dekat ranjangmu. Untung saja pembakarannya tidak sempurna
sehingga racunnya tidak menyebar lebih luas lagi. Maafkan aku yang tidak dapat menolongmu karena racun itu tidak
ada penawarnya,” Hamzah menangis melihat penderitaan temannya.
“Ya, aku tahu Bahiri, ini memang sudah tiba saatnya aku
__ADS_1
menghadap Azura Mahda di Kahyangan. Maheen ambilkan buntelan permata yang
kausimpan,” perintah Tamazpada anaknya
dengan suara lirih dan tertahan.
Maheen berlari ke kamar dan kembali dengan sebuah buntelan
kain. Buntelan itu diserahkan pada ayahnya lalu Tamaz menyerahkan buntelan itu
pada Wiraksara dan berpesan
“Anak muda, saat ini semua anggota rombonganku sudah mati,
tinggalah Maheen anakku. Aku minta tolong bawalah permata ini kembali ke Kuil
Kahyangan Api bersama Maheen. Jagalah Maheen dan permata ini agar tiba dengan
selamat di Kuil Kahyangan Api.”
Wiraksara tertegun, ada orang asing yang baru saja
dikenalnya tetapi sudah memberinya kepercayaan begitu besar kepadanya untuk mengantarkan
benda pusaka milik sekte mereka.
“Aku?....Tapi apakah saya mampu melakukannnya? Mengapa anda
begitu percaya kepada saya padahal saya orang asing?” Tanya Wiraksara dengan
heran.
Tamaz terbatuk-batuk, darah hitam keluar dari mulutnya,
Maheen menangis sambil membersihkan darah yang mengalir dari mulut ayahnya.
“Anak muda, aku percaya kau adalah orang yang baik dan aku
tahu kau memiliki kemampuan untuk mengemban tugas ini. Mendekatlah kemari aku ingin memberimu
sesuatu.”
Wiraksara merasa heran dengan permintaan Tamaz namun dia
tetap menurutinya dan mendekat ke arah Tamaz.
“Menunduklah aku ingin memegang bahumu,” perintah Tamaz.
sudah mencengkram bahunya dengan sangat kuat. Wiraksara merasakan bahunya
seperti disetrum listrik. Dia ingin melepaskan diri namun tak mampu, tangan
Tamaz seperti memiliki lem menempel kuat di bahunya. Wiraksara berteriak
kesakitan namun Tamaz tak peduli dan masih mencengkram kuat bahunya, setelah
itu Wiraksara jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Ketika tersadar, Wiraksara sudah berada di kamarnya dengan
Hamzah menungguinya di sisi ranjangnya
“Apa yang terjadi padaku? Dimana Tuan Tamaz?”
“Tidak apa-apa, minumlah obat ini nanti tenagamu akan pulih
kembali,” Hamzah memberikan obat kepada Wiraksara.
Setelah meminum ramuan Hamzah, Wiraksara mulai sedikit lebih
enak tubuhnya.
“Terimakasih, tubuhku sekarang terasa lebih enak, Tuan, apa
yang dilakukan Tuan Tamaz kepadaku tadi?” Tanya Wiraksara.
“Tamaz mewariskan ilmu Api Suci Azura Mahda kepadamu, karena
kau sebagai pembawa Permata Azura Mahda pasti akan menghadapi banyak rintangan
di jalan. Orang-orang Mehrak pasti tidak akan tinggal diam melihat permata yang
telah mereka curi kembali ke Kahyangan Api,” ungkap Hamzah.
“Memangnya ada apa dengan permata ini?” Tanya Wiraksara.
“Permata ini melambangkan elemen dalam kepercayaan Majusi,
__ADS_1
ada 4 elemen yaitu Api, logam, tanah dan air. Siapapun yang memiliki ke 4
permata itu akan memiliki kekuatan dari
ke 4 elemen itu,” ujar Tamaz.
“Jadi bangsa Persia pastinya bisa menjadi penguasa dunia
jika memiliki ke 4 permata itu?” Tanya Wiraksara.
“Tentu saja tidak, permata-permata itu sudah terpencar di
berbagai tempat di bumi. Hanya ada 1 permata yang dikuasai Kuil Kahyangan Api
yaitu Permata Api. Sudah lama sejak
Permata Api itu dicuri, api abadi di Kuil Kahyangan Api padam. Dalam
kepercayaan Majusi api adalah lambang kebaikan Azura Mahda, sehingga jika api
itu padam maka kebaikan Azura Mahda akan hilang berganti dengan kegelapan yang
dikuasai Angra Mainyu. Sedangkan permata-permata yang lain telah menghilang
dari bumi ketika terjadi banjir besar yang menenggelamkan beberapa benua di
bumi,” tutur Hamzah.
“Aku tahu Mehrak pasti mengincar kekuatan ke 4 elemen itu,
saat ini dia dan pengikutnya pasti sedang mencari 3 permata lainnya,” ujar
Wiraksara.
“Benar, tetapi dia tidak akan dapat menemukannya karena
permata-permata itu sudah tersebar di berbagai tempat di bumi. Nah sekarang
beristirahatlah, aku pergi dulu untuk
mempersiapkan pemakaman korban yang meninggal,” kata Hamzah.
******
Pagi harinya Wiraksara bangun dengan tubuh yang segar, rasa
sakit di sekujur tubuhnya sudah hilang. Wiraksara melompat dari ranjang dan
menggerak-gerakan tubuhnya.
Aneh sekali, kemarin tubuhku masih terasa sakit semua
sekarang tubuhku benar-benar terasa ringan dan nyaman. Apakah ini karena energi
dari ilmu Api Suci Azura Mahda yang diberikan oleh Tuan Tamaz kemarin? Pikir Wiraksara.
Tak lama kemudian Hamzah masuk ke kamar Wiraksara, melihat
pemuda itu sudah kembali sehat Hamzah tampak gembira
“Sala, kau sudah sehat. Apa yang kau rasakan sekarang?”
“Tuan, tubuhku terasa ringan dan rasa sakit di sekujur
tubuhku sudah hilang. Apakah ini karena ilmu Api Suci Azura Mahda yang
diwariskan oleh Tuan Tamaz?” Tanya Wiraksara.
“Ya benar, Tamaz tidak hanya sekedar mewariskan ilmu tetapi
juga menyembuhkan luka dalammu. Ilmu Api Suci Azura Mahda sesungguhnya bukan
ilmu sesat, namun Mehrak menggunakannya untuk kejahatan sehingga di dunia
persilatan para pendekar menganggap orang-orang dari Kuil Kahyangan Api sebagai
orang-orang dari aliran sesat,” ungkap Hamzah.
“Tuan Hamzah, hari ini saya akan mengantarkan Maheen dan
permata Api ke Kuil Kahyangan Api. Saya
harus segera pergi dari sini agar Mehrak tidak mengganggu anda lagi.”
Hari itu juga Wiraksara dan Maheen dengan membawa permata
api berangkat ke Persia. Barang-barang dagangan yang dibawa Tamaz dijual untuk bekal
__ADS_1
perjalanan. Mereka akan menempuh perjalanan yang jauh menyusuri jalur sutra ke
arah barat.