
Pangeran Ketiga Gaosui tersenyum dan menghampiri Gaochi dan
berkata
"Kakak, jangan terlalu membawa perasaanmu, sudahlah
Kak, apa kau tidak tahu dia itu bukan tamu negara kita, tetapi barang jaminan
hutang. Negara mereka miskin, hutangnya pada kita sudah menumpuk, bisa
dipastikan mereka tidak akan dapat menebusnya dari kita. Membayar ganti rugi
saja di cicil, bisa dipastikan dia sudah jadi budak kita. Paling-paling 2 atau
3 tahun mendatang negaranya sudah melupakannya."
Gaosui Pangeran ketiga mungkin adalah Pangeran yang paling
buruk tabiatnya di antara anak-anak Kaisar Yongle. Dia memang tampan, namun
kerjanya hanya bersenang-senang dan malas belajar ataupun latihan perang.
Sehari-harinya kerjanya hanya bersyair, main musik, berpuisi atau
bersenang-senang dengan koleksi selirnya. Jika tidak ada kesibukan, biasanya
dia menghabiskan waktunya dengan berjudi atau mabuk-mabukan bersama
teman-temannya yang lain. Dia sangat dekat dengan Pangeran Kedua Gaoxu yang
sealu membelanya jika dimarahi oleh ayah mereka.
“Tapi kalian tetap tidak boleh memperlakukan tamu dari
negara lain seperti tawanan perang. Bukankah negara kita dan Majapahit adalah
negara sahabat?” Tanya Pangeran Gaochi
“Ah sudahlah, mentang-mentang Ayah telah menunjukmu sebagai
pewaris tahta, bukan berarti kau bisa semena-mena terhadap Saudaramu yang lain!”
Omel Gaoxu.
Gaoxu yang merasa kesal terhadap kakaknya, pergi
meninggalkan tempat itu bersama kasimnya. Tinggalah Gaochi dan Wiraksara saling
berhadapan. Dengan ramah Gaochi berkata
“Maafkan atas perlakuan adikku dan negara kami kepadamu.”
“Tidak, tidak apa-apa, terimakasih atas pertolonganmu. Saya
mohon diri dulu hendak meneruskan pekerjaan di kandang kuda,” kata Wiraksara
sambil mohon diri
Hari sudah sore ketika Wiraksara tiba di pondok mereka.
Angin dingin musim gugur menerpa wajahnya sebentar lagi musim dingin akan tiba.
Di depan pondok dilihatnya Tie Shisedang memeriksa daging ayam, ikan asin yang
digantung di teras rumah. Tie Shi juga membuat cabai kering dan sayuran yang
diasinkan dalam gentong-gentong.
“Paman, banyak sekali makanan yang kau buat, sejak awal
musim gugur kau sudah membuat makanan-makanan ini,” ujar Wiraksara.
Tie Shi tersenyum menatapnya dan berkata
“Di China musim dingin berlangsung selama 3 bulan. Jadi kau
harus menyediakan bahan makanan yang cukup untuk 3 bulan sebelum musim dingin.
Kalau kau tidak menyediakan bahan makanan yang cukup, kau akan mati kelaparan
selama musim dingin. Itulah sebabnya kami harus bekerja keras selama 3 musim sebelumnya,
mengumpulkan makanan agar dapat bertahan selama musim dingin. Berbeda dengan
negaramu yang tak pernah mengenal salju karena matahari bersinar sepanjang
tahun. Kalian tidak perlu susah-susah menabung bahan makanan untuk musim
dingin,” ungkap Tie Shi
__ADS_1
Wiraksara termangu-mangu mendengar penjelasan Tie Shi
Mungkin itu sebabnya orang-orang China begitu giat bekerja
karena ditempa kondisi alam mereka yang keras, pikir Wiraksara.
Wiraksara menyaksikan sendiri, para pendatang dari China
banyak yang lari ke Nusantara karena negerinya sering dilanda peperangan.
Ketika datang ke Jawa mereka tidak banyak membawa harta dan berdagang dengan
modal seadanya. Mereka kebanyakan orang yang ulet, pekerja keras, dan tidak
boros. Ditambah lagi jika di negeri orang mereka membuat perkumpulan
orang-orang China di perantauan yang saling membantu ketika salah satu dari
mereka sedang kesusahan. Tak heran dalam beberapa tahun saja usaha mereka sudah
berkembang pesat. Yang semula hanya pedagang eceran, kini menjadi pedagang
besar yang melayani pedagang grosiran.
Wiraksara tertarik dengan ikan dan daging ayam dengan bumbu berwarna
merah yang sedang dijemur Tie Shi.
“Ikan dan daging ayam ini diawetkan dengan bumbu apa ini?”
Tanya Wiraksara.
Tie Shi tersenyum dan berkata
“Ikan dan daging tidak melulu diawetkan dengan garam, ini
adalah bumbu khas Szechuan, ada campuran cabai Szechuan dan rempah-rempah. Rasanya lebih enak daripada hanya diawetkan
dengan garam saja.”
Ternyata ikan tidak hanya diawetkan dengan cara diasinkan,
paman Tie Shi membuatnya dengan memberi bumbu-bumbu tertentu yang membuat ikan
ini awet dan rasanya lebih enak, batin Wiraksara.
“Paman, ajari aku membuat semua ini,” pinta Wiraksara.
“Tentu saja, nanti aku beri resepnya. Nah, tolong bawa masuk
ke dapur gentong berisi asinan sayuran dan karung umbi-umbian ini,” perintah Tie
Shi.
Wiraksara langsung mengangkat gentong-gentong berisi sayuran
asin, ke dapur, lalu mengangkat gantungan ikan dan ayam, serta sekarung talas dan ubi
rambat ke dapur.
“Sala, mengapa tadi kau pergi lama sekali?” tanya Tie Shi
“Hari ini aku sedang sial, aku dijadikan sasaran hidup panahan
oleh Pangeran Kedua, untung saja Pangeran Pertama segera datang menghentikan
perbuatannya. Huh, bisa mati aku diburunya
kalau sampai Pangeran Pertama tidak datang,” kata Wiraksara.
Tie Shi terkejut mendengar cerita Wiraksara, seketika dia
kuatir Wiraksara akan menemui ajal seperti adik laki-lakinya dulu.
“Benarkah demikian? Tapi kau tak terluka kan?” Tanya Tie Shi
dengan cemas.
“Tidak Paman, jangan kuatir, aku tidak apa-apa.”
****
Pagi harinya seperti biasa Wiraksara melakukan tugasnya
menyikat bulu kuda dan memberi mereka makan. Selagi sedang asyik bekerja
terdengar suara langkah kaki kuda mendekat. Seorang prajurit datang menemuinya
dan berkata
__ADS_1
“Kau utusan dari Majapahit itu?”
“Ya, ada apa kau mencariku?”
Pangeran Pertama Gaochi ingin bertemu denganmu di
kompleknya, tinggalkan pekerjaanmu dan segeralah ke sana.
“Baik aku segera ke sana,” ucap Wiraksara.
Wiraksara menghampiri Tie Shi yang sedang menempa besi untuk
sepatu kuda.
“Paman, aku minta izin menemuai Pangeran Gaochi. Seorang
prajurit tadi memintaku untuk menghadap di kediamannya,” ujar Wiraksara.
“Baiklah Wiraksara, tapi cepat pulang ya, kalau bisa hindari
Gaoxu dan Gaosui supaya tidak repot urusannya nanti. Lihat saja nanti, mereka
tidak akan pernah berhenti menyusahkanmu,” kata Tie Shi memperingatkan.
Setelah meminta izin pada Tie Shi, Wiraksara segera pergi
menemui Gaochi di kompleknya. Seorang pelayan istana menunjukan lokasi kediaman
Pangeran Gaochi, Wiraksara terus berjalan ke arah yang ditunjukan pelayan itu.
Di tengah perjalanannya dia melihat Putri Xianning sedang berjalan bersama
dayang-dayangnya. Ketika berpapasan, seperti adat setempat Wiraksara memberi
hormat kepada Sang Putri. Melihat Wiraksara, Putri Xianning berteriak
“Hei kau pemuda yang kemarin itu, bagaimana apakah kau
bertemu dengan Chenchen hari ini?”
Ah, sialan ketemu putri ceriwis ini lagi, Chenchenmu sudah
berada di dalam perut ular tau, batinnya dengan kesal.
Dengan memasang akting wajah sedih dan prihatin Wiraksara
berkata
“Sayang sekali Tuan Putri, aku tidak menemukan Chenchen,
mungkin dia pergi ke tempat lain. Cobalah kau mencarinya ke arah lain mungkin
saja anjing itu dapat ditemukan,” ujar Wiraksara.
Putri Xianning tampak kesal mendengar jawaban Wiraksara.
“Tidak mungkin! Terakhir seseorang melihatnya berada di
sekitar kandang kuda setelah itu menghilang.”
Wiraksara hendak membantah lagi namun terdengar seseorang
menegur sang putri suaranya begitu berwibawa membuat Sang Putri berhenti berbicara.
“Xianning, sudahlah jangan ganggu dia lagi, dia kemari untuk
bertemu denganku. Kalau kau menginginkan pengganti Chenchen, aku akan
memberikan lagi anjing yang mirip dengannya,” kata Gaochi.
Wiraksara menoleh, dilihatnya Pangeran Gaochi mendatanginya
dan Putri Xianning.
“Ah Kakak, Chenchen tidak akan tergantikan oleh siapapun,
pokoknya aku mau dia kembali,” kata Xianning merajuk.
Gaochi tersenyum dan bertanya kepada adiknya
“Lalu apa yang membuatmu bisa melupakan Chenchen?”
Putri Xianning tersenyum penuh arti dan berkata
“Aku mau kalung permata batu Rubi hadiah dari Maharaja India
itu.”
Terkesiap Gaochi mendengar permintaan Putri Xianning.
__ADS_1
“Hei, kau tidak bisa memintanya, perhiasan itu kesukaan
isteriku!”