
Wiraksara kembali ke tempatnya bekerja, namun di kandang
kuda dia tidak menjumpai Tie Shi, sebuah
pikiran buruk berkelebat dalam otaknya. Salah seorang pekerja bertanya
“Sala, di mana Paman Shi? Biasanya jam segini dia sudah
datang ke kandang.”
“Aku juga tidak tahu, tadi pagi aku buru-buru pergi ke
kandang dan mengambil kuda-kuda perang yang akan di bawa ke Annam. Pasukan
Pangeran Gaoxu pagi ini berlatih di alun-alun selatan. Tapi aku akan pulang
menengoknya. Aku kuatir dia sakit karena ketika aku bangun kamarnya masih
tertutup,” jawab Wiraksara.
Wiraksara segera pulang ke pondok, kamar Tie Shi masih
tertutup. Merasa penasaran Wiraksara
mengetuk pintunya dan memanggil Tie Shi
“Paman…Paman Shi…Paman bukalah pintunya hari sudah siang!”
Wiraksara berulang kali mengetuk pintu namun pintunya masih
belum dibuka.
Sepertinya aku harus mendobrak pintunya, batin Wiraksara.
Pemuda itu lalu mendobrak pintu kamar Tie Shi, di dalam
kamar Tie Shi masih tertidur di ranjangnya dengan tenang. Sama sekali tidak terganggu
dengan suara pintu yang didobrak Wiraksara. Perlahan pemuda itu mendekati Tie
Shi lalu menyentuh lengannya
“Paman Shi…Paman Shi bangunlah.”
Ketika tangan Wiraksara menyentuh lenagn Tie Shi betapa terkejutnya
dia, tangan Tie Shi terasa keras, dingin dan kaku. Tiba-tiba Wiraksara menangis
tersedu-sedu. Paman Shi telah meninggal dunia dengan tenang
“Paman Shi…Paman Shi maafkan aku, apa kau meninggal karena
sedih bonsaimu ku rusak?”
Setelah puas menangis, Wiraksara keluar rumah lalu
memberitahukan kematian Paman Shi kepada teman-temannya
“Paman Shi meninggal,” Wiraksara mengabarkan pada penanggung
jawab kuda-kuda perang istana.
Seluruh pekerja di kandang kuda terkejut, Paman Shi telah
meninggal dunia.
“Sala, benarkah itu?” Tanya seorang pekerja.
“Datanglah ke rumah melayat, tolong bantu aku merawat
jenazahnya. Aku tidak tahu tradisi orang China dalam merawat jenazah,” kata
Wiraksara.
Teman-temannya datang melayat ke pondok Tie Shie dan
membantu Wiraksara merawat jenazah Tie Shi. Hari itu seluruh pekerja di kandang kuda istana berduka, Paman Shi telah
wafat. Wiraksara dibantu teman-temannya menggali tanah untuk kuburuan Tie Shi.
Tidak ada upacara pemakaman, semua berjalan secara sederhana. Usai acara
pemakaman Wiraksara kembali bekerja karena Kepala Divisi Perbekalan Militer
telah memerintahkan mereka untuk kembali bekerja.
Pulang bekerja situasi pondok masih gelap. Wiraksara
menyalakan lampu lalu mulai membersihkan diri di sumur kemudian menyiapkan
makanan. Suasana rumah terasa sepi tanpa
kehadiran Paman Shi, Wiraksara memasuki kamar Paman Shi dan mulai membereskan
barang-barangnya. Ketika hendak membereskan meja Tie Shi yang penuh dengan
tumpukan buku, Wiraksara menemukan sebuah surat yang ditujukan untuk Tie Lie
__ADS_1
Yung. Surat itu belum selesai tetapi dalam surat itu Tie Shi ingin bertemu
putrinya dan memberikan sebuah pedang pusaka untuknya. Wiraksara membuka lemari
Tie Shi dan menemukan sebilah pedang dengan gagang dari batu giok. Dilolosnya
pedang itu, terlihat bilahnya yang mengkilap kehitaman. Tidak ada karat
walaupun sudah lama disimpan.
“Benar-benar sebuah pedang pusaka yang bagus,” gumam
Wiraksara.
Disimpannya kembali pedang Tie Shi lalu duduk di tepi
ranjang memikirkan keinginan Tie Shi yang belum kesampaian.
“Paman, aku berjanji, setelah aku pergi dari sini, aku akan
memberikan pedang pusaka ini untuk Tie Lie Yung,” gumam Wiraksara.
******
Keesokan harinya para pekerja di kandang kuda digegerkan
dengan adanya seekor kuda yang mati mendadak. Celakanya kuda yang mati itu
adalah kuda di bawah tanggung jawab Tie Shi. Tetapi Kepala Divisi Perbekalan
Militer tidak mau tahu dia memanggil Wiraksara dan menyalahkannya
“Kau telah lalai membiarkan seekor kuda mati karena sakit.
Kenapa kau tidak merawat kuda itu dengan baik?” Kau harus mengganti kerugian
atas kuda yang mati itu atau kau dihukum mati!”
Wiraksara yang merasa tidak tahu apa-apa langsung protes
“Kuda itu memang sudah tua dan sakit-sakitan, tetapi kenapa
kau menyalahkanku? Wajar jika kuda yang tua mati!”
Namun pejabat itu tidak mau tahu, dia memanggil prajurit jaga
“Pengawal…bawa dia ke penjara!”
Wiraksara tahu, orang itu sengaja mencari gara-gara dengan
sengaja menyalahkannya atas kematian seekor kuda tua yang sudah sakit-sakitan.
mereka akan melupakannya dan menganggapnya sama seperti narapidana lainnya
bukan seorang tamu dari Majapahit.
Beberapa prajurit tiba-tiba sudah menyeretnya pergi
membawanya ke penjara.
“Hei. Kalian tidak bisa menahanku seperti ini!”
Wiraksara hanya bisa pasrah menerima nasibnya menjadi
tahanan di negeri orang. Selagi dalam perjalanan keluar dari penjara, di dekat
alun-alun latihan perang, mereka berjumpa dengan Puteri Xianning yang sedang naik
kuda menuju alun-alun untuk latihan memanah . Para prajurit yang membawa
Wiraksara langsung berlutut dan memberi salam
“Hormat pada Tuan Puteri!”
Melihat Wiraksara dibawa ke penjara puteri Xianning menghentikan
kudanya dan bertanya
“Mau di bawa kemana pemuda ini?”
“Dia akan dipenjara karena telah membuat salah satu kuda
perang kita mati,” sahut Kepala Pengawal.
“Bohong, kuda itu mati karena memang sudah tuda dan
sakit-sakitan!” Seru Wiraksara yang langsung bangkit berdiri.
“Diam kau!” Bentak seorang pengawal sambil memukul Wiraksara
hingga Wiraksara kembali tersungkur.
“Kalau kuda itu mati karena memang sudah lama sakit dan
menua seharusnya kalian tidak menahan dia! Sebelum dia pun kuda-kuda itu banyak
yang mati karena sakit atau tua. Siapa
__ADS_1
yang menyuruh kalian menahan dia?!”tanya Putri Xianning.
Para pengawal itu tertegun dan saling berpandangan, mereka
tidak berani memberitahu siapa orang yang menyuruh menahan Wiraksara. Putri Xianning memandangi para pengawal itu
satu per satu menunggu jawaban. Melihat para pengawal itu terdiam Putri
Xianning tersenyum dan berkata
“Kalian tidak dapat menjawab pertanyaanku, berarti benar
kalian memang sedang mencari gara-gara! Bawa dia ke kediamanku, aku akan
menjadikannya petugas perawat anjing istana!”
Wiraksara terkejut, tak disangkanya nasibnya bagai keluar
dari mulut buaya masuk ke mulut singa. Habis jadi pengurus kuda jadi pengurus
anjing.
“Tapi Tuan Putri!” Kata kepala P{engawal.
“Dia akan ikut denganku, sekarang kalian boleh pergi!” Seru
Putri Xianning pada para pengawal itu.
Terpaksa para pengawal itu membawanya ke tempat Putri
Xianing. Sesampainya di kediaman Putri Xianning, Wiraksara berjumpa lagi dengan
dua orang dayang-dayang yang dulu mencari Chen-Chen.
“Lin Fung, Mei Chen, kalian mendapat teman baru yang akan
membantu kalian memelihara anjing-anjing kesayanganku!”
“Kakak, bagaimana kau bisa sampai kemari?” Tanya Lin Fung.
“Semua ini karena kebaikan Putri Xinanning, dia telah
menyelamatkanku dari tuduhan menelantarkan kuda perang,” jawab Niskala.
“Beri dia seragam petugas perawat anjing dan ajarkan dia
bagaimana cara merawat anjing-anjingku. Aku mau latihan memanah dulu!”
Setelah Putri Xianning berlalu, kedua dayang itu membawanya
pada Paman Yue kepala Pelayan di Keputren dan diberikan seragam baru.
“Setiap hari kau harus ke dapur istana meminta daging pada
petugas dapur untuk pakan anjing. Mereka makan tiga kali sehari dan membersihkan
kandang nya jika kotor. Setiap hari bulu
anjing-anjing itu harus disisir dan dipotong agar rapi, kau juga harus mencari
kutunya setiap hari,” kata Paman Yan.
Wiraksara melihat ke sekeliling kandang anjing, ada anjing
Peking dan Shih Tzu yang merupakan anjing-anjing favorit kerajaan.
“Siapa namamu anak muda?” Tanya Paman Yan.
“Saya Wiraksara dari divisi kuda perang. Tapi Paman bisa
memanggil saya Sala.”
“Baiklah Sala, kalau begitu kau kenal Tie Shi?” Tanya Paman
Yan.
“Ya benar, aku tinggal satu pondok dengannya, tapi dia baru
saja meninggal kemarin,” kata Wiraksara.
“Tie Shi meninggal? Ah, ternyata dia sudah mendahuluiku,
dimana dia dikuburkan?”
“Di belakang pondok kami,” ujar Wiraksara.
Seekor anjing Shih Tzu datang mengibaskan ekornya menyambut
kedatangan Paman Yue, tetapi melihat Wiraksara mereka langsung menggonggong
keras. Wiraksara mundur bersiap lari namun Paman Yue mencegahnya
“Tidak apa-apa, mereka tidak menggigit.”
Hari itu Wiraksara belajar tentang cara memelihara anjing,
walaupun dia tak menyukai pekerjaan itu. Sore harinya dia kembali ke pondoknya
__ADS_1
setelah seharian bekerja. Jika malam tiba anjing-anjing itu sudah dikandangkan
di tempatnya.