KSATRIA YANG TERBUANG

KSATRIA YANG TERBUANG
Kebaikan Putri Xianning


__ADS_3

Wiraksara kembali ke tempatnya bekerja, namun di kandang


kuda dia tidak menjumpai Tie Shi,  sebuah


pikiran buruk berkelebat dalam otaknya.  Salah seorang pekerja bertanya


“Sala, di mana Paman Shi? Biasanya jam segini dia sudah


datang ke kandang.”


“Aku juga tidak tahu, tadi pagi aku buru-buru pergi ke


kandang dan mengambil kuda-kuda perang yang akan di bawa ke Annam. Pasukan


Pangeran Gaoxu pagi ini berlatih di alun-alun selatan. Tapi aku akan pulang


menengoknya. Aku kuatir dia sakit karena ketika aku bangun kamarnya masih


tertutup,” jawab Wiraksara.


Wiraksara segera pulang ke pondok, kamar Tie Shi masih


tertutup. Merasa penasaran  Wiraksara


mengetuk pintunya dan memanggil Tie Shi


“Paman…Paman Shi…Paman bukalah pintunya hari sudah siang!”


Wiraksara berulang kali mengetuk pintu namun pintunya masih


belum dibuka.


Sepertinya aku harus mendobrak pintunya, batin Wiraksara.


Pemuda itu lalu mendobrak pintu kamar Tie Shi, di dalam


kamar Tie Shi masih tertidur di ranjangnya dengan tenang. Sama sekali tidak terganggu


dengan suara pintu yang didobrak Wiraksara. Perlahan pemuda itu mendekati Tie


Shi lalu menyentuh lengannya


“Paman Shi…Paman Shi bangunlah.”


Ketika tangan Wiraksara menyentuh lenagn Tie Shi betapa terkejutnya


dia, tangan Tie Shi terasa keras, dingin dan kaku. Tiba-tiba Wiraksara menangis


tersedu-sedu. Paman Shi telah meninggal dunia dengan tenang


“Paman Shi…Paman Shi maafkan aku, apa kau meninggal karena


sedih bonsaimu ku rusak?”


Setelah puas menangis, Wiraksara keluar rumah lalu


memberitahukan kematian Paman Shi kepada teman-temannya


“Paman Shi meninggal,” Wiraksara mengabarkan pada penanggung


jawab kuda-kuda perang istana.


Seluruh pekerja di kandang kuda terkejut, Paman Shi telah


meninggal dunia.


“Sala, benarkah itu?” Tanya seorang pekerja.


“Datanglah ke rumah melayat, tolong bantu aku merawat


jenazahnya. Aku tidak tahu tradisi orang China dalam merawat jenazah,” kata


Wiraksara.


Teman-temannya datang melayat ke pondok Tie Shie dan


membantu Wiraksara merawat jenazah Tie Shi.  Hari itu seluruh pekerja di kandang kuda istana berduka, Paman Shi telah


wafat. Wiraksara dibantu teman-temannya menggali tanah untuk kuburuan Tie Shi.


Tidak ada upacara pemakaman, semua berjalan secara sederhana. Usai acara


pemakaman Wiraksara kembali bekerja karena Kepala Divisi Perbekalan Militer


telah memerintahkan mereka untuk kembali bekerja.


Pulang bekerja situasi pondok masih gelap. Wiraksara


menyalakan lampu lalu mulai membersihkan diri di sumur kemudian menyiapkan


makanan.  Suasana rumah terasa sepi tanpa


kehadiran Paman Shi, Wiraksara memasuki kamar Paman Shi dan mulai membereskan


barang-barangnya. Ketika hendak membereskan meja Tie Shi yang penuh dengan


tumpukan buku, Wiraksara menemukan sebuah surat yang ditujukan untuk Tie Lie

__ADS_1


Yung. Surat itu belum selesai tetapi dalam surat itu Tie Shi ingin bertemu


putrinya dan memberikan sebuah pedang pusaka untuknya. Wiraksara membuka lemari


Tie Shi dan menemukan sebilah pedang dengan gagang dari batu giok. Dilolosnya


pedang itu, terlihat bilahnya yang mengkilap kehitaman. Tidak ada karat


walaupun sudah lama disimpan.


“Benar-benar sebuah pedang pusaka yang bagus,” gumam


Wiraksara.


Disimpannya kembali pedang Tie Shi lalu duduk di tepi


ranjang memikirkan keinginan Tie Shi yang belum kesampaian.


“Paman, aku berjanji, setelah aku pergi dari sini, aku akan


memberikan pedang pusaka ini untuk Tie Lie Yung,” gumam Wiraksara.


******


Keesokan harinya para pekerja di kandang kuda digegerkan


dengan adanya seekor kuda yang mati mendadak. Celakanya kuda yang mati itu


adalah kuda di bawah tanggung jawab Tie Shi. Tetapi Kepala Divisi Perbekalan


Militer tidak mau tahu dia memanggil Wiraksara dan menyalahkannya


“Kau telah lalai membiarkan seekor kuda mati karena sakit.


Kenapa kau tidak merawat kuda itu dengan baik?” Kau harus mengganti kerugian


atas kuda yang mati itu atau kau dihukum mati!”


Wiraksara yang merasa tidak tahu apa-apa langsung protes


“Kuda itu memang sudah tua dan sakit-sakitan, tetapi kenapa


kau menyalahkanku? Wajar jika kuda yang tua mati!”


Namun pejabat itu tidak mau tahu, dia memanggil prajurit jaga


“Pengawal…bawa dia ke penjara!”


Wiraksara tahu, orang itu sengaja mencari gara-gara dengan


sengaja menyalahkannya atas kematian seekor kuda tua yang sudah sakit-sakitan.


mereka akan melupakannya dan menganggapnya sama seperti narapidana lainnya


bukan seorang tamu dari Majapahit.


Beberapa prajurit tiba-tiba sudah menyeretnya pergi


membawanya ke penjara.


“Hei. Kalian tidak bisa menahanku seperti ini!”


Wiraksara hanya bisa pasrah menerima nasibnya menjadi


tahanan di negeri orang. Selagi dalam perjalanan keluar dari penjara, di dekat


alun-alun latihan perang, mereka berjumpa dengan Puteri Xianning yang sedang naik


kuda menuju alun-alun untuk latihan memanah . Para prajurit yang membawa


Wiraksara langsung berlutut dan memberi salam


“Hormat pada Tuan Puteri!”


Melihat Wiraksara dibawa ke penjara puteri Xianning menghentikan


kudanya dan bertanya


“Mau di bawa kemana pemuda ini?”


“Dia akan dipenjara karena telah membuat salah satu kuda


perang kita mati,” sahut Kepala Pengawal.


“Bohong, kuda itu mati karena memang sudah tuda dan


sakit-sakitan!” Seru Wiraksara yang langsung bangkit berdiri.


“Diam kau!” Bentak seorang pengawal sambil memukul Wiraksara


hingga Wiraksara kembali tersungkur.


“Kalau kuda itu mati karena memang sudah lama sakit dan


menua seharusnya kalian tidak menahan dia! Sebelum dia pun kuda-kuda itu banyak


yang mati karena sakit atau tua.  Siapa

__ADS_1


yang menyuruh kalian menahan dia?!”tanya Putri  Xianning.


Para pengawal itu tertegun dan saling berpandangan, mereka


tidak berani memberitahu siapa orang yang menyuruh menahan Wiraksara.  Putri Xianning memandangi para pengawal itu


satu per satu menunggu jawaban. Melihat para pengawal itu terdiam Putri


Xianning tersenyum dan berkata


“Kalian tidak dapat menjawab pertanyaanku, berarti benar


kalian memang sedang mencari gara-gara! Bawa dia ke kediamanku, aku akan


menjadikannya petugas perawat anjing istana!”


Wiraksara terkejut, tak disangkanya nasibnya bagai keluar


dari mulut buaya masuk ke mulut singa. Habis jadi pengurus kuda jadi pengurus


anjing.


“Tapi Tuan Putri!” Kata kepala P{engawal.


“Dia akan ikut denganku, sekarang kalian boleh pergi!” Seru


Putri Xianning pada para pengawal itu.


Terpaksa para pengawal itu membawanya ke tempat Putri


Xianing. Sesampainya di kediaman Putri Xianning, Wiraksara berjumpa lagi dengan


dua orang dayang-dayang yang dulu mencari Chen-Chen.


“Lin Fung, Mei Chen, kalian mendapat teman baru yang akan


membantu kalian memelihara anjing-anjing kesayanganku!”


“Kakak, bagaimana kau bisa sampai kemari?” Tanya Lin Fung.


“Semua ini karena kebaikan Putri Xinanning, dia telah


menyelamatkanku dari tuduhan menelantarkan kuda perang,” jawab Niskala.


“Beri dia seragam petugas perawat anjing dan ajarkan dia


bagaimana cara merawat anjing-anjingku. Aku mau latihan memanah dulu!”


Setelah Putri Xianning berlalu, kedua dayang itu membawanya


pada Paman Yue kepala Pelayan di Keputren dan diberikan seragam baru.


“Setiap hari kau harus ke dapur istana meminta daging pada


petugas dapur untuk pakan anjing. Mereka makan tiga kali sehari dan membersihkan


kandang nya jika kotor.  Setiap hari bulu


anjing-anjing itu harus disisir dan dipotong agar rapi, kau juga harus mencari


kutunya setiap hari,” kata Paman Yan.


Wiraksara melihat ke sekeliling kandang anjing, ada anjing


Peking dan Shih Tzu yang merupakan anjing-anjing favorit kerajaan.


“Siapa namamu anak muda?” Tanya Paman Yan.


“Saya Wiraksara dari divisi kuda perang. Tapi Paman bisa


memanggil saya Sala.”


“Baiklah Sala, kalau begitu kau kenal Tie Shi?” Tanya Paman


Yan.


“Ya benar, aku tinggal satu pondok dengannya, tapi dia baru


saja meninggal kemarin,” kata Wiraksara.


“Tie Shi meninggal? Ah, ternyata dia sudah mendahuluiku,


dimana dia dikuburkan?”


“Di belakang pondok kami,” ujar Wiraksara.


Seekor anjing Shih Tzu datang mengibaskan ekornya menyambut


kedatangan Paman Yue, tetapi melihat Wiraksara mereka langsung menggonggong


keras. Wiraksara mundur bersiap lari namun Paman Yue mencegahnya


“Tidak apa-apa, mereka tidak menggigit.”


Hari itu Wiraksara belajar tentang cara memelihara anjing,


walaupun dia tak menyukai pekerjaan itu. Sore harinya dia kembali ke pondoknya

__ADS_1


setelah seharian bekerja. Jika malam tiba anjing-anjing itu sudah dikandangkan


di tempatnya.


__ADS_2